
Saat ini aku sedang berdiri di sebuah dahan pohon dengan daun yang cukup lebat, tetapi tidak selebat sebelumnya karena beberapa bagian sudah dipangkas sebelumnya oleh pak Mat. Bagian bawah pohon ini yang sebelumnya dipenuhi oleh semak-semak, saat ini sudah tidak ada lagi semak-semak itu. Iya, aku sedang berada di atas pohon di belakang kamar mandi sekolah, tempat yang pernah aku gunakan untuk bersembunyi dari pak Mat. Jujur sebenarnya aku masih trauma untuk berada di tempat ini akibat hampir diserang ular dari atas pohon. Mulai tadi aku mengedarkan pandangan ke seluruh bagian pohon ini, takutnya ular itu tiba-tiba muncul dari salah satu ranting pohon. Kalau aku melihatnya terlebih dahulu, setidaknya aku memiliki kesempatan untuk kabur sebelum ular tersebut menyerangku. Syukurlah, aku tidak melihat ular tersebut di sana. Semoga saja ia sudah berpindah tempat tinggal.
Matahari sudah condong ke arah barat, sehingga intensitas cahaya yang dihasilkan semakin berkurang. Aku masih sabar menunggu seseorang datang ke tempatku ini. Jantungku berdegup dengan kencang saat aku mendengar suara langkah kaki dari belakang gedung sekolah menuju ke tempatku bersembunyi. Aku menahan napas supaya keberadaanku di pohon ini tidak terdengar oleh orang tersebut.
[Sreet sreet sreet]
Akhirnya batang hidung orang tersebut nongol juga. Aku mengintai pergerakan orang tersebut melalui celah-celah dedaunan sambil memegangi benda berbentuk kotak di tangan kananku. Orang tersebut menggunakan jaket kulit berwarna cokelat persis dengan jaket cokelat yang berada di mobil pembunuh Tari yang pernah muncul di dalam view yang kulihat. Pria tersebut membawa sebuah kresek hitam di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memegang sebuah cangkul.
"Ya Tuhan, apakah Pak Mat adalah pelaku pembunuhan terhadap Tari? Bukankah bapak sudah bilang kepadaku bahwa aku harus terus berada di pohon ini sampai pelaku pembunuhan itu datang. Menurut bapak, aku akan mengetahui pelaku pembunuhan itu dengan melihat benda yang dibawa oleh orang tersebut," pikirku di dalam hati.
Aku mengamati pergerakan pak Mat dengan seksama. Aku perhatikan pak Mat mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Untuk jaket sudah dipastikan bahwa itu adalah jaket kulit yang ada di mobil pembunuh itu, tetapi dengan jaket jaket yang ia pakai tidak berarti pak Mat adalah pelakunya karena bisa jadi ia memperolehnya dari pemberian orang lain atau bahkan dari pembunuh itu sendiri. Aku memfokuskan diri pada isi kresek hitam yang sedang ia bawa. Perlahan tetapi pasti, pak Mat mencangkul tanah yang ada di depannya, setelah menggali kurang lebih tiga puluh senti meter, ia pun mengeluarkan benda yang ada di dalam kresek hitam yang ia bawa ke dalam lubang tersebut. Jantungku berdegup dengan kencang menunggu detik-detik dikeluarkannya benda tersebut dari dalam kresek yang ia bawa. Darahku semakin mendesir manakala pak Mat mengeluarkan benda itu sambil menutup hidungnya. Bau bangkai semerbak tersebar sampai ke tempatku berada, aku menutup hidungku karena tidak tahan menghirup bau bacin tersebut.
Hanya beberapa detik, aku dapat melihat benda yang sedang berada di lubang yang digali oleh pak Mat, karena pak Mat buru-buru menutupnya dengan tanah. Namun, waktu beberapa detik itu sudah cukup bagiku untuk mengetahui bahwa benda yang dikubur oleh pak Mat tersebut adalah seekor kucing mati.
"Syukurlah, pak Mat bukanlah pembunuh itu," pekikku di dalam hati.
Setelah selesai menutup lubang tersebut, aku sempat ketakutan karena mata pak Mat sempat melirik ke arahku. Namun, aku kembali tenang karena pak Mat tidak menghampiriku, melainkan ia kemudian meninggalkan tempat tersebut. Mungkin ia hanya terpukau dengan hasil pekerjaannya kemarin yang telah berhasil merapikan pohon tempatku bersembunyi ini.
Matahari semakin condong ke arah barat. Aku masih berdiri di atas dahan pohon di belakang kamar mandi sekolah. Untunglah dahan yang aku pijak agak besar. Jadi, tekanan di kakiku tidak begitu kuat, jadi aku bisa berdiri di atasnya meskipun temponya agak lama. Aku mengurangi tekanan pada kakiku dengan menyandarkan tubuhku pada batang pohon. Risikonya, baju putihku bisa saja menjadi kotor karenanya.
"Pak Rengga!!!" pekikku di dalam hati.
Ternyata tebakanku seratus persen benar. Orang tersebut adalah pak Rengga, guru pembina Ekskul karate di sekolahku. Dia sedang berada beberapa meter di depanku dengan membawa cangkul dan sebuah kantong kresek di kedua tangannya.
"Ya Tuhan, apa yang dibawa oleh pak Rengga itu? Apakah itu benda mencurigakan yang dimaksudkan oleh bapak? Tidak!!! Meskipun selama ini aku mencurigai gelagat pak Rengga, senujurnya di dalam hati kecilku, aku tidak menginginkan pak Rengga menjadi tersangka utama pembunuhan Tari," ucapku di dalam hati.
"Bukankah waktu itu pak Rengga masih terlalu kecil untuk menjadi seorang pembunuh? Bukankah ia memiliki perasaan khusus kepada Tari? Tidak mungkin ia tega menghabisi nyawa orang yang spesial di hatinya?" Aku terus mensugesti diriku sendiri sambil mengamati pak Rengga yang menggali lubang yang letaknya cukup dekat dengan lubang yang digali pak Mat beberapa waktu yang lalu.
Pak Rengga sudah selesai menggali lubang sedalam kurang lebih tiga puluh senti meter itu. Setelah itu ia mengambil kresek transparan yang tadi ia letakkan di tanah ketika ia akan menggali lubang. Aku mengamati dengan saksama benda apa yang ada di dalam kresek transparan yang dibawa ketua laboratorium IPA tersebut. Napasku menderu tetapi aku halangi dengan tangan takut terdengar oleh pak Rengga. Rasa ingin tahu dan khawatir bercampur menjadi satu di dalam pikiranku. Aku masih terus memperhatikan dengan teliti benda di dalam kresek transparan itu, karena hal itu yang akan menentukan apakah guruku ini adalah pelaku pembunuhan terhadap Tari atau bukan. Sampai detik ini aku hanya dapat memastikan bahwa benda yang berada di dalam kantong kresek itu adalah sejenis daging, tetapi kalau aku ditanya daging apakah itu? Aku belum bisa menjawabnya sekarang. Dan aku harus terus mengamati daging itu sebelum pak Rengga menguburnya ke dalam tanah.
Pak Rengga menimang sejenak kantong kresek yang berada di tangan kanannya sekarang. Kali ini aku benar-benar yakin dengan jenis daging apa yang sedang berada di tangan guruku tersebut. Sementara pak Rengga sudah berhasil menguburkan daging tersebut dengan rapat di dalam tanah. Ada gurat kelegaan di wajah pak Rengga setelah berhasil menguburkan daging yang ia bawa. Dan, kali ini aku harus segera mengambil sikap.
Bersambung
Terima kasih atas doa teman-teman pembaca selama ini. Terima kasih juga atas kesetiaan pembaca karyaku ini, meskipun sudah berkali-kali dikecewakan karena lambatnya update, terutama ketika saya sedang sakit. Semoga hidup Anda semuanya dipenuhi dengan Rahmat Tuhan YME. Aamiiin...