Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Bukan Dia


Bab 61. Bukan Dia


Yudhis menepikan mobilnya supaya tidak menyebabkan antrean kemacetan kendaraan di belakang akibat kendaraan yang dikemudikannya melaju pelan.


“Jadi, itu mantan suamimu juga si wanita yang dipilihnya untuk menduakanmu?” tanya Yudhis, ikut memerhatikan sosok pria tinggi putih berambut lurus berkemeja biru dan wanita berbaju coklat ketat dengan model pendek sepuluh senti di atas lutut.


Untuk ukuran cantik wanita itu bisa disebut cantik walaupun tidak didapati pancaran inner beauty. Sama halnya dengan si pria yang menggandengnya, terbilang tampan juga perlente dengan penutup raga mahal yang dipakainya, hanya saja auranya tidak bersinar, gesturenya penuh ambisi yang terbungkus kegelisahan.


“Bagaimana kalau kita buntuti saja mobil mereka sampai ke kediamannya nanti? Kita bisa menemukan keberadaan Afkar lebih cepat dibandingkan dengan menyusuri secara mandiri,” usul Yudhis kemudian.


Hening membentang di dalam mobil, tak kunjung mendapat jawaban juga respons dari wanita yang duduk di sebelahnya, Yudhis melirik pada Khalisa yang masih menatap lurus. Pria tampan berhidung mancung itu ikut meruncingkan sudut mata begitu mendapati ekspresi Khalisa memicing serius. Bukan tatapan marah maupun dendam yang dilayangkan mata indah Khalisa, tetapi justru bias penuh tanda tanya yang bergerombol di manik coklat gelapnya.


“Khal, kenapa kamu lihatin mereka sampai kayak gitu?”


“Itu, itu bukan wanita yang dibawa Mas Dion ke rumah, bukan Amanda,” cicit Khalisa yang kemudian menoleh dan menatap Yudhis dipenuhi sejuta tanya di riak-riak bola mata jernihnya.


“Bukan wanita yang pernah dijadikan madumu?” Yudhis menelengkan kepala, ikut tercengang.


Khalisa menggeleng tanpa ragu. “Iya, itu bukan Amanda. Dan aku tidak tahu siapa wanita itu. mungkinkah, Mas Dion sebenarnya memang suka bermain api? Punya kepribadian suka berselingkuh?” ujarnya berspekulasi. “Kalau cuma teman enggak mungkin sampai gandengan mesra begitu kan?”


Khalisa tampak termenung sejenak, lalu menggerakkan kepalanya pelan ke kiri dan ke kanan.


“Buat apa? Saat ini yang kuinginkan adalah segera menemukan Afkar, bukan bertemu dan berseteru dengan mantan suamiku yang pasti malah membuat semuanya kian runyam dan sulit. Aku ingin memancing di air jernih dan tenang sampai ikannya kudapat, beda cerita kalau Afkar sudah di pelukanku, berperang dan baku hantam pun aku tidak takut. Kalau gegabah bertindak sekarang, aku takut anakku yang nanti disakiti,” jelas Khalisa seraya menggigit bibir, jelas teramat khawatir pada si buah hati.


Yudhis mengangguk paham. “Kamu benar, tak kusangka pemikiranmu mulai bekerja dengan matang sekarang,” puji Yudhis dengan tatapan memuja yang amat kentara.


“Ini semua juga berkat Bang Yudhis. Setelah banyak berbincang dengan Abang, isi kepalaku yang keruh oleh kekalutan mulai jernih sekarang,” sahut Khalisa yang berusaha mengukir senyuman di tengah matanya yang berkaca-kaca.


“Aku ada ide. Tunggu di sini sebentar, tetaplah di dalam mobil.” Yudhis membuka sabuk pengaman, bersiap turun.


“Mau ke mana?” Refleks, tanpa sadar Khalisa menahan lengan Yudhis, kelopaknya mengerjap dengan riak netra seolah takut ditinggal sendiri.


“Mau memancing ikan tanpa membuat keruh airnya seperti yang kamu bilang tadi. Tenang, kamu aman di sini, kaca mobil ini lebih gelap dan kupastikan mantan suamimu tidak akan melihat keberadaanmu. Aku janji enggak lama, duduk manis dan tonton aksiku, oke?” Yudhis mengedipkan sebelah mata, juga mengusak kepala Khalisa gemas terbalut sayang sebelum turun dan memasuki kedai kopi.


Bersambung.