Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Maaf


Bab 83. Maaf


Meja makan berlapis kaca tebal itu kini sudah dipenuhi berbagai macam menu masakan. Nasi liwet beserta lauk kawan-kawannya yang tadi dimasak Khalisa juga Bi Dijah telah matang tersaji, menguarkan aroma lezat menggugah perut yang lapar.


Kali ini ada yang berbeda dari biasanya, nasi liwetnya ditaburi ikan teri medan yang sudah digoreng sebagai topingnya, juga ada tambahan menu sambal lainnya, yaitu sambal hijau mentah segar yang ditaburi daun kemangi.


Bi Dijah menata piring saji di meja sebanyak lima buah, tak lupa buah melon juga jeruk sunkist sebagai pencuci mulut sedang dipotong-potong oleh Khalisa, dituang rapi ke dalam wadah beling khusus untuk menyajikan buah-buahan.


Maharani dan Barata muncul di ruang makan. Khalisa langsung kikuk begitu mendapati orang tua Yudhis menghampiri meja. Ditaruhnya pisau yang sedang digunakannya memotong buah, menunduk sungkan sembari menggenggam kuat kedua tangannya yang terjalin.


“Wah, baunya harum,” kata Maharani antusias, mengamati hidangan di meja.


“Gimana, Nyonya? Sedap kan aromanya. Rasanya pun dijamin spesial.” Bi Dijah yang sedang memindahkan lalapan dari wadah berongga ke atas piring saji ikut nimbrung


“Iya, Bi, seperti biasa, menggugah selera. Papinya Yudhis ketagihan makan nasi liwet semenjak dimasakkan Bibi setahun lalu. Sewaktu menginap beberapa hari di Jakarta saja pun yang dipesannya di hotel selalu saja minta nasi liwet, enggak ada bosannya. Tapi ya begitu, tidak ada yang seenak buatan di sini, terutama buatan Bibi.”


Barata menarik kursi yang bersebelahan dengan Afkar, duduk di sana dan melihat-lihat sajian makan malam menggugah selera di hadapannya.


“Mmm baru dari aroma dan tampilan masakannya saja bikin Papi laper berat. enggak sabar pingin makan, sudah kangen juga dengan nasi liwet di Bandung.” Barata berujar penuh semangat, bukan hanya bualan, tetapi dia memang benar-benar lapar juga rindu mencicipi menu favorit ini setiap kali datang ke rumah Yudhis. "Tapi ini nasi liwetnya model baru ya?" Barata menunjuk wadah nasi liwet hangat yang masih mengepulkan asapnya.


"Itu nasi liwetnya spesial buatan Neng Khalisa, Tuan. Sambal hijau sama tumisan jambal roti juga buatan Bunda cantik ini." Bi Dijah menjawab menjawab penuh semangat sembari melirik Khalisa yang setia menatap lantai.


"Wah, masih muda sudah pandai masak, nasi liwetnya menggugah selera," puji Barata. "Masakannya bikin perut Papi beteriak minta diisi nih."


“Khalisa,” sapa Maharani dengan nada lembut keibuan.


“I-iya, Nyonya,” sahut Khalisa takut-takut.


Khalisa tak bisa untuk tidak tergagap saking gugupnya, tetap menunduk tak berani mengangkat wajah. Khawatir kemungkinan ibunya Yudhis akan mencecarnya kasar, sebagaimana Wulan dulu sering mencecarnya.


Bertemu dengan sosok wanita bertitel ibu seolah membentuk trauma tersendiri dalam diri Khalisa yang tak pernah punya orang tua, terlebih lagi berdasarkan cerita Aloisa ibunya Yudhis ini orang kaya raya, yang menurut pemikiran sempitnya sudah pasti lebih menyeramkan dari Wulan, terlebih lagi saat ini ia banyak merepotkan anaknya, mungkin saja ibunya keberatan.


“Maafkan Mami, ya, kalau tadi bikin kamu kaget. Mami cuma terkejut mendapati Yudhis pulang bawa perempuan sama anak kecil. Jadinya Mami langsung berpikiran yang tidak-tidak,” ujarnya jujur, mencoba mencairkan suasana, sebab ketegangan yang merambati Khalisa berpendar kuat ke sekitar, tersampaikan pada Maharani dan Barata.


Ketegangan yang sedari tadi mengungkung Khalisa kuat, berhamburan simpulnya. Khalisa sekarang malah melongo, mengerjap heran mendengar kalimat Maharani yang di luar dugaan meminta maaf padanya, bukan memarahinya.


“Ba-bagaimana, Nyonya?” sahutnya yang mendadak linglung, diperlakukan penuh hormat bahkan ada yang meminta maaf padanya sebab sebuah reaksi yang bagi Khalisa tidak begitu ekstrim, merupakan hal yang teramat baru baginya. Lantaran Khalisa lebih terbiasa direndahkan atau dicaci maki.


“Maksudnya Mami minta maaf atas sikap impulsifnya saat kita pulang tadi, Khal. Cuma reaksi spontan saja.” Yudhis yang baru memasuki ruang makan ikut menimpali, menarik kursi tak jauh dari Barata sehingga Afkar diapit dua pria tampan berbeda generasi itu.


“Iya, begitu, Nak. Maklum, jiwa ibu-ibu Mami sering meronta seiring bertambahnya usia, gampang rempong." Barata yang sedang mencoba berkomunikasi dengan Afkar ikut bersuara sembari terkekeh, raut kebapakannya tergambar jelas, menenangkan siapa pun yang menjadi lawan bicaranya.


Khalisa malah menyusut ujung matanya kini, terisak-isak karena haru, membuat Maharani panik, merasa bersalah telah membuat anak orang menangis.


Bersambung.