Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Nakal


Bab 151. Nakal


Menyambar baju sembarang dari lemari, Khalisa membungkus tubuh menggunakan daster pendek sepaha. Sembari menunggu Yudhis kembali dari kamar mandi, ia membuka ponsel dan membaca beberapa artikel seputar rumah tangga guna mengusir bosan.


“Kenapa bang Yudhis lama banget ya? Mungkinkah mandi lagi?” gumam Khalisa pelan.


Teringat kembali pada sikunya yang menyentuh sesuatu tadi, tanpa disuruh jarinya mengetikkan informasi edukasi seputar kehidupan ranjang suami istri di kolom pencarian internet. Sejumlah result muncul berjejer, Khalisa memutuskan mengklik, membuka yang terdapat di laman teratas. Membaca serius, memicingkan mata.


Di sana tertera, idealnya para suami dianjurkan ejakulasi 21 kali dalam satu bulan, artinya kurang lebih sekitar lima kali dalam seminggu. Guna menjaga kesehatan lahir batin serta memelihara keutuhan rumah tangga. Kebutuhan yang amat krusial.


Membasahi bibir, Khalisa resah sendiri. Yudhis sudah satu bulan tak menyentuhnya yang artinya sudah sebulan pula tidak ada pelepasan. Sebelumnya ia tenang-tenang saja, sebab sal tersebut memang sudah disetujui kedua belah pihak. Hanya saja sekarang memunculkan kekhawatiran. Takut suaminya berpaling andai hasrat primitifnya tak terpuaskan, ketakutan lumrah para wanita pada umumnya terlebih bagi Khalisa yang pernah gagal dalam menjalin hubungan rumah tangga.


Dalam kasusnya, Yudhis sendiri yang mengusulkan demi keamanan kehamilannya meski dokter tak melarang sepenuhnya, dan Khalisa pun mematuhinya. Walaupun harus diakui, sudah satu minggu ini mendadak dirinya rindu dicumbu mesra dalam penyatuan intim, mungkin efek hormon kehamilan.


“Haruskan aku mencoba mengajak lebih dulu? Bang Yudhis pasti tersiksa. Dokter Aloisa bilang kalau istri mengajak lebih dulu banyak faedahnya, termasuk besar pahalanya.” Khalisa tampak berpikir, tidak ada salahnya mencoba bukan? Semakin berkeinginan kuat memberi hak pada suami luar biasanya, sebagaimana Yudhis bertanggung jawab penuh terhadapnya.


Namun, sejurus kemudian Khalisa malah menggeleng sembari menepuk pipinya yang memanas. “Tapi aku malu,” cicitnya bingung.


“Kenapa belum tidur?”


Suara maskulin Yudhis mengagetkan Khalisa, membuat ponsel di tangannya jatuh ke atas pangkuan.


“A-aku nunggu Abang. Sejak hamil, aku baru bisa tidur kalau dipeluk. Kayaknya dedeknya bucin sama Papanya,” sahutnya beralasan manis. Mata Khalisa fokus pada rambut Yudhis terlihat mengkilap basah. Sepertinya terkaannya benar, suaminya itu memang mandi lagi.


Benar, Yudhis memang sengaja mengguyur diri demi meredam gairah panasnya yang mencuat. Hanya itu satu-satunya cara yang dirasa ampuh dilakukan dalam kurun waktu sebulan ini. Tidak tertarik pada media licin berbusa penghuni kamar mandi yang konon kata rekan-rekannya bisa dijadikan alternatif, karena menurutnya justru seakan mencoreng integritasnya sendiri sebagai pria terhormat.


“Jadi cuma dedeknya yang bucin? Undanya enggak nih?” ujar si tampan berlesung pipi itu merajuk. Masuk bergabung dalam selimut, tetapi bibirnya mengerucut mirip paruh bangau.


Kekeh renyah Khalisa berderai. Yudhis memang jarang begini, cenderung sangat dewasa. Akan tetapi sekalinya merajuk, suaminya itu imut bukan kepalang.


“Tentu saja Undanya juga. Kalau tidak, enggak mungkin kan perutku jadi benjol ada berisi tunas begini.” Khalisa mengelusi perutnya yang mulai menyembul meski samar, sembari melirik Yudhis yang malah mendengus ketus.


Menimbang-nimbang pikirannya tadi, Khalisa menggeser dirinya merapat pada Yudhis yang masih bersandar di atas kasur, sedang mengatur alarm.


Tanpa aba-aba, Khalisa merayap naik ke pangkuan Yudhis. Duduk di sana, menghentikan kegiatan Yudhis.


Bukannya menjawab, Khalisa malah makin merapatkan diri. Mengalungkan lengan ke leher Yudhis, mengecup bibir cemberut sang suami, membuat Yudhis mengerjap kaget.


“Bang, aku … aku …” Khalisa menggigit bibir sensual, belum melanjutkan kalimat. Masih ada rasa enggan meski ia pun berdesir mau, takut ditolak seperti yang pernah dilakukan Dion padanya dulu.


“Ka-kamu kenapa Khal? Ada apa?” Yudhis gelagapan. Ingin berteriak frustrasi sekarang. Baru saja gairahnya mereda, Khalisa malah beraksi begini membuatnya menegang lagi. Terlebih bagian titik didihnya di balik trening tergesek hangatnya kulit Khalisa yang hanya terbalut daster tipis super pendek.


Mengumpulkan keberanian, Khalisa menyondongkan tubuh.


“Aku … aku rindu ingin dibelai, Abang,” bisiknya malu-malu ke telinga Yudhis, menenggelamkan wajah meronanya di pundak lebar suaminya.


Yudhis memicing penuh arti saat menyadari Khalisa hanya mengenakan daster tanpa dalaman atas maupun bawah. “Nakal!” ujarnya gemas.


“Dokter bilang juga boleh kan, asalkan lembut saja, pelan-pelan,” cicitnya mendayu, suara merdu yang mampu membuat Yudhis turn on seketika.


Yudhis mengerang frustrasi. Membuang napas kasar. “Aku masih ingat statement dokter dan aku juga lebih dari ingin. Tapi, aku takut lupa diri saat tergulung kenikmatan. Bagaimana kalau aku malah memacu liar? Arghhh … aku frustrasi,” keluhnya, yang balas memeluk. Menoleh dan mengecup bibir Khalisa.


Terlambat. Khalisa malah balas menyambar kecupan Yudhis yang bermaksud sekilas saja dengan pagutan membelit. Bak magnet dan besi, dalam sekejap mereka saling mencecap mengaburkan kewarasan. Saling membelai. Memuja raga masing-masing. Memenuhi cawan dahaga mereka dalam peleburan lembut dihujani cinta. Memenuhi ruangan sunyi dengan lenguhan saling bersahutan.


*****


Sesosok mayat perempuan tanpa identitas yang sudah rusak ditemukan mengapung di Pantai Pangandaran pagi ini. Dari identifikasi awal, diperkirakan wanita tersebut meninggal dalam kondisi pasca keguguran.


Siaran di televisi pagi ini, membuat Khalisa bergidik ngeri saat pewarta membacakan berita. Ia sedang memberi makan ikan Koi bersama Afkar setelah Yudhis berangkat bekerja sembari menonton info pagi melalui televisi di gazebo taman.


“Kasihan. Biasanya yang kayak gini tuh korban PHP para pria bejat hidung belang.” Bi Dijah ikut nimbrung.


“Ngeri ya, Bi. Semoga kita semua dilindungi dari hal-hal buruk semacam itu,” sahut Khalisa yang kini ingin memfokuskan mata pada gelang yang dipakai korban.


Sebuah gelang merah khas Thailand dengan inisial pada bagian bulat emasnya. Meski jasadnya diblur, bagian tangannya masih terlihat samar. Khalisa ingat betul karena waktu itu tangan yang memakai gelang serupa pernah memegang lengan Yudhis sewaktu di klinik kecantikan Aloisa.


“Bukannya itu gelang yang dipakai si wanita gatal yang pernah menggoda Bang Yudhis tempo hari?”


Bersambung.