KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 30 : JANGAN MENOLEH


Kalimat 'Jangan menoleh' selalu terngiang di telinga kami, sehingga apapun yang terjadi di sekitar kami, tidak kami pedulikan sama sekali. Tatapan kami tetap lurus ke depan, melangkah secara perlahan melintasi kebun kopi dalam pencahayaan yang semakin minim. Suara harimau yang sejak tadi berada di belakangku, berjalan mengikuti pergerakanku sambil membunyikan suara tenggorokannya yang berat, tapi melengking. Akhirnya aku tidak mendengar suara beratnya lagi.


Beberapa langkah kemudian, ada keanehan yang terjadi. Cahaya yang semula meredup tiba-tiba lebih terang dan lebih terang lagi dari sebelumnya. Pohon-pohon kopi di sisi kiri dan kanan yang semula bergerak-gerak membuat nyali kami menjadi ciut, tiba-tiba berhenti. Suasana yang semula seram, menjadi kembali normal, bahkan pemandangannya menjadi sangat indah, tentunya keindahannya berbeda dengan di sawah tadi. Biji-biji kopi yang mulai matang menambah keasriannya. Debaran-debaran jantung kami yang semula sangat cepat, akhirnya kembali normal.


"Mungkinkah, kami sudah melewati bagian angker dari kebun kopi ini?"


Aku melirik ke sebelah, nampak Gatot sedang tersenyum Raut wajahnya yang semula kisut menjadi ceria kembali. Sepertinya teman-teman yang lain juga sama.


Tiba-tiba dari belakang kami terdengar suara seorang perempuan yang sangat merdu dan keibuan.


"Cindy ... Tunggu, Nak!" suara yang kami dengar.


Suara itu sangat halus dan keibuan. Aku lihat Cindy akan menoleh, sepertinya ia sangat mengenal suara itu. Namun, tangan Lidya mencengkram rambutnya.


"Itu, ibuku, Lid? Mengapa aku tidak boleh menoleh?" protes Lidya.


"Diam, jangan sampai kita lengah!" ucap Lidya dengan tetap mencengkram rambut Cindy.


"Kamu kenapa, Nak? Sini ibu pijat kakimu biar nggak sakit," suara merdu itu kembali terdengar dari arah belakangku.


"Lid, plis. Aku harus menghampiri ibuku?" Cindy memohon kepada Lidya.


"Ingat, Cindy. Ini hanya fatamorgana, tidak mungkin ibumu ada di tempat seperti ini!" ucap Lidya dengan agak keras.


Demi mendengar perkataan Lidya, kami semua kembali tersadar atas bahaya yang mengancam kami. Dan kami memutuskan untuk tetap waspada dan tidak menoleh.


"Gatot, tunggu aku! Aku ditinggal oleh timku!" teriak seorang anak perempuan di belakangku menggantikan suara ibu-ibu tadi.


Aku menutup mulut Gatot dengan tangan kiriku supaya ia tidak melanjutkan kata-katanya. Gatot dengan cepat menyadari bahwa kali ini sasaran makhluk ghaib di sini beralih kepadanya, dengan mengusiknya menggunakan suara Rossa Melinda, anak kelas sebelah yang berambut di kepang dua itu.


"Gatoooot, Kamu kok tega banget sich sama aku? Kalau aku tersesat di sini bagaimana?" suara menyerupai Rossa itu semakin manja saja terdengar di belakang kami. Gatot mendelik, aku tahu ia sedang menekan perasaannya. Antara takut menoleh ke belakang dan rasa penasaran terhadap sosok Rossa itu.


Demikianlah suara-suara itu mengganggu kita semua, menyerupai suara orang yang kita kenal. Butuh mental dan nyali yang kuat untuk dapat melintasi perkebunan kopi ini.


Syukurlah, akhirnya kita sampai di pertigaan. Sesuai instruksi kakak kelas, kami harus memilih jalur yang ke kanan menuju Pos 3. Aku lihat di depan, Fajar berbelok ke arah kanan diikuti oleh anak-anak yang lain. Mereka semua menunduk, giliran aku dan Gatot yang berbelok ke arah kanan, menyusul yang lain. Namun, ketika aku akan berbelok, tepat di depanku, di jalan yang lurus, aku melihat Mitha sedang berjalan tertatih-tatih ke arahku sambil berkata.


"Imran ... Tunggu ...,"


Bersambung


j


Jangan lupa like dan komennya ya, Kak.


Sudah ngasih rate bintang 5 belum?


Sudah baca novelku yang lain, belum?


Tunggu next episode, ya?


Oh ya samoai lupa.....


"Jangan Menoleh, ya Kak!"