Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Bunda Datang, Nak


Bab 66. Bunda Datang, Nak


Khalisa menyapa sopan begitu masuk ke dalam. Seperti biasa Aloisa dengan hebohnya menarik lengan Khalisa supaya bergabung, membawanya ikut duduk bersama Farhana juga Syafa.


“Ayok duduk dulu di sini. Cicipin kue buatanku. Dijamin enak. Akhir pekan kali ini adalah percobaan ke lima setelah empat kali sebelumnya selalu gagal. Dan yang kelima kali ini akhirnya berhasil dengan baik, walaupun masih ada gosong sedikit,” cerocos Aloisa penuh percaya diri.


“Wah, kue buatan Bu Dokter warnanya cantik. Secantik yang buat,” puji Khalisa yang memang warna kematangan kuenya pas menurutnya.


“Eit, sudah kubilang jangan panggil aku dokter kalau di rumah, aku enggak buka praktik di sini. Mbak Hana, Syafa. Kenalkan, ini Khalisa.” Aloisa memperkenalkan Khalisa pada dua orang wanita yang sedari tadi mengobrol seru dengannya. “Dia cantik kan? Cocok kali ya jadi brand ambassador klinik kecantikanku. Semoga saja tarif yang dipasang Khalisa enggak mahal,” godanya, membuat Khalisa tertawa kecil.


Farhana mengangguk dan mengangkat dua jempolnya. “Hmm, Mbak setuju, dia cantik dan bersinar. Hai Khalisa, saya Farhana dan ini adik saya Syafa.” Farhana menyapa ramah sembari memperkenalkan sang adik, yang dibalas Khalisa dengan senyum manis.


“Salam kenal Mbak Hana, Syafa. Saya Khalisa.” Khalisa mengulurkan tangan, mengajak bersalaman yang disambut oleh keduanya.


“Khalisa ini kliennya Bang Yudhis yang untuk sementara tinggal di sini demi keamanan. Usianya ini terbilang masih muda, hampir sebaya dengan Syafa, paling beda hitungan bulan lebih dulu Khalisa.”


“Oh, kliennya Bang Yudhis," imbuh Syafa datar saja.


“Iya.” Khalisa menjawab sembari mengangguk.


“Aku ambilkan kue dulu buat Khalisa, tunggu ya.” Aloisa berlari kecil menuju dapur, meninggalkan tiga wanita itu di ruang tamu.


“Keputusan tepat memilih tinggal dulu bersama Aloisa dan Ghaisan, di sini InsyaAllah aman. Saya masih sepupunya Ghaisan.” Farhana menimpali, nada suaranya ikut bersimpati.


“Kasus apa memangnya yang membelitmu hingga mengharuskan Bang Yudhis sampai turun tangan mencari tempat tinggal demi keamananmu? Kamu enggak berbuat kriminal kan?” tanya Syafa, memicing curiga.


“Syafa!” Farhana memperingatkan adiknya melalui isyarat mata supaya menjaga sikap.


“Lho, apanya yang salah? Aku kan cuma nanya. Dan enggak ada salahnya kan memverifikasi orang baru yang mendadak tinggal di sini karena kita enggak mengenal Khalisa dengan baik, sebagai antisipasi demi keamanan Mbak Loi dan Bang Ghaisan juga. Terlebih lagi orangnya adalah klien yang berurusan dengan hukum!” bantah Syafa, terdengar tak terima diingatkan oleh sang kakak.


Ditodong pertanyaan semacam itu Khalisa gugup bukan main. Dia bukan tipe yang berkoar tentang kesusahannya, hanya pada Yudhis awal mula ia membuka diri membeberkan masalah pribadinya, merasa tak nyaman untuk menjawab saat orang selain Yudhis bertanya gamblang.


Khalisa menggigit bibir dan menjalin tangannya sendiri satu sama lain, seolah sedang mencari kekuatan untuk berbicara. “Sa-saya.”


“Bisa tolong minta istriku tercinta buatkan kopi satu lagi? Buat pengacara ganteng kita.” Suara Ghaisan di ambang pintu membuyarkan fokus Syafa yang menelisik tatap pada Khalisa. Juga menghentikan kalimat Khalisa yang hendak terucap.


“Lho memangnya ada Bang Yudhis?” imbuh Syafa semringah.


“Ada, lagi kena sindrom mabuk kayaknya. Entah mabuk perjalanan, atau mungkin mabuk cinta. Tolong sampaikan pada Aloisaku tercinta ya,” jawab Ghaisan, sebelum berlalu dari pintu dan kembali bergabung dengan Yudhis. Berbarengan dengan Aloisa yang kembali dengan sepiring kue di tangan.


“Loi, suamimu minta dibuatkan kopi lagi, buat Yudhis katanya.” Farhana menyampaikan permintaan Ghaisan begitu Aloisa kembali dari dapur.


“Oke." Aloisa mempertemukan telunjuk dan ibu jari hingga membentuk huruf 'O'.


“Enggak usah. Kamu makan kue saja, Khalisa. Aku yang buatkan kopi, lagian kamu juga enggak akan paham selera Bang Yudhis gimana. Kamu kan baru kenal sama Bang Yudhis,” sambar Syafa penuh percaya diri, terburu-buru bangkit dari kursinya dan bergegas ke dapur penuh semangat.


“Maaf ya, Khalisa. Kalau pertanyaan juga sikap Syafa kurang berkenan.” Farhana tampak tak enak hati.


“Tidak apa-apa, Mbak Hana. Tapi kata-kata Syafa juga tidak ada yang salah. Waspada terhadap orang baru memang perlu.” Khalisa menukas penuh pemakluman, tahu bagaimana harus menempatkan diri.


*****


Pagi-pagi sekali Yudhis sudah datang ke rumah Ghaisan. Di hari ini, dia kembali memakai si hitam XPander sebagai sarana akomodasi. Tak ingin terlalu mencolok saat hari berangsur terang. Khalisa sudah bersiap, duduk menunggu di kursi teras tak sabar ingin segera berangkat.


Mereka berpamitan pada si tuan rumah sebelum melesat pergi, tak menyadari kehadiran Syafa yang rupanya datang mengantar bakwan sayur buatan Farhana untuk Ghaisan dan Aloisa. Terpaku dari kejauhan memerhatikan interaksi Yudhis pada Khalisa yang kentara amat peduli juga perhatian, bahkan membukakan pintu mobil untuk Khalisa.


“Pasti cewek itu sengaja jadi kliennya Bang Yudhis cuma buat akal-akalan saja biar bisa ngegodain Bang Yudhisku yang soleh dan mapan!” geramnya tak terima, mencekal pinggiran piring kencang.


“Gimana tidurmu semalam?” tanya Yudhis, sembari melirik sekilas paras cantik menggetarkan hati yang duduk di sampingnya.


“Alhamdulillah bisa tidur walaupun enggak begitu nyenyak, kangen Afkar.” Khalisa menjawab apa adanya. Sebetulnya Yudhis pun sama, tak bisa memejam dengan benar karena kangen ibunya Afkar, juga ikut ketularan teringat terus pada si bocah gembul itu.


“Sudah sarapan?”


“Sudah, Bang.”


“Vitaminnya enggak lupa diminum kan?”


“Sudah aku minum, Bang,” sahut Khalisa.


Dan selanjutnya di dalam mobil diisi dengan obrolan seputar rencana-rencana yang akan Yudhis realisasikan hari ini. Yudhis juga tak lupa membawa serta berkas-berkas penting penunjang supaya bisa membawa Afkar hari ini juga andai tempat tinggal Dion yang baru bisa ditemukan.


“Kamu sudah siap kemungkinan bertatap muka lagi dengan mantan suamimu?” tanya Yudhis memastikan sekali lagi.


Membuang napas nyaring, Khalisa mengangguk mengiyakan. “Aku siap, Bang.”


“Ingat, seperti yang selalu kukatakan, kamu harus mengangkat dagumu dengan berani saat bertemu dengannya lagi. Tunjukkan bahwa kamu tidak rapuh, supaya tak ada siapa pun lagi yang berani menindasmu hanya karena asal-usulmu. Kamu harus kuat demi anakmu juga dirimu sendiri.”


“Iya, Bang. Aku akan selalu mengingat pesan-pesan Abang,” jawab Khalisa penuh keyakinan.


Seperti keterangan si satpam baru kemarin sore, pagi ini yang bertugas jaga adalah satpam yang sudah lama bekerja dengan gerai-gerai show room tersebut. Keberuntungan sedang berpihak pagi ini, bisa jadi buah dari doa-doa di waktu subuh dua insan itu. Entah apa yang Yudhis katakan pada si satpam, dengan mudahnya alamat rumah Dion dikantongi dan Yudhis langsung tancap gas tak membuang waktu. Bersama harap-harap cemas juga haru Khalisa yang menggema dalam hati.


Afkar, Bunda datang, Nak! Bunda datang buat jemput kamu sayang.


Bersambung.