KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 62 : MENCEKAM


Terima kasih atas kesetiaan Anda mengikuti cerita ini. Jangan pernah bosan untuk memberikan like.


Ternyata benda putih yang seperti terbang tadi adalah Bu Sri, anaknya almarhum Mbah Iyem yang sedang menggunakan mukena dan berlari menuju masjid untuk mengikuti sholat maghrib.


Suara lantunan bacaan sholat Pak Mat cukup bagus untuk ukuran penjaga sekolah. Kalau dari bacaannya, sepertinya tidak mungkin Pak Mat terlibat sebagai pelaku beberapa kejahatan di sekolah ini. Tapi mengingat seorang psikopat biasanya memiliki kepribadian ganda, bisa jadi Pak Mat adalah pelakunya. Selama sholat aku membuang jauh-jauh pikiran tentang misteri-misteri di sekolah ini dan kecurigaan terhadap Pak Mat karena akan mengganggu konsentrasi sholatku.


Selesai sholat maghrib kami berlimapun bersegera menuju beranda kantor dan ruangan ekskul untuk melanjutkan pekerjaan kami. Sementara Pak Mat dan Bu Sri kembali ke tempat tinggalnya masing-masing. Benar apa yang dikatakan Pak Mat, suasana sekolah setelah maghrib benar-benar mencekam. Lampu-lampu yang agak redup di beberapa sudut sekolah menambah kesan angker sekolah ini.


"Suasananya agak nggak enak Im," ucap Fajar.


"Iya Jar, sebaiknya kita harus bekerja dengan cepat dan selalu berkelompok untuk menghindari hal-hal buruk terjadi," jawabku.


Kamipun secara cekatan bahu membahu membersihkan beranda ruangan kantor tersebut. Entah mengapa selama bekerja, kami merasa seperti sedang diawasi dari belakang. Tetapi ketika kami menoleh ke belakang, tidak ada siapa-siapa di belakang. Hanya deretan pohon-pohon palem dan bunga-bunga yang sengaja ditanam di pinggir halaman. Aroma bunga kamboja semerbak tercium di hidung kami padahal tidak ada bunga kamboja di sana. Kami hanya bisa saling bertatapan tanpa bisa berbuat apa-apa.


"Ayo ke ruangan ekskul!" cetus Fajar.


"Oke," jawab kami berempat.


Fajar melangkah paling depan diikuti Cindy dan Lidya, sedangkan aku dan Gatot berada di barisan paling belakang. Semakin dekat dengan ruangan ekskul, pegangan tangan Cindy dan Lidya semakin erat saja. Mungkin mereka berdua masih terbayang kejadian tadi siang.


[Braaaaak]


Pintu ruangan ekskul tiba-tiba terbanting dengan keras membentur tembok sehingga mengagetkan kami berlima.


"Amit-amit jabang bayi. Ada apa itu?" pekik Gatot spontan.


"Hanya angin saja, Tot" jawab Fajar enteng.


Akhirnya kami sampai di depan ruangan ekskul dengan perasaan deg-degan.


"Ayo kita bekerja lagi!" ucap Fajar.


Kamipun segera mengerjakan apa yang diperintahkan oleh ketua tim kami itu. Kami semua masuk ke dalam ruangan ekskul untuk membersihkan lantai dan menata barang-barang di sana. Saat pekerjaan kita sudah selesai, tiba-tiba Cindy berteriak.


"Siapa itu?"


Kami semua menoleh ke arah luar tetapi tidak ada siapa-siapa di sana. Karena penasaran, Cindy berlari ke luar diikuti oleh kami berempat.


"Apa yang Kamu lihat, Cin?" tanya Lidya.


"Ada anak perempuan barusan lewat," jawab Cindy.


"Kamu yakin, Cindy? Kami tidak melihat siapapun," jawabku.


"Aku yakin Im. Ia menggunakan seragam seperti kita, rambutnya agak panjang. Dia lari ke sebelah sana," jawab Cindy dengan nada serius sambil menunjuk ke arah lapangan.


"Pasti Kamu salah lihat. Kalau ia memang lari ke lapangan, harusnya ia masih bisa kit lihat," jawab Fajar.


"Aku yakin Jar, anaknya cantik sekali," jawab Cindy dengan percaya diri.


"Ide yang bagus. Tapi aku tidak yakin yang dilihat Cindy barusan manusia biasa," jawabku.


"Ih Kamu ini Im bikin merinding saja," pekik Lidya.


"Alhamdulillah tugas kita sudah selesai, sekarang kita tinggal mengunci ruangan-ruangan yang sudah kita bersihkan dan melaksanakan rencana kita yaitu masuk ke gudang arsip untuk mencari data yang kita butuhkan." ucap Fajar.


Fajar mengunci pintu ruangan ekskul dengan anak kunci bertuliskan 'R. EKS' yang ia pegang. Saat pandangan kita berempat tertuju pada anak kunci yang diputar oleh Fajar, sayup-sayup terdengar suara teriakan perempuan dari kejauhan. Sontak saja kami menoleh ke belakang secara bersamaan. Namun, suara itu tidak terdengar lagi. Setelahnya kami kembali bertatapan.


"Ih, kok serem banget ya suara yang terdengar barusan?" pekik Cindy.


"Itu suara manusia apa hantu sich?" pekik Lidya.


"Sudah-sudah, kita lanjut saja pekerjaan kita dulu seraya terus berdoa semoga diberikan keselamatan," potong Fajar dengan tegas


Kamipun melangkah menuju kelas sebelah selatan untuk mengunci keseluruhan pintu. Kami bergerak dengan cepat mengunci setiap pintu ruangan kelas mulai dari lantai bawah hingga lantai atas. Saat berpindah dari ruangan yang satu ke ruangan yang lain, aku seperti melihat seseorang sedang berdiri di dalam ruangan kelas yang gelap karena hanya diterangi lampu redup yang berada di beranda. Namun, ketika kupicingkan kedua mataku untuk memperperjelas penglihatan, ternyata tidak ada siapa-siapa di dalam. Ketika teman-teman akan naik ke lantai atas, aku yang berada paling belakang seperti mendengar suara derap langkah kaki sedang berlari menuju ke arahku. Aku menoleh ke samping untuk memeriksanya tetapi tidak ada siapa-siapa. Akupun bergegas menyusul teman-temanku yang sudah berada di lantai atas.


Tanganku tiba-tiba ditarik seseorang.


"Jangan melamun, Im!" ucap orang yang menarik tanganku yang ternyata Gatot.


"Makasih Jar. Aku hampir tertinggal barusan di bawah." jawabku datar.


"Mau kemana kita Jar?" ucapku pada Fajar yang terus menarik tanganku.


"Ayo kita ke gudang arsip, kita cari data-data di sana," jawab Fajar.


"Tapi Jar, anak-anak kan masih mengunci pintu. Sebaiknya kita tunggu mereka dulu. Kita kan harus selalu berkelompok," jawabku.


"Waktunya tidak nutut Im. Nanti keburu Pak Mat datang dan meminta kuncinya," kilah Fajar.


"Iya juga sich, tapi paling tidak kita harus pamit dulu kepada mereka, biar mereka tidak bingung," jawabku.


"Tidak usah Im, aku sudah bilang pada Gatot. Ayo buruan!" Fajar semakin kuat menarik pergelangan tanganku. Kali ini ia sedikit memaksa. Entah mengapa tiba-tiba aku merasa ada sedikit keanehan pada sikap Fajar. Tidak biasanya ia melanggar kesepakatan yang sudah ia buat sendiri. Dan mata Fajar tidak terlihat teduh seperti biasanya. Agak kemerahan dan terlihat emosional. Suhu telapak tangannya juga terasa sangat dingin menyengat seperti es batu.


"Oke dech Jar," akupun mengiyakan ajakan Fajar. Saat aku akan melangkah bersama Fajar, tiba-tiba terdengar teriakan seseorang dari arah belakang kami berdua.


"Im, Kamu mau kemana?" suara teriakan itu mengagetkanku. Dari suaranya aku hapal itu adalah suara ...


"Fajar??? Bukankah Fajar sedang berada di sampingku? Terus yang memanggilku di belakang, siapa lagi kalau bukan Fajar? Apa aku salah dengar? Tidak! Itu benar suara Fajar tidak salah lagi. Namun, kalau yang memanggil di belakangku adalah Fajar, lantas si tangan dingin yang sedang berdiri di sampingku ini siapa?"


Akume menoleh ke samping, ke arah Fajar dan akupun terkesiap.


BERSAMBUNG


Terus support cerita ini ya, Kak. Terima kasih.