KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
Wewe Gombel Yang Suci


Setelah melewati rumah Juragan Seno dan sudah berjalan sekitar 3 km-an dari rumahnya, Rama akhirnya mencapai pinggiran dari Sungai Tersesat. Kesan Sungai Tersesat di malam ini masih tetap angker, dan semakin menakutkan karena dikelilingi oleh pepohonan yang lebih lebat dan tumbuhan liar yang menjulang tinggi, sehingga membuatnya menutupi cahaya bulan serta bintang. Kurangnya pencahayaan menyebabkan airnya pun tampak keruh, sehingga tidak terlihat dasar sungai sama sekali. Suara gemericik airnya yang mengalir tetap seperti suara tangisan atau rintihan orang yang sedang tenggelam di dasar sungai.


Setelah berjalan beberapa saat di pinggir sungai, Rama langsung bergegas berjalan menuju lokasi hutan bambu yang lebat. Di tengah-tengah hutan tersebut, Rama melihat pohon bambu yang sama seperti dahulu, sangat besar dan menjulang tinggi, tempat Rama terakhir bertemu dengan Wewe Gombel. Wewe Gombel yang sedari tadi sudah melihat pergerakan Rama menyusuri pinggiran Sungai Tersesat pun akhirnya menampakkan diri kepada Rama,  "Halo Rama, apa kabar ?" Wewe Gombel menyapa Rama dengan senyuman yang menyeramkan.


Wewe Gombel yang menemui Rama tersebut masih tetap menampakkan sebagai sosok perempuan tua yang kurus dan tinggi besar, berambut panjang kusut seperti orang bangun tidur, serta memakai baju lusuh dan sarung. Hantu ini masih menampakkan buah dada yang menjuntai besar dan panjangnya sampai pusat perutnya. Penampakan yang sangat menyeramkan,


Rama: "Kabarku baik, Wewe Gombel. Mudah-mudah engkau juga baik-baik saja di Sungai Tersesat ini."


Wewe Gombel: " Begitulah Rama, semenjak selesainya kasus Ahmad yang hilang karena tenggelam di sungai, belum ada lagi kasus anak hilang di Sungai Tersesat. " (antara tersenyum dan menyeringai)


Rama: "Syukurlah.. Oh ya Wewe Gombel, aku masih teringat tentang tawaranmu terakhir kepadaku apabila aku membutuhkan bantuan. Apakah masih berlaku? "


Wewe Gombel: (tertawanya melengking) " Hihihihihihi, tentu saja Rama, apa yang bisa kubantu?"


Rama: " Begini Wewe Gombel, aku sekarang sudah memiliki istri, namanya Ratu Sari, putri dari Raja Kerajaan Jin Aliran Putih. Dia sedang dalam masa kehamilan 7 bulan, dan sepertinya akan segera melahirkan dalam waktu dekat. Bolehkah aku minta bantuanmu untuk menjaga istriku? Karena kami ternyata menjadi incaran Ki Sabrang dan pasukannya, untuk menculik calon jabang bayi dan menumbalkannya. "


Wewe Gombel: "Sepertinya aku pernah dengar dengan nama besar Ki Sabrang. Benar, dia adalah dukun ilmu hitam yang banyak dibicarakan oleh semua makhluk hitam se-tanah Jawa ini. Sepertinya dia memang sakti mandraguna, lalu apakah kesaktianku bisa membantumu mengalahkan Ki Sabrang? "


Rama: "Tidak mungkin bisa menang kalau engkau bertempur sendiri, Wewe Gombel. Nanti juga akan ada pasukan Kerajaan Jin Aliran Putih. Aku hanya minta bantuanmu melindungi istriku, di saat aku sedang bertarung melawan Ki Sabrang dan pasukannya. Karena pasukan Ki Sabrang sangatlah banyak, aku selalu kuatir saat meninggalkan istriku. "


Wewe Gombel: " Ow begitu rupanya, baiklah Rama. Sesuai janjiku, aku akan membantumu. " (tersenyum kembali tetapi tetap menyeramkan)


Rama: " Terima kasih Wewe Gombel. Namun sebelumnya maaf, apakah boleh engkau dibersihkan dahulu dari aura - aura negatifnya yang mengelilingimu? Supaya istri dan bayi yang lahir nantinya tidak takut melihatmu. "


Wewe Gombel : " Pembersihan bagaimana ya Rama? Karena dari dulu semenjak bangkit dari kubur, aku tampak seperti ini, tidak pernah berubah, hihihihihihi.. " (tertawa)


Rama:" Tenang saja, Wewe Gombel. Nanti akan aku minta Raja Piningit dari Kerajaan Jin aliran putih untuk membantu membersihkan aura negatifmu. "


Wewe Gombel: " Baiklah Rama, untuk sementara aku ikuti dahulu permintaanmu. Semoga saja tidak menyakitkan saat proses pembersihan itu " (mata mendelik dan menyeringai tajam ke arah Rama)


Rama: " Sekarang kalau begitu, mari ikuti aku menuju rumahku, Wewe Gombel. Sudah waktunya engkau meninggalkan pohon bambu ini untuk sementara waktu, supaya tidak bosan. " (sambil tersenyum)


Rama pun mulai beranjak balik kanan dari Sungai Tersesat, diikuti oleh Wewe Gombel, secara tak kasat mata, melayang di belakangnya. Rama berjalan menuju rumahnya dengan rute yang sama seperti saat dia berangkat. Rama tetap melewati rumah juragan Seno yang terkesan tambah angker. Rama masih memiliki rasa penasaran terhadap keangkeran rumah juragan Seno, namun malam ini dia memiliki tujuan yang lebih penting menyangkut Ratu Sari. Wewe Gombel yang mengikuti Rama dari belakang pun, sebenarnya sempat mengendus juga aura mistis rumah juragan Seno, tapi Wewe Gombel merasa sungkan untuk menanyakan lebih lanjut kepada Rama yang sedang terburu-buru berjalan pulang.


Setelah berjalan kurang lebih 15 menit akhirnya Rama pun sampai di rumahnya. Rama lalu mengetuk pintu dan menyampaikan salamnya, " Assalamu'alaikum Ratu Sari, aku dah pulang.. "


Setelah pintu dibuka, betapa kagetnya Rama melihat Raja Piningit sudah berada di ruang tamunya bersama dengan Ratu Sari dan Gendoruwo.


Rama: " Raja Piningit, apa kabarnya ayahanda? Sudah lamakah berada di sini? " (sambil mencium tangan Raja Piningit)


Raja Piningit: "Iya Rama, sekitar 1 jam-an aku di sini menemani putriku Ratu Sari. Aku dah kangen dan kuatir dengan kondisi putriku setelah diberi kabar oleh Gendoruwo. "


Ratu Sari: "Tenang ayahanda, putrimu tidak apa-apa kok. Cuma memang sepertinya bayi dalam perut ini sudah tidak sabar meminta keluar untuk melihat kakeknya. " (sambil tersenyum).


Raja Piningit: " Hahahaha, bisa saja putriku yang paling cantik, memang sepertinya bayimu akan segera lahir ke dunia, jadi bersiaplah. Oh ya Rama, makhluk apakah yang mengikuti di belakangmu itu? "


Rama: " Oh, dia Wewe Gombel, Raja Piningit. Dia yang pernah menolong saya menemukan jasad anak yang hilang di Sungai Tersesat. Kebetulan ada ayahanda di rumah, kalau boleh saya mohon dibantu untuk dilakukan pembersihan aura negatif Wewe Gombel, seperti terhadap Gendoruwo sebelumnya. Karena Wewe Gombel mungkin bisa menjadi teman bagi Ratu Sari saat persalinan, maupun menjaga diri saat diserang Ki Sabrang. "


Wewe Gombel: "Hamba tuanku Raja Piningit, dan salam juga bagi Ratu Sari." (membungkukkan badan sebagai penghormatan)


Raja Piningit: " Katakan padaku, wahai Wewe Gombel.. Apa penderitaanmu yang membuatmu menjadi Wewe Gombel? " (suaranya berwibawa)


Wewe Gombel: "Hamba 40 tahun lalu yang pernah dibakar hidup-hidup, Tuanku, karena difitnah sebagai tukang sihir. Padahal saya bukanlah seperti yang mereka tuduhkan. Hingga suami dan anak saya juga menderita seumur hidup akibat fitnah dan meninggal dunia akibat tuduhan tersebut. "


Raja Piningit: " Apakah benar engkau ingin dibersihkan dari aura negatif yang mengikatmu, Wewe Gombel? "


Wewe Gombel : " Benar, Tuanku. Sebagaimana itu permintaan Rama, sahabat saya"


Raja Piningit: " Baiklah, akan saya bantu bersihkan menggunakan Ajian Ki Ageng Selo. Tapi tolong ikuti apa yang aku seru ya supaya berhasil. Sekarang tutup matamu, dan cobalah untuk rileks membayangkan suasana Sungai Tersesat yang damai"


Wewe Gombel pun mengikuti instruksi dari Raja Piningit supaya membayangkan kedamaian di Sungai Tersesat dengan mata terpejam. Raja Piningit pun kemudian mulai melafalkan Ajian Ki Ageng Selo, lalu menyebut-nyebut nama Wewe Gombel.


Raja Piningit : " Wewe Gombel, sekarang coba ingat-ingat kejadian saat engkau difitnah lalu dibakar hidup-hidup. Ingat-ingat kembali suasananya dan wajah orang-orang yang membakarmu.. "


Wewe Gombel menampilkan kembali memori terburuknya, saat suami dan anaknya sedang pergi keluar rumah sebentar. Lalu saat dia sendirian di rumah, tiba-tiba dia digrebek oleh beberapa orang penduduk Desa Gombel. Kemudian dia difitnah sebagai tukang sihir dan langsung dibakar hidup-hidup di halaman rumahnya, tanpa adanya peradilan dan pembelaan diri. Sungguh sakit di  hatinya waktuitu melebihi sakitnya ketika dibakar hidup-hidup sehingga dia memiliki dendam kesumat terhadap wajah-wajah orang yang mendatanginya waktu itu, dan yang menyebabkan dia bergentayangan sebagai Wewe Gombel.


Tiba - tiba sekeliling raga Wewe Gombel pun keluar cahaya merah api yang berkobar, yang sebenarnya adalah aura negatif saat dia mengingat dendam kesumatnya, "Tidak....Kalian jahat, aku bukanlah tukang sihir..Kalian jahat, dan ingatlah pembalasanku nanti.."


Cahaya tersebut semakin membesar hendak membakar plafon dan lantai rumah, hingga Raja Piningit segera memerintahkan, "Tenanglah, wahai Wewe Gombel. Terimalah takdirmu dengan ikhlas. Ingatlah kembali wajah-wajah suami dan anakmu yang engkau sayangi. Bukankah engkau rindu dengan mereka ?"


Wewe Gombel mendengar dengan seksama instruksi berikutnya dari Raja Piningit. Kemudian cahaya apinya pun berangsur-angsur mengecil, namun sering melonjak lagi saat Wewe Gombel kembali teringat dengan dendamnya.


Raja Piningit: " Lupakan dendam-mu, Wewe Gombel.. Jangan ikuti amarahmu, supaya engkau bisa berkumpul kembali dengan jiwa suami dan anakmu di alam yang lebih damai. "


Wewe Gombel : " Suamiku, anakku... Maafkan aku... Aku kangen padamu.." (sambil menangis keras)


Setelah 5 menit Wewe Gombel dibiarkan menangis tersedu - sedu dengan mata terpejam, perlahan-lahan aura cahaya apinya mulai padam. Dan kini mulai muncul cahaya putih mengitari raga Wewe Gombel, dan perlahan-lahan wajah Wewe Gombel pun berubah menjadi cantik saat masih mudah dulu, dan badannya tidak menyeramkan seperti yang sebelumnya.


Raja Piningit : "Wewe Gombel, setelah kau menjadi ikhlas dan melupakan dendam-mu, ingatlah satu hal. Kini engkau adalah makhluk gaib aliran putih. Engkau akan selalu berbuat kebajikan, hingga suatu saat, engkau akan dikumpulkan kembali bersama suami dan anakmu di dalam surga. Ingatlah sugestiku ini, jika sudah mengerti, anggukkan kepalamu kemudian bukalah matamu. "


Wewe Gombel pun menganggukkan kepalanya kemudian membuka matanya. Di hadapannya tampak Rama, Ratu Sari dan Raja Piningit yang tersenyum bahagia.


Rama: " Selamat, Wewe Gombel.. Kini kau sudah bersih dari aura jahat. Semoga ini bisa membantumu lebih damai dan bisa bertemu kembali dengan jiwa suami serta anakmu di surga. "


Wewe Gombel : "Terima kasih Rama, Ratu Sari dan Raja Piningit. Hati saya sekarang terasa tenang. Sekarang saya siap membantu untuk melindungi Ratu Sari dan jabang bayinya. "


Raja Piningit : "Tolong jaga putriku saat persalinannya ya Wewe Gombel. Mungkin saat bulan purnama tiba, putriku Ratu Sari akan melahirkan bayinya. Dan bisa jadi kelahiran tersebut akan memancing kekuatan jahat untuk menyerangnya. Jadi persiapkan semuanya di hari itu. "


Wewe Gombel: " Baiklah Raja Piningit ".


Gendoruwo yang hadir tanpa suara yang muncul pun ikut tersenyum menyaksikan pembersihan Wewe Gombel dari aura negatifnya. Dia juga teringat saat pembersihannya oleh Raja Piningit, dan dia sangat bersyukur bisa menjadi makhluk aliran putih. Cuma memang yang menjadi pertanyaan Gendoruwo sekarang adalah, apakah kesaktian Wewe Gombel bisa melindungi Ratu Sari dan bayinya saat diserang Ki Sabrang dan pasukannya? Karena setahu Gendoruwo, kesaktian Wewe Gombel hanyalah sekedar menakuti dan menghipnotis anak kecil supaya bisa ikut dengannya. Tapi seperti sebelumnya di hutan saat melawan zombie dan setan kuyang, Gendoruwo tampak masih berusaha untuk mempercayai rencana dan strategi Rama.