
Hai Kak, apa kabar?
Lagi nungguin apa yang dikatakan Nyi Kembang ya?
Tapi, sebelum membaca lanjutan ceritanya. Biasakan klik gambar 'jempol' di bawah ya!
Ayo Klik tanda 'Jempol'nya sekarang!
Nah, gitu dong!
Makasih.
Kalau sudah, sekarang saatnya Kakak mengetahui kelanjutan ceritanya.
Cekidooooot ...
Aku menunggu jawaban Ibu tentang pesan dari Nyi Kembang. Ibupun berkata kepadaku.
"Nyi Kembang berkata, 'Imran ini berbeda dengan anak yang lain, Ningrum. Dia memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, terlebih dalam hal-hal yang bersifat ghaib.' Kemudian Ibu bertanya, 'Apakah Imran memiliki kemampuan seperti paranormal begitu, Nyi?' Nyi Kembang terkekeh mendengar pertanyaan Ibu, 'Bukan begitu maksudnya, Rum. Imran ini sama seperti anak-anak yang lain, tapi jika ada sesuatu yang terkesan ditutup-tutupi atau masih misterius, ia tak akan tinggal diam, sama seperti Sarmo, kakeknya, ia akan menguraikan semua misteri itu dengan cara apapun.' Ibu menyahut lagi, 'Berarti anakku berani sama hantu?' Lagi-lagi Nyi Kembang terkekeh, 'Bukan berani, Rum. Tapi lebih tepatnya dia akan jadi anak yang nekad nantinya. Rasa takutnya akan kalah dengan rasa keingintahuannya itu, maka dari itu Kamu harus terus memantau dan membimbing anakmu ini, karena bahaya selalu mengancamnya.' Ibu manggut-manggut saja waktu itu," cerita panjang lebar ibuku.
Aku mendengarkan dengan seksama cerita ibuku itu, kalau dipikir-pikir, apa yang dikatakan Nyi Kembang pada Ibu itu ada benarnya juga.
"Yah, begitulah aku adanya. Anak beranjak remaja yang ganteng tapi tidak sombong, takut dengan hantu tapi selalu bersentuhan dengan hantu. Jadi kalau ada orang yang menyuruhku untuk membiasakan diri dengan hantu, jawabanku simpel saja. Aku akan memilih membiasakan diri dengan makanan khas daerah lain atau negara lain, meskipun mungkin awalnya agak aneh di lidahku. Kalau untuk membiasakan diri dengan hantu, aku acungi jempol kalau memang ada orang yang bisa seperti itu. Bisa dibayangkan, bangun tidur di sebelahnya ada pocong, mandi ditungguin kuntilanak, sarapan ditemani genderuwo, ke sekolah diantar tuyul, terus sehari-hari main sama mayat hidup. Kalau aku sich ogah, kalau harus seperti itu. Aku lebih baik memilih untuk melenyapkan mereka dengan menghilangkan energi negatif yang menyebabkan mereka muncul di sekitar kita."
"Apakah aku ditempeli jin sehingga aku kadang bisa melihat keberadaan mereka? Apa yang aku lihat juga dilihat oleh orang lain, kok. Bahkan kadang-kadang temanku dapat melihatnya sedangkan aku tidak, itu artinya aku tidak memiliki kemampuan untuk melihat mereka, merekalah yang memang sengaja menunjukkannya kepadaku atau teman-temanku, seperti yang dikatakan Nyi Kembang. Aku orangnya suka penasaran dan tidak suka melihat misteri ada di sekitarku. Kalau ada pocong sering mengganggu warga, masak mau aku biarkan, atau aku harus ngajari orang-orang supaya terbiasa dengan adanya pocong, hidup berdampingan dengan pocong? Enggak dong, aku lebih memilih mengajak teman-teman untuk memecahkan misteri di balik kemunculan pocong itu, tujuannya untuk mengurangi atau menghilangkan energi negatif pocong tersebut, biasanya ketika misterinya sudah terkuak, pocong itu akan menghilang dengan sendirinya. Bisa diibaratkan dengan tukang tagih hutang yang datang ke rumah kita, menghantui hidup kita. Datangnya tiba-tiba dan mengganggu kehidupan kita. Coba hutang kita sudah lunas, tentunya si penagih hutang nggak akan datang-datang lagi, kan? Entahlah kalau ada orang yang terbiasa dihantui penagih hutang selama hidupnya, mungkin ada, tapi yang jelas aku tidak seperti itu."
"Loh, kok malah ngelamun Kamu, Im?" Ibu mengagetkanku.
"Eh, iya Bu. Mungkin saya kecapekan saja, ini besok saya dan teman-teman akan tampil menari tarian Labako di sekolah." jawabku.
"Wah, bagus itu. Itu kan tarian khas daerah kita, menggambarkan kebahagiaan masyarakat yang sedang memanen daun tembakau. Bukankah waktu Kamu SD sudah diajarkan oleh gurumu?" ucap Ibuku dengan berapi-api.
"Iya sich, Bu. Tapi saya agak lupa dengan gerakan-gerakannya, tapi nggak apa-apa dech Toh yang menari di depan kan ada Lidya dan Cindy yang emang pandai menari." ucapku.
"Ya sudah kalau emang begitu, Kamu nggak usah bingung. Tinggal mungkin nyiapin aksesoris untuk menunjang penampilan kalian nanti di atas pentas," ucap Ibuku yang sudah reda tangisnya.
"Iya, makasih banyak ya, Bu. Ibu nggak usah bersedih-bersedih lagi, saya berjanji akan menjadi anak yang sholeh dan juga akan menjaga diri baik-baik. Ibu jangan terlalu mengkhawatirkan saya, ya?" ucapku.
"Tenang dech, Bu. Insyaallah saya tidak akan seperti itu. Doakan terus ya, Bu" ucapku pelan.
"Aamiiin ya robbal aalamiiin ..." ucap ibuku.
Setelah itu akupun mempersiapkan barang bawaan untuk besok dan berangkat tidur.
*
Esok paginya bapak mengatakan kepadaku bahwa itulah hari terakhir beliau mengantar jemput ke sekolah. Hari seninnya aku sudah harus berangkat sendiri naik sepeda BMX kesayanganku. Dalam hati aku senang juga karena sudah dipercaya oleh kedua orang tuaku dan juga kasihan sama Bapak, karena harus bolak-balik ke sekolah, sementara pekerjaan di sawah sedang banyak-banyaknya.
"Aku berusaha berdamai dengan Bapak. Aku tidak boleh menghakimi Bapak atas kesalahan yang belum tentu ia lakukan. Selain itu aku juga berpikir bahwa setiap manusia tidak luput dari dosa dan kesalahan. Yang paling penting, jika nanti memang terbukti Bapak memilihi kesalahan di masa lalu, ia harus berani mempertanggungjawabkan apapun yang pernah ia lakukan saat itu. Aku sendiri yang akan menagihnya kepada Bapak. Tapi tentunya itu nanti, setelah aku dan teman-temanku bisa mengurai semua misteri yang ada di sekolahku"
Sesampai di sekolah, kami berkumpul bersepuluh. Syukurlah, sejak kejadian di kebun kopi kemarin, kami menjadi lebih kompak dari sebelumnya. Mungkin itulah yang dinamakan hikmah, karena suatu perbuatan positif, maka membuat manusia bisa melakukan introspeksi dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Kami tim srigala sudah bersiap diri memakai busana dan aksesoris untuk menari tarian daerah di atas pentas, tiba-tiba Lidya berkata kepadaku.
"Im, Cindy tidak bisa ikut tampil menari, kakinya masih kurang sehat. Tadi, sebelum Kamu datang, kami bersembilan sudah berunding untuk memilih anak yang menggantikan posisi Cindy di depan bersamaku. Dan kami semua sepakat memilih Kamu," ucap Lidya serius.
"Apa??? Kamu serius, Lid?" tanyaku dengan tatapan mata dan ekspresi wajah sangat tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh teman setimku itu.
"Iya, Im. Kami serius, kata lima anak itu, Kamu cukup luwes menari sewaktu menyelamatkan mereka di kebun kopi semalam," ucap Cindy memperkuat opininya barusan.
"Hah????"
Bersambung
Kalem-kalem asal kelakon ya, Kak. Nggak usah ngebut-ngebut yang penting marem.
Oh ya, berhubung bab ini sudah selesai, seperti biasa aku menagih bayaran, yaitu dengan 'vote' yang kakak kirimkan untuk novel KAMPUNG HANTU ini.
Ayo, vote-nya jangan sampai lupa ...
Makasih ya, Kak atas semuanya
See U next episode.