
Malam ke-15 ini, bulan tampak lebih besar, terang, dan dekat dari biasanya. Fenomena ini biasanya disebut dengan Supermoon. Fenomena supermoon kerap disandingkan dengan mitos-mitos menyeramkan, seperti keluarnya raja iblis yang akan menghancurkan bumi hingga disebut bisa membuat orang menjadi gila.
Walaupun selama seharian di Kampung Hantu cahaya matahari tertutup awan gelap, namun ternyata alam memiliki rencana lain di malam ini. Namun terangnya sinar bulan malam ini terasa mencekam, karena seluruh penduduk Kampung Hantu tidak bisa keluar rumah akibat menderita penyakit. Ki Sabrang berhasil meracuni sumber air minum penduduk dengan serbuk racun. Hujan abu akibat erupsi Gunung Merapi juga masih terjadi, sehingga memperparah kondisi jalanan dan rumah-rumah di Kampung Hantu serta jarak pandangnya.
Supermoon adalah sebuah fenomena di mana bulan purnama berada pada posisi terdekat dengan Bumi. Hal ini membuat bulan terlihat lebih besar dan lebih terang dari biasanya. Kondisi cuaca saat terjadinya supermoon bisa berbeda-beda tergantung pada lokasi dan waktu yang berbeda.
Namun, secara umum, cuaca yang cerah akan membuat penampakan supermoon lebih jelas dan lebih memukau. Di malam bulan purnama, langit yang cerah akan memancarkan cahaya bulan yang lebih kuat, sehingga cahaya bintang-bintang yang lemah akan terhalang oleh cahaya bulan. Namun, jika cuaca sedang mendung atau berawan, maka penampakan supermoon mungkin tidak terlihat dengan jelas.
Selain itu, fenomena supermoon juga dapat memengaruhi alam. Pasang surut air laut bisa menjadi lebih tinggi dan lebih rendah dari biasanya, tergantung pada posisi bulan yang lebih dekat atau lebih jauh dari Bumi. Fenomena ini dikenal sebagai pasang surut bulan. Selain itu, fenomena supermoon juga bisa memengaruhi gempa bumi, karena gaya gravitasi bulan yang lebih besar dari biasanya bisa menarik Bumi dan menyebabkan tekanan pada lempengan kerak Bumi.
Ki Sabrang pun menyelesaikan semedinya, begitu Supermoon mulai tampak. Ki Sabrang segera mengumpulkan pasukan jin dan sekutu hantunya supaya bersiap diri melakukan penyerangan. Ki Sabrang pun segera menyampaikan instruksi dan membagi tugas-tugasnya di medan pertempuran. Tampak Rangda beserta pasukan leyak Balinya sudah tidak sabar untuk bertempur. Hantu Palasik dan Parakang juga menyeringai dengan tajam dan sangat dengan seksama memperhatikan instruksi - instruksi dari Ki Sabrang. Hantu Suanggi pun juga sudah menyiapkan ajian-ajiannya untuk bertempur sesuai tugasnya dari Ki Sabrang. Sang Werewolf baru muncul terakhir setelah perubahan wujudnya selesai dan sudah memangsa seekor sapi limousin di kandang perkarangan belakang rumah Juragan Seno. Sementara itu tampak sekali Juragan Seno sangat kelelahan malam ini, wajahnya sangat pucat karena telah menjadi tuan rumah bagi pasukan jin dan hantu Ki Sabrang selama 3 malam.
Ki Sabrang : (berapi-api) "Pasukan jin dan sekutu hantuku sekalian, waktunya telah tiba. Bulan penuh sudah tampak, bayi itu segera lahir. Ayo kita mangsa bayi tersebut, dan kita dapatkan kesaktian dan umur abadi kita. Ayo berangkat! "
Ki Sabrang pun mengubah wujudnya menjadi kabut dan memimpin penyerangan tersebut.
Sementara itu, di kediamannya, Rama sibuk mempersiapkan persalinan Ratu Sari. Namun di sela - sela persiapan tersebut, Rama mendapatkan bisikan gaib seperti saat penyerangan terakhir, "Menyerahlah Rama agar semuanya selamat."
Segera Rama pun meninggalkan dukun bayi dan Wewe Gombel yang berada di kamar Ratu Sari, untuk memantau keadaan di sekitar rumah. Gendoruwo pun datang melaporkan situasi dan kondisi sekitar rumah kepada Rama, "Rama, sudah tampak dalam 500 meter rumah ini, pergerakan makhluk gaib dan hantu menuju kemari. Persiapkan dirimu untuk pertempuran lebih sengit daripada pertempuran terakhir. "
Rama : "Baik, Gendoruwo. Tapi kali ini kita jangan meninggalkan Ratu Sari terlalu jauh. Aku takut ada penyusup masuk ke rumah ini saat persalinan Ratu Sari. Kita bagi lokasi pertarungan, engkau di belakang rumah, aku di depan. " (dengan wajah serius). Tiba - tiba Raja Piningit pun muncul di samping Rama dan Gendoruwo, "Assalamu'alaikum Rama dan Gendoruwo. Sudah waktunya malam ini kita mempertahankan keluarga kita dari kekuatan jahat. Aku akan membantumu Rama di depan rumah. Seluruh pasukan kerajaan Jin aliran putih sudah datang di rumah ini untuk membantu kita. "
Rama: " Wa 'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, terima kasih Raja Piningit. Mari kita berpencar dan bertempur sesuai rencana, semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala membantu kita, aamiin.."
Kemudian Rama, Gendoruwo dan Raja Piningit pun keluar rumah mempersiapkan diri untuk bertempur. Sementara di kamar, Ratu Sari memulai proses persalinan bayinya.
Dukun bayi dan Wewe Gombel sudah mulai melakukan proses persalinan awal teehadap Ratu Sari. Bukaan rahim Ratu Sari pun sudah bukaan lima.
Ini artinya, Ratu Sari sudah masuk ke fase transisi dan beberapa saat lagi siap untuk melahirkan. Ratu Sari agak kaget, karena pada fase ini, kontraksi sudah terasa jauh lebih kuat dan mengganggu.
Kontraksi bisa berlangsung sekitar 60-90 detik, dengan jeda 30 detik sampai 4 menit sekali. Masih seperti di fase-fase sebelumnya, Ratu Sari juga diminta oleh dukun bayi untuk menerapkan teknik pernapasan di fase transisi ini.
Di tahap ini, teknik pernapasan menggabungkan proses pernapasan ringan dan pernapasan yang lebih lama untuk dapat melahirkan dengan cara normal. Berikut tahapan teknik pernapasan yang diinstruksikan dukun bayi kepada Ratu Sari di fase transisi:
Ambil napas secara teratur. Mulailah dengan tarikan napas yang sebanyak-banyaknya saat kontraksi dimulai,
Selanjutnya embuskan napas dan usahakan untuk rileks,
3. Fokuskan perhatian pada satu titik agar lancar menerapkan cara melahirkan normal,
4. Ambil napas ringan melalui mulut dengan kecepatan sekitar 5-20 napas dalam 10 detik selama kontraksi berlangsung,
5. Pada napas kedua, ketiga, keempat, atau kelima, embuskan napas lebih banyak dan lama.
Setelah serviks (leher rahim) terbuka lebar sepenuhnya (bukaan lima), disertai dengan munculnya kontraksi terasa sangat hebat dan kuat, kini tiba pada saat yang dinanti-nanti. Proses melahirkan dengan cara normal mulai akan dimulai sebentar lagi.
Selain tubuh yang memiliki dorongan kuat untuk mengejan, dukun bayi pun memberi aba-aba agar Ratu Sari berusaha sekuat tenaga. Teriakan keras Ratu Sari pun sampai terdengar hingga keluar kamar saat Ratu Sari mengejan.
Ratu Sari diminta tak perlu khawatir, karena di sini posisi kepala dan tubuh bayi sudah siap untuk keluar.
Kepala bayi berada di posisi sangat dekat dengan ******, sehingga nanti akan keluar lebih dulu. Kemudian akan disusul dengan tubuh, tangan, dan kakinya yang ikut keluar saat Ratu Sari melahirkan.
Ratu Sari pun semakin kuat berusaha untuk mengejan dan mendorong bayi lahir, sehingga semakin cepat pula bayi keluar melalui ******. Kemudian kepala bayi mulai muncul disertai tangisan kerasnya, sehingga Ratu Sari tampak ada perasaan lega dan bahagia tersendiri.
Dukun bayi lalu memberi aba-aba pada Ratu Sari untuk berhenti mengejan. Langkah ini dilakukan sembari membersihkan cairan ketuban, darah, serta lendir yang mungkin menempel di mulut dan hidung bayi. Dengan begitu, bayi akan lebih mudah untuk bernapas dan menangis saat tubuhnya telah benar-benar keluar.
Selanjutnya, dukun bayi memosisikan kepala bayi dengan memutarnya, agar bisa keluar sejajar dengan tubuhnya yang masih ada di dalam ****** saat melahirkan dengan cara normal. Dukun bayi kemudian meminta Ratu Sari untuk berusaha mendorong dan mengejan lagi sebagai cara melahirkan normal guna mengeluarkan bahu bayi, yang dilanjutkan dengan tubuh serta kakinya. Akhirnya, bayi keluar sepenuhnya dan dilanjutkan dengan dukun bayi memotong tali pusarnya.
Keluarnya bayi tidak bersamaan dengan keluarnya plasenta. Maka itu, Ratu Sari masih diminta berusaha dengan mengejan sedikit lagi demi mengeluarkan plasenta di dalam rahim yang termasuk dari bagian cara melahirkan normal. Baru setelah plasenta dikeluarkan, dukun bayi pun menjahit ****** yang sebelumnya terbuka cukup lebar sebagai jalan keluar bayi saat melahirkan dengan cara normal.
Rama dan Raja Piningit pun berdiri di halaman rumahnya menatap kedatangan pasukan jin dan hantu sekutu Ki Sabrang. Ki Sabrang pun sudah menampakkan wujud manusianya di hadapan Rama dan Raja Piningit. Rangda dan pasukan leyaknya tampak berada di samping kanan Ki Sabrang, sedangkan werewolf berada di samping kiri. Hantu Palasik dan Parakang bersama berberapa pasukan jin aliran hitam tampak mulai berhadap-hadapan dengan Gendoruwo.
Ki Sabrang: "Rama, Raja Piningit.. Aku Ki Sabrang, aku minta dengan paksa, menyerahlah! Malam ini akan lebih mudah bila kalian menyerah, Hahahahahaha" (menyeringai tajam)
Rama: "Akhirnya kita bertemu juga Ki Sabrang, setelah beberapa kali kau mencoba mencelakai kami. Sama seperti sebelumnya, kami tidak akan menyerah. Biasanya kami yang menang, Ki Sabrang "(dada membusung dan nada bicaranya tegas)
Raja Piningit: "Sadarlah Ki Sabrang, selama ini kerajaan Jin aliran putih tidak pernah mengganggu Jin aliran hitam. Mudah-mudahan malam ini, kalian bisa bertobat menjadi aliran putih. " (tampak bicaranya berwibawa)
Wajah Ki Sabrang tampak memerah mendengarkan perkataan Rama dan Raja Piningit. Segera saja Ki Sabrang menginstruksikan semua pasukannya melakukan penyerangan. Ki Sabrang mengeluarkan Keris Naga Siluman untuk membuka pagar gaib yang mengelilingi rumah Rama dan, "Booomm...!! "
Suara benturan kekuatan dari Keris Naga Siluman berusaha merusak pagar gaib yang dipasang Gendoruwo. Gemuruh suara petir di langit mengikuti suara dentuman keras dan menenggelamkan suara tangisan bayi dalam rumah. Pagar gaib masih tampak kokoh, dan Rama pun mulai melafalkan ajian Pralambangun untuk membagi sukmanya supaya ada yang bisa menemani Gendoruwo bertarung di belakang rumah. Rama masih ingat pesan terakhir Rama dari versi dunia lain, yang mengatakan bahwa ajian Pralambangun selain untuk memasuki dunia lain, juga bisa membagi sukma dan meminjam kekuatan versi Rama dunia lain. Bahkan kalau perlu, seluruh kekuatan Rama di berbagai versi dunia, bisa digabungkan menjadi satu kekuatan Rama.
Sementara itu, di belakang rumah, Gendoruwo masih menatap hantu Palasik, Parakang dan pasukan Jin aliran hitam berusaha menembus pagar gaibnya. Gendoruwo senang akhirnya datang Rama di sampingnya yang membantunya. Tapi Gendoruwo juga bingung siapa saja yang bertempur di depan rumah karena Gendoruwo belum tahu Rama yang sudah membagi sukmanya.
Kekuatan Keris Naga Siluman sepertinya belum mampu merusak pagar gaib yang mengelilingi rumah Rama. Ki Sabrang pun kemudian menarik tombak Kyai Kanjeng untuk ikut merusak pagar gaib, namun juga belum berhasil. Hanya menghasilkan suara gemuruh dan kekuatan yang menumbangkan pohon-pohon di samping rumah Rama. Kemudian Ki Sabrang pun menggunakan kesaktian
Keris Pusaka Tunggul Amukti Palapa untuk merusak pagar gaib, dan akhirnya, " Duerrr..! "
Langit menggelegar, malam pun menjadi terang saat kekuatan Keris Pusaka Tunggul Amukti Palapa merusak pagar gaib rumah Rama. Pagar gaib pun hancur, dan seluruh pasukan jin dan sekutu hantu Ki Sabrang mulai memasuki halaman rumah Rama untuk bertarung secara langsung. Rama pun tidak tinggal diam, segera dia melafalkan wirid ajian Kalimasada dan ajian Tyaga untuk menghadapi Ki Sabrang secara langsung. Sang Werewolf pun meloncat dengan lugas untuk menerkam dan bertarung dengan pasukan kerajaan Jin aliran putih.
Sementara itu, Raja Piningit menghadap Rangda dan pasukan leyak Bali- nya yang beterbangan secara masif. Gendoruwo dan Rama 2 akhirnya bertempur langsung melawan Palasik dan Parakang di belakang rumah, setelah pagar gaibnya rusak. Sementara itu, Ratu Sari yang sudah selesai persalinannya mulai memulihkan keadaannya walaupun masih menyusui sang bayi yang baru dilahirkan ditemani dukun bayi dan Wewe Gombel.
Pertarungan sangat seru juga terjadi antara pasukan jin aliran hitam melawan pasukan jin aliran putih yang berjumlah sekitar ratusan prajurit. Benturan kekuatan gaib dalam pertempuran tersebut memberikan kegaduhan luar biasa di Kampung Hantu. Namun penduduk Kampung Hantu yang masih dilanda penyakit akibat serbuk racun yang disebar KI Sabrang, ternyata tidak menggubris kegaduhan yang terjadi. Penduduk Kampung Hantu terlelap dalam istirahatnya akibat efek samping dari obat yang diminum untuk menyembuhkan penyakitnya.
Ki Sabrang menggunakan kekuatan 3 pusakan untuk menyerang Rama, yakni Keris Naga Siluman, Tombak Kyai Kanjeng dan Keris Pusaka Tunggul Amukti Palapa. Tidak lupa ajian Setan Kober juga dipakai untuk menambah kekuatan pusakanya. Sedangkan Rama yang menggunakan ajian Kalimasada dan Ajian Tyaga berhasil menghindar dan membela diri atas serangan Ki Sabrang. Pusaka Kujang Pamenang kemudian dikeluarkan oleh Rama untuk menandingi kekuatan Ki Sabrang.
Lalu dimanakah hantu Suanggi yang belum muncul dalam pertempuran tersebut? Ternyata hantu Suanggi ditugaskan langsung muncul di kamar Ratu Sari untuk menculik bayi yang baru lahir, setelah pagar gaib berhasil dirusak. Wewe Gombel pun terkejut atas kemunculan hantu Suanggi, sedangkan Ratu Sari masih sibuk menyusui bayi yang sepertinya masih kehausan. Hantu Suanggi-pun tidak membuang waktu lama dengan langsung menyerang Wewe Gombel, dukun bayi dan Ratu Sari. Wewe Gombel yang ditugaskan untuk melindungi Ratu Sari pun juga tidak tinggal diam untuk membela diri. Pertempuran di dalam rumah pun juga terjadi. Hingga akhirnya hantu Suanggi keluar rumah dan menggendong seorang bayi mungil untuk ditunjukkan kepada Ki Sabrang yang sedang bertempur melawan Rama.
Hantu Suanggi :" Hahahahaha, Ki Sabrang.. Aku berhasil membawa bayi ini.. (sambil tertawa sinis melihat wajah Rama).
Rama yang melihat hantu Suanggi dengan seorang bayi pun bingung. Rama menjadi agak linglung dan lunglai karena telah menduga bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi dengan Ratu Sari dan bayinya di dalam rumah. Akhirnya satu serangan Ki Sabrang mengenai tubuh Rama yang hilang fokus kekuatannya, " Brukk...! "
Rama terjatuh dan terpental menabrak dinding rumah akibat kekuatan serangan yang dahsyat dari Ki Sabrang dan mengeluarkan darah segar dari mulutnya. Namun Raja Piningit yang melihat Rama terjatuh pun segera berseru, "Bangkitlah Rama, Ratu Sari dan bayinya tidak terjadi apa-apa. Mereka aman di Kerajaan Jin Aliran Putih. Hayoo segera keluarkan ajian pamungkasmu supaya pertempuran ini cepat selesai..! " Raja Piningit masih melanjutkan pertempuran melawan Rangda dan pasukan leyak Bali-nya.
Rama bingung dengan seruan Raja Piningit, namun dia berusaha mempercayai apa yang diucapkan Raja Piningit walaupun di depan matanya sendiri tampak seorang bayi digendong oleh Hantu Suanggi menuju Ki Sabrang. Ki Sabrang yang melihat Rama jatuh dan terluka pun akhirnya tersenyum, sambil mendekati hantu Suanggi yang menggendong bayi Rama. Ki Sabrang tampak menebarkan senyum kemenangan setelah melihat wajah bayi dari dekat.