
Setelah berhasil mengatur napas, rasa pening di kepalaku pun sirna. Sayangnya, siluet gadis itu juga turut menghilang. Sementara itu, di depanku bu Mega pun sudah bisa menenangkan diri kembali. Untuk beberapa saat, kami semua sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Tak ada komunikasi apapun di antara kami, sehingga selama beberapa menit suasana menjadi hening dan mencekam.
Setelah terdiam selama beberapa waktu, aku berkata memecah kesunyian, "Apa Bu Mega yakin, Tari itu mati karena tabrak lari, bukan karena sengaja ditabrak oleh seseorang?"
Bu Mega terhenyak sesaat, kemudian ia pun berkata, "Awalnya saya memiliki kecurigaan seperti itu, tapi tidak ada saksi dan bukti yang dapat membuktikan hal itu selain feeling dan mimpi-mimpi saya saja,"
"Maksudnya apa, Bu?" tanyaku.
"Rasanya terlalu kebetulan Tari mengalami kecelakaan di saat ia baru memergoki seorang laki-laki yang memiliki kelainan suka mengintip perempuan di kamar mandi. Terlebih, sebelum Tari meninggal ia pernah mengatakan kepada saya bahwa ia mencium ada ketidakberesan besar di sekolah. Diam-diam saya menelusuri ketidakberesan yang dimaksudkan oleh teman saya itu, tapi sampai saya lulus dari sekolah tersebut, semuanya terlihat normal-normal saja," ungkap bu Mega sambil menata kembali rambut panjangnya yang acak-acakan akibat terbawa emosinya tadi.
"Terus, mengenai mimpi-mimpi yang Ibu katakan tadi, bagaimana?" Aku bertanya lagi.
"Dia ... maksud saya, Tari. Sering datang ke dalam mimpi saya. Namun, ia selalu terlihat sedih, terkadang ia juga marah kepada saya. Kalau sudah seperti itu, saya menjadi takut. Namun, saya tidak bisa menghindari mimpi-mimpi itu, bahkan mimpi itu terlihat sangat nyata, bagaimana wajahnya menjadi pucat dan menyeramkan kalau sedang marah," tutur bu Mega dengan ekspresi wajah ketakutan. Tidak hanya bu Mega yang ketakutan, kami berlima yang mendengar ceritanya juga merinding.
"Bu Mega ... tidak hanya ibu yang didatangi oleh Tari, tetapi juga aku," pekikku.
Bu Mega memandang lekat ke arahku diikuti keempat teman-temanku.
"Benar kah begitu, Im?" pekiknya.
"Iya, Bu. Pertama kali ia menampakkan diri waktu bapak mengantarkanku daftar ulang, ia muncul di tanjakan itu. Kemunculan kedua saat aku pingsan di kamar mandi, waktu itu rohku tiba-tiba berada di tanjakan itu dan aku melihat seorang laki-laki dengan sengaja menabraknya hingga kedua kakinya terputus," jawabku.
"Apakah dalam penglihatanmu itu, kamu melihat dengan jelas wujud laki-laki yang menabrak Tari?" tanya bu Mega penasaran.
"Tidak begitu jelas, Bu. Tapi aku dapat melihat benda-benda yang ia pakai dan ada di sekitarnya," jawabku.
"Apa saja kah itu?" tanyanya lagi.
"Ia memakai kaca mata hitam, berjas kulit warna hitam, di jok sebelahnya aku melihat jaket cokelat, persis sekali dengan yang tergantung di rumah Pak Mat. Dan ada satu lagi, di mobil itu tergantung sebuah benda seperti kalung dengan liontin berbentuk hati," jawabku sambil berusaha mengingat-ingat view yang pernah kulihat itu.
"Jaket pak Mat?" pekik keempat temanku.
"Liontin itu pasti milik Tari, pemberian dari kak Rengga. Kalau dibuka, didalamnya ada foto kak Rengga dan Tari masing-masing di setiap sisinya," ujar bu Mega.
"Apakah pelakunya adalah pak Mat?" pekik Lidya.
"Jangan gegabah, bisa jadi pak Mat hanya diberi jaket itu oleh pelaku, bukan kah pelaku memiliki hubungan dekat dengan pengurus sekolah? Atau bisa jadi itu hanya terlihat mirip saja," jawab Fajar.
"Tidak mungkin kalau hanya mirip, karena bagian yang terkelupas di belakang jaket, bentuknya sama persis," jawabku.
"Bagaimana kalau kita tanyakan langsung saja kepada pak Mat, dari mana ia mendapatkan jaket cokelat tersebut?" cetus Gatot.
"Jangan! Bagaimana kalau ternyata pak Mat adalah pelakunya? Bisa jadi ia menjadi kalap dan menyerang kita karena tidak mau rahasianya terbongkar," jawabku.
"Benar juga, sih? Terus, apa yang harus kita lakukan untuk meringkus pembunuh Tari?" tanya Gatot.
"Aku punya rencana begini ...," aku berbisik kepada mereka berempat dan juga didengar oleh bu Mega.
"S-s-saya setuju, tapi hati-hati, ya?" jawab bu Mega dengan terbata-bata. Entahlah apa yang ia pikirkan sehingga mendadak kebingungan seperti itu.
Beberapa saat kemudian, kami semua terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Bu Mega, tadi saya melihat teman saya sedang berdiri di depan sana, di pinggir pagar, tapi setelah saya dekati tiba-tiba ia menghilang, mungkin Bu Mega tahu arah perginya?" ucapku beberapa saat kemudian.
"Maksud kamu teman sekolah?" Bu Mega balik bertanya.
"Iya, ia teman satu angkatan dengan kami, tapi ia hanya masuk sebentar kemudian tidak muncul-muncul lagi. Kedatangan kami ke tempat ini selain bertemu Bu Mega, kami juga ingin menemui teman kami tersebut," jawabku.
"Di sebelah rumah saya ini memang ada jalan pintas menuju rumah-rumah tetangga di belakang rumah, mungkin saja tadi anak itu lewat di jalan setapak tersebut. Kalau boleh tahu nama temanmu siapa? Barangkali saya mengenalnya," ujar bu Mega.
"Namanya Mita Lestari, Bu" Aku menjawab dengan cepat.
Teman-teman tersenyum meledek kepadaku, sedangkan bu Mega kelihatan agak terkejut dengan nama yang aku sebutkan barusan.
"M-mita L-lestari?" pekiknya.
"Iya, Bu. Mita Lestari namanya, anaknya memiliki rambut agak panjang segini dan ...," jawabku.
"Ke sekolah naik sepeda mini?" potong bu Mega dengan nada bertanya sekaligus memberitahu.
"Benar sekali, Bu. Apa ibu mengenalnya?" tanyaku dengan nada mengharap bu Mega benar-benar mengenal anak perempuan tersebut.
"Iya, dia tinggal beberapa meter di belakang rumah ini. Kalian bisa ke sana melewati jalan setapak di sebelah rumah ini," ujar bu Mega dengan tatapan mata datar dan tangan menunjuk ke arah samping.
"Maaf, Bu Mega. Apakah boleh kami meminta ijin pergi ke sana, sambil menitipkan sepeda kami di depan rumah Bu Mega? Karena tadi kami melihat, jalan tersebut agak sulit dilewati dengan sepeda," cetus Fajar.
"Silakan! Memang benar jalan tersebut susah dilewati sepeda. Mita biasanya menuntun sepedanya ketika melewati jalan kecil tersebut," jawab bu Mega dengan tatapan mata masih sayu dan datar.
"Baiklah, Bu Mega. Kami pamit dulu, supaya tidak kesorean di jalan," ucapku sambil menyalami tangan bu Mega yang dingin. Teman-teman yang lain juga menyalami tangan beliau.
Akhirnya kami pun berjalan meninggalkan rumah Bu Mega. Aku sempat menoleh ke arah batu nisan di depan rumah bu Mega. Ada sebuah tulisan pada batu nisan tersebut yang membuatku agak terkejut.
"TARI ...?" gumamku. Aku mencolek Fajar untuk membaca tulisan itu juga. Sama denganku, Fajar juga terkejut, ia pun mencolek Lidya, dan seterusnya akhirnya semua teman-teman mengetahui nama yang tertulis pada batu nisan makam tersebut.
"Apakah itu Tari yang diceritakan oleh Bu Mega?" Pertanyaan tersebut yang tiba-tiba menyeruak di pikiran kami berlima.
Kami menoleh ke belakang, bu Mega masih menatap nanar ke arah kami berlima. Entahlah apa yang sedang membebani pikirannya.
Bersambung
Jangan bosan-bosan memberikan like dan vote untuk novel KAMPUNG HANTU ini.
Salam seram bahagia