KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 39 : KETAHUAN


Hantu itu bersuara aneh dengan sangat keras tidak seperti biasanya. Entahlah, mungkin itu adalah semacam sirine atau kentongan kalau dalam dunia manusia. Kami yang merasa sudah ketahuan segera berlari dengan cepat, mengikuti jalur berwarna kuning yang tersambung dengan tanda kuning di pinggangku. Hantu yang mengetahui keberadaan kami itupun berdiri mematung di tengah jalan, menghalangi pergerakan kami. Awalnya kami menduga hantu tersebut cukup lemah untuk melawan kami berenam, tapi ternyata kami keliru. Begitu posisi kami sudah dekat dengannya. Mendadak sosoknya menjelma menjadi seekor harimau loreng. Kami semuapun bergidik ngeri menyaksikan keanehan tersebut. Kami mundur beberapa langkah untuk mengatur strategi.


"Teman-teman, sebaiknya kita mencari jalur yang lain," ucapku.


"Tidak bisa, Im. Coba Kamu lihat ke sebelah sana, hantu-hantu di lapangan itu sedang menuju ke sini semuanya," jawab salah satu temanku.


Akupun menoleh ke arah kiri, tempat lapangan itu berada. Ternyata benar, dari arah kiri, ratusan hantu-hantu buruk rupa sedang berjalan ke arah kami.


"Ya Tuhan, benar katamu. Kita tidak ada pilihan lain lagi, kita harus bertarung melawan harimau ini jika tidak ingin dikeroyok hantu-hantu itu. Ayo teman-teman, kita harus melumpuhkan harimau di depan kita ini," teriakku.


"Ayoooo!!!" jawab mereka.


"Bismillahirrohmanirrohiiiim...,"


"Allaaaaaahuakbar..." pekik kami semua sambil berlari secara bersamaan ke arah harimau loreng itu. Dan si harimau juga berlari dan menerkam ke arah kami.


"Aaaaaaaaauuuuuum ...,"


Auman harimau terdengar memekakkan telinga sambil menerkam ke arah kami. Untunglah kami berkelit ke arah pinggir, jadi harimau itu terjungkir ke tanah.


"Ayo cepat lariiiiii!!!," teriakku keras.


Kamipun melanjutkan pelarian kami menuju ke lorong panjang itu. Namun, di belakang kami tiba-tiba terdengar suara auman harimau kembali. Dan suara harimau itu semakin keras terdengar seolah-olah tepat berada di belakang kami. Dan kamipun melempar garam yang kami genggam ke belakang.


[Dreeeees]


Secara ajaib, terdengar bunyi letupan beberapa kali dan harimau itupun lenyap seketika.


"Alhamdulillah," pekikku dengan bahagia karena sudah bisa melenyapkan harimau jadi-jadian itu. Kamipun terus berlari menuju lorong yang tidak ada rumah-rumahnya lagi di pinggirnya. Tapi tiba-tiba aku merasa sakit yang teramat sangat pada kakiku, saking sakitnya akupun berhenti berlari.


"Aduh," pekikku kesakitan sambil memegangi kaki kananku.


"Kamu kenapa,Im?" tanya temanku.


"Ya Tuhan, kaki Kamu berdarah, Im. Berarti kuku harimau tadi berhasil merobek kakimu sebelum lenyap," ucap teman yang lain.


Aku merintih memegangi kakiku yang sakit, ternyata kakiku berdarah. Darah segar keluar dari betis bagian belakangku sampai mengalir ke tanah.


"Tidak, hantu-hantu itu berlari ke arah kita," pekik salah satu dari temanku.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya teman yang lain.


"Ayo kita pikul tubuh Imran bareng-bareng," usul salah satu dari mereka.


"Ayo, buruan! Satu ... dua ... tiga ...," salah satu dari temanku memberi aba-aba untuk mengangkatku.


Tubuhku dipanggul oleh teman-temanku. Mereka terua berlari menghindari kejaran hantu-hantu di belakangku.


"Cepaaaat ... Mereka sudah sangat dekat," teriakku memberi peringatan kepada teman-temanku. Teman-temanku mempercepat larinya untuk menghindari tertangkap oleh hantu-hantu itu.


"Ya Tuhan, beberapa dari mereka menjelma menjadi harimau seperti tadi," pekikku.


"Apa yang harus kita lakukan, dengan kecepatan lari seperti ini. Kita pasti akan terkejar oleh harimau-harimau itu," pekik salah satu teman sambil terus berlari.


"Apa Kamu punya ide untuk menyelamatkan kita semua, Im?" tanya salah satu dari temanku.


"Empat orang saja yang memanggul badanku. Dan putarlah badanku sehingga tengkurap. Berikan garam kalian kepadaku. Aku yang akan melempari mereka dengan garam-garam itu, dan satu dari Kalian juga membantuku melempari harimau-harimau itu," teriakku.


"Ide yang bagus, ayo kita balik badan Imran! Satu ... dua ... tiga ...." Mereka memutar badanku sehingga tengkurap dengan sambil berlari.


"Wadaw, barangku kepencet, sakit tau!" pekikku.


"Maaf, Im, cacingmu kegencet," jawab mereka menggodaku.


"Sudah, Kamu fokus saja ke harimau-harimau itu, masalah cacing kita perbincangkan nanti saja," teriak mereka.


"Dasar, oke siaaap" jawabku dongkol.


Aku dan salah satu teman sudah bersiaga menyambut kedatangan harimau-harimau itu. Dan benar saja, tidak sampai satu menit, salah satu dari harimau itu sudah berhasil mengejar kami. Ia melompat ke arahku menampakkan kuku-kukunya yang tajam. Aku dan temanku segera melempar garam yang kugenggam ke arah harimau itu. Garam-garam itu mengenai kepala dan badan harimau tersebut, sehingga terdengar suara letupan keras dari kedua tempat yang kami lempar. Badan harimau loreng itupun terlempar ke belakang dan hangus menyisakan kepulan asap berwarna hitam.


"Awas, Im! Dua harimau itu secara bersamaan berlari ke arah kita," pekik temanku yang di bawah.


Benar kata temanku, dua harimau loreng yang ukurannya lebih besar dari sebelumnya sedang berlari ke arah kita. Akupun bergegas mengambil garam yang disimpan di saku temanku yang lain, tepat ketika kedua harimau itu melompat ke arahku, aku melempari mulutnya dengan garam yang kugenggam. Temanku juga melempar garam yang ada di tangannya ke arah badan harimau yang lain. Kedua harimau yang kami lempari garam terpental ke belakang, setelah meletup pada bagian yang kami lempar. Di belakang sana, kedua harimau itupun lenyap meskipun tidak secepat ketika dua lemparam garam untuk satu harimau.


"Sepertinya kita harus berhemat garam, Im. Karena garamnya tinggal dua genggam lagi," ucap temanku sambil merogoh saku teman yang di depan, aku juga merogoh saku teman yang satunya lagi.


"Iya, Benar. Satu harimau satu genggam saja ya. Kamu duluan, baru aku" ucapku memastikan.


"Oke," jawabnya mengerti.


"Sepertinya sudah tinggal dua harimau lagi di depan sana, yang satu ukurannya sama dengan yang tadim Yang satu ukurannya sangat besar dan ada mahkota di kepalanya. Jangan-jangan itu jelmaan Ki Barong," ucapku.


"Iya, Im. Benar. Itu pasti jelmaan pimpinan dari mereka. Kita harus berhati-hati, harimau kecil itu bagianku, yang besar bagianmu," ucap temanku.


"Oke," jawabku.


Keempat temanku terua berlari sambil membopongku, sedangkan teman yang satunya berlari di sebelahnya.


"Lorong yang tidak ada rumahnya itu sudah tidak jauh lagi," pekik keempat temanku dengan napas terengah.


"Ayo, kita harus berkonsentrasi, harimau yang kecil itu sudah mendekat! Awaaaas!!!" teriakku dengan keras.


Di depan mataku, harimau itu tergelepar setelah dihantam segenggam garam oleh temanku. Kemudian iapun lenyap menjadi asap.


"Tugasku audah selesai, Im. Tinggal tugasmu, hati-hati ya!" ucap temanku.


"Kamu harus memegang badan teman-teman yang lain, supaya tidak tertinggl ketika kita menyebrangi pintu gerbang antar dimensi itu," teriakku pada temanku.


"Oke, Im. Harimau itu sudah semakin dekat, Im" teriak temanku.


"Hai, Imran. Kamu sudah mengobrak-abrik daerah kekuasaanku. Kamu harus menanggung akibatnya," teriak seseorang lantang dari arah belakang.


"Ya Tuhan ... harimau itu ternyata bisa berbicara, darimana dia bisa tahu namaku?"


"Jangan, Kanda. Imran itu masih anak-anak, dia hanya bermaksud menyelamatkan teman-temannya," teriak seseorang yang lain dari belakang sana. Terlalu jauh jaraknya di belakang harimau bermahkota itu.


"Rasakan ini, Anak Kecil!" Harimau besar itu melompat ke arahku. Lompatannya sangat tinggi sehingga aku kesulitan untuk menebak arah gerakannya. Tapi dengan keberanian kulempar garam di tanganku mengenai kepala harimau bermahkota itu.


"Aaaaaargghhh...." Harimau itu terlempar ke belakang, badannnya tergulung-gulung di atas tanah. Bagian kepalanya ada yang hangus tetapi badannya masih utuh. Harimau itu bangkit kembali meskipun kepalanya sudah hangus sebagian. Aku bingung dan takut karena aku sudah tidak punya persediaan garam lagi untuk menghalau serangannya. Harimau itu berlari semakin dekat dengan kami. Ia melompat, kuku-kuku tajamnya diarahkan untuk merobek badanku. Mulutnya menyeringai menampakkan taringnya yang tajam.


"Jangan, Kandaaaaaaaa!!!!" teriak suara perempuan di belakang harimau itu.


Aku merasa sangat takut sekali saat itu.


Bersambung


Alhamdulillah, pembaca novel KAMPUNG HANTU meningkat tajam kemarin.


Semoga hari ini yang membaca juga semakim banyak. Aamiiin.


Jangan bosan-bosan ngelike dan menulis komentar, ya. Karena itu membuat author bersemangat untuk menulis lanjutan kisahny.


see u next episode ya.


Terima kasih ...