
Selain gemetaran, wajah Parto juga memerah dengan seketika setelah membaca isi tulisan di dalam kertas tersebut. Sementara Pak Anton tersenyum simpul melihat reaksi temanku itu.
"I-i-ini maksudnya apa, Pak?" tanya Parto dengan terbata-bata.
"Kamu sudah baca isi suratnya, kan?" Pak Anton balik bertanya.
"I-i-iya, tapi apa maksudnya ini, Pak?" Parto terlihat kebingungan.
"Beberapa waktu yang lalu saya menemui kepala sekolahnya Imran. Kebetulan saya mengenalnya dengan baik. Saya menceritakan tentang kehebatan kamu pada kepala sekolah itu. Salah satunya adalah catatan positif kamu di kepolisian karena telah membantu polisi mengungkap kasus pembunuhan di dusun ini. Kepala sekolah tertarik dengan kamu, To. Kemudian saya juga menceritakan bahwa kamu tidak dapat melanjutkan pendidikan karena keterbatasan ekonomi. Kepala sekolah mau memberikan beasiswa pendidikan gratis kepadamu, To. Kamu bisa melanjutkan sekolah bersama Imran tanpa harus membayar sepeser pun, To," jawab Pak Anton dengan berbunga-bunga.
Lain halnya dengan Pak Anton, wajah Parto tampak murung mendengar kabar bahagia itu. Kemudian Parto bersuara.
"Tapi, Pak-" ucapnya.
"Kamu nggak usah bingung dengan uang saku, To. Saya akan memberimu uang saku seminggu sekali," potong Pak Anton.
Parto merunduk dengan sopan. Ia kemudian mengangkat wajahnya dan menatap mata Pak Anton. Pada saat bersamaan datang Echa dan Echi. Kedua Balita itu duduk di pangkuan Parto.
"Sebelumnya saya ingin mengucapkan beribu terima kasih kepada Bapak karena telah memikirkan saya dan sudah bersusah payah mencarikan bea siswa untuk pendidikan saya, tapi saya mohon maaf Pak. Saya tidak bisa menerimanya-" ucap Parto dengan sangat sopan.
"Kamu kenapa, To? Ini kesempatan buat kamu untuk bisa menjadi orang yang berhasil dan mengangkat harkat dan martabat keluargamu," ucap Pak Anton dengan nada kecewa.
"Pak, saya tidak bisa meninggalkan kedua keponakan saya ini yang masih kecil-kecil. Tidak ada yang menemani mereka kalau saya sekolah, Pak," jawab Parto sambil mengelus kepala kedua Balita itu. Pada saat itu bulir air mata mulai jatuh dari kelopak mata temanku itu.
"Om To kok nangis? Pak Polisi jahatin Om To, ya?" cetus Echa tiba-tiba.
"Enggak kok, Cha, Pak Polisi baik kok. Om To nggak apa-apa kok," jawab Parto sambil mengelus kepala Echa.
Pak Anton tertegun sejenak. Kemudian ia berkata.
"Siapa kedua anak ini, To? Di mana kedua orang tuanya?" tanya Pak Anton.
"Dia anak sepupuku, Pak. Ibunya menitipkannya di sini karena harus bekerja di kota. Sedangkan bapaknya sudah tidak peduli dengan keadaan mereka berdua," jawab Parto.
"Apa tidak ada cara lain supaya kedua anak ini tetap ada yang jaga dan kamu juga tetap bisa bersekolah?" tanya Pak Anton.
"Sepertinya tidak ada, Pak. Tetangga di sini semuanya punya kesibukan masing-masing. Bahkan ibunya Imran ini sekarang sudah ikut bekerja juga di gudang tembakau karena kondisi perekonomian yang saat ini tidak menentu di negara ini. Ibu saya juga sekarang tidak begitu fit keadaannya. Harapan satu-satunya untuk supaya kami masih bisa makan adalah sawah yang dikelola oleh saya dan bapak. Bapak juga sudah tidak sesehat dulu lagi, Pak," jawab Parto mengurai masalah yang ada di keluarganya.
"Susah juga, ya To? Saya juga bingung bagaimana caranya untuk menolongmu. Saya pikir dengan mendapatkan bea siswa ini, kamu akan bisa terus bersekolah. Ternyata kondisi di keluargamu tidak memungkinkan," ucap Pak Anton.
"Maafkan saya ya, Pak? Pak Anton sudah bersusah payah untuk mencarikan bea siswa untuk saya, tapi saya tidak bisa menerimanya," jawab Parto.
Pak Anton geleng-geleng kepala.
"Iya, To. Tidak apa-apa. Sebenarnya saya sangat kecewa, tapi mau gimana lagi, kondisi kamu snagat tidak memungkinkan. Bagaimana kalau saya tanyakan hal ini kepada bapak dan ibumu dulu? Siapa tahu mereka punya solusinya?" tanya Pak Anton.
"Jangan, Pak!!!" pekik Parto.
"Loh, kenapa To?" tanya Pak Anton kaget mendapat penolakan dari Parto untuk meminta pendapat kedua orang tuanya.
"Karena kalau bapak dan ibu mendengar hal ini, mereka berdua pasti akan memaksa saya untuk menerima tawaran bea siswa itu, Pak!" jawab Parto.
"Loh, bukankah itu artinya kabar baik buatmu, To?" tanya Pak Anton.
"Tidak, Pak. Mereka akan memaksakan diri. Saya tau sifat mereka. Mereka tidak ingin mengecewakan saya. Tapi akibatnya, kondisi kesehatan mereka akan menurun setelahnya. Saya tidak mau hal itu terjadi, Pak," jawab Parto.
Pak Anton terperangah dengan jawaban temanku itu.
"Saya yang minta maaf, Pak, karena telah mengecewakan Pak Anton," jawab Parto.
"Tidak, To. Kondisi yang tidak memungkinkanmu bersekolah lagi," jawab Pak Anton.
"Saya mohon maaf, Pak," pekik Parto.
"Begini saja sudah, To. Kamu fokus pada pertanianmu saja dulu. Saya akan membelikanmu buku-buku tentang budi daya tanaman pertanian. Nanti, kalau usiamu sudah lima belas tahun, saya akan mendaftarkanmu ikut Kejar Paket B," ujar Pak Anton.
"Itu pendidikan setara SMP, ya?" tanya Parto.
"Iya. Tapi kamu tidak harus sekolah seperti sekolahnya Imran. Mungkin hanya beberapa bulan saja dan kamu bisa belajar di rumahmu sendirim Paling pas waktu ujian saja kamu harus datang ke tempatnya," jawab Pak Anton.
"Sepertinya Kejar Paket B itu yang lebih cocok untuk saya, Pak!" jawab Parto mulai berbinar.
"Iya sudah kalau begitu. Tapi, kalau sudah dapat ijazah Paket B dan kondisi memungkinkan, kamu sebaiknya melanjutkan di SMA biasa ya?" tanya Pak Anton.
"Iya, Pak. Semoga saat itu keadaanya sudah lebih baik dari sekarang. Aamiiin," jawab Parto.
"Ya sudah, kalau begitu saya mau pamit dulu, To, Im," ujar Pak Anton sambil berdiri dari duduknya.
"Bapak mau kemana? Belum juga dibuatin minum. Masa nggak kangen kopi panas buatan kami berdua? Tunggulah barang sejenak!" rayu Parto.
"Maaf, Im. Saya harus segera sampai di kantor secepatnya karena saya harus melaporkan perkembangan sebuah kasus," jawab Pak Anton.
"Kasus besar, ya, Pak? Sampai Pak Anton nggak bisa menunggu?" tanyaku menyela.
"Kasus lama, Im. Kasus misteri hilangnya seorang perempuan tua yang sudah hilang belasan tahun yang lalu," jawab Pak Anton.
"Hilangnya seorang perempuan tua?" pekikku.
"Iya, Im. Perempuan tua itu adalah istri kedua seorang tuan tanah. Perempuan tua itu tiba-tiba saja menghilang dari rumahnya secara misterius belasan tahun yang lalu. Tidak ada yang tahu kemana perginya perempuan tua itu sampai sekarang. Nah, beberapa hari yang lalu ada salah satu anggota keluarganya yang mencari saya di kantor, tapi tidak berhasil bertemu dengan saya karena saya pas keluar kota. Nah, beberapa hari kemudian, orang itu meninggal me jadi korban perampokan," terang Pak Anton.
"Ya Tuhan!" pekik kami berdua.
"Ya sudah, kok malah saya jadi cerita kerjaan kepada kalian. Saya pamit dulu, assalamualaikum," ujar Pak Anton.
"Waalaikumsalam," jawab kami berdua.
Kami melepas kepulangan Pak Anton setelah salim terlebih dahulu.
"Tetap semangat ya, To!" ucapku sambil menepuk pundak sahabatku itu.
"Iya, Im. Terima kasih,"
***
Jangan lupa baca novelku yang lain
MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
SEKOLAH HANTU