Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Kalap


Bab 45. Kalap


Pertemuan dengan Khalisa yang bertubi-tubi seolah memang direncanakan semesta. Mengatur dua insan itu untuk bersua, yang sama-sama bermula dari kisah noda serupa kendati perjalanan nasib mereka berbeda.


Yudhis lebih beruntung, walaupun tak tahu siapa ayahnya, setidaknya dia masih tahu siapa ibu yang melahirkannya walaupun hikayat tentang ibunya pun tak jauh bernoda. Nasib Yudhis pun termasuk kategori mujur, diadopsi dan dibesarkan oleh orang tua yang mencintainya seperti anak kandung. Memberinya kehormatan juga kasih sayang melimpah. Berbeda dengan Khalisa yang bukan hanya ayah bahkan ibu kandung pun ia tak tahu yang mana rupa serta rimbanya. Ia juga tumbuh dalam kondisi kurang beruntung, menjadikan jejak nodanya jelas berlumur terlihat sekitar. Meski segelintir orang yang berpikir sehat tahu, semua caci yang ditanggung Khalisa bukanlah salahnya.


Sejak awal perjumpaan tak sengajanya dengan Khalisa, selalu saja timbul rasa peduli tak biasa mengusik hatinya. Yang selalu diartikan Yudhis masih dalam konteks peduli sesama. Namun, setelah tahu asal-usul Khalisa dari cerita si bapak penjual bubur, rasa peduli berbeda itu kian tak terbendung.


Memiliki asal-muasal yang hampir sama, membuat Yudhis merasa bertemu seseorang yang bernasib serupa sepertinya, seumpama bertemu teman senasib sepenanggungan. Sangat paham bagaimana rasanya tidak punya orang tua kandung, terlebih lagi Khalisa yang tak sama sekali tak memiliki tempat yang disebut keluarga seberuntung dirinya. Menyentil empatinya kuat, ikut sedih akan kisah hidup Khalisa yang dipenuhi kerikil dan onak berduri tanpa ada satu pun yang menopang punggung rapuhnya.


Mengetahui fakta Khalisa berniat menjual diri, Rasa empatinya bangkit tak terelakkan berpadu marah tak terima yang entah dari mana datangnya. Kepedulian sesama manusia yang tanpa disadarinya berkembang pesat dalam getar berbeda


“Kamu benar-benar yakin ingin melakukan ini?” Yudhis makin murka dengan tindakan Khalisa, yang tak disangka malah nekat melucuti pakaian di hadapannya.


“Ya, tentu saja saya sangat yakin!”


“Selalu ada alasan di balik setiap tindakan juga keputusan? Apa kamu sedang terjepit kesulitan keuangan yang parah sampai memilih pekerjaan semacam ini? Terbelit rentenir? Tapi di muka bumi ini masih banyak profesi lain yang lebih mulia daripada membiarkan dirimu dijamah para hidung belang! Kudengar selama ini kamu sangat menjaga harga dirimu meski orang-orang mencacimu dan memandangmu sebelah mata. Lantas satu-satunya hal tersisa sebagai harga mati seorang wanita malah hendak kamu gadaikan juga!” seru Yudhis berang. “Di mana akal sehatmu, Khalisa? Jangan berpura-pura bin*l, raut wajahmu sama sekali tidak mirip wanita nakal!”


“Kenapa Anda begitu emosi? Kita memang pernah bertemu sebelumnya dan saya berterima kasih Anda pernah menolong saya. Tapi, Anda bukan siapa-siapa saya, sama sekali tak punya hak menghentikan saya. Memang benar saya butuh uang yang sangat banyak yang harus saya dapatkan dalam waktu singkat. Tapi apapun yang alasan yang mendasari saya mengambil jalan ini sama sekali buka urusan Anda.”


“Bukan siapa-siapa?” tanya Yudhis dengan ujung bibir berkedut menahan kobaran emosi tak diundang yang sedang berusaha dikendalikan. “Bukankan saat ini aku adalah pelangganmu, Khalisa? Aku sudah membayarmu dan malam ini kamu adalah milikku. Jadi aku bebas berbuat apapun terhadapmu termasuk meluapkan amarahku padamu!” sindirnya menohok.


Khalisa mati-matian membuang rasa tersinggung dan meneguhkan kembali tekadnya.


“Kalau begitu lakukan sesuka hati apapun yang Anda inginkan, supaya saya bisa segera menuntaskan tugas malam ini. Saya sebetulnya ingin segera bebas dari cecaran Anda, tapi saya tidak punya uang untuk mengganti rugi dengan mengembalikan nominal yang sudah Anda bayarkan,” tantang Khalisa, tetap mengangkat dagu sembari mengondisikan kedua kakinya yang gemetaran.


Merasa tak mempan hanya dengan melucuti baju, kini Khalisa menurunkan tali kain penyangga kedua asetnya melewati pundak, membuka kaitnya cepat hingga kain berenda penutup atas tubuhnya itu ikut terjatuh ke lantai.


“Khalisa berhenti!” Yudhis makin meradang. “Kamu benar-benar berpikir aku membayarmu dan membawamu keluar dari kafe itu untuk hal ini?”


“Memangnya untuk apa lagi? Jangan membuang waktu, Cepat tuntaskan apapun yang ingin Anda lakukan pada saya agar pekerjaan saya malam ini segera berakhir,” tukas Khalisa datar.


Tersulut kobaran api amarah, melemahkan rem Yudhis yang biasanya tahan banting, mendorong Khalisa tanpa aba-aba hingga terjengkang, hingga Khalisa mendarat kencang terlentang di sofa.


Kalap, Yudhis menyerbunya dengan ciuman penuh kemarahan, memagut brutal membuat Khalisa terkejut bukan kepalang meski dirinya yang lebih dulu menantang.


Yudhis tersentak dan tersadar saat lidahnya menyecap cairan asin yang meluruh melewati pipi Khalisa. Rupanya Khalisa yang sedari tadi keras kepala menangis. Khalisa baru tahu ternyata amat menyakitkan rasanya saat mengoyak harga dirinya sendiri meski ia sudah siap untuk ini. Kendati alasannya mengorbankan kehormatan dan martabat demi si buah hati


Dengan cepat Yudhis berhenti dan menarik dirinya menjauh sejauh mungkin. Lekas mundur sembari mengusap wajahnya kasar berulang kali, berusaha menggapai kewarasannya lagi. Memang benar adanya, membiarkan emosi merajai diri, mengaburkan nalar juga pikiran jernih. Terlibas bisikkan setan yang memang gemar menyemai kemarahan.


“Maaf, aku lepas kendali,” gumam Yudhis sembari menghela napas berat, menyesali reaksi impulsifnya yang terpancing amarah.


Masuk ke kamarnya. Yudhis menyambar selimut yang terlipat di ranjang, dengan cepat menutupkannya pada raga Khalisa yang nyaris urian seutuhnya menyisakan si kain segitiga saja. Membiarkan Khalisa yang meringkuk menyedihkan memuaskan isakan tertahannya.


Yudhis terduduk di lantai sembari bersandar tak jauh dari sofa di mana Khalisa berbaring. Memejamkan mata seraya memijat pelipisnya sendiri dalam upaya pengendalian diri sembari melafalkan istigfar beberapa kali.


Cukup lama suasana senyap berpadu sedu sedan Khalisa lirih terdengar. Terpecah oleh bunyi ponsel Khalisa yang berdering, tersimpan di dalam clutch hitam bergabung degan dompet usangnya yang terlempar ke sudut ruangan saat tadi Khalisa nekat melucuti bajunya sendiri.


Mengeratkan selimut membungkus tubuh, Khalisa beringsut menurunkan kedua kaki hendak mengambil si clutch hitam yang dipinjamkan Tya padanya.


“Diamlah di situ. Aku ambilkan,” kata Yudhis, bangkit dari duduknya dan mengambil benda yang Khalisa mau.


“Ma-makasih,” sahut Khalisa sengau, menunduk dalam ketika Yudhis menyodorkan tas kecil itu, tak berani mengangkat wajahnya.


Nama Dion tertera di layar ponsel bututnya. Malas meladeni, Khalisa menolak panggilan yang sama untuk beberapa kali hingga akhirnya sebuah pesan teks dikirimkan. Dan setelah membacanya, isi pesan itu sukses membuat sekujur tubuh Khalisa seakan kehilangan seluruh daya kehidupan.


Aku hanya ingin mengabarkan, Afkar masuk rumah sakit.


Bersambung.