KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 74 : SEBUAH AMANAT


Selesai berdoa di makam Tari kecil, bu Mega bercerita bahwa suaminya berprofesi sebagai mandor di perkebunan kopi. Subuh tadi suaminya sudah berangkat ke kebun kopi yang letaknya sekitar lima kilometer ke arah utara dari rumah bu Mega. Pulangnya nanti sore selepas asar. Mereka sudah menikah selama dua belas tahun, tetapi belum dikaruniai seorang anak. Dulu, sebelum menemukan si Tari kecil, bu Mega pernah hamil namun ia mengalami keguguran pada usia kehamilan tiga bulanan. Semenjak itu bu Mega sudah tidak pernah hamil lagi. Bu Mega pernah dengan berat hati menyarankan kepada suaminya untuk menikah kembali agar memiliki keturunan. Tetapi, suaminya menolak keras bahkan memarahi bu Mega habis-habisan. Menurut suami bu Mega, ia sangat mencintai bu Mega dan tidak mau menyakiti hati istrinya itu. Kalau masalah anak, menurut suaminya itu adalah amanat dari Tuhan. Jika belum diberi, berarti belum dipercaya oleh Tuhan untuk mendidik seorang anak. Toh, masih banyak anak yatim atau keponakan yang juga membutuhkan kasih sayang mereka.


"Beruntung sekali bu Mega memililiki suami sebaik itu," pikirku dalam hati.


Setelah berpamitan kepada bu Mega, kami pun pulang. Ada satu pesan bu Mega yang masih kuingat.


"Nak Imran, Nak Fajar, Nak Lidya, Nak Gatot, dan Nak Cindy. Saya minta tolong kepada kalian berlima, tolong ungkap kasus kematian Tari! Supaya ia dapat beristirahat dengan tenang. Namun, berjanjilah untuk tetap berhati-hati dan mengutamakan keselamatan. Saya yakin kalian berlima adalah anak-anak yang sudah disiapkan oleh Tuhan untuk mengungkap ini semua. Saya sangat yakin dengan hal itu. Jika kalian membutuhkan bantuan saya, saya dan suami bersedia untuk membantu kapanpun dan dimanapun jika memang dibutuhkan," ucap bu Mega dengan mata berkaca-kaca.


Kemudian aku pun membisikkan sesuatu di telinga beliau. Beliau manggut-manggut tanda setuju.


Kami pun mengayuh sepeda meninggalkan rumah bu Mega. Bu Mega melambaikan tangannya menyambut kepergian kami berlima. Kami pun membalas lambaian tangan beliau dengan melambaikan tangan juga. Ada keanehan yang terjadi ketika aku menoleh ke arah belakang. Ternyata bu Mega tidak melambaikan tangan sendirian. Ada seorang gadis di sampingnya juga melambaikan tangan. Kali ini aku benar-benar yakin bahwa itu adalah arwah Mita alias Tari. Secara refleks aku pun mengalihkan pandangan ke arah lain untuk menghindari menatap arwah teman bapakku itu, tetapi sialnya arwah Mita sepertinya tidak rela aku membuang pandangan. Ia yang semula kulihat berada di sebelah bu Mega, tiba-tiba menghilang dan tahu-tahu sudah berada di belakangku. Membonceng dengan cara berdiri di atas as roda di belakangku sambil tangannya yang dingin memegangi pundak kiri dan kananku.


"Pergi sana kamu!" teriakku secara refleks mengagetkan keempat temanku yang berkendara di depanku. Mereka menoleh ke belakang.


"Ada apa, Im?" tanya Fajar dengan penasaran. Sementara ketiga temanku yang lain terlihat kebingungan juga.


Mita sudah lenyap sedetik sebelum mereka menoleh ke belakang.


"Eh, tidak. Aku hanya ingin berkendara di depan sekarang," jawabku sambil mengayuh pedal sepedaku lebih kuat untuk mendahului mereka.


"Oke, silakan Im. Biar aku yang bersepeda paling belakang," jawab Fajar.


"Makasih, Jar. " Aku menjawab.


Beberapa menit kemudian, sampailah kami di jembatan gantung yang menghubungkan kampung Randu Asih dengan dusun-dusun di sekitarnya. Untunglah, dengan berkendara di depan seperti sekarang ini, arwah Mita tidak menggangguku lagi.


"Kita sudah sampai di jembatan gantung. Ayo kita turun dari sepeda!" pekikku sambil menoleh ke belakang supaya suaraku lebih didengar oleh teman-temanku.


"Oke, Imran!" jawaban dari teman-teman sambil berteriak. Belum sempat aku menoleh kembali ke depan, lamat-lamat aku melihat nenek tua yang tadi kami temui saat berangkat, sedang berjalan di belakang kami dengan langkah tergesa-gesa.


"Loh?" pekikku sambil melotot tanpa disengaja.


"Ada apa, Im?" tanya Cindy sambil tetap mengayuh sepedanya.


"I-i-itu Cin," jawabku dengan terbata-bata.


"Ada apa?" Cindy bertanya kepadaku dengan tatapan mata antara takut dan penasaran.


Belum selesai aku menjawab, Cindy sudah lebih dahulu menoleh ke belakang. Sejurus kemudian terdengar teriakan lantangnya.


"Hantuuuuuuuu...," teriak lantang Cindy dengan ekspresi wajah ketakutan. Teman-teman yang lain akhirnya menoleh ke belakang juga. Cindy secara refleks mengayuh sepedanya kuat-kuat. Tanpa ia sadari, ia telah menyalip kami semua jauh di depan. Bahkan ketika sampai di jembatan gantung, ia tidak turun dari sepedanya. Ia tetap mengayuhnya dengan kencang, sehingga ia dan sepedanya melewati jembatan gantung itu. Kami berempat juga tidak turun dari sepeda dan mengejar Cindy dari belakang. Setelah berhasil menyebrangi jembatan gantung itu, aku pun mengejar Cindy yang sedang mengayuh sepedanya dengan kalap. Butuh waktu lama bagiku untuk mengejar Cindy karena ia benar-benar mengayuh sepedanya sekuat tenaga.


Setelah berhasil melampaui Cindy, aku pun berteriak, "Cin, pelan-pelan! Ternyata nenek barusan bukan nenek yang kemaren. Wajahnya beda sekali. Sepertinya nenek barusan itu penduduk yang terburu-buru mau buang air besar di sungai di bawah jembatan gantung tadi."


Cindy menoleh ke arahku dan memeriksa secara rinci ekspresi di wajahku. Setelah ia menemukan keseriusan di wajahku, ia pun mengurangi kecepatan sepedanya.


"Kamu yakin, Im?" tanyanya.


"Yakin sekali, Cin," jawabku.


"Syukurlah kalau begitu. Tadi aku ketakutan sekali, Im. Lihatlah! Tubuhku sampai banjir oleh keringat dingin," ujar gadis pendiam itu sambil mengusap peluh di keningnya.


"Iya, saking takutnya kamu sampai tidak sadar sudah berhasil menyebrangi jembatan gantung tadi tanpa harus turun dari sepeda," ujarku dengan tertawa kecil.


Cindy terkejut mendengar ucapanku.


"Hah, iya juga ya? Sekarang aku sudah berada di sini. Berarti, barusan aku menyebrangi jembatan itu di luar kesadaranku. Untunglah, aku tidak terjatuh dari atas jembatan itu," pekik Cindy masih terheran-heran atas apa yang sudah ia lakukan.


"Artinya, sebenarnya kamu itu bisa melakukannya. Namun, kamu terlalu memelihara ketakutanmu sendiri. Aku yakin, kalau terus dilatih, fobiamu akan sembuh dengan sendirinya," jawabku.


"Baiklah, Im. Ke depannya aku akan berusaha melawan rasa ketakutanku sendiri supaya aku tidak merepotkan orang lain," ujar Cindy.


"Baguslah kalau begitu," jawabku.


Akhirnya kami sampai di pertigaan. Kali ini kami berbelok ke kiri. Aku menoleh ke belakang. Ternyata Fajar, Gatot, dan Lidya berada sekitar dua puluh meter di belakangku. Aku memberi kode kepada mereka untuk mempercepat kayuhan sepedanya agar dapat mengejar kami berdua. Setelah memberi kode kepada mereka, aku pun berbalik lagi ke depan untuk melanjutkan perjalanan. Namun, tiba-tiba terjadi keanehan. Secara sekejap, ekor mataku seakan-akan melihat ada sesosok nenek-nenek tiba-tiba melintas di sebelah kananku. Hanya sekejap sih, tetapi saat aku menoleh ke kanan untuk memastikan apa yang aku lihat barusan, ternyata tidak ada siapa-siapa. Kali ini aku tidak ingin menceritakannya kepada Cindy.


Bersambung


Like-nya, dong!


Salam seram bahagia.