
Latimojong adalah gunung tertinggi di Sulawesi Selatan, yang memiliki tujuh puncak, dengan puncak tertinggi Rante Mario dan ketinggian 3.680 meter di atas permukaan laut serta termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung.
Membentang dari selatan ke utara, Latimojong sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Enrekang, sebelah utara dengan Kabupaten Tana Toraja, sebelah selatan dengan Kabupaten Sidrap, dan sebelah timur dengan Luwu sampai pinggir pantai Teluk Bone.
Gunung Latimojong sendiri termasuk dalam daftar Seven Summit Indonesia, yang berarti gunung Latimojong masuk dalam 7 puncak tertinggi yang ada di indonesia. Untuk mencapai puncak gunung tertinggi di Sulawesi tersebut, akan melewati Dusun Karangan, Desa Latimojong, Kecamatan Buntu Batu, Enrekang. Inilah dusun terakhir sebelum mendaki Gunung Latimojong.
Belum jauh dari dusun, terhampar pemandangan pohon-pohon kopi di sisi kiri dan kanan jalan setapak, dengan buah merah mencolok. Tampak pula karung yang berisi biji-biji kopi yang baru dipanen.
Puncak Rante Mario merupakan favorit para pendaki. Sebelum mencapai puncak pendaki melihat jalan lurus dan lapangan luas terbuka yang dipenuhi perdu, akan tampak jalur menuju puncak dengan sangat jelas.
Pendaki akan sampai di puncak waktu 15 menit di Puncak Rante Mario. Tepat di puncak akan tampak Tugu Tringulasi, dan bisa menyaksikan pemandangan alam Sulawesi Selatan dari puncak tertinggi di tanah Sulawesi Selatan ini.
Gunung Latimojong memiliki keindahan alam yang luar biasa, seperti hutan tropis yang lebat, air terjun yang cantik, dan pemandangan matahari terbit dan terbenam yang sangat memukau.
Meskipun memiliki keindahan alam yang luar biasa, pendakian Gunung Latimojong tidaklah mudah.
Pendakian Gunung Latimojong memerlukan perjalanan yang cukup menantang karena rute pendakian yang terjal dan medan yang berbatu.
Pendaki harus melewati berbagai rintangan seperti medan yang terjal, tebing yang curam, dan cuaca yang tidak menentu. Kadar oksigen yang tipis juga menjadi tantangan tersendiri bagi para pendaki.
Namun, jika berhasil mencapai puncak Rantemario, para pendaki akan disuguhi dengan pemandangan yang luar biasa indah dan tak terlupakan. Pemandangan yang indah dan pengalaman yang menantang tersebut membuat pendakian ini menjadi pilihan yang menarik bagi para pendaki.
Menurut mitos masyarakat setempat, Gunung Latimojong dianggap sebagai gunung suci yang dihuni oleh makhluk halus. Oleh karena itu, sebelum melakukan pendakian, para pendaki harus meminta izin kepada sang pemilik gunung dan melakukan ritual adat sebagai tanda penghormatan kepada makhluk halus yang dianggap sebagai penjaga gunung.
Selain itu, pendaki juga diharapkan menjaga kebersihan lingkungan gunung agar tidak merusak keseimbangan alam dan merugikan makhluk halus yang berada di sana.
Salah satu misteri paling terkenal dari gunung Latimojong ini adalah keberadaan hantu raja dan ratu poppo. Menurut masyarakat lokal, hantu poppo adalah manusia yang hanya terbang pada malam hari.
Mereka suka mencari buah-buahan, ikan, dan hasil kebun. Pada siang hari, mereka tetap terlihat seperti manusia biasa pada umumnya, namun bermata merah menyala. Hantu itu katanya bisa hinggap di pohon atau atap rumah dengan suara “Pok! Pok!”. Kalau suaranya terdengar keras, artinya hantu itu jatuh. Tapi kalau suaranya terdengar pelan, artinya dia berada dekat sekali dengan kita.
Hantu poppo adalah manusia jadi - jadian yang terbang melintasi pohon besar dengan hanya kepala dan usus yang terburai, tanpa badan dan kaki, serta dipenuhi darah segar. Dia juga kadang tampak melesat di luar jendela, dan sesekali singgah seolah berkuda-kuda tepat di atas bubungan rumah bagian depan atau di atas pohon besar.
Karena ia ringan dan bisa terbang, maka dia juga disebut hantu dengan kekuatan separuh kelelawar; yang memangsa buah-buahan matang juga mengisap darah, baik ternak sapi ataupun bayi yang baru lahir bersama dengan ari-arinya.
Ada 2 macam hantu poppo:
Hantu poppo sallang. Jenis poppo ini berbahaya karena sangat dan bisa memangsa orang-orang yang sedang sakit juga suka makan jabang bayi atau bayi yang baru lahir bersama dengan ari-arinya, dan
Hantu Poppo Sallang inilah yang seringkali ditemukan keberadaannya di dalam gua dekat puncak Rante Mario. Hantu ini tinggal di dalam gua untuk menjaga satu pusaka sakti yang tidak boleh diambil oleh sembarang orang. Untuk menjaga lokasi tempat tinggalnya inilah, hantu ini sering membuat beberapa pendaki ketakutan hingga tersesat bahkan bisa hilang kontak untuk beberapa hari karena di sini sinyal HP juga tidak ada.
Contoh ceritanya adalah kisah Rio beserta 3 orang rekannya yang berasal dari kelompok pecinta alam sebuah institut di Makassar, saat melakukan pendakian ke puncak Rante Mario minggu lalu. Rio dan kawan-kawannya sudah berhasil mencapai puncak Rante Mario melalui jalur Enrekang.
Setelah berhasil bermalam dua hari di Rante Mario, para mahasiswa ini pun memutuskan pulang melalui jalur yang berbeda, yang jarang ditempuh oleh pendaki lain, yakni melalui Buntu Ninimori. Namun jalur ini tidak mudah dengan tebing yang terjal dan licin serta kondisi cuaca yang hujan lebat, sehingga mengharuskan para mahasiswa ini mencari gua terdekat untuk berteduh dan bermalam.
Namun naas-nya, salah satu gua yang ditemukan mahasiswa tersebut adalah tempat tinggal dari hantu raja dan ratu poppo sallang; yang mana tidak mau tempat tinggalnya diganggu oleh sembarang orang. Sehingga kemudian hantu raja dan ratu poppo pun menakut-nakuti Rio beserta kawan-kawannya dan mereka menjadi ketakutan hingga kehilangan arah jalan pulang, juga menjadi tersesat di tengah hutan. Apalagi sinyal HP di jalur itu ternyata tidak ada, sehingga menyulitkan Rio dan kawan-kawannya meminta bantuan atau menghubungi rekan lainnya yang berada di kota Makassar.
Rio dan kawan-kawannya sempat kehabisan makanan selama 3 hari lamanya, di mana akhirnya mereka terpaksa bertahan hanya dengan makan seadanya, yakni tumbuhan pakis yang tumbuh liar di hutan; serta 2 orang teman Rio sempat mengalami demam sangat tinggi karena kelelahan dan hypothermia akibat diterpa hujan terus-menerus.
Untung saja para mahasiswa ini selalu kompak dalam mencari jalan pulang serta cara bertahan hidup di hutan, hingga akhirnya mereka bisa mencapai salah satu pungung pegunungan bagian timur, yang di dekatnya ada sungai. Tiba-tiba di daerah tersebut ada sinyal HP walaupun tidak kuat, dan Rio bisa langsung menelpon temannya di kota Makassar supaya menolong mereka. Dengan panduan lewat lokasi telpon seluler dan internet, para mahasiswa ini akhirnya berhasil menemukan rumah penduduk terdekat dan mereka akhirnya terselamatkan.
Rio pun lalu menceritakan kepada penduduk setempat bagaimana mereka bisa tersesat karena penampakan hantu yang terbang hanya dengan berkepala manusia dan usus terburai; sehingga mereka tidak bisa bermalam di dalam gua dekat puncak Rante Mario. Para penduduk pun mengamini cerita Rio dan kawan - kawannya sembari menjelaskan bahwa yang ditemui mereka itu adalah hantu poppo yang memang melegenda di daerah tersebut.
Hantu raja dan ratu poppo Sallang memang sangat disiplin menjaga gua tempat tinggalnya, karena di dinding gua tersebut masih tertancap senjata Tombak Cakra Langit yang sangat sakti. Mitosnya dahulu senjata tersebut dipergunakan untuk menaklukkan Prabu Siliwangi dari kerajaan Pajajaran.
Tombak Cakra Langit ini memiliki 7 cabang tombak ditambahkan dengan dua ujung tombak lagi sehingga total berubah menjadi 9 cabang. Motif tombaknya lurus dengan kinatah emas murni berbentuk jangkar melingkar, di tengah badan menjulang empat tombak kecil melingkari kepala, dengan kinatah berlian red-diamond memutar.
Kesaktian tombak Cakra Langit yang berhasil mengalahkan Prabu Siliwangi, tentunya menjadi senjata bermanfaat apabila dipakai untuk kebaikan. Namun apabila dipakai oleh aliran hitam, maka akan menjadi malapetaka terbesar yang pernah ada. Dan hingga sekarang, tombak tersebut masih tertancap di dinding gua dekat puncak gunung Latimojong karena belum ada yang mampu mencabutnya. Entah ada kisah apa sebelumnya hingga Tongkat Cakra Langit yang berasal dari tanah Jawa bisa tertancap dalam Gua di tanah Sulawesi.
Kembali ke kediaman Juragan Seno di Kampung Hantu, Ki Sabrang merasa gelisah dalam semedinya. Dalam benaknya selalu terngiang dan mendengar bisikan yang menyebut-nyebut Tombak Cakra Langit. Ki Sabrang menjadi gundah karena selain dengan pertanyaan seberapa saktinya pusaka tersebut agar bisa mengalahkan Pusaka Kujang Pamenang milik Rama, tapi juga dengan pertanyaan apakah Ki Sabrang masih mampu berkelana mencari pusaka tersebut dengan luka parah yang masih dideritanya sekarang ini. Inilah repotnya bagi kondisi Ki Sabrang sekarang ketika sudah tidak lagi memiliki guru atau sekutu hantu yang bisa membantunya untuk memulihkan diri.
Sementara itu, Juragan Seno masih tampak rajin menyiapkan sesaji dan tumbal bagi kesembuhan Ki Sabrang. Peliharaannya yang berupa tuyul dan jenglot pun masih bisa menambah pundi - pundi kekayaan bagi Juragan Seno walaupun pemiliknya, Ki Sabrang, sedang terluka parah. Dan malam ini, tiba - tiba Ki Sabrang memanggil Juragan Seno, "Seno, aku mau pamit kembali ke kerajaanku di Gunung Lawu supaya cepat sembuh. Tapi kamu jangan lupa tetap berikan sesaji dan tumbal rutin bagi pesugihan tuyul dan jenglot-mu, supaya mereka tidak memangsamu. Suatu saat, kau akan kukabari kembali kalau - kalau aku akan tinggal di Kampung Hantu ini lagi."
Juragan Seno: "Baik Ki Sabrang, semoga lekas pulih." Lalu Ki Sabrang pun menghilang, berubah menjadi kabut dingin yang keluar dari rumah Juragan Seno. Kabut tesebut ternyata malah bergerak ke arah timur laut pulau Jawa, bukan ke arah Puncak Gunung Lawu. Sepertinya Ki Sabrang sedang menuju puncak Gunung Latimojong di Sulawesi Selatan untuk mencoba mencabut Tombak Cakra Langit dari dalam gua.
Ini adalah perjalanan kedua kalinya bagi Ki Sabrang menuju tanah Sulawesi, setelah terakhir bisa mendapatkan sekutu hantu Parakang. Patut ditunggu lagi apakah selain mendapatkan pusaka
Tombak Cakra Langit, Ki Sabrang juga bisa mendapatkan sekutu hantu raja dan ratu Poppo.