
Aku tahu, keempat temanku termasuk ibunya Mita kebingungan dengan perkataanku. Mata mereka tertuju pada foto pengantin yang sedang kutunjuk.
"Kenapa dengan foto itu, Im?" cetus Lidya tak sabar.
"Wajah perempuan di foto ini tidak sama dengan Mita Lestari yang pernah aku temui di sekolah," jawabku datar.
"Tapi wajah di foto itu memang benar Mita anak kelas sebelah, kok? Aku pernah melihatnya sekali di kelas sebelah," jawab Fajar.
"Tapi, Mita Lestari yang kukenal bukanlah anak ini, Jar. Wajah keduanya sangat berbeda," sanggahku lagi.
"Apa ada anak lain bernama Mita yang bersekolah di SMP 01 Karangjati, Bu di sekitar sini?" tanya Lidya.
Ibunya Mita menggeleng.
"Setahu saya tidak ada, Nak. Yang bernama Mita Lestari di sekitar sini hanya anak saya saja. Mungkin temanmu ini hanya terkecoh dengan riasan pengantinnya," ucap ibunya Mita.
"Tidak, Bu. Mita yang kukenal memiliki lesung pipit di pipinya, sedangkan anak Ibu tidak punya, kan?" sanggahku.
"Iya sih, mungkin di sekolahmu ada Mita Lestari yang lain?" tanya ibu itu.
"Tidak ada, Bu. Saya sudah memeriksa berkali-kali nama siswa dan siswi baru di sekolah.Hanya ada satu siswi baru yang bernama Mita Lestari," jawabku.
"Lantas, kalau hanya ada satu siswi yang bernama Mita Lestari, dan itu adalah nama anak ibu ini. Berarti Mita Lestari temanmu itu siapa sebenarnya? Jangan- Jangan ...," ucap Gatot.
"Entahlah, Tot. Aku jadi pusing memikirkannya. Kita pulang saja, yuk?" ucapku.
"Sabar, Im. Mungkin waktu membaca pengumuman, ada satu nama yang tak sengaja kamu lewati. Bisa jadi memang Mita itu adalah jodohmu. Sedangkan Mita anaknya ibu ini jodoh orang lain," ujar Gatot lagi.
"Kita pamit saja, Jar!" ucapku tidak mempedulikan candaan si bongsor.
"Baiklah, Bu. Kami mengucapkan terima kasih banyak atas sambutan dan informasinya. Kami juga memohon maaf apabila kedatangan kami sudah mengganggu waktu istirahat Ibu," ucap Fajar.
"Saya juga mengucapkan terima kasih banyak atas kedatangan kalian, meskipun ternyata salah orang," jawab ibu itu.
"Oh tidak, Bu. Mita anak ibu juga adalah teman kami, kok. Semoga keluarganya menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah," ujar Lidya.
"Aamiin ya robbbal alamiin" jawab ibu itu.
"Kami mohon pamit dulu ya, Bu?" ucap Fajar sambil menjabat tangan perempuan paruh baya itu. Kami berempat juga ikut menjabat tangan ibu itu.
"Asalamualaikum ...," ucap kami setelah sampai di luar rumah.
"Waalaikumsalam ...," jawab perempuan itu dengan mata sendu.
Kami berlima pun meninggalkan ibu itu sendirian di rumahnya. Saat melewati rumah kecil yang tadi, kami melihat pintunya masih terbuka dan bergoyang-goyang ditiup angin. Kali ini kami tidak berani menoleh ke dalam, takut terkejut seperti tadi.
"Im, kamu yakin anaknya ibu tadi bukanlah Mita yang kamu kenal?" tanya Fajar serius sambil berjalan di jalan yang berbatu-batu itu.
"Yakin, Jar. Wajah mereka berdua sangat jauh berbeda," jawabku.
"Kok, rasanya aneh sekali, ya?" pekik Fajar sambil menggaruk kepalanya.
"Nah, itu dia. Aku juga bingung memikirkannya. Mita sendiri yang bilang kepadaku bahwa ia tinggal di kampung Randu Asih ini. Tapi menurut ibu itu tadi, tidak ada Mita yang lain di sekitar sini," jawabku.
"Aku setuju, Jar. Tidak tenang rasanya pikiranku kalau belum mendapat informasi yang sejelas-jelasnya tentang posisi Mita sekarang," jawabku.
"Oke.Teman-Teman, pokoknya hari ini kita harus mendapatkan info sejelas-jelasnya tentang Mita!" pekik Fajar.
"Siap, Komandan!" jawab mereka semua.
Setelah berjalan kaki selama beberapa waktu akhirnya sampailah kami di samping rumah bu Mega. Mata kami berlima langsung tertuju pada batu nisan di depan rumah perempuan itu. Sayangnya, tulisan 'TARI' yang tadi, tertutup oleh daun kering yang agak lebar. Kami pun menoleh ke arah samping, bu Mega ternyata masih berdiri di tempat kami meninggalkannya tadi. Tatapan matanya juga masih nanar. Entahlah, apa ia memang belum berpindah posisi sedikitpun mulai tadi, atau ia tadi pergi dan baru saja kembali serta berdiri di tempat itu lagi sebelum kami datang.
"Apakah Mita Lestari yang kalian maksudkan yang tinggal di belakang rumah?" teriak bu Mega tiba-tiba. Kami agak terkejut mendengar suara mendadaknya tersebut.
"Eh, Mita yang tinggal di belakang bukanlah Mita Lestari yang saya kenal, Bu" jawabku spontan.
"Sudah saya duga sebelumnya, pasti bukan anak itu," ujar bu Mega sambil menatap tajam ke arahku.
"Apa maksud Bu Mega mengatakan hal itu? Apa Bu Mega memiliki informasi terkait Mita Lestari, temanku? tanyaku.
"Iya. Mita yang pernah kamu temui memiliki lesung pipit yang sangat manis di pipinya, kan?" ujar bu Mega.
"Iya benar. Darimana Bu Mega bisa tahu? Apakah Bu Mega kenal dengan anak tersebut?" jawabku terkejut. Mataku berbinar karena merasa bu Mega mengetahui keberadaan temanku itu.
"Saya sangat mengenalnya, Nak. Bahkan saya lebih mengenalnya dibandingkan denganmu. Dia selalu menceritakan kepada saya hal baru yang ia temui di sekolah. Sepulang daftar ulang di SMP 01 Karangjati, ia bercerita kepada saya bahwa rantai sepedanya terlepas. Dan ada satu anak lelaki baik dan ganteng yang membantu memperbaiki rantai sepedanya yang terlepas," lanjut bu Mega.
"Iya Bu. anak lelaki itu aku. Aku yang menolong Mita memperbaiki rantai sepedanya waktu itu. Dimana Mita sekarang, Bu? Aku ingin menemuinya," teriakku tak sabar. Mataku semakin berbinar karena merasa sudah semakin dekat waktuku untuk bertemu dengan Mita Lestari.
"Apa? Kamu yang membantunya memasangkan rantai sepedanya? Lucu juga, ya?" ucap bu Mega sambil tersenyum dan mengernyitkan dahinya seolah tidak percaya dengan ceritaku.
"Iya, Bu. Aku yang membantunya memasang rantai sepeda Mita yang terlepas," ucapku lagi dengan nada serius.
"Nak, perlu kamu ketahui. Anak itu tidak menyebutkan namamu saat menceritakan kepada saya," ucap bu Mega dengan ekspresi wajah tersenyum tetapi serius.
"Benarkah begitu, Bu?" tanyaku tidak percaya.
"Ia mengatakan kepada saya bahwa anak laki-laki yang telah membantunya bernama Hasan," tutur bu Mega.
"Maksudnya apa, Bu?" tanyaku bingung karena nama bapakku disebut oleh bu Mega.
"Begini, Nak. Anak laki-laki yang membantunya memasangkan rantai sepedanya yang terlepas adalah Hasan, bapakmu. Sedangkan Mita Lestari yang kamu temui itu sebenarnya adalah arwah dari Tari. Mita Lestari adalah nama lengkap dari sahabat kecil saya, Tari. Ia sengaja menemuimu untuk mengulang memori semasa hidupnya sekaligus aebagai isyarat ia ingin meminta bantuanmu untuk memecahkan misteri kematiannya," lanjut bu Mega bersamaan dengan suara burung gagak yang tiba-tiba melintas di atas kami.
"Tidak! M-mita t-ternyata a-adalah T-tari!" pekikku sebelum aku terduduk di tanah karena sekujur tubuhku tiba-tiba kehilangan tenaga mendengar kenyataan tersebut.
Bersambung
Berikanlah like, vote, dan komentar Anda untuk novel ini.
Sambil menunggu update terbaru, Anda bisa membaca karya horor saya yang lain yang sudah tamat (Maranti), hanya 20 episode.
Salam seram bahagia
Terima kasih