
Kami terus bercengkrama seolah-olah tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh kak Dino di tumpukan sampah di belakang kamar mandi sekolah. Kami baru menghentikan aktifitas tersebut setelah terdengar bunyi bel tanda masuk.
[Teeeeet teeeeeet teeeeeet]
Semua siswa yang semula berada di luar ruangan kelas, berduyun-duyun masuk ke kelasnya masing-masing. Kami berlima pun ikut masuk ke kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya hingga bel istirahat kedua nanti. Kebetulan pelajarannya adalah matematika dan gurunya adalah bu Ratih, si Killer itu. Ketika suara sepatu bu Ratih sudah terdengar, anak-anak duduk dengan rapi di tempat duduknya masing-masing. Kami mendapat informasi bahwa bu Ratih akan sangat marah apabila ada anak yang duduknya tidak tegap.
"Selamat pagi, Anak-Anak!" sapanya dengan suara tegas.
"Selamat pagi, Bu Guru!" jawab kami.
Demikianlah selama pembelajaran, satu kelas menjadi tegang. Anak-Anak tidak berani bergerak sedikitpun. Tidak hanya itu, pandangan anak-anak tidak pernah beralih dari papan tulis sedetikpun karena bu Ratih sering secara mendadak menanyakan apa yang baru ia jelaskan kepada anak-anak. Jika jawaban kami salah, beliau tidak segan-segan memarahi kami karena dianggap tidak memperhatikan apa yang beliau jelaskan di papan tulis.
"Imran! minus 5 dikurangi 3 berapa hasilnya?" tanya bu Ratih tiba-tiba.
"E-anu, Bu minus dua, Bu" jawabku dengan yakin.
Bu Ratih tersenyum ke arahku pertanda jawabanku benar.
"Kamu ini tidak memperhatikan penjelasan saya, ya? harusnya jawabannya berapa Fajar?" ujar bu Ratih mengagetkanku.
"minus delapan, Bu" jawab Fajar dengan tegas.
"Nah, itu baru jawaban yang benar. Makanya, kalau saya bilang fokus, kalian harus fokus. Jangan kayak Imran tadi, pikirannya kemana-mana saat saya menjelaskan, akhirnya jawabannya salah. Ingat loh saya tidak melihat kalian dari segi penampilan. Yang saya lihat adalah keseriusan kalian dalam belajar. Seperti Imran tadi, meskipun ganteng tapi kalau sering melamun dan tidak memperhatikan. Bersiaplah untuk saya hukum selama pelajaran saya. Untuk kali ini, saya masih bisa memaafkan. Tapi mulai pertemuan kedua, satu kesalahan berarti push-up lima kali," ujar bu Ratih tegas.
"Huuuuuuuu," teriak anak-anak secara bersamaan.
"Diam kalian. Tidak usah kebanyakan protes. Saya tidak ingin kalian menjadi siswa yang lembek. Bukankah push-up itu juga baik untuk kesehatan kalian. Tenang, kalau push-upnya lebih dari tiga puluh kali bisa dicicil. Saya tidak mau kalian pingsan nantinya. Nanti saya sendiri juga yang repot," teriak bu Ratih.
"Baik, Bu!" jawab anak-anak kompak.
Akhirnya setelah menanggung penderitaan yang cukup lama di kelas, bel tanda istirahat siang pun berbunyi.
[Teeeeeeeet teeeeeeeet]
Anak-Anak bersorak-sorai menyambut datangnya kebebasan itu, lain halnya dengan bu Ratih, beliau agak sewot melihat reaksi kebahagiaan anak-anak yang menyambutnya dengan euforia, seolah-olah lepas dari penderitaan pelajaran matematika yang memusingkan kepala dan bikin jantung deg-degan.
Ketika akan meninggalkan kelas, bu Ratih menatapku dengan tatapan agak sinis. Sepertinya benar apa yang disampaikan bu Mega bahwa bu Ratih itu sangat kecewa karena tidak mendapat balasan cinta dari bapakku.
"Lantas, apakah ia akan melampiaskan kekecewaannya kepadaku? Astagfirullah, aku tidak boleh memiliki pikiran buruk tentang beliau. Bagaimanapun bu Ratih adalah guruku yang harus aku hormati. Kemarahannya tadi di kelas bukankah memang selayaknya aku terima karena jujur tadi aku melamun saat beliau menerangkan di papan tulis,"
Sambil menunggu digemakannya azan Zuhur di masjid, kami berlima berbincang terlebih dahulu di dalam kelas.
"Im, kamu tidak penasaran dengan isi kresek hitam yang dikubur oleh Kak Dino tadi?" tanya Lidya.
"Iya, Lid. Aku penasaran. Jangan-Jangan itu ada kaitannya dengan bau busuk yang keluar dari lemari es di ruangan pribadi Pak Rengga?" jawabku.
"Iya, Jar. Aku curiga pak Rengga bekerjasama dengan kak Dino, membuang benda berbau busuk itu sedikit demi sedikit," jawabku.
"Pantas saja pada saat aku masuk ke ruangan itu waktu si Mery pingsan, pintu lemari es itu dikunci rapat. Mungkin pak Rengga menyembunyikan sesuatu di dalamnya," ujar Fajar.
"Bagaimana kalau kita gali bungkusan yang dikubur oleh kak Dino tadi?" ujar Lidya.
"Aku setuju!" celetuk Gatot.
"Tapi, kalau sampai ada yang melihat apa yang kita lakukan dan beritanya sampai ke telinga mereka berdua, kita akan berada dalam bahaya besar," ujarku.
"Iya sih, terus apa yang harus kita lakukan?" tanya Fajar.
"Aku punya ide, bagaimana kalau sebagian dari kita ada yang mengalihkan perhatian semua orang, terutama pak Rengga dan kak Dino? Sedangkan sebagian yang lain bertugas memeriksa bungkusan tersebut, dan sebagian yang lain bertugas berjaga-jaga?" ujarku.
"Setuju, Im" pekik Gatot.
"Tapi, siapa yang bertugas untuk mengalihkan perhatian, memeriksa bungkusan, dan berjaga-jaga? Dan bagaimana caranya mengalihkan perhatian mereka? " Aku bertanya kepada keempat temanku.
Keempat anak itu sibuk berpikir, kemudian Cindy berkata dengan penuh keyakinan.
"Habis ini kan waktunya salat Zuhur? tentunya semua anak menunaikan salat di masjid. Itulah saat yang tepat untuk beraksi."
"Tidak semua, Cin. Pasti ada beberapa anak perempuan yang berdiam diri di kelas karena sedang datang bulan. Kalau anak laki-laki sih bisa dipastikan salat semua karena anak yang biasa bolos salat kayaknya hari ini sedang tidak masuk," jawab Lidya.
"Selagi yang datang bulan kelas dua dan tiga, sih aman. Tapi kalau kelas satu, perlu diwaspadai. Jangan sampai anak itu melongo ke jendela dan melihat yang dilakukan oleh kita di sekitar tumpukan sampah," jawabku.
"Aku punya ide begini, nanti aku yang akan berkeliling memeriksa seluruh ruangan di kelas satu. Jika ada anak perempuan yang terlihat tidak bergegas ke mesjid, aku akan mendatanginya dan meminjaminya buku untuk dibaca. Kebetulan aku membawa beberapa koleksi buku yang bagus-bagus. Setelah itu aku akan berjaga-jaga di depan kelas, kalau ada orang yang akan menuju ke halaman belakang, aku akan mengalihkan perhatiannya dengan cara apapun," ujar Cindy.
"Oke, bagus juga idemu. Terus, siapa yang bertugas menjaga dan mengalihkan gerak-gerik kak Dino dan pak Rengga?" tanyaku.
"Biar aku yang menjaga pak Rengga, sedangkan Gatot yang megang kak Dino. Toh, mereka berdua pasti ikut salat di mesjid," ujar Fajar.
"Berarti aku dan Imran yang bertugas menggali dan memeriksa kresek hitam tadi?" pekik Lidya.
"Iya," jawab Fajar.
"Okelah, kalau begitu," jawab Lidya.
[Allaahuakbar Allaaaaaahuakbar ...]
Azan pun meggema dari Toa yang berada di mesjid sekolahku. Semua anak bergegas menuju ke mesjid untuk menunaikan salat Zuhur berjamaah. Fajar dan Gatot bergegas mencari keberadaan pak Rengga dan kak Dino. Cindy bergegas memeriksa seluruh ruangan kelas satu. Aku dan Lidya saling berpandangan untuk menunggu waktu yang tepat menuju ke halaman belakang sekolah. Ada sedikit kekhawatiran yang mengusik di hatiku, semoga tidak ada yang melihat apa yang sedang kami lakukan, dan semoga Tari atau hantu bayi itu tidak muncul di belakang sana, saat suasana sepi seperti itu.
Bersambung