
Usia kandungan Ratu Sari memasuki bulan ke-5, di mana calon jabang bayi setengah jin tersebut mulai lincah bergerak di perut sang ibu. Malam ini, malam bulan purnama bertepatan di Kamis Legi, Rama sedang duduk di kursi panjang di ruang keluarga rumahnya, sambil mengelus-elus perut Ratu Sari yang memasuki kehamilan lima bulan. Bulan purnama terang benderang di langit, menyinari malam yang tenang dan sunyi. Tiba-tiba, Rama merasa udara di dalam menjadi dingin seperti es dan kabut misterius muncul dari sudut ruangan rumah. Suasana dingin seperti ini jarang dialami oleh Rama, apalagi sudah memasuki musim kemarau. Rama segera beranjak berdiri dari kursi kemudian menuju jendela rumah untuk melihat keadaan di halaman rumah, ternyata di luar tampak berkabut sangat tebal dan hawanya sangat dingin.
Rama dikejutkan oleh bola api terlihat terbang menghampiri rumahnya dari langit atap rumah mereka. Rama kemudian menutup jendela supaya hawa dingin tidak masuk ke dalam rumah dan segera mendekati Ratu Sari.
Rama: (terkejut) "Ada apa ini ya? (Rama merasakan kehadiran hawa dingin yang tidak biasa di sekitarnya)".
Tiba-tiba Rama mendengar suara bisikan kecil di telinganya, " Menyerahlah Rama sebelum hal terburuk terjadi kepadamu dan keluargamu... "
Ratu Sari: "(khawatir) Apa yang terjadi, Rama?"
Rama: "(terkejut) Tadi aku melihat bola api terbang menuju rumah kita. Sekeliling rumah pun sudah diselimuti kabut tebal dan hawa dingin mulai memasuki rumah, Ratu Sari. Ada juga terdengar bisikan di telingaku memintaku menyerah. Apakah dirimu merasakan sesuatu yang aneh juga, Ratu?"
Saat itu pula, bayi dalam kandungan Ratu Sari mulai bergerak dan menendang dengan kuat.
Ratu Sari: "(merintih kesakitan) Ah, aku merasa kesakitan. Apa yang terjadi pada bayi kita?"
Ratu Sari menjawab dengan napas tersengal-sengal, "Ada sesuatu yang tidak beres, Rama. Aku merasa ada kehadiran yang aneh, ada makhluk yang mengintai kita dari belakang dan depan rumah."
Rama yang panik mencoba menenangkan istrinya, "Tenang sayang, aku akan melindungi kalian berdua. Aku akan mencari tahu apa yang terjadi."
Tiba-tiba, Genderuwo yang disuruh Raja Piningit sebagai penjaga pun muncul dan melaporkan bahwa ia telah melihat sesuatu di sekeliling rumah Rama, "Assalamu 'alaikum Rama dan Ratu Sari, berhati-hatilah..Ada vampire yang mau menyerang kita dari belakang rumah dan makhluk leyak dari depan rumah. Tidak hanya itu, ada barisan siluman ular berbisa yang datang dari hutan dan berbondong-bondong masuk ke halaman rumah kita. Sepertinya mereka kiriman dari Ki Sabrang yang memantau lewat ilmu selimut kabut. Tetapi kalian tidak perlu kuatir, aku hadir untuk membantu kalian dan kita akan hadapi bersama-sama. Sepertinya kekuatan mereka belumlah cukup kuat menghadapi kita."
Kisah tentang Vampire yang berupa makhluk penghisap darah ini berasal dari berbagai tradisi dan budaya. Salah satu yang paling terkenal adalah tradisi Slavia Timur, di mana terdapat cerita tentang makhluk yang disebut sebagai "vampire" atau "upyr". Di sini, vampire dipercaya sebagai makhluk yang hidup di bawah tanah dan menghisap darah manusia. Selain itu, terdapat juga kisah tentang makhluk serupa di Mesir kuno dan dalam mitologi Yunani.
Pada abad pertengahan, kepercayaan tentang vampire mulai berkembang di Eropa Timur. Kepercayaan ini terus bertahan hingga abad ke-18, di mana wabah vampir meletus di wilayah Balkan. Orang-orang di wilayah ini percaya bahwa orang yang mati secara tiba-tiba dapat berubah menjadi vampire dan membawa penyakit kepada orang hidup. Mereka percaya bahwa cara untuk menghentikan wabah vampire adalah dengan membakar atau menikam jantung orang yang sudah mati tersebut.
Kisah tentang vampire semakin populer pada abad ke-18 dan ke-19. Saat itu, banyak penulis yang menulis tentang makhluk ini, seperti John William Polidori dalam karya "The Vampyre" pada tahun 1819, serta Bram Stoker dalam karya terkenalnya "Dracula" pada tahun 1897. Karya-karya ini membawa kepercayaan tentang vampire ke seluruh dunia dan membuatnya menjadi lebih populer daripada sebelumnya.
Kisah tentang vampire di abad 20 masih populer hingga saat ini. Banyak film, acara televisi, buku, dan permainan video yang menggunakan vampire sebagai tokoh utama. Meskipun kepercayaan tentang keberadaan vampire telah menurun, tetapi kisah dan legenda tentang makhluk ini masih tetap hidup dan menjadi bagian dari budaya populer. Secara keseluruhan, kisah tentang vampire telah mengalami banyak evolusi dan perubahan sepanjang sejarahnya. Dari kepercayaan yang bersumber dari budaya lisan hingga menjadi bahan fiksi modern, vampire tetap menjadi makhluk yang penuh misteri dan daya tarik.
Leyak diyakini hidup di tempat-tempat tertentu seperti hutan, dan sering kali muncul pada malam hari. Mereka diyakini sangat terampil dalam memanipulasi manusia dan hewan untuk mengambil keuntungan atau memuaskan hasrat mereka. Leyak dikenal sebagai makhluk yang sangat berbahaya dan dapat menghisap darah manusia atau hewan sebagai makanannya.
Dalam kebudayaan Bali, leyak sering muncul dalam cerita rakyat dan disebut sebagai salah satu makhluk yang menakutkan. Leyak sering dihubungkan dengan kematian, kelahiran, atau penyakit, dan diyakini dapat menimbulkan malapetaka jika tidak dihindari atau diusir dengan cara yang tepat.
Meskipun leyak sering dihubungkan dengan kepercayaan masyarakat Bali, namun kisah tentang leyak juga tersebar di daerah lain di Indonesia, seperti di Pulau Jawa dan Lombok. Namun, leyak di Bali dikenal sebagai salah satu simbol kebudayaan Bali yang unik dan menarik.
Saat vampire dan leyak mendekati rumah Rama dan Ratu Sari, mereka berhenti sejenak di depan pintu masuk dan mulai mengancam Rama dan Ratu Sari untuk menyerah.
Vampire: "Sudahlah, Rama dan Ratu Sari. Kami sudah mengintai kekuatan kalian selama beberapa waktu. Kalian tidak bisa lagi menghindar dari takdir kalian yang sebenarnya. Menyerahlah diri kalian kepada kami!"
Leyak: "Kami sudah menanti saat ini. Kami akan tuntaskan apa yang menjadi tugas kami!"
Rama: "Kami tidak akan menyerah begitu saja. Kami akan melindungi diri kami dan keluarga kami!"
Ratu Sari: "Ya, kami tidak takut dengan ancaman kalian. Kami akan melindungi anak kami yang akan lahir nanti."
Tidak berpanjang kata, Genderuwo langsung bergerak melawan leyak yang berada di depan rumah, sementara Ratu Sari menggunakan kekuatan magisnya dari dalam rumah untuk menghalau barisan siluman ular berbisa yang datang dari hutan. Sementara itu Rama berdiri tegak di halaman belakang rumah, siap menghadapi serangan vampire yang datang dari arah belakang. Dia tegak berdiri sambil mulai melafalkan wirid Ajian Kalimasada, "Bismillahirrahmanirrahim, kita lawan mereka!"
Vampire itu mengeluarkan suara menakutkan dan mulai melompat ke arah Rama dengan cepat. Entah bagaimana, tubuh Rama serasa terbawa terbang dan dengan sigap menghindar dari serangan Vampire. Mungkin inilah efek dari wirid Ajian dan mustika Kalimasada. "Kau tak bisa melawan aku, manusia lemah!" seru vampire dengan suara serak.
Vampire terus menyerang, tapi Rama juga terus bisa menghindari dan membela diri. Hingga pada puncaknya Rama mulai bertakbir dan bersedekap seperti orang shalat, lalu memejamkan mata sambil melantumkan wirid Ajian Kalimasada dengan pelan. Tiba-tiba dari dada Rama keluar aura cahaya yang menyilaukan berasal dari mustika Kalimasada. Cahaya itu menyilaukan seperti cahaya matahari yang memancarkan sinar UV sangat terang, sehingga Vampire merasa perlahan-lahan kepanasan dan kulitnya menjadi kristal padat, kemudian hancur seperti debu. Dan akhirnya pun Vampire terkalahkan oleh Rama.
Sementara itu Genderuwo menghadapi Leyak di depan Rumah. Genderuwo menghadapi serangan Leyak menggunakan Ajian Segara Geni, yang tadinya berlaku dominan panas api jahat, tapi sekarang menjadi dominan sedingin air gunung tapi tetap mematikan. Leyak yang tidak menduga dengan ajian Genderuwo tersebut menjadi lemah, dan semakin lama jiwa jahatnya terkuras hilang hingga akhirnya leyak pun musnah jiwanya. Genderuwo berhasil mengalahkan leyak Bali.
Ratu Sari yang duduk bersemedi di ruang tengah rumah, memusatkan pikiran dan kekuatan magisnya untuk membawa sekumpulan air laut dari Laut Jawa. Walaupun perutnya agak sakit karena jabang bayinya juga tidak bisa diam, tapi sekumpulan air laut yang sudah berarak di langit itu pun bisa diarahkan di sekitar halaman rumah Rama. Dan dengan kekuatan nya, akhirnya air laut itu ditumpahkan ke tanah, sehingga mengenai barisan siluman ular yang hendak menyerang rumah Rama. Barisan siluman ular itu pun kocar-kacir karena kandungan garam dan tekanan dari air laut yang ditumpahkan, sehingga mereka pun musnah. Ratu Sari pun berhasil menghalau barisan siluman ular yang menyerang rumah mereka.
Ada satu siluman ular yang berhasil lolos dan kembali ke tempat persembunyian Ki Sabrang. Siluman ular yang berhasil lolos itu pun melaporkan kepada Ki Sabrang mengenai kegagalannya mengalahkan Rama dan Ratu Sari. Dan Ki Sabrang pun menyeringai tajam dan menujukkan wajah liciknya.