KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 68 : DIANCAM


Bu Mega memainkan piano itu secara emosional. Kami bergidik ngeri melihat ekspresinya yang penuh penghayatan. Rambutnya sampai menutupi sebagian wajah saking menjiwainya. Pada saat kami yang melihatnya berada di puncak antara rasa takjub dan ngeri, ia menghentikan lagunya secara mendadak. Sontak membuat perasaan kami campur aduk, antara masih ingin melihat kepiawaiannya bermain piano dan senang karena baru saja lepas dari alunan musik yang terdengar mistis. Di akhir lagunya bu Mega menghela napas panjang.


"Anak-anak ekskul musik akan mengikuti lomba antar pelajar di kabupaten. Kami berlatih dengan keras supaya mendapatkan hasil terbaik. Pelatih menambah jam berlatih kami, yang awalnya seminggu sekali menjadi setiap hari. Setiap pulang sekolah kami berlatih di ruang musik sampai sore hari. Kak Hasan dan Ningrum sering menonton kami yang sedang berlatih, begitu pula kak Rengga. Semakin mendekati hari H, semakin tinggi ketegangan yang kami rasakan. Tidak hanya anak-anak yang terkuras tenaga dan pikirannya, pelatih kami pun sering emosional melihat perkembangan kemampuan anak-anak ekskul yang tidak kunjung membaik. Kami sering dimarahi dan diberi hukuman membersihkan ruangan ekskul," tutur bu Mega kemudian.


"Sore itu sebelum pulang saya pergi ke kamar mandi ditemani oleh Tari. Namun, Tari tidak ikut ke kamar mandi karena ia mau menutup jendela di kelasnya yang berada di lantai kedua. Kebetulan bangku Tari memang berada di dekat jendela. Jadi, kalau malamnya hujan, bisa dipastikan esoknya bangkunya basah. Setelah dari kamar mandi, saya menyusul Tari ke lantai atas. Saya berpapasan dengannya di tangga. Saya terkejut melihat keadaannya, ia menggigil seperti ketakutan. Ketika saya bertanya apa yang terjadi padanya, ia tidak menjawab. Awalnya saya terus mendesak, berharap ia akan lebih tenang setelah menceritakan masalahnya. Namun, sebaliknya ia terlihat makin ketakutan. Akhirnya, saya menenangkannya dengan mengajaknya pulang bersama-sama," lanjut Bu Mega kemudian ia menarik napas dalam-dalam.


"Selanjutnya apa yang terjadi dengan Tari, Bu? Apakah ia bercerita kepada Bu Mega?" tanya Lidya dengan raut wajah bertanya-tanya.


Bu Mega kemudian melanjutkan ceritanya.


"Iya. Malam harinya ia datang ke rumah. Ia menyempatkan diri menemui saya. Ia berpesan kepada saya untuk tidak menggunakan kamar mandi yang berada di timurnya deretan kelas satu. Menurut pengakuannya, saat ia akan menutup jendela kelasnya, tanpa sengaja ia melihat ke bawah. Ia melihat seorang laki-laki baru saja selesai menggali lubang dan memasukkan sesuatu ke dalam lubang itu. Menurut Tari benda yang dimasukkan ke dalam lubang itu seperti kucing mati. Tapi bukan itu alasan mengapa ia melarang saya menggunakan kamar mandi tersebut. Melainkan, karena ia melihat laki-laki tersebut terlihat mengintip saya yang sedang berada di dalam kamar mandi," tutur bu Mega.


Kami berlima terbelalak.


"Apakah laki-laki tersebut sama dengan yang dipergoki bapakku dan teman-temannya?" cetusku.


"Waktu itu Tari tidak mengiyakan. Ia kemudian melanjutkan ceritanya. Selanjutnya Tari terkejut karena pria tersebut menoleh ke belakang secara tiba-tiba. Pria tersebut memergoki Tari yang sedang mengintainya. Tidak cukup sampai di situ, pria tersebut mengacungkan cangkul ke arah Tari sehingga Tari semakin ketakutan," sambung bu Mega.


"Apakah bu Mega tidak merayu Tari untuk berani melaporkan kejadian itu kepada guru atau kepala sekolah?" cetus Cindy.


"Sudah, saya sudah melakukannya, tapi menurut Tari hal itu akan sia-sia karena menurut Tari, pria tersebut memiliki hubungan yang dekat dengan guru dan pengurus sekolah. Semua orang pasti akan membela pria tersebut dan akan menganggap kami hanya mengada-ada saja," jawab bu Mega.


"Lantas bagaimana setelah itu?" Fajar bertanya.


"Mulai hari itu kami berdua selalu bingung dan takut. Saya takut terjadi apa-apa dengan Tari. Saya takut pelakunya nekad mencelakai sahabat saya itu. Sementara ia masih saja merahasiakan identitas pelaku pengintipan itu. Mungkin, dia tidak mau saya secemas dirinya. Dalam keadaan bingung dan takut seperti itu, kami berdua berusaha untuk tetap fokus latihan bermusik. Tanpa sepengetahuan saya, ternyata Tari diam-diam menyelidiki latar belakang pria itu. Hingga suatu hari, tepatnya dua hari sebelum ajang perlombaan itu. Ketika pulang sekolah Tari mengatakan kepada saya bahwa ia menduga suatu kasus besar sedang terjadi di sekolah. Ketika saya tanyakan apa maksudnya ia mengatakan hal itu, dia hanya menjawab akan menceritakannya setelah perlombaan selesai. Ia menambahkan bahwa ia akan memberitahu identitas pengintip itu nanti," lanjut bu Mega.


"Terus, Bu?"


"Esok harinya, satu hari menjelang pertandingan lomba itu. Tari berangkat pagi-pagi sekali kesekolah karena sepedanya rusak. Jadi, Tari tidak mengetahui bahwa hari itu saya tidak bisa masuk sekolah karena kurang enak badan. Seandainya sahabat saya itu tahu kalau saya tidak masuk hari itu, pastinya dia juga tidak akan masuk sekolah. Seperti biasa, sepulang sekolah Tari mengikuti latihan di ruangan ekstrakurikuler musik. Dari info yang saya dengar, hari itu pelatih marah-marah karena penampilan teman-teman kurang optimal padahal perlombaannya sudah sehari lagi. Ningrum dan kak Hasan yang menonton mereka latihan juga kena damprat. Mereka disuruh pulang oleh pelatih, sedangkan anak-anak ekskul dihukum membersihkan seluruh ruangan sekolah. Ningrum sudah bilang kepada Tari bahwa ia akan menunggu di gerbang depan untuk mengantarnya sampai di pertigaan, tetapi dilarang oleh Tari karena takut Ningrum akan kemalaman di jalan. Tari menenangkan hati Ningrum dengan mengatakan bahwa ia akan diantar oleh salah satu teman satu eskstrakurikulernya," lanjut bu Mega.


"Ternyata, malam itu Tari pulang dengan berjalan kaki menembus pekatnya malam. Ia tidak diantar oleh siapapun, kak Rengga pun tidak. Mungkin kak Rengga juga sedang sibuk dengan kegiatannya sendiri, jadi ia tidak tahu bahwa Tari pulang dengan berjalan kaki sendirian. Dan benar saja apa yang dikatakan oleh Tari kepadaku sehari sebelumnya bahwa akan terjadi kasus besar di sekolah. Sayangnya ia kurang tepat menebak waktunya. Kasus besar itu tidak terjadi setelah kelompok musik kami mengikuti ajang perlombaan, tetapi terjadi malam itu ...," ujar bu Mega.


"Kasus apakah itu? Apakah pengintai itu tertangkap basah?" potongku dengan penuh rasa penasaran.


"Bukan itu, Im" jawab bu Mega.


"Lantas kasus apa?" tanya Gatot.


"Ta-ri ...," ucap bu Mega terbata-bata. Matanya tiba-tiba sembap dengan air mata.


"Tari kenapa, bu?" Aku bertanya.


"Tari meninggal malam itu ...," jawab bu Mega sambil menangis sesegukan. Lidya dan Cindy langsung menghambur ke arah bu Mega. Kedua anak itu mengelus pundak bu Mega untuk sedikit mengurangi kesedihan yang ia rasakan.


"Berarti laki-laki itu telah membunuh Tari?" pekikku.


"Tidak! Tari meninggal karena mengalami tabrak lari. Tubuhnya hancur, kedua kakinya putus. Warga menemukan tubuh Tari tergeletak tak bernyawa di pertigaan, tidak jauh dari sekolah," jawab bu Mega sebelum tangisnya pecah mengenang kepergian sahabat kecilnya yang sangat mandiri dan pantang merepotkan orang lain.


Mendengar penuturan bu Mega, mataku langsung berkunang-kunang. Aku langsung teringat dengan view yang pernah aku alami ketika pingsan di sekolah. Ternyata sahabat ibuku yang mengalami nasib tragis itu adalah Tari, teman sekampung bu Mega. Dalam kondisi mata berkunang-kunang begitu, samar-samar aku melihat siluet anak kecil di tengah-tengah pintu rumah bu Mega. Aku berusaha untuk berdiri mendekati anak perempuan itu, tapi kepalaku terlalu berat dan aku pun hanya bisa menyandarkan tubuhku di kursi empuk itu sambil menunggu rasa pening itu pergi.


Bersambung


Memberikan like, komentar, dan vote itu gratis, tapi sangat memotivasi penulis untuk segera melanjutkan cerita.


Salam seram bahagia