
Aku mengerti, meskipun mereka sudah lama memendam kisah kelam sahabat mereka, tetapi jauh di dalam sanubari mereka, mereka masih menyimpan ribuan pertanyaan tentang kematian Tari yang sangat mengenaskan itu.
"Pak ... Bu ... Semua berawal dari sesuatu yang mengerikan yang saya lihat di tanjakan di selatannya sekolah. Waktu itu Bapak mengantar saya daftar ulang. Bapak menegur saya untuk berhati-hati di jalan karena ada teman SMP-nya pernah mengalami kecelakaan di tempat itu. Saya langsung menyahut bahwa kedua kaki teman Bapak itu terputus. Bapak mengira saya mengetahui hal itu karena mendapat informasi dari Ibu. Padahal Ibu sebelumnya tidak bercerita kepada saya. Kenapa saya bisa tahu? Karena waktu itu, arwah Tari sedang menampakkan diri di belakang Bapak," ujarku.
"Apa? Waktu itu kamu melihat hantunya Tari di sana?" timpal bapak.
"Iya, Pak. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri. Arwah Tari sedang ngesot di aspal, tepat di belakang Bapak," jawabku dengan tegas.
"Ya Tuhan. Tari!!!" pekik ibuku.
"Tidak hanya itu, Pak ... Bu ...," ujarku lagi.
"Lanjutkan ceritamu, Im!" ujar bapak dengan nada serius.
"Ketika di sekolah, Tari muncul secara nyata di hadapan saya dengan tampilan anak SMP pada umumnya. Dia memperkenalkan diri dengan nama Mita kepada saya, dengan nama panjang Mita Lestari," lanjutku.
"Benar begitu, Im? Mita Lestari memang nama panjang dari Tari. Kami biasa memanggilnya Tari karena ia memang memiliki kelebihan dalam bidang seni," ujar ibuku.
"Benar, Bu. Rambutnya panjang segini, terus anaknya cantik manis dengan lesung pipit di pipinya, kan?" ujarku lagi.
"Iya, benar sekali, Im. Saya sekarang yakin kalau kamu tidak sedang berbohong. Lanjutkan ceritamu, Im!" timpal ibuku.
"Awal mula perkenalan kami berdua hampir sama dengan perkenalan Bapak dengan Tari," ujarku.
"Apa maksud kamu?" tanya bapak dengan ekspresi wajah keheranan.
"Saya melihat Mita sedang kebingungan dengan rantai sepedanya yang terlepas. Jadi, saya membantunya membetulkan rantai sepedanya itu. Itulah awal perkenalan kami berdua. Bukankah Bapak dan Tari pertama kali bertemu dengan cara seperti itu?" ujarku sambil menatap lekat mata bapak.
"Benarkah apa yang dikatakan oleh Imran, Pak?" Giliran ibu yang bertanya kepada bapak.
"I-i-iya, saya dan Tari saling mengenal karena saya yang membantunya membetulkan rantai sepedanya yang terlepas," jawab bapak dengan terbata-bata.
"Ya Tuhan. Berarti arwah Tari benar-benar datang kepada kamu, Im. Apa yang ia lakukan kepadamu setelah itu? Dia tidak ngapa-ngapain kamu, kan?" Ibu memberondongku dengan beberapa pertanyaan.
"Ibu dan Bapak ingat, kan, saya pernah pingsan di sekolah dan diantar pulang oleh guru saya?" ujarku.
"Iya.Apa sebenarnya yang terjadi saat itu?" tanya ibuku.
"Waktu itu saya pergi ke kamar mandi. Entah mengapa tiba-tiba saya mendengar suara nyanyian Tari. Dan setelah itu sukma saya melayang ke dimensi lain. Saya tidak berada di kamar mandi, melainkan berada di tanjakan itu. Dan saat itu saya melihat Tari sedang terbaring di tengah jalan. Dari arah utara ada sebuah mobil yang disopiri oleh seorang lelaki berjas dan berkacamata hitam. Ada jaket coklat di jok mobil. Jaket itu sekarang dimiliki oleh Pak Mat, penjaga sekolah saya. Di atas dashboard tergantung liontin berbentuk hati. Awalnya lelaki itu menghentikan mobilnya, tetapi kemudian dengan tanpa perasaan ia sengaja melindas tubuh Tari hingga kedua kakinya terputus," Aku melanjutkan ceritaku.
"Ya Tuhan! Kasihan sekali Tari. Pasti ia sangat kesakitan saat itu," ujar ibuku.
"Tapi view yang kamu lihat belum tentu sesuai dengan kenyataannya, kan?" ujar bapak.
"Coba lanjutkan dulu ceritamu, Im!" ujar bapak lagi.
"Selain arwah Tari yang acap kali muncul di hadapan saya. Ada arwah bayi yang sering muncul di sekolah. Arwah bayi itu pernah mengganggu saya, dan beberapa teman saya yaitu Mery dan Rossa," ujarku.
"Apa hubungannya arwah bayi itu dengan Tari?" tanya ibuku.
"Ternyata Mery dan Rossa itu adalah anak dari teman-teman Bapak yang pernah disidang di ruangan BP. Dan Ternyata juga weton mereka sama denganku yaitu senin legi," jawabku.
"Apa?" Bapak terkejut mendengar penjelasanku.
"Itulah mengapa, awalnya saya menaruh curiga kepada Bapak. Saya mengira Bapak dan teman-teman Bapak telah melakukan hal buruk di masa lalu sehingga mengakibatkan arwah bayi dan arwah Tari tidak dapat beristirahat dengan tenang," lanjutku.
"Oalah, pantas saja waktu itu kamu agak sensi sama bapakmu, ya? Kalau tidak salah dengar, bapakmu dan teman-temannya dulu dipanggil ke ruangan BP karena menuduh dan mengeroyok seseorang tanpa bukti yang kuat," timpal ibuku.
"Lanjutkan dulu ceritamu, Im! Nanti baru saya akan menjelaskan kejadian sebenarnya waktu itu," ucap bapak.
"Iya, benar. Imran mohon maaf ya, Pak. Sudah sempat kurang ajar, mencurigai yang tidak-tidak terhadap Bapak. Namun, karena kecurigaan itulah akhirnya saya dan teman-teman menyusup ke gudang sekolah untuk mencari data siswa perempuan yang juga dipanggil oleh guru BP pada hari yang sama dengan pemanggilan Bapak. Dan akhirnya saya menemukan nama dan alamat bu Mega, teman Bapak dan Ibu," lanjut ceritaku.
"Dasar kamu ini, Im! Kalau sampai perbuatan kalian diketahui pihak sekolah. Kalian bisa diberi sanksi berat, lo?" ujar ibuku.
"Iya kami paham itu, Bu. Makanya kami melakukannya dengan sangat berhati-hati. Tapi perlu Bapak dan Ibu ketahui, kalau seandainya kami tidak berbuat senekat itu, arwah Tari dan arwah bayi itu akan selalu bergentayangan di sekolah dan bisa membahayakan siswa. Si Mery saja hampir tewas karena terjatuh akibat ulah arwah bayi itu. Untung kami sempat mengetahui dan menolongnya," ujarku membela diri.
"Iya sih, tapi lain kali bilang dulu ke bapak dan ibu ya, kalau mau berbuat nekat?" ujar ibuku dengan nada cemas.
"Iya, Bu. Saya mohon maaf telah membuat Ibu cemas. Setelah bertemu dengan bu Mega, kami banyak mendapat informasi yang saling berhubungan dengan penyelidikan kami terkait Tari dan bayi itu," jawabku.
"Apa saja yang disampaikan oleh Mega kepada kalian?" tanya ibuku.
"Banyak hal yang ia ceritakan, Bu. Ia menceritakan tentang persiapan tim ekskul musik yang akan mengikuti kejuaraan. Pelatih sering marah-marah dan menghukum anggota ekskul karena sampai mendekati hari-H penampilan mereka malah makin jelek. Mereka dihukum membersihkan ruangan ekskul dan juga ruangan yang lainnya sepulang latihan," jawabku.
"Iya, benar. Pelatih itu juga mengusir bapak dan ibu yang sedang menonton mereka berlatih. Padahal ibumu ingin mengantar Tari pulang setidaknya sampai di pertigaan, karena hari itu Mega yang biasa pulang bersamanya tidak masuk sekolah. Dan keesokan harinya Tari ditemukan sudah tidak bernyawa dengan mengenaskan di tanjakan itu," sambung bapak.
"Iya benar kata bapakmu, Im. Dan keesokan harinya saya melihat pelatih itu ...," potong ibuku.
"Pelatihnya kenapa, Bu?" tanyaku penasaran.
Ibu menarik napas dan matanya tiba-tiba berair.
Bersambung
Ditunggu next episodenya ya, Kak!