KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 16 : BERTEMU DEDEK GEMES


Bayi itu merangkak mendekatiku dengan tanpa rasa berdosa. Aku berusaha menghalaunya dengan kakiku, tetapi ia lebih lihai dari yang kuduga. Ketika kaki tanganku kugunakan untuk menghalaunya, justeru ia merangkul erat kakiku itu, akhirnya bayi itupun melayang-layang mengikuti arah pergerakan kaki kananku.


Seperti mengetahui kondisi psikologisku, ia tetap berpegangan pada kaki kananku yang terbalut sepatu berwarna hitam. Dia seperti tahu aku orangnya tidak tegaan, kalau saja Gatot yang digitukan pasti langsung digencet dan diinjak saja dedek gemes ini. Lah aku? membayangkan kulitnya yang empuk-empuk begitu mana aku tega harus melihatnya terkapar di tanah.


"Ayolah Dedek Gemes, jangan ganggu aku mulu kenapa sich? Aku nggak suka ganggu Kamu, harusnya Kamu juga nggak usah ganggu aku? Begitu baru adil namanya."


Kaki kanankupun kebas karena terlalu lama berada di udara, usahaku sia-sia menyentak-nyentakkan kakiku untuk melepaskan pegangan hantu bayi itu. Pegangannya terlalu kuat seperti ada lemnya saja di tangannya yang mengkilap dan lengket. Aku menjatuhkan kakiku ke lantai, bayi yang tidak imut sedikitpun itu merangkak ke atas seolah sedang memanjat pohon, sialnya akulah yang jadi pohonnya sekarang. Lidah bayi itu mulai menjilati badanku dari paha, perut, dan dada. Aku mulai merasa jijik membayangkan ia segera akan menjilati wajahku lagi. Akupun berusaha memukul-mukul pintu dengan keras berharap akan ada yang mendengar gebrakan pintu itu dari luar kamar mandi. Tapi sepertinya tidak ada yang mendengarnya, aku tidak berputus asa, dengan menahan jijik, akupun mulai memberanikan diri memegangi tubuh bayi yang lengket itu untuk aku tarik menjauhi badanku.


Ketika tanganku berhasil memegangi ketiak bayi itu seperti caranya orang-orang kalau akan menggendong bayi, kembali jiwaku meronta karena ketiak bayi ini tidak sama dengan ketiak bayi pada umumnya. Yang ini lebih lembek, berlendir, dan bikin ngilu saja di perasaanku ketika aku berusaha untuk melepas pegangannya ke tubuhku. Ketika aku menarik bayi itu menjauhi tubuhku, badan bayi ini seolah-olah bisa melar jadi nggak lepas-lepas juga dari tubuhku, yang ada aku malah tambah jijik dan kecapekan meladeninya.


Segala cara sudah kulakukan untuk berusaha lepas dari dekapan bayi ini, tubuhku sampai banjir berkeringat, kalau masalah degupan jantung nggak usah ditanya lagi, seperti pelari marathon pokoknya. Apalagi, kini bayi itu sudah makin ke atas, wajahnya yang nggak imut sama sekali kini tepat berada di depanku dan mulai memasang aksi untuk menjilati wajahku lagi.


"Tidaaaaaaaaak ... aku tidak mau digituin,"


Percuma hatiku berteriak, si bayi ini sepertinya memang berniat untuk menyerangku. Ia tidak menunggu lama lagi, lidahnya yang berlendir sudah mulai disapukan ke hidung dan bibirku. Aku berusaha untuk menghindari hal itu tapi bukan berarti aku aman, karena jilatannya justeru mengenai pipi dan leherku dan bikin aku mual sekali. Karena tak tahan lagi, akupun teringat dengan benda yang sengaja aku ambil agak banyak di kantin tadi. Kurogoh sakuku, ada plastik di sana, aku masukkan tanganku ke dalam plastik. Sementar lidah bayi itu sudah merangsek ke mataku, benda di dalam plastik itupun berhasil kugenggam. Aku keluarkan tanganku dari plastik secara perlahan, aku angkat ke atas pelan-pelan sambil menikmati maksudku menahan jijik bau-bau amis yang berasal dari ludah si bayi itu. Dengan mengucap doa akupun memasukkan segenggam garam itu ke dalam mulut bayi itu, sisanya kuusapkan ke mukanya.


[Kaiiiiiiing.....Aaaaaaaaaaaaaargh.."


Suara erangan bayi sialan itu yang terlepas pegangannya dari tubuhku, bayi itu menggelepar kemudian menghilang bersamaan dengan terbukanya pintu utama ruangan kamar mandi sekolah. Tubuhku sempat tersungkur ke belakang karena bersandar pada pintu utama, tapi ada tangan yang menangkap tubuhku.


"Eeeeeit ... Kamu nggak apa-apa, Im?" tanya orang yang menolongku, ternyata ia Fajar.


"Makasih, Jar" Jawabku masih dengan badan bersandar pada tangannya.


"Gimana ketemu Jar?" suara Gatot di belakang kami.


"Iya, Tot. Imran terkunci di kamar mandi," jawab Fajar.


"Terus Kalian ngapain ini pegang-pegangan kayak gini?" ujar Gatot sambil memperhatikan pose aneh kami. Aku dan Fajarpun saling berpandangan, kemudian aku bangkit. Aku dna Fajar sama-sama mengebas-ngebaskan telapal tangan ke paha seolah sedang nerusaha menyingkirkan debu.


"Hiiii .... jijik banget ya, kok bisa tadi kamu nyender-nyender nggak jelas?" ujar Fajar.


"Justeru aku yang jijik malahan, dirangkul-rangkul begitu sama Kamu," balasku.


"Alah, Kalian berdua ini sok-sokan jijik padahal emang sama-sama hombreng," celetuk Gatot.


"Sialan Kamu, Tot. Sini tak kasih bogem mentah Kamu,"


Gatotpun berlari menghindari kejaran kami berdua. Bukan kami maksudnya, tapi aku dan orang itu tadi. Ha ha ha


*


"Posisi tim kita makin merosot, Jar. Kemarin waktu ada tebak-tebakan di kelas, tim kita pas berpencar ada yang di Bu Nanik ada yang di UKS jagain Mery," ucap Lidya.


"Iya, Jar bener kata Si Lid barusan," ujar Gatot.


"Kurang ajar Kamu, Tot. Masak manggil aku Si Lid (silit dalam bahasa jawa berarti anus). Lidya gitu," potong Lidya sambil mencubit perut hulk tersebut.


"Aduh Lid sakit, lepasin" pekik Gatot.


"Rasain biar kapok," jawab Lidya.


Kami bertiga lainnya sama-sama ngakak melihat tingkah mereka berdua.


"Kurang ke bawah, Lid!" suara Gatot pelan ketika Lidya menghentikan aksi cubitnya.


"Awww... Ampun Lid," pekik Gatot lebih keras lagi. Kami yang lainpun kembali ngakak. Muka Gatot sampai memerah bukan karena malu tapi karena menahan ngilu. Sedangkan Lidya masih dongkol dan mukanya kelihatan judes.


"Sudah ... sudah ... calon pengantin nggak boleh berantem terus," celetuk Fajar.


"Apa Jar? Kamu mau juga?" Lidya melotot sambil mengacungkan telunjuk dan jempolnya ke muka Fajar.


"Ogah Lid. Maaf ... bercanda," ujar Fajar.


"tadi di kamar mandi, aku diserang hantu bayi," ujarku tiba-tiba. Wajah mereka berlima menjadi tegang seketika.


"Kapan, Im?" tanya Fajar.


"Yah waktu pintu belum Kamu buka itu," jawabku.


"Terus?" tanya Lidya penasaran.


"Aku tadi sempat menyerang hantu itu dengan segenggam garam, aku sumpal ke mulutnya. Dia lenyap ..." jawabku lagi.


"Oh ya?" tanya Cindy seperti tak percaya.


"Iya, aku mendapatkan cara itu dari salah satu sesepuh di kampungku. Tentunya juga didampingi doa-doa. Tapi aku yakin hantu bayi tadi tidak lenyap untuk selamanya, tapi hanya sementara waktu karena garamnya tadi cuma segenggam plus energi bayi itu masih sangat kuat," jelasku.


"Kenapa bisa begitu, Im?" tanya Fajar.


"Iya, kemunculan hantu bayi itu sepertinya karena suatu hal yang belum terungkap, ia baru bisa benar-benar lenyap kalau misteri kemunculannya sudah ada yang mengungkap," jawabku.


"Lalu apa yang harus kita lakukan, Im?" tanya Fajar lagi.


"Kita harus memecahkan misteri bayi itu!" ucapku sambil mendesah.


"Oke, bagaimana teman-teman?" tanya Fajar.


"Setuju!!!" jawab Gatot


Aku menoleh dan berlari ke arah pintu. Fajar mengejarku.


"Ada apa, Im?"


"Barusan seperti ada yang mengintip kita, Jar" Aku menjawab.


"Siapa ya? banyak anak-anak di luar berjalan berlalu-lalang," pekik Fajar.


"Entahlah ..."


Bersambung


NB : Gimana, Kak? udah geregetan belum sama alur ceritanya? Jangan lupa like dna komennya ya, aku tunggu loh.


Oh ya nich, jangan lupa baca MARANTI juga ya? horor juga loh ...


bye dulu ya.. aku mau nukis lagi....komen yang banyak, Kak.