
Ki Sabrang baru saja beranjak akan meninggalkan kerajaannya yang berada di Blambangan Banyuwangi menuju ke Gunung Lawu. Namun mata batin Ki Sabrang mendapatkan penampakan di langit berupa pancaran aura mistis yang berasal dari daerah tertentu. Pancaran aura mistis tersebut terlihat sangat kuat menembus langit ke tujuh, seperti bara api yang tidak bakalan padam. Segera saja Ki Sabrang bertolak menuju lokasi tersebut dalam kelamnya malam saat gerhana bulan.
Lokasi tersebut ternyata berupa sebuah pohon beringin di sebuah kompleks candi peninggalan Kerajaan Majapahit, yakni di daerah Trowulan. Trowulan, Mojokerto adalah salah satu daerah di Jawa Timur yang memiliki banyak sisa-sisa bangunan Kerajaan Majapahit, sehingga sering dianggap sebagai pusat dari kerajaan tersebut. Trowulan juga dikenal sebagai daerah yang angker dan dianggap memiliki banyak mitos dan cerita horor.
Salah satu mitos yang terkenal di daerah Trowulan adalah tentang keberadaan "Queen of the South". Konon, Ratu Selatan adalah seorang wanita cantik yang menjadi penguasa setelah suaminya meninggal dunia. Namun, ia sangat tamak dan sering meminta upeti dari rakyatnya. Saat rakyat sudah tidak mampu memberikan upeti lagi, Ratu Selatan mengutuk mereka dan memberikan kutukan bahwa semua keturunan mereka akan menjadi miskin dan tidak bahagia.
Selain itu, juga terdapat cerita tentang keberadaan "Jembatan Setan" yang merupakan sebuah jembatan yang dianggap mistis dan dihubungkan dengan keberadaan makhluk halus. Konon, jembatan ini dulunya digunakan oleh orang-orang untuk menghubungi dunia lain. Namun, seiring berjalannya waktu, jembatan tersebut menjadi sangat angker dan banyak orang yang menghindarinya.
Tidak hanya itu, ada juga mitos tentang "Pohon Beringin Setan" yang terletak di dekat kompleks candi Tikus. Konon, pohon beringin ini menjadi tempat bertemunya para dukun dan makhluk halus pada malam hari. Orang-orang setempat percaya bahwa pohon tersebut dipercayai sebagai tempat berkumpulnya para roh jahat yang menjadi penghuni sekitar Trowulan. Pohon beringin yang memancarkan aura mistis tersebut adalah "Pohon Beringin Setan" yang berada di Kompleks Candi Tikus.
Pada suatu masa zaman kekuasaan raja Brawijaya, saat Kerajaan Majapahit masih berjaya di Jawa, Patih Gajah Mada mendapat wahyu dari Sang Hyang Tunggal untuk membuat sebuah pusaka sakti yang mampu membantu sumpah palapa Patih Gajah Mada terpenuhi serta menjamin kejayaan Kerajaan Majapahit dan kekuasaannya selama-lamanya. Patih Gajah Mada mengetahui bahwa untuk menciptakan pusaka sakti tersebut, ia membutuhkan bahan-bahan langka yang hanya dapat ditemukan oleh Mpu yang sangat sakti.
Mpu Gandring adalah nama seorang ahli kerajinan logam yang berasal dari Jawa pada zaman kerajaan Majapahit. Dalam sejarahnya, Mpu Gandring awalnya menolak untuk membuat keris untuk Patih Gajah Mada, karena merasa tidak disukai oleh Patih Gajah Mada. Namun, Patih Gajah Mada berhasil meyakinkan Mpu Gandring dan membuatnya setuju untuk membuat keris sakti untuknya, yang diberi nama Keris Pusaka Tunggul Amukti Palapa.
Keris Pusaka Tunggul Amukti Palapa menjadi senjata yang sangat penting bagi Patih Gajah Mada dalam menaklukkan beberapa kerajaan di Indonesia sesuai sumpah palapa-nya. Keris tersebut diyakini memiliki kekuatan magis yang membuatnya tak terkalahkan, dan menjadi simbol kebesaran kerajaan Majapahit.
Meski telah memberikan keris Pusaka Tunggul Amukti Palapa pada Patih Gajah Mada, Mpu Gandring harus membayar harga yang mahal untuk keputusannya tersebut. Saat pertemuan selanjutnya dengan Patih Gajah Mada, ia dibunuh oleh Patih Gajah Mada dengan keris yang telah ia buat, karena menganggap Mpu Gandring sebagai pengkhianat dan membawa malapetaka bagi kerajaan Majapahit. Namun sebelum tewas, Mpu Gandring telah mengutuk Keris Pusaka Tunggul Amukti Palapa menjadi keris penghancur Kerajaan Majapahit.
Patih Gajah Mada yang takut atas kutukan keris tersebut, bersama sejumlah abdi dalem dan ahli kerajinan membuat rencana untuk membangun sebuah kompleks candi yang khusus dibangun untuk menempatkan pusaka sakti tersebut. Mereka memilih tempat yang sangat suci dan dianggap sebagai pusat energi alam di daerah Trowulan, Mojokerto. Namun, dalam proses pembangunan kompleks candi Tikus tersebut, Patih Gajah Mada dan para abdi dalemnya dihadapkan pada sebuah masalah besar: mereka tidak dapat menemukan pohon beringin yang cocok untuk ditanam di kompleks candi tersebut. Padahal, menurut kepercayaan orang Jawa, pohon beringin adalah pohon suci yang sangat diperlukan untuk menyeimbangkan energi alam di suatu tempat yang suci.
Patih Gajah Mada merasa sangat kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa. Namun, pada suatu malam, ia mendapat wahyu dari Sang Hyang Tunggal yang memberitahukan kepadanya bahwa pohon beringin yang ia cari sebenarnya telah tumbuh dengan sendirinya di kompleks candi Tikus tersebut. Pohon beringin tersebut tumbuh secara gaib dan dipercayai sebagai pohon beringin setan yang akan dihuni oleh siluman tikus yang menjaga Keris Pusaka Tunggul Amukti Palapa.
Patih Gajah Mada dan para abdi dalem pun akhirnya berhasil menanamkan Keris Pusaka Tunggul Amukti Palapa di dalam pohon beringin setan tersebut, dan mempersembahkan kompleks candi Tikus sebagai sebuah tempat suci yang sangat penting bagi kejayaan Kerajaan Majapahit. Lambat laun setelah Patih Gajah Mada moksa, kompleks candi Tikus tersebut benar-benar dihuni oleh kawanan siluman tikus sekaligus sebagai penjaga Keris Pusaka Tunggul Amukti Palapa.
Ki Sabrang berhasil tiba di kompleks candi Tikus yang sunyi dan menakutkan. Tidak ada suara kecuali suara langkah kaki Ki Sabrang. Setelah melihat-lihat di sekitar kompleks, akhirnya dia menemukan pohon beringin besar yang disebut sebagai Pohon Beringin Setan. Ki Sabrang: "Aku tahu kau berada di sini, siluman! Keluarlah dan berikanlah Keris Pusaka Tunggul Amukti Palapa yang tersimpan dalam pohon ini!"
Siluman tikus: "Siapa kau dan bagaimana kau tahu tentang keris ini? Aku tidak akan membiarkannya diambil oleh siapa pun!"
Siluman tikus: "Tidak, aku tidak akan membiarkan keris itu jatuh kepadamu. Keris ini telah dijaga oleh keluargaku selama bertahun-tahun. Dan sekarang, setelah kau datang, kau tidak bisa dengan mudah mengambilnya!"
Ki Sabrang: "Baiklah, jika begitu, mari kita bertarung untuk itu. Jangan biarkan aku menghancurkan pohon beringin ini dan mengambil keris dengan paksa."
Mereka saling menatap dengan tatapan tajam, dan kemudian mulai bergerak ke arah satu sama lain. Serangan Ki Sabrang begitu cepat sehingga siluman tikus kesulitan menghindarinya. Namun, siluman tikus memiliki kecepatan dan kecergasan yang luar biasa sehingga dia bisa menghindari serangan- serangan Ki Sabrang yang mengancamnya.
Siluman tikus: "Kau tidak akan bisa mengalahkanku, Ki Sabrang. Aku terlalu kuat dan tangkas untukmu."
Ki Sabrang: "Jangan terlalu sombong. Aku memiliki kekuatan yang lebih besar darimu, dan aku akan mengambil keris itu, tidak peduli apa yang terjadi."
Mereka terus bertarung, sengit dan brutal. Setiap serangan mereka berusaha untuk mengakhiri pertarungan secepat mungkin. Akhirnya, Ki Sabrang berhasil menangkap siluman tikus di bawah satu dari serangannya yang tajam.
Ki Sabrang: "Akhirnya, keris itu akan menjadi milikku."
Siluman tikus: "Baiklah, kau menang. Silakan ambil Keris Pusaka Tunggul Amukti Palapa dari pohon beringin itu bila kau mampu. Tetapi, aku akan memberikan peringatan padamu, bahwa keris ini sudah dikutuk oleh pembuatnya, jadi harus hati-hati dalam menggunakannya."
Ki Sabrang mulai memusatkan pikiran dan energinya di depan Pohon Beringin Setan untuk menarik Keris Pusaka Tunggul Amukti Palapa. Dibutuhkan kekuatan dari ajian yang besar supaya Keris Pusaka Tunggul Amukti Palapa benar - benar bergerak keluar dari Pohon Beringin Setan. Keringat dingin keluar dari dahi dan tubuh Ki Sabrang hingga akhirnya berhasil menarik 100% Keris Pusaka Tunggul Amukti Palapa dari pohon beringin setan. Setelah keris berhasil dicengkeram olehnya, Ki Sabrang merasakan energi kesaktiannya semakin meningkat. Dia mengangkat keris itu ke atas kepala dan memandangnya dengan penuh kagum.
Ki Sabrang: "Akhirnya, aku berhasil mendapatkan Keris Pusaka Tunggul Amukti Palapa. Kekuatan ini akan menjadi milikku dan aku akan bertambah sakti mandraguna, hahahaha..."
Namun, tiba-tiba saja, pohon beringin setan yang tadinya masih hidup dan berdaun hijau-hijau kini tiba-tiba menjadi kering dan layu seketika. Ki Sabrang menyadari bahwa energi kesaktiannya telah menyedot kehidupan dari pohon itu.
Ki Sabrang: "Maafkan aku, pohon beringin setan. Aku tidak bermaksud menyakiti kamu. Tapi, aku harus mendapatkan Keris Pusaka Tunggul Amukti Palapa untuk menghadapi guruku."
Kemudian Ki Sabrang beranjak meninggalkan Pohon Beringin Setan yang sudah mati itu. Siluman tikus yang tadinya masih di sekitar pohon beringin ternyata ikut melarikan diri, takut dengan Ki Sabrang. Kompleks Candi Tikus rusak dan hancur lebur menjadi tanah akibat pertarungan Ki Sabrang dan tercabutnya Keris Pusaka Tunggul Amukti Palapa dari Pohon Beringin Setan.