KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 40 : SIAPA DIA?


Aku memegang tanda kuning yang ada di pinggangku, tanda kuning itu tiba-tiba menjelma menjadi tali tambang. Aku teringat pesan Pak Rengga sebelum aku masuk ke sini, aku harus menarik tali tambang itu jika aku berada dalam bahaya. Saat ini aku dan teman-temanku benar-benar berada dalam bahaya. Harimau yang sedang terluka itu sedang berusaha menyerangku, sementara aku tidak memiliki senjata untuk melawannya lagi.


"Bismillahirrohmanirrohiiim ...,"


Aku berdoa sambil menarik tali tambang itu kuat-kuat.


"Aaaaaaaaaaaaaaa ...," Aku dan kelima temanku sama-sama berteriak dengan kencang saat tubuh kita berenam tiba-tiba seperti ditarik oleh kekuatan yang sangat dahsyat menjauhi terkaman harimau itu. Yang kami rasakan saat itu seperti kami sedang duduk di atas kap mobil kemudian tiba-tiba mobil itu melaju dengan sangat kencang melebihi kemampuan yang kami duga, secara otomatis kamipun saling berpegangan karena merasa takut terlepas. Saking kencangnya gerakan kami tersebut, aku sampai memejamkan mata. Beberapa detik kemudian saat aku membuka mata, harimau itu sudah tidak ada lagi di depan mataku. Yang ada hanyalah hamparan kebun kopi, sementara di sisi yang lain ada Pak Rengga, Kak Dino, Fajar, dan Gatot. Aku melihat ke arah yang lain.


"Alhamdulillah, kelima anak-anak itu ternyata juga berhasil selamat dari tawanan hantu-hantu kebun kopi,"


"Syukurlah, Kalian semua akhirnya selamat," ucap Pak Rengga dengan napas terengah.


Fajar dan Gatot datang padaku dan memelukku.


"Good Job, Fren. Kamu benar-benar hebat. Kami sempat khawatir dengan keadaanmu dan teman-teman yang lain," ucap Fajar.


"Aku bersyukur Kamu dan teman-teman bisa kembali," ucap Gatot.


"Sudah ... sudah ... nggak usah pake nangis-nangis segala. Yang penting, aku dan kelima anak itu sudah selamat," jawabku sambil melepaskan pelukan mereka berdua.


Kelima anak yang lain datang menghambur ke arahku dan memelukku.


"Im, terima kasih banyak. Dan kami mohon maaf sempat meninggalkan Kalian," ucap salah satu dari mereka.


"Sudahlah, lupakan ... Aku juga berterima kasih kepada Kalian karena tadi menyelamatkanku di dalam," jawabku


Mereka juga memeluk dan meminta maaf kepada Gatot dan Fajar.


"Pak Rengga ... Kak Dino ... terima kasih banyak, ya ... Berkat bantuan Bapak dan Kakak, kami semua bisa selamat," ucapku.


"Sudahlah lupakan, Kalian begini juga karena kurangnya pengawasan dari kami. Sekarang sebaikny kalian semua bersiap untuk pulang, mumpung masih isya'. Saya yakin orang tua Kalian ada yang menjemput ke sekolah. Ngomong-ngomong apakah ada dari Kalian yang terluka?" ucap Pak Rengga kalem tanpa ekspresi.


"Ada, Pak ..." teriak kelima anak tadi.


"Saya, Pak. Betis belakangku ...," Aku berkata sambil menunjukkan bagian betis belakangku tadi yang robek diterkam harimau. Tapi aku dan kelima anak itu benar-benar terkejut ketika bagian betis belakangku tidak terluka sedikitpun. Hanya ada tanda lahir di sana, aku sampai membuka juga betis kaki yang lain tapi juga tidak ada lukanya. Aku berdiri untuk memastikan apa benar kakiku tidak apa-apa. Dan ternyata kakiku memang tidak sednag terluka.


"Sungguh, Pak Rengga. Tadi di dalam sana, betisku terluka. Bahkan aku sampai dipikul oleh teman-temanku ini," ucapku agak keras kepada Pak Rengga dengan maksud supaya aku tidak dicap sebagai pembohong atau pembual.


"Iya, Pak. Di dalam sana, kaki Imran benar-benar sedang terluka. Darahnya mengucur kemana-mana," jawab salah satu dari anak itu.


"Sudahlah, ayo kita kembali ke sekolah. Tim-tim yang lain sudah selesai menjalankan kegiatan penjelajahan ini," ucap Pak Rengga datar, bahkan terlihat tidak percaya dengan penjelasan kami.


Kamipun bergegas berangkat menuju sekolah didampingi oleh Pak Rengga dan Kak Dino. Daun-daun kopi di belakang kami melambai dengan kencang, padahal tidak ada angin di sekitar tempat tersebut, seakan ingin menunjukkan kalau penghuni tempat tersebut sedang marah kepada kami.


Aku menyempatkan diri membersihkan tubuhku di kamar mandi sebelah balai-balai untuk musholla itu, dan mengganti dengan baju ganti di dalam tas yang kutitipkan kepada Fajar. Baru kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju sekolah.


"Kenapa lukaku tiba-tiba sembuh secepat itu? Kenapa lukaku itu tepat berada di tanda lahirku, tanda lahir yang menurut ibuku sangat bersejarah. Bapak dan Ibu tidak pernah mau menceritakan tentang sejarah tanda lahir itu, entah apa sebabnya? Bukankah tanda lahir biasanya tanda yang sudah ada sejak lahir? Apa istimewanya dengan tanda lahirku itu? Kenapa perempuan di belakang Ki Barong mengetahui namaku? Darimana mereka tahu namaku?"


Otakku berputar-putar mencari jawaban semua pertanyaanku itu, tapi tak satupun pertanyaan yang bisa kujawab. Semuanya sangat misterius dan ajaib bagiku. Reaksi dingin Pak Rengga juga menimbulkan rasa penasaran yang lain di hatiku. Bagaimana bisa ia tidak percaya dengan penjelasan tentang luka di kakiku yang mendadak hilang itu.


"Pak Rengga ... siapa sebenarnya guruku ini? Tindak-tanduknya sangat mencurigakan, tapi di satu sisi, ia dan Kak Dino adalah orang yang menyelamatkan aku dan teman-temanku. Ia juga mengetahui hal-hal ghaib di kebun kopi itu, karena menurut pengakuannya, ia pernah menyelamatkan temannya dengan cara seperti itu saat dirinya masih kecil. Kenapa Pak Rengga berada di tempat tersebut pada saat kecilnya?"


Pikiran-pikiran tentang Pak Rengga juga membuat otakku mumet dan jiwa penasaranku meronta. Dengan sikapnya yang dingin dan kaku, aku tidak mungkin menanyakan secara langsung kepadanya perihal segala sesuatu tentangnya yang membuatku penasaran.


Setelah beberapa menit akhirnya kami sampai di gedung sekolah. Ternyata letak kebun kopi itu hanya beberapa menit di sekolah. Ada sebuah lapangan kas desa yang letaknya tidak begitu jauh dari kebun kopi itu. Setiap tahun, konon lapangan itu sering digunakan untuk ajang perlombaan sepakbola antar desa se kabupaten.


"Silakan kalian mengisi absensi dulu sebelum pulang ke rumah!" ucap Kak Dino kepada tim srigala.


"Baiklah, Kak. Sekali lagi terima kasih atas semua bantuan Kakak," ucapku.


"Buruan tanda tangan, orang tua Kalian sudah menunggu di luar. Dan istirahat di rumah, ingat besok masih ada dua kegiatan penting buat Kalian, unjuk kebolehan dan post test." jawab Kak Dino.


"Iya, Kak" jawabku.


"Satu lagi, siapkan diri Kalian." ucap Kak Dino lagi.


"Bersiap untuk apalagi, Kak?" tanyaku penasaran.


"Nilai kelompok Kalian sementara yang terendah, jika besok Kalian tidak bisa memberikan hasil yang optimal, bersiaplah untuk menghadapi keanehan-keanehan kembali besok malam," ucap Kak Dino dengan suara berat.


"Maksud Kakak?" tanyaku semakin penasaran.


"Maksudku, bersiaplah untuk membersihkan seluruh ruangan di sekolah ini yang digunakan untuk kegiatan MOS ini," jawab Kak Dino dengan suara bergetar.


Ada kengerian yang tersirat dari jawaban Kak Dino barusan


Bersambung


Hai, Kak... Ayo like dulu dong biar aku tahu berpaa banyak yang suka cerita ini. Jadi aku semakin semangat untuk melanjutkannya.


Untuk yang vote-nya banyak, tolong komentar juga ya di sini.


Yang belum baca novel hororku yang lain, silakan baca MARANTI (statua tamat).


See u next episode,


Terima kasih