KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 58 : ZONA BERBAHAYA


Tolong klik "jempol" di bawah terlebih dahulu sebelum membaca.


Terima kasih banyak atas dukungan "like" Anda.


Aku dan keempat temanku berangkat menuju kamar mandi dengan masih terngiang-ngiang ucapan Kak Dino. Ruang kamar mandi ini terletak di sebelah timur deretan ruang kelas satu di bagian selatan. Dari luar, area kamar mandi ini tampak sedikit kotor karena jarang digunakan oleh siswa, sejak kejadian yang menimpa Merry beberapa waktu yang lalu.


"Lidya, Kamu membawa garam kan?" tanyaku padanya.


"Iya Im. Aku dan Cindy sama-sama membawa garam. Tadi kami sengaja meminta kepada Bu Mat sebelum meninggalkan rumahnya.


"Oke, baguslah kalau begitu," ucapku kembali.


"Oke teman-teman semuanya. Tempat yang akan kita masuki ini cukup berbahaya. Jadi kita semua harus berhati-hati. Nanti Kamu bertugas menjaga pintu jangan sampai tertutup. Aku, Kamu, dan Kamu bagian membersihkan kamar mandi, sedangkan Kamu Lidya bagian mengawasi sekitar, jika hantu bayi itu datang segera memberi tahu kami," ucapku kepada mereka berempat.


"Oke siap Im" jawab mereka.


Kamipun masuk ke area kamar mandi itu. Sesuai dengan instruksiku tadi, salah satu anak membuka pintu utama lebar-lebar dan berdiri di pintu sambil menjaga pintu itu supaya terus terbuka agar cahaya matahari dapat masuk untuk memberi penerangan di bagian dalam, sayangnya cahaya yang masuk hanya sedikit karena hari sudah sore. Lidya bersandar pada tembok sambil mengawasi kami bertiga yang sedang menyikat setiap penjuru lantai yang ada di dalam ruangan tersebut. Kami berpacu dengan adrenalin saat melakukan itu semuanya, takutnya tiba-tiba hantu bayi itu nongol dan menyerang kami.


Syukurlah, sampai kita selesai menyikat sebagian besar kamar mandi, hantu bayi itu tidak nongol sama sekali. Mungkin ia tidak berani nongol dalam keadaan banyak orang begini.


"Alhamdulillah, tugas kita sudah hampir selesai membersihkan ruangan ini. Tinggal satu ruangan yang paling ujung saja, lalu selesai sudah," ucapku.


"Ayo cepat bergerak, perasaanku tidak enak," jawab Lidya sambil tetap bersandar di tembok.


Kamipun bersegera menuju kamar mandi yang paling ujung. Kedua temanku tampak gemetar ketika akan melangkah menuju kamar mandi paling ujung itu. Aku melangkah mendahului mereka, akupun sama seperti mereka, jantungku berdegup kencang ketika aku akan sampai di depan pintu kamar mandi itu. Pintunya tertutup dengan rapat. Aku menarik gagang pintu dan mendorongnya ke dalam.


[Krieeeeeet]


Suara derit pintu memecah keheningan, beresonansi dengan suara tetesan air yang jatuh dari salah satu kran kamar mandi yang tidak bisa tertutup rapat. Kepalaku melongo duluan, mataku mengedar ke seluruh penjuru kamar mandi itu. Napasku terengah.


"Tidak ada apa-apa," ucapku sambil menoleh ke belakang, anehnya teman-temanku bukannya senang mendengar kabar dariku, mereka malah melotot ke arahku.


"Di belakangmu Im!" pekik Lidya.


Akupun bersegera memutar kepalaku kembali. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Ketika aku menoleh, di hadapanku ada makhluk kecik sedang memanjat ke kusen pintu kamar mandi yang gagangnya sedang kupegangi.


"Waaaaaaaaa!!!!!!!!!" teriakku sambil mundur ke belakang menghindari hantu bayi itu. Sayangnya aku terlambat, bayi itu sudah melompat ke wajahku dan menjilat-jilat di sana.


"Tolong Lid!!!!!!" teriakku sambil berusaha melepas pegangan bayi itu di kepalaku.


Aku berjibaku dengan hantu bayi itu, kedua temanku yang tadi berada tepat di belakangku terlihat berusaha menolongku akan tetapi mereka berdua juga merasa jijik dengan bayi itu. Setelah beberapa detik berjibaku dengan hantu bayi itu, aku mendengar teriakan Lidya cukup keras dan hantu bayi itu mendadak lepas pegangannya dari kepalaku. Setelah itu dengan rasa jijik Lidya terlihat kembali menaburi hantu bayi itu dengan garam, dan terdengar suara aneh seperti kambing yang disembelih, kemudian hantu bayi itupun menghilang.


"Ayo buruan selesaikan pekerjaan kita, sebelum hantu bayi itu kembali!" teriakku pada dua anak tadi yang sedang ketakutan.


"Iya, Im" jawab mereka sambil bersegera menggosok lantai kamar mandi yang tinggal satu itu dan menyiramnya dengan gayung yang ada di dalam. Setelah itu kamipun meninggalkan area kamar mandi tersebut dengan menyiram bagian lantai luarnya terlebih dahulu.


"Terima kasih Lidya dan Teman-Teman semuanya," ucapku dengan masih terengah.


"Iya Im sama-sama," jawab Lidya sambil mengusap keringat yang membasahi keningnya.


"Maafkan kami barusan tidak bisa maksimal membantumu," ucap mereka.


"Nggak apa-apa, aku memaklumi rasa ketakutan Kalian barusan," jawabku santai.


"Sekarang kita mau kemana, Im? Apakah langsung membersihkan kelas bagian selatan sesuai ucapan Fajar tadi?" tanya Lidya.


"Tidak. Sebaiknya kita menyusul Fajar dan yang lain dulu ke kantin. Semoga mereka baik-baik saja di sana dan sudah selesai mengerjakan tugas mereka," jawabku.


"Oke," jawab mereka semuanya.


*


Saat kami akan sampai di kantin, tiba-tiba kami melihat Fajar dan keempat teman-teman yang lain sedang berlari ke arah kami.


"Ada apa?" teriak kami berlima.


Mereka berhenti tepat di depan kami kemudian menghela napas panjang.


"Ta-di ka-mi didatangi arwah Mbah Iyem?" jawab Fajar dengan terengah.


"APA???? Bukankah seharusnya arwah Mbah Iyem sudah beristirahat dengan tenang?" tanyaku tidak percaya dengan ucapan Fajar.


"Iya, dia tadi datang untuk memberikan pesan terakhir kepada kami, sebelum akhirnya ia menghilang," jawab Cindy.


"Apa pesannya?" tanya Lidya tak sabar.


"Tunggu Lid. Biarkan kami tenang dulu, kami tadi shock sekali karena Mbah Iyem muncul secara tiba-tiba saat kami sedang membersihkan area sekitar kantin," jawab Cindy.


Setelah beberapa detik akhirnya Fajarpun berkata.


"Tadi Mbah Iyem berkata kepada kami bahwa hantu bayi itu baru bisa tenang kalau kedok orang yang menyakiti ibunya sudah terbongkar," ucap Fajar.


"S-siapa orang yang menyakiti ibu bayi itu, Jar?" tanyaku penasaran.


"Entahlah, Mbah Iyem tidak mengatakan hal lain tentang bayi itu," jawab Fajar datar.


"Semoga Mbah Iyem mendapatkan tempat yang terbaik di sisinya, aamiiin ...," ucapku.


"Aamiiiin ...," jawab semua teman-teman.


"Jar, apakah selanjutnya kita masih akan berpencar seperti tadi untuk melanjutkan pekerjaan kita?" tanyaku.


"Tidak Im, lebih baik kita mengerjakan secara bergerombol saja untuk menghindari hal-hal buruk yang akan kembali terjadi," jawab Fajar.


"Baiklah, kalau begitu sebaiknya sekarang kita segera bersama-sama membersihkan ruangan kelas sebelah timur terlebih dahulu, baru ruangan kelas sebelah selatan," ucapku.


"Tunggu sebentar Im!" cegah Fajar dengan raut wajah mengundang seribu pertanyaan. Keempat anggota kelompoknya tadi juga memasang raut wajah yang sama.


"Ada apa lagi, Jar? Ayolah, jangan bikin jantungku deg-degan terus," sergahku.


"Anu Im. Tadi, sebelum menghilang, Mbah Iyem juga berpesan-" ucap Fajar yang langsung kupotong.


"Apa pesannya?" tanyaku.


"Kita semua disuruh berhati-hati karena bisa jadi penjahatnya ada di sekitar sini," ucap Fajar dengan intonasi yang membuat bulu kudukku merinding seketika.


Bersambung


Author minta "vote"nya yang banyak dong, biar semangat melanjutkan ceritanya.


Terima kasih


See u next episode


Salam seram bahagia


Dengerin juga Prolog MARANTI Season kedua di festival cerita hantu Mangatoon. Klik suka pada nama Junan di tab "rekomendasi" yang ada di halaman depan.