
Rumah tua Rama sudah dibantu dibersihkan oleh kekuatan Ratu Sari dari kotor debu selama ditinggal Rama berkelana ke Istana Raja Piningit. Hanya kini laporan tugas Rama ke perusahaan yang harus dikebut pengerjaannya karena sudah ditunggu-tunggu kabarnya oleh pimpinan Perusahaan Rama. Rama pun bekerja keras hingga lembur sembari menjaga Ratu Sari yang sedang hamil muda.
Ratu Sari, sang ratu jin yang hamil setengah anak manusia, mengalami berbagai lika-liku yang tidak biasa selama masa kehamilannya. Ngidam yang dirasakannya jauh lebih berat dan seringkali tak masuk akal bagi manusia. Misalnya, pada trimester pertama ini, Ratu Sari selalu merasa lapar dengan makanan yang berbau amis dan berdarah-darah, seperti daging mentah. Rama selaku suaminya merasa khawatir karena tidak ingin Ratu Sari memakan daging mentah seperti kebiasaan kaum Jin, namun dengan berat hati, dia memenuhi permintaan istrinya.
Dengan ngidamnya tersebut, Ratu Sari juga menjadi biasa dengan bau anyir yang sangat menusuk. Ia juga sering merasa lelah dan lemas, sehingga tidak bisa beraktivitas seperti biasanya. Rama meras sedih melihat istrinya yang dulu selalu kuat dan penuh semangat, kini harus mengalami kesulitan seperti ini. Namun, ketika mulai masuk ke trimester kedualah yang paling mengejutkan bagi mereka berdua. Perut Ratu Sari tumbuh jauh lebih besar dibandingkan dengan kehamilan manusia biasanya, sehingga sering membuat Rama cemas. Ratu Sari juga terakhir merasa ngidam dengan udara segar dan harum bunga krisantemum putih. Karena bunga yang diinginkannya sangat langka dan hanya tumbuh di tempat-tempat tertentu, maka Rama harus berkeliling ke berbagai tempat hanya untuk memenuhi keinginan istrinya itu. Setiap harinya, Ratu Sari terus mengeluhkan keinginannya untuk memenuhi ngidamnya tersebut.
Suaminya, Rama, yang sudah cukup paham dengan kebiasaan Ratu Sari, kemudian berusaha mencari cara untuk memenuhi ngidam tersebut. Namun, karena Ratu Sari berasal dari bangsa Jin, maka tidak semudah itu untuk memenuhi ngidamnya, karena ia membutuhkan udara segar dan bunga-bunga krisantemum putih yang hanya dapat ditemukan di taman istana Raja Piningit.
Rama kemudian meminta bantuan pada Gendoruwo yang sudah menjadi sahabatnya. Gendoruwo menyarankan agar Rama mencoba meminta izin pada Raja Piningit, pemimpin Kerajaan Jin aliran putih, untuk memungkinkan Ratu Sari berkunjung ke taman istana dan menghirup udara segar dan memetik bunga krisantemum putih di kerajaan tersebut. Dengan bantuan Gendoruwo sebagai pembawa pesan ke Raja Piningit, Rama berhasil mendapatkan izin dari Raja Piningit. Ratu Sari pun segera berangkat ke Kerajaan Jin aliran putih untuk memenuhi ngidamnya. Sesampainya di kerajaan, Ratu Sari langsung menuju ke kebun bunga krisantemum putih dan menghirup harumnya sepuas hatinya. Tidak hanya itu, Ratu Sari juga menghirup udara segar di Kerajaan Jin aliran putih yang terkenal dengan udaranya yang segar dan sejuk. Semua ngidamnya pun terpenuhi, membuatnya bahagia dan senang. Tidak terasa Ratu Sari dan Rama sudah tinggal di Kerajaan Jin Aliran Putih selama seminggu lamanya. Setelah itu, Ratu Sari kembali ke rumahnya bersama suaminya, Rama.
Pada suatu malam di awal munculnya bulan sabit, Rama dan Ratu Sari yang sedang duduk di teras rumah mereka yang berada di kampung hantu, tiba-tiba dikejutkan suara dentuman energi di depan halaman rumahnya kemudian terlihat seorang tamu yang tidak dikenal mendatangi mereka dengan agak sempoyongan. Tamu tersebut mengaku bernama Raka dan mengatakan bahwa ia adalah putra dari Ratu Sari dari tahun 2128.
Rama dan Ratu Sari terkejut mendengar pengakuan Raka. Mereka memperhatikan wajah tamu mereka yang mengenakan pakaian futuristik dan tampak begitu asing. Namun Raka dapat membuktikan klaimnya dengan menunjukkan foto dan liontin yang melingkar di lehernya. Pusaka liontin tersebut hanya dapat dikenakan oleh para keturunan Raja Kerajaan Jin Aliran Putih, dalam hal ini Ratu Sari.
Raka menceritakan bahwa dia menggunakan ajian pralambangun untuk melakukan penjelajahan waktu. Ajian ini diperolehnya dari kakeknya yang bernama Ratu Piningit di masa depan.
Ajian pralambangun merupakan salah satu jenis ajian yang digunakan dalam kebatinan. Dalam ajian ini, seseorang dapat mengendalikan energi dalam dirinya untuk memindahkan dirinya ke dimensi yang berbeda. Untuk menggunakan ajian pralambangun, Raka harus mengumpulkan energi yang cukup dalam tubuhnya dan fokus pada tujuan perjalanannya. Kemudian, ia harus mengucapkan mantra khusus yang akan membantunya memindahkan diri ke dimensi lain, termasuk penjelajahan waktu dari masa depan ke masa sekarang seperti yang dilakukannya. Ia juga menggunakan sebuah pusaka liontin Kalimasada yang diberikan oleh Ratu Piningit sebagai sarana untuk melakukan penjelajahan waktu dengan lebih aman dan terkendali.
Dengan menggunakan ajian pralambangun dan pusaka liontin Kalimasada yang dimilikinya, Raka berhasil melakukan penjelajahan waktu dengan sukses. Namun, ia juga harus berhati-hati karena penjelajahan waktu bisa membawa dampak yang tidak terduga dan berbahaya bagi dirinya maupun orang lain. Oleh karena itu, Raka harus senantiasa waspada dan berhati-hati saat melakukan penjelajahan waktu.
Dampak pertama yang mungkin dialami oleh Raka adalah kebingungan dan ketidaknyamanan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berbeda. Misalnya saat ini, ketika Raka datang ke masa sekarang dan bertemu dengan Rama dan Ratu Sari, ia mungkin akan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi karena perbedaan bahasa, budaya, dan norma-norma yang berlaku.
Dampak kedua adalah perubahan sejarah atau waktu itu sendiri (distorsi realitas). Karena Raka memiliki kemampuan untuk berpindah waktu dan melakukan perubahan, ia bisa saja tanpa sengaja mengubah hal-hal penting dalam sejarah yang memengaruhi masa depan. Misalnya, Rama dan Ratu Sari bisa menyembuhkan Raka dan memberikan ilmu tambahan menghadapi Ki Sabrang, itu bisa saja mengubah alur sejarah yang seharusnya terjadi. Perubahan kecil seperti ini bisa memberikan dampak besar pada masa depan, dan bisa jadi akibatnya adalah tidak terduga seperti berubahnya foto keluarga yang masih dipegang Raka saat menjalani penjelajahan waktu.
Dampak ketiga yang mungkin dialami oleh Raka adalah masalah fisik dan mental. Perpindahan waktu yang berulang-ulang bisa memengaruhi kesehatan mental dan fisik Raka. Perubahan gaya hidup, makanan, dan lingkungan yang berbeda-beda juga bisa memengaruhi kesehatannya. Selain itu, jika Raka melakukan perubahan besar dalam sejarah, ia mungkin juga akan mengalami dampak mental yang besar karena merasa bertanggung jawab atas perubahan tersebut.
Dampak terakhir adalah konsekuensi hukum alam yang mungkin terjadi akibat perubahan sejarah yang dilakukan oleh Raka. Perubahan kecil seperti menyelamatkan nyawa seseorang mungkin tidak akan berdampak besar, tetapi perubahan besar seperti mengubah alur sejarah atau memperkenalkan teknologi yang belum ada di masa itu bisa menjadi masalah. Raka mungkin akan terkena konsekuensi hukum alam karena perubahan yang dilakukannya, dan ini bisa menjadi bahaya bagi dirinya dan juga orang-orang di sekitarnya.
Secara keseluruhan, penjelajahan waktu tanpa persiapan dan perencanaan yang matang bisa memberikan dampak yang berbahaya dan tidak terduga bagi diri Raka maupun orang-orang di sekitarnya. Namun sepertinya, Raka sudah dibantu Raja Piningit di masa depan untuk memiliki pengetahuan dan persiapan yang cukup sebelum melakukan penjelajahan waktu.
Setelah Raka panjang lebar menceritakan dirinya yang putra dari Ratu Sari di masa depan, Rama dan Ratu Sari terkejut dan bingung. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Rama dan Ratu Sari merasa bingung dan heran. Namun, setelah meyakinkan diri bahwa Raka benar-benar adalah anak mereka, mereka menerima Raka dengan hangat dan membiarkannya beristirahat di salah satu kamar tamu rumah Rama.
Raka: "Maafkan saya jika kedatangan saya di sini menimbulkan kebingungan. Saya datang ke sini, selain rindu dengan Ibu dan Bapa, juga untuk meminta bantuan untuk penyakit saya."
Rama: "Penyakit apa yang kamu derita, Raka? Dan siapa yang meracunimu?"
Raka: "Saya diracuni oleh prajurit Ki Sabrang yang menyusup ke pasukan saya di masa depan. Saya membutuhkan ramuan tumbuhan langka Keji Beling untuk menyembuhkan diri saya."
Ratu Sari: "Keji Beling? Saya pernah mendengar tentang ramuan ini. Tapi saya tidak yakin di mana bisa menemukannya di sini."
Raka: "Saya membawa petunjuk untuk menemukan tumbuhan itu di masa kini. Saya berharap Ibu bisa membantu saya menemukan bahan-bahan yang dibutuhkan dan membuat ramuan itu untuk menyembuhkan diri saya."
Rama dan Ratu Sari merasa sedih melihat kondisi Raka yang terbaring lemah. Mereka sepakat untuk membantu Raka menemukan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk ramuan penyembuhan itu.
Rama: "Kita akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk membantumu sembuh, Raka. Kami akan mencari tumbuhan itu dan membuat ramuan penyembuhan yang dibutuhkan."
Keesokan harinya, Rama, Ratu Sari, dan Gendoruwo bekerja sama untuk mencari tumbuhan Keji Beling yang langka dan bahan-bahan lain yang dibutuhkan untuk membuat ramuan penyembuhan.
Tumbuhan Keji Beling atau dengan nama latin Strobilanthes crispus adalah tanaman obat yang tumbuh di wilayah Asia Tenggara, terutama di Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Tumbuhan ini dapat tumbuh hingga ketinggian 1-1,5 meter, dengan daun berbentuk oval berukuran sekitar 6-20 cm, serta bunga berwarna ungu dengan panjang sekitar 2-4 cm.
Menurunkan tekanan darah tinggi Tumbuhan Keji Beling dapat membantu menurunkan tekanan darah tinggi pada orang yang mengalami hipertensi. Hal ini dikarenakan senyawa flavonoid dan polifenol yang terkandung dalam tumbuhan ini dapat membantu mengendurkan pembuluh darah dan meningkatkan aliran darah.
Menurunkan kadar gula darah Senyawa polifenol dalam tumbuhan Keji Beling juga diketahui memiliki kemampuan untuk menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes.
Meningkatkan sistem kekebalan tubuh Tumbuhan Keji Beling juga mengandung senyawa saponin yang dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan melindungi tubuh dari infeksi.
Menjaga kesehatan hati Tumbuhan Keji Beling juga memiliki efek protektif pada hati, yang dapat membantu mencegah kerusakan sel hati akibat faktor-faktor seperti penggunaan obat-obatan tertentu atau paparan zat beracun.
Namun, seperti halnya dengan obat-obatan lainnya, penggunaan tumbuhan Keji Beling juga perlu dilakukan dengan hati-hati dan sesuai dengan dosis yang tepat, karena penggunaan yang berlebihan atau tidak sesuai dosis dapat menyebabkan efek samping seperti gangguan pencernaan atau alergi.
Mereka berhasil menemukan semua bahan dan membuat ramuan itu. Raka minum ramuan itu secara rutin selama seminggu dan mulai merasakan kesehatannya membaik.
Raka: "Terima kasih banyak atas bantuan Ibu dan Bapa. Saya berharap saya bisa terus bersama Ibu dan Bapa."
Rama: "Tidak perlu, Raka. Kami senang bisa membantu. Sepertinya kami juga sudah merasa tidak asing dengan kehadiranmu, rasanya memang kamu bagian dari darah kami."
Raka sepertinya sudah pulih seperti sediakala. Dan di saat sudah pulih tersebut, Raka juga meminta diajarkan lagi Ajian Kalimasada oleh Rama sebagai Bapaknya sebagai bekal menghadapi Ki Sabrang di masa depan. Rama tidak berkeberatan dan juga minta diajarkan pula Ajian Pralambangun dari Raka. Setelah berlatih selama 3 malam, Rama dan Raka pun sudah menguasai ajian-ajian yang saling diajarkan satu sama lain. Tiba waktunya Raka berpamitan kembali ke tahun 2128
Raka:" Ibu, Bapa.. Sudah waktunya saya kembali ke tahun 2128. Terima kasih sudah menerima dan menyembuhkan Raka, mohon doa nya supaya Raka bisa berhasil mengalahkan Ki Sabrang. "
Ratu Sari: "Pergilah anakku, semoga Allah selalu melindungimu. "
Rama: " Jangan lupa selalu berlatih Ajian Kalimasada setiap selesai Subuh, anakku.. Itu akan memperkuat kesaktianmu bersama liontin Kalimasada yang kamu pakai. "
Raka pun memeluk kedua orang tuanya sangat lama, seolah tidak mau terpisah. Kemudian setelah dirasa cukup, Raka merapalkan Ajian Pralambangun untuk bisa menjelajahi waktu ke 2128. Sekejap raga Raka lenyap, dan tinggallah Rama dan Ratu Sari di teras rumahnya dengan air mata masih membasahi pipi mereka.