
Bab 160. Ngidam
Hujan tak henti mengguyur Kota Bandung sejak kemarin sore hingga pagi hari. Di pagi ini, paras angkasa masih serupa dengan petang kemarin. Langitnya betah berwarna kelabu, tak ada gemulai sulur hangat yang membelai merasuki jendela.
“Hujannya masih deras. Ughh, dinginnya,” gumam Khalisa yang menyibak gorden dan mengintip cuaca di luar melalui kaca jendela. Mengeratkan kardigan wol yang dipakainya supaya membungkus hangat menjaganya dari hawa dingin.
Khalisa pergi ke kamar Afkar sementara Yudhis sedang membasuh diri. Afkar kembali bergelung selimut setelah Subuh tadi ikut berjamaah salat bersama-sama. Dia atas kasur, Afkar yang semakin gendut dan lucu memeluk boneka empuk berbentuk mobil sedan. Matanya memejam dengan botol susu kosong yang masih bertengger di mulutnya.
Mengusap sayang dahi sang anak, Khalisa merapikan selimut supaya menutupi dengan baik tubuh putra tersayangnya. Tak tega membangunkan, ia memilih keluar dari sana dan menuju dpaur untuk menyiapkan sarapan, berniat membangunkan Afkar nanti saja setelah sarapan siap.
“Sayang, di mana kaos dalamku?” Suara Yudhis yang memanggil-manggilnya, mengubah haluan ayunan kakinya menjadi berbelok ke arah kamar utama.
“Tadi, semuanya sudah kusiapkan di atas kasur, memangnya enggak ada ya, Bang?” seloroh Khalisa begitu masuk ke dalam kamar.
“Tapi di atas kasur enggak ada, Khal,” sahut Yudhis sembari celingukan mencari.
“Masa sih?” Khalisa menghampiri ranjang, nada bicaranya agak ngotot.
“Iya, enggak ada lho, Sayang.” Yudhis fokus mencari, mengedarkan pandangan menyasar seluruh pemukaan ranjang berukuran king size itu.
Saat hendak mencari lebih detail dan bermaksud menaruh benda yang sejak tadi dipegangnya, Khalisa menepuk dahi, ingin rasanya menjitak diri sendiri.
“Ya ampun, kenapa malah nyangkut di tanganku dan kubawa-bawa dari tadi sih?” gerutu Khalisa, saat menemukan benda yang dicari terjebak dalam kepalan tangannya sendiri. Pipinya bersemu, malu.
“Pasti saking bucinnya Bunda sama Papa, sampai kaos dalamnya pun enggak rela berjauhan. Iya kan?” Yudhis terkekeh renyah. “Kenapa enggak sekalian dengan celana dalamku juga?” godanya.
“Ish, Abang mesum! Kenapa jadi bahas ******. Udah ah, aku mau siapin sarapan!” gerutunya yang kemudian terbirit-birit melarikan diri keluar dari kamar.
Sudah satu minggu Khalisa bisa kembali menyiapkan sarapan tanpa drama, tetap dibantu Bi Dijah tentu saja. Mual muntahnya sudah mulai berkurang, tak seintens beberapa waktu ke belakang. Afkar masih pulas begitu hidangan sarapan siap, sehingga Yudis beserta Khalisa memutuskan sarapan berdua saja. Namun, selepas sarapan pagi ini, Khalisa merengek manja, mendadak tak ingin ditinggal pergi bekerja. Bermanja memeluk Yudhis yang sedang merapikan berkas yang akan dibawanya ke kantor.
“Sejak hari ini,” cicit Khalisa, memasang senyum semurni malaikat tanpa dosa, tak sadar diri sedang berulah.
“Bunda Sayang, Papa yang ganteng ini harus berangkat bekerja. Harus cari nafkah buat kita semua. Kalau begini terus, yang ada semangat bekerja berhamburan. Jadinya pingin kelonan terus di kasur kayak semalam.” Yudhis mengecup kening Khalisa membujuk.
Bukan mengurai pelukan, Khalisa mengigit bibirnya sensual. “Boleh, ayo kelonan, apalagi hujan-hujan begini, enaknya bobo dipeluk Papa ganteng,” ujarnya jahil yang dihadiahi kecupan gemas bertubi-tubi di wajah cantiknya.
“Jangan menantangku, aku kuat kelonin kamu seharian kalau kamu mau. Tapi nanti dedeknya demo, terus marah sama Papanya. Bisa menyebabkan situasi gawat darurat andai nantinya mamanya malah diboikot enggak boleh dikunjungi dalam waktu lama. Itu bencana buatku.”
Yudhis mengusap sayang punggung Khalisa, tatapannya berubah cabul dan entah mengapa Khalisa malah suka itu, terutama sejak mengandung. Jenis tatapan intim yang selalu diberikan Yudhis saat menggaulinya mesra.
“Aku berangkat dulu boleh?” bujuknya lagi, sembari terus melirik arloji mengingat Yudhis memiliki jadwal persidangan pagi, hanya saja dia tak mengatakannya gamblang pada Khalisa, tidak ingin membuat mood wanita hamil tersayangnya merasa terbebani.
Walaupun dengan berat hati, Khalisa akhirnya mengangguk. Amat paham kelakuannya ini kekanak-kanakan. “Ya udah deh, boleh.”
“Makasih Bunda Cantik. Mau dibelikan apa pulang kerja nanti? Camilan misalnya, kuliner di jalan Riau kalau sore banyak yang enak-enak,” tawar Yudhis, lantaran selama beberapa hari ke belakang Khalisa sering meminta dibelikan menu camilan yang dijual di angkringan.
“Lagi enggak mau camilan.” Khalisa menggeleng pelan.
“Terus maunya apa? Apapun boleh, pasti kubelikan. Aku kerja keras begini juga buat kamu dan anak-anak kita.”
“Mmm, beneran boleh?” Intonasi bicara Khalisa terdengar tak yakin.
“Iya, boleh. Coba bilang mau apa? Mungkin saja bagian dari mengidam kan? Bukankah wanita hamil begitu? Adakah yang belum kesampaian?” tanya Yudhis penuh perhatian.
Khalisa mengelusi perutnya, menatap Yudhis agak aneh. “Iya sih, sebenarnya, aku pingin dibelikan daster ruffle yang dijual di pasar baru, bukan yang di butik mahal teman Abang. Daster viral yang harganya murah itu. Tapi Abang yang harus beli sendiri langsung ke pasar, jangan nyuruh Raja.”
Bersambung.