
Nampaknya aku datang agak pagi hari itu. Jadi, di kelas hanya beberapa anak yang datang. Keempat sahabatku juga belum datang. Biasanya mereka memang agak siang datangnya, sama denganku.
"Tumben pagi, Im?" tanya salah satu dari temanku.
"Iya, nih. Pas lagi semangat saja," jawabku.
Akhirnya aku dan temanku itu pun terlibat perbincangan yang cukup panjang membahas tentang pelajaran dan asal daerah kami masing-masing. Beberapa menit kemudian Cindy dan Lidya muncul di pintu kelas.
"Wah, tumben kamu datang lebih dahulu dari kami, Im?" tanya Lidya.
"Iya, Lid. Aku ingin menyampaikan sesuatu kepada kalian berempat," jawabku.
"Sesuatu apa, Im?" tanya Cindy.
"Sesuatu yang berkaitan dengan Tari," jawabku lagi.
"Apakah kamu sudah mendapatkan informasi penting dari kedua orang tuamu?" tanya Lidya.
"Iya, Lid" jawabku sambil menganggukkan kepala.
"Ayo ceritakan kepada kami, Im. Aku sudah tidak sabar untuk mengetahuinya," ujar Lidya.
"Tunggu Gatot dan Fajar datang, Lid. Supaya aku tidak perlu menyampaikan ulang kepada mereka berdua," jawabku.
"Baiklah," jawab Lidya.
Beberapa detik kemudian.
"Assalamualaikum," ucap salam seseorang dari pintu masuk. Ternyata Fajar dan Gatot sedang berdiri di pintu masuk.
"Waalaikumsalam," jawab kami yang berada di dalam kelas.
"Akhirnya datang juga kalian," ujar Lidya.
"Ya iyalah kami datang, kami kan juga ingin pintar seperti kalian," jawab Gatot.
"Wajahmu kok berseri-berseri begitu, Lid. Tidak seperti biasanya," ujar Fajar.
"Iya, Jar. Hari ini aku senang karena menurut Imran. Ia sudah banyak mendapatkan informasi penting dari kedua orang tuanya," jawab Lidya.
"Benarkah yang dikatakan oleh Lidya, Im?" tanya Fajar kepadaku.
"Iya, Jar" jawabku sambil mengangguk.
"Info apa saja kah itu, Im?" tanya Fajar lagi.
Aku mengajak mereka ke bangkuku yang kebetulan agak terpisah dari anak-anak yang lain.
Setelah kami berlima merapat di bangkuku, aku pun menceritakan semua informasi yang diberikan oleh bapak terhadapku. Mereka terheran-heran dengan berita yang aku sampaikan. Lidya dan Cindy terlihat sangat emosional mendengar ceritaku.
"Bedebah pengintip itu! Tega-Teganya ia membunuh anak yang tidak berdosa," ujar Cindy perlahan.
"Dasar manusia tak punya hati. Hanya demi menjaga harga dirinya, ia tega menghabisi nyawa seseorang. Seolah-olah nyawa orang lain tidak ada harganya di matanya," pekik Lidya.
"Menurutku janggal, Im. Kalau pengintip itu harus menghabisi nyawa Tari hanya dengan alasan Tari sudah memergokinya sedang mengintip bu Mega di kamar mandi. Emang iya sih, beberapa hari sebelumnya ia dipergoki oleh bapakmu dan teman-temannya, bahkan hampir dikeroyok. Namun, akhirnya kepala sekolah dan guru-guru lebih memihak pada pengintip itu. Tentunya kalau sampai semua warga sekolah tahu kelakuan tidak senonohnya, kepala sekolah juga akan malu. Tapi, alasan itu tidak cukup kuat bagi pengintip itu untuk membunuh Tari," ujar Fajar.
"Bukan begitu, Jar. Tari mengetahui kejahatan lain dari pengintip itu. Hal itulah yang membuat pengintip itu tidak segan-segan membunuhnya," jawabku.
"Kejahatan apa, Im?" tanya Fajar lagi.
"Bapak masih merahasiakan hal tersebut dariku, Jar" jawabku.
"Siapa pengintip itu sebenarnya, Im? Apa kita pernah bertemu dengannya sebelumnya?" tanya Gatot.
"Entahlah, Tot. Bapak juga masih merahasiakan hal itu kepadaku. Cuma, bapak meminta kita berlima ikut membantu melaksanakan rencananya untuk menangkap pengintip tersebut," jawabku.
"Rencana? Bukankah kita juga punya rencana, Im?" tanya Fajar.
"Aku sudah menceritakan perihal rencana kita tersebut kepada bapak. Dan ternyata bapak juga menyetujui rencana kita itu, tetapi digabung dengan rencana bapak," jawabku.
"Kapan rencana bapakmu itu akan kita laksanakan?" tanya Fajar.
"Berarti kita tidak pulang?" tanya Fajar lagi didengarkan oleh yang lain.
"Iya, Jar. Bapak juga berpesan, kita harus berhati-hati dan waspada, karena bisa jadi ada orang-orang di sekitar sini yang terlibat," ujarku.
"Atau malah justru pengintip itu adalah salah satu orang di sekolah ini?" tanya Lidya.
"Entahlah," jawabku sambil menggelengkan kepala.
"Baiklah, ceritakan saja rencana bapakmu, Im. Biar kami semua bisa mendengarkan dan tidak salah dalam melaksanakannya," ujar Fajar.
"Baiklah.Begini rencana bapak ..." Aku mulai bercerita.
[Teeeeeeet teeeeeeeet teeeeeet]
Baru saja aku akan menceritakan rencana bapak, tiba-tiba bel berbunyi pertanda siswa harus berkumpul di lapangan terlebih dahulu untuk melaksanakan apel pagi.
"Bagaimana ini teman-teman? Bel sudah berbunyi," ujarku.
"Lanjut jam istirahat saja, Im!" jawab Fajar dengan kecewa.
"Oke," jawabku.
Kami pun segera menuju lapangan. Nampak sekali wajah-wajah penasaran terpancar dari keempat sahabatku.
Setelah selesai apel pagi, anak-anak pun masuk ke kelas masing-masing untuk menerima pelajaran dari bapak dan ibu guru. Setelah selesai jam pelajaran keempat, sampailah waktunya bagi anak-anak untuk menikmati jam istirahat yang pertama. Aku dan keempat temanku memilih berkumpul di halaman belakang sekolah, di bawah sebuah pohon kecil yang cukup rindang daunnya. Setelah mengkonsumsi bekal yang kami bawa, kami pun mulai membahas tentang rencana bapak.
"Ayo, ceritakan secara rinci tentang rencana bapakmu, Im!" kata Lidya tak sabar.
"Baiklah, Lid" jawabku.
Aku pun menceritakan secara keseluruhan tentang rencana bapakku tersebut kepada mereka. Nampak di wajah mereka ada sedikit rasa takut, tetapi karena kami semua memiliki semangat yang tinggi untuk memecahkan misteri kematian Tari tersebut, maka kami pun mengabaikan rasa takut itu.
"Bagaimana, teman-teman? Apa kalian siap melaksanakan tugas tersebut?" tanyaku kepada mereka.
"E-e-e, sebenarnya saya takut, Im. Tapi demi terungkapnya kasus ini, aku siap memberanikan diri," jawab Cindy.
"Terima kasih, Cin. Aku salut sama kamu. Tenang, aku akan menjaga kamu selama kamu melaksanakan tugasmu itu," jawabku.
"Tidak, Im!" potong Fajar.
"Kenapa, Jar? Apa kamu tidak bersedia melaksanakan rencana ini?" tanyaku dengan raut wajah kecewa.
"Bukan itu maksudku, Im. Bukan hanya kamu yang akan melindungi Cindy, tetapi kita semua harus saling melindungi. Jangan sampai ada satu pun dari kita yang terluka," jawab Fajar.
"Aku setuju dengan Fajar," pekik Gatot.
"Aku juga setuju dengan apa yang disampaikan Fajar barusan," pekik Lidya.
Aku tersenyum bahagia mendengar jawaban teman-temanku itu.
"Nah berarti sudah tidak ada masalah lagi, kan? Kita semua siap melaksanakan tugas kita?" ujarku.
Keempat temanku tersenyum dengan penuh semangat dan kepercayaan diri mereka masing-masing.
"Siap, Im!" jawab mereka kompak.
"Oh ya, jangan lupa. Berarti sepulang sekolah, kita semua harus mempersiapkan semua kebutuhan untuk melaksanakan rencana bapak tadi," ujarku.
"Iya, Im. Pokoknya jangan sampai ada gang salah sedikitpun karena taruhannya adalah nyawa kita," jawab Fajar.
[Teeeeeet teeeeeeeeeet teeeeeeeet]
Bel tanda masuk kelas tiba-tiba berbunyi. Saatnya bagi kami berlima untuk segera masuk ke kelas untuk mendapatkan pelajaran matematika dari bu Ratih. Ketika melewati labiratorium IPA, aku melihat pak Rengga sedang membaca sebuah buku di salah satu kursi. Matanya yang tajam tak sengaja kutangkap sedang melirik ke arah kami berlima. Tatapannya yang tajam selalu menimbulkan kengerian tersendiri.
Bersambung
Alhamdulillah author sudah sehat berkat doa teman-teman semuanya. Namun, kalau update masih tersendat dikarenakan author harus menyelesaikan tugas-tugas selama sakit. Terima kasih atas pengertiannya.