
Bab 110. Membuka diri
Khalisa termenung di kamar mandi di pukul lima lebih dua puluh ini, baru saja selesai memasak menu Ayam Betutu yang sempat terhambat keributan singkat di ruang tamu tadi. Cukup sengit, membuat Khalisa berjengit. Hanya saja Khalisa yang sudah terbiasa mendapat caci maki sebelum ini tidak terlampau terkejut lagi, sudah tak asing lagi, walaupun untuk bagian tuduhan guna-guna Khalisa sedikit terpancing emosi.
Namun, reaksi Yudhis yang membelanya sepenuh hati tanpa keraguan di saat itu juga, memadamkan emosinya, cukup menguatkan dirinya yang terbiasa dilemahkan. Kendati kini rasa minder yang sedang berusaha dikikis, lumayan menebal lagi, akibat terus terngiang cibiran Syafa yang mengatainya hanya seorang janda yang mengenyam akademik seadanya tanpa keluarga, sedangkan Syafa adalah gadis perawan berpendidikan tinggi berasal dari keluarga terhormat yang tentu saja lebih pantas bersanding dengan Yudhistira.
Menatap dirinya di cermin, Khalisa membuang napas pendek-pendek. Teringat akan pernyataan cinta tulus Yudhis untuknya yang mulai ingin dibalasnya, walaupun ia harus berusaha keras tertatih-tatih mengais rasa percaya diri yang amatlah kurang, agar dirinya merasa pantas dicinta dan dipuja demikian istimewa oleh perjaka tampan nan mapan berhati tulus sehangat sinar rembulan. Terlalu banyaknya penghakiman juga hinaan yang didapat Khalisa sedari kecil yang terus ditumpahkan bertubi-tubi tanpa diberi penawarnya, terakumulasi merapuhkan seorang Khalisa yang ingin membangun rasa percaya diri juga rasa berani hanya seorang diri.
“Bang Yudhis menegaskan bahwa dia hanya akan menikah sekali seumur hidupnya, dan sumpah sucinya itu diberikan dengan menyematkan namamu dalam ijab kabul yang terucap dari lisannya, bukankah dari tindakan serius itu sudah cukup tersirat jelas semuanya, Khalisa? Bahwa Bang Yudhis benar-benar mengasihimu seperti apa pun dirimu, bukan hanya sekadar kasihan padamu maupun hanya ingin menolongmu. Coba lihat, banyak sekali gadis-gadis cantik terhormat yang mencoba mengambil hatinya bukan? Tapi nyatanya yang dipinangnya adalah kamu.”
Khalisa berkata pada dirinya sendiri sembari menatap pantulannya di cermin. Mendaratkan telapak tangan di mana detak jantungnya berdegup sekarang. Ribut tak menentu di dalam sana, perpaduan rasa tak nyaman saat wanita lain terang-terangan menginginkan Yudhis yang hari ini sudah dua kali dialaminya, bercampur getar tak biasa yang mulai tak rela andai Yudhis yang baginya laksana peri tak lagi berpihak padanya, menerbitkan rasa takut kehilangan.
“Kamu harus berupaya memantaskan diri untuk layak menerima kasih tulus Bang Yudhis. Jadi, berusahalah mulai percaya diri dimulai dari detik ini. Kesimpulannya nanti apakah Bang Yudhis kecewa atau puas terhadapmu yang merupakan seorang janda sama sekali bukan alasan untuk tidak mencoba melangkah maju. Tentang hasil akhirnya apa pun itu, kamu harus siap. Entah itu manis atau pahit, sosok sebaik dan sesabar Bang Yudhis sangat layak diberi kesempatan terbaik, jangan kalah sebelum berperang, Khalisa. Percaya dirilah, ingat seperti kata Bang Yudhis, semua yang dihadirkan di dunia memiliki arti,” ujarnya menyemangati diri sendiri, memantapkan tekad membuka hati.
Menanggalkan hijab juga pakaiannya, kali ini Khalisa memaksimalkan membasuh setiap inci bagian tubuhnya seperti yang pernah diajarkan Tya. melakukan ritual mandi spesial, memeriksa sekujur daksa secara saksama. Ia memastikan semuanya indah dipandang, sedap dihidu, dan halus lembut kala diraba serta dikecup. Walaupun di tempat perawatan sudah melakukan spa seluruh badan, tetapi kegiatan memasak beberapa saat yang lalu membuatnya kegerahan.
Yudhis dan Khalisa baru saja selesai menunaikan ibadah salat Isya berjamaah berdua di ruangan khusus salat bersama yang bersisian dengan ruang kerja. Khalisa yang masih canggung, meminta telapak tangan Yudhis malu-malu, ingin mencium punggung tangan pria yang kini berstatus suaminya itu. Dengan senang hati Yudhis memenuhinya, bahkan balas mengusap dan mencium puncak kepala Khalisa penuh sayang.
“Abang ke ruang makan duluan saja, semuanya sudah siap. Nanti aku menyusul, kebelet pipis,” ujar Khalisa sembari membuka mukena dan melipatnya rapi.
“Oke. Aku juga mau mengecek dulu kunci gerbang dan kunci pintu depan. Tadi belum sempat diperiksa karena keburu Magrib.”
Khalisa setengah berlari masuk ke kamar, memilah-milah dua buah gaun tidur satin premium yang sudah bertekad akan dipakainya untuk kali pertama setelah berstatus menjadi Nyonya Yudhistira Lazuardi. Gaun-gaun beraksen renda cantik yang kebanyakan mengusung model tali spaghetti, beberapa baju tidur cantik yang berasal dari paket bingkisan pernikahan yang jumlahnya lebih dari selusin. Yang diambilnya hanya dua, satu warna merah marun seksi nan anggun dengan panjang selutut, sedangkan yang satu lagi berwarna hitam pekat sensual memikat, lebih pendek sepuluh senti di atas lutut dibandingkan yang merah.
Pilihan Khalisa jatuh pada gaun tidur berwarna hitam, yang lebih pendek dan lebih banyak mengekspose kulit halus mulusnya. Mengingat-ingat kembali ajaran Tya juga para bunga malam di tempat Jordan, tentang skill memesonakan lawan jenis melalui viualisasi.
Hanya saja Khalisa berniat menerapkannya untuk diuji coba pada pria yang jelas halal memandangi dan menyentuhnya meski jujur saja ia gugup bukan kepalang. Ingin belajar lagi menjadi istri yang sesungguhnya untuk si pria luar biasa yang tak malu mengakuinya sebagai istri di mana pun. Dua kali Khalisa mendapati Yudhis mencuci sendiri underwearnya di pagi buta. Dan Khalisa yang sudah pernah menikah amat paham apa telah dialami Yudhis di kala tidur sembari memeluknya.
Lagipula memang sudah kewajibannya sebagai istri Yudhis sekarang. Seperti analogi kewajiban istri yang harus dijalankan setelah semua hak istri terpenuhi. Analogi kewajiban yang berbunyi, suami itu wajib dikenyangkan perutnya dan setelahnya dikosongkan testisnya.
Selesai dengan urusan memakai baju. Khalisa menyisir rambutnya dan menyanggulnya sembarang dengan membiarkan sebagian anak-anak rambutnya tergerai manis dan tengkuk putihnya terpampang. Ia juga mengendus aroma tubuh dan rambutnya yang tentu saja masih menguarkan kuat keharuman menggoda dari aromaterapi ketika perawatan tadi. Khalisa juga membaurkan bedak tipis-tipis saja, tak lupa sapuan lipgloss memperindah bibir merah delimanya.
“Pffuhh, aku pasti bisa,” ucapnya sembari memastikan dirinya cantik sempurna sebelum keluar dari kamar.
Khalisa menelan ludahnya berkali-kali sembari melangkah ke ruang makan. Berusaha tetap anggun dan mengusir mati-matian rasa malu serta kegugupannya.
“Abang mau minumnya air putih atau teh tawar, biar aku siapkan dulu sebelum makan malam dimulai,” cicit Khalisa yang menghampiri kursi di mana Yudhis duduk, membelakangi arahnya datang.
“Mmm, teh tawar hangat sepertinya lebih nikmat,” jawab Yudhis sembari menoleh, yang kemudian nyaris dibuat terlonjak dari duduknya dengan pupil melebar saat melihat betapa cantik memikat dan menggodanya wujud Khalisa malam ini. Menderaskan aliran darah juga testosteronnya berdesir kencang dalam nadi.
Bersambung.
Jangan lupa vote dan gift seikhlasnya sayang-sayangku. Makasih 🥰.