KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
Kampung Misterius


Kami melirik satu sama lain memberi isyarat dan mengangguk setuju.


"S-satu"hitung dimas gagap membuat deru nafasku semakin kencang.


"Lariiiiiiiiiii"teriak bejo tiba-tiba memporak -porandakan rencana awal.Kami lari terbirit -birit membuatku sempat terjatuh, berdiri dan langsung lari lagi.


"Hah hah hah "deru nafas kami,aku bertungku pada lutut mengatur detakan jantung yang masih kencang.


Dup dup dup


Jantung terasa masih bisa ku dengan detakannya, aku menarik nafas dalam -dalam menghembuskannya lewat mulut secara pelan berkali -kali sampai ritme jantung mulai turun dan kembali normal. Setelah semua tenang tidak ada yang memprotes aksi bejo tadi karena kami tahu ada yang lebih penting dari itu. Pulang. Kata yang ingin kami lontarkan yang berada dipikiran ,tapi tidak kami ucapkan.


Kamipun berjalan tidak tahu arah jalan ,hanya mengikuti kaki ini melangkah .


"Kenapa jalan hutan ini berbeda ya?tidak seperti biasanya ?"ujar subhan memecah keheningan.


"Mungkin karena malam kalik han!"ujarku mengelak dari pikiran burukku sendiri .


"Bukankah sama! siang dan malam cuman karena ada cahaya matahari .hmmmmmm entahlah mungkin karena malam aku lupa jalan "ujar subhan bingung dengan ucapannya sendiri.Kami terus berjalan mengandalkan cahaya senter yang mulai meredup kehabisan batre, sampai kami tiba di sebuah gapura yang terbuat dari bambu berdiri kokoh dengan ukiran kuno sebagai tanda pengenal daerah itu"KAMPUNG LAWUH PATI" tulisan yang tertera di gapura itu.


"Ini kampung apa?perasaan tidak ada kampung lain selain kampung kita dan kampung semberang?"ujar bejo keheranan yang sama dengan pikiran ku.


"Sebaiknya kita masuk aja, menanyakan jalan ke orang sini!"ujar sumbri bijak.


Kamipun mengangguk setuju dan berjalan masuk.Setelah melewati gapura sebuah keanehan terjadi jika di luar malam tapi di dalam kampung ini siang, bahkan bejo meminta dimas untuk mencubitnya.


"Aw sakit pe'a"keluh bejo memegang bekas cubitan dimas yang hanya menampilkan deretan giginya saja.


Aku tak menghiraukan pembicaraan mereka tapi mataku terfokus ke seorang gadis bertubuh gembuk rambut lurus yang berjalan dan tidak menoleh tapi aku yakin di itu...... Jumaisaaa......


Akupun mengejar gadis itu yang di ikuti oleh teman-temanku dengan banyak rentekan pertanyaan mereka, karena aku berlari tanpa sebab. Akupun semakin kencang mengejar nya.


"Jumaisa...... tunggu!!!"teriakku yang berhasil membutnya berhenti di bawah pohon mangga, gadis itupun menoleh dan benar dia itu jumaisa. Kami mendekat melihat wajah nya yang pucat seperti mayat seperti tidak ada aliran darah, bibirnya kehilanga warna nya sungguh Jumaisa seperti mayat hidup saja.Aku menarik tangannya mengajak nya pulang tapi dia menggeleng tidak mau.


"Ayo pulang sa... kasihan orang tuamu! emak mu menangis mencari mu"ucapku membujuknya yang hanya diam membisu tapi matanya mengisyaratkan kesedihan yang mendalam.


"Iya benar kata adi! ayo pulang!! semua warga mencarimu"ujar dimas membujuk Jumaisa juga.


"Tidak! aku tak bisa pulang "ucapnya singkat yang membuat kami bingung.


"Kenapa ?"tanya subhan.


"Sekarang ini tempat ku, sebaiknya kalian cepat pulang sebelum sang penguasa mengetahuinya"jelasnya yang membuat kami semakin bingung.


"Aku sudah di tumbalkan oleh ibuku untuk kekayaan ke mbah dirjo, pesanku cuman satu tolong kuburi mayat ku yang berada di dekat pohong beringin kembar dengan layak "sambungnya lagi.


Deg


"Cepatlah pergi!!"suruhnya.


Kamipun berbalik untuk meninggalkan jumaisa, rasanya sungguh tidak ikhlas .


Saat beberapa langkah bejo berbalik dan menghampiri jumaisa.


"Sa maafin aku! selama ini aku sering mencuri sandal sebenarnya aku cuman iseng aja"ujar bejo menunduk malu.


"Sebelum kamu minta udah aku maafin duluan dan jangan jadi kebiasaan ngerjain orang!"ujar jumaisa.


"Aku pulang semoga bahagia di sini!"sambung bejo lagi, ternyata tuh anak punya rasa simpati yang tinggi meski anaknya slewengan kayak gitu.


"Jika ada yang memanggil kalian jangan menoleh ataupun berbalik jika tidak kalian akan di sini selamanya"pesan jumaisa sebelum kami meninggalkannya.


Deg.


Kami pun pergi dengan seribu banyak banyak pertanyaan yang berada dalam benak kami .


"Adi....... Jangan tinggalkan emak nak"Suara emak di belakang tapi aki tak bisa menoleh mengingat pesan jumaisa, mana mungkin juga emak ada di sini.


"Riki...... subhan...... "dan masih banyak panggilan yang kami dengar dari orang dekat ataupun yang di kenal. Kami saling memegang erat ,mengingatkan jika ada yang mau menoleh dan terus berjalan Semakin di percepat. Rasanya pintu keluar masuk kampung ini sungguh jauh perasaan kami tidak masuk terlalu dalam, sampai akhirnya kami melihat cahaya yang menyilaukan mata saat melewati gapura.Gelap.


Aku membuka mata melihat sekeliling karena ada cahaya bulan meski tidak terlalu lumayan bisa membuatku melihat sekitar meski tidak jelas yang harus menyipitkan mata dan sebuah cahaya senter menyilaukan mataku.


"Eh jangan senter mataku"protesku .


"Maaf Adi! aku kira tuyul Hehhehe"ujar subhan yang berjarak 1 meter dariku .Aku tak menanggapi goyongannya lebih baik membangunkan yang lain.


"Mana Bejo? "tanyaku cuman dia yang belum ketemu, atau jangan-jangan........ tidak mungkinkan.


"Aaaarggh toloooong"Teriak seseorang yang suaranya sangatlah familiar.Kamipun mencari asal suara dan menemukan bejo di dekat pohon beringin kembar yang tak jauh dari lokasi dengan keadaan celana yang sudah basah, Pohon beringin yang sangat mirip .plek ketiplek.Di tengah makan dengan jarak beberapa meter dari pohon satu ke pohon lain tapi dengan tinggi dan dahan yang menjulang sama.


"Kamu kenapa jo?"tanya sumbri.Bejo menunjuk kakinya sehingga subhan menyenter kaki bejo yang di pegang oleh sebuah tangan lebih tepatnya kaki bejo menginjak tangan itu,yang membuat kami syok adalah tangan yang menyentuh kaki bejo itu adalah tangan jumaisa dengan baju lusuh kotor karena tanah makam dan tubuhnya di tutupi oleh rumput liar. mengenaskan.


"Uwek uwek uwek"Kami ingin muntah mencium bau mayat itu .Kami memencet hidup agar tak mencium bau mayat sampai terdengar suara gentongan dan warga yang sedang mencari Jumaisa.


"Tolong..... tolong...... kami di sini pakkkk..... "teriak kami karena senter sudah mati kehabisan batre. Para warga seperti ingin berbalik akan menjauh mungkin mereka mengira kami adalah setan.


"Pak..... tunggu.. kami bejo subhan dimas dan sumbri.... "teriak kami berbarengan agar para warga percaya untunglah mereka percaya dan mulai berjalan ke arah kami.


Gimana seru gak ? jangan lupa komen,like ,vote dan hadiah nya ya!..biar aku semangat.


Komen dong kenapa kalian suka novel horor atau film horor :) .