
Bab 90. Darurat
Sudah tiga hari Khalisa bekerja sebagai OB. Si janda berparas ayu itu begitu bersemangat meski sesekali harus dihadapkan dengan kerewelan Afkar, masih belum terbiasa dengan tempat kerjanya yang memang sering didatangi orang-orang baru yang tidak dikenal Afkar yakni para klien LBH Raksa Gantari.
Siang ini, Afkar merajuk berbeda dari biasanya, ingin terus digendong dan nafsu makannya juga menurun sejak pagi.
Yudhis masuk ke ruangan kosong di lantai dua kantor yang dijadikan Khalisa sebagai tempat beristirahat Afkar. Dia baru saja kembali ke kantor setelah berpergian dengan Raja mengurusi pekerjaan klien lainnya. Di dalam sana, Khalisa sedang menggedong Afkar sembari memegang mangkuk makanan balita yang dipesan Yudhis dari Erika, khawatir akan kesehatan Afkar jika setiap hari makan siang menyantap makanan instan balita dari supermarket.
“Khal, sudah makan?”
“Belum, Bang. Nanti saja, gampang. Aku suapin dulu Afkar makan siang,” sahutnya tetap ceria meski gurat lelah terlihat dari jejak keringat di dahi.
“Kenapa kamu sampai berkeringat begitu?” Yudhis menghampiri, membungkuk mengamati Khalisa begitu dekat, membuat Khalisa harus memundurkan wajahnya.
“Oh, itu. Aku habis angkut beberapa galon dari depan buat ke ruangan-ruangan. Tadi mobil pengantar air datang.”
“Apa! Kamu angkutin galon-galon sendirian?” Yudhis terperanjat dengan dahi terlipat. “Di mana OB yang lain terutama yang laki-laki? Masa harus perempuan yang angkut?” cecarnya terlihat marah.
“Enggak apa-apa, Bang, aku kuat kok angkat galon. OB yang dua sedang tanggung membersihkan toilet dan yang laki-laki sedang beli makan siang. Kalau air galonnya dibiarkan lama di luar dan terkena sinar matahari langsung, khawatir kualitas airnya jadi jelek, Bang,” tuturnya tetap semangat, tidak ada nada keluhan dalam setiap untaian kata yang Khalisa ucapkan.
Yudhis membuang napas kasar, merasa tak sampai hati membayangkan si pujaan hati yang berbadan lebih kecil darinya, harus mengangkut galon air yang nyata memang berat bobotnya saat diangkut pria sekalipun.
Afkar yang merengek mengalihkan perhatian Yudhis dari gurat lelah Khalisa.
“Sayangnya Bunda, ayo buka mulutnya nak, mamam dulu,” bujuk Khalisa pada si buah hati yang mengatupkan mulutnya rapat, tidak seperti biasanya.
“Afkar kenapa, Khal?” imbuh Yudhis cemas.
“Dari pagi memang agak rewel Bang, lagi susah makan juga. Mungkin masih belum terbiasa dengan tempat baru,” sahut Khalisa yang kembali mencoba menyodorkan sendok ke depan mulut Afkar.
Keterpakuannya buyar begitu suara Erika yang tergopoh-gopoh panik memanggilnya.
“Pak Yudish, kita harus berembuk darurat sekarang juga, ini penting.” Nada suara Erika terdengar genting begitu pula air mukanya. “Tentang gugatan Khalisa,” sambungnya, Erika baru saja kembali dari pengadilan.
“Tentang gugatanku? Boleh aku ikut berembuk?” Khalisa menukas cepat, tetapi sayang Afkar merengek lebih rewel dari sebelumnya.
“Untuk sekarang biar kami yang berdiskusi. Kamu urus saja Afkar dan jangan kerjakan dulu hal lain sebelum Afkar mereda merajuknya.”
Yudhis dan Erika bergegas ke ruangan Yudhis disusul Raja, sedangkan Khalisa meskipun ingin bergabung terpaksa mengurungkan niat karena si buah hati sedang tidak mendukung.
Satu jam kemudian Yudhis kembali ke ruang tempat istirahat. Tanpa banyak kata, Yudhis mengambil tas yang berisi keperluan Afkar dan menarik lengan Khalisa yang masih menggendong Afkar menuju ke tempat parkir.
“Eh, ada apa, Bang?” Khalisa bertanya sembari menyeimbangkan langkah, tetapi Yudhis tak menyahuti.
Yudhis membukakan pintu mobil. “Masuk!” titahnya singkat, raut wajahnya kentara tak ingin dibantah.
“Memangnya kita mau ke mana? Ini masih jam kerja?”
“Kita pulang.”
“Hah, kenapa pulang?”
Yudhis tak menjawab lagi, menurunkan bahu Khalisa dan sedikit memaksa mendudukkan Khalisa di jok penumpang, kemudian dia menyusul duduk di kursi kemudi dan melesat pergi dari sana.
Bersambung.