KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 96 : INTEROGASI


Kami duduk bertiga di ruang tamu. Ibu duduk bersebelahan dengan bapak, sedangkan aku duduk di depan mereka.


"Bapak mau bertanya sama kamu, Im. Bapak curiga, kamu tidak menjalankan pesan bapak, untuk tidak berbuat nekat di sekolah," ujar bapak sambil menatap lekat ke mataku.


Aku tidak menyahut.


"Ayo, ngomong, Im! Apa yang kamu lakukan tadi di sekolah?" Ibu mendesakku.


"Ee, anu...," jawabku terbata-bata.


"Kamu bicara jujur saja kepada bapak dan ibu!' ujar ibuku dengan nada lembut.


Kulihat tatapan mata bapak masih tidak bersahabat.


"T-tadi di sekolah, saya dan teman-teman melihat pak Rengga menyuruh seorang kakak kelas mengubur sesuatu ke tempat sampah di belakang kamar mandi," jawabku.


"Terus, apa yang kamu lakukan setelah itu?" tanya bapak dengan suara tegas.


"Saya dan teman-teman curiga dengan bungkusan yang dibuang tersebut," jawabku sambil sesekali menatap mata tajam bapak, takut beliau marah.


"Lantas?" tanya ibu.


"Saya dan teman-teman mengatur strategi untuk dapat memeriksa isi bungkusan yang dikubur tersebut. Pas istirahat kedua, dua teman saya diberi tugas untuk mengikuti pergerakan pak Rengga dan kakak kelas itu, satu teman bertugas membatasi gerak anak-anak perempuan yang tidak ikut sholat Zuhur, satu anak perempuan bertugas mengawasi orang yang mau ke tempat pembuangan sampah tersebut, sedangkan saya sendiri bertugas menggali kembali benda yang dikubur oleh kakak kelas atas perintah pak Rengga," jawabku.


"Kamu ini benar-benar susah dibilangi, ya? Terus, apakah kalian berhasil menjalankan misi tersebut?" tanya bapak.


"Awalnya semua berjalan sesuai rencana, Pak. Meskipun saya mengalami kesulitan untuk melacak posisi pasti dikuburnya benda itu, tetapi setelah saya mengira-ngira akhirnya saya berhasil menemukan benda tersebut, meskipun agak aneh juga karena kantong kresek yang digunakan sudah lapuk dan isi di dalamnya semacam daging busuk dipenuhi ulat," jawabku.


"Jijik sekali pastinya, ya?" tanya ibu.


"Iya, Bu. Saya sampai muntah di sana. Saya dan teman-teman menduga itu adalah janin," jawabku.


"Bapak dan ibu juga menduga begitu. Hal itu sesuai dengan investigasi yang kami lakukan tadi siang di rumah pengintip itu," jawab bapak.


"Ya Tuhan, berarti benar pak Renggalah pelaku pembunuhan terhadap Tari?" pekikku di dalam hati. Aku tidak berani mengatakannya secara langsung kepada bapak dan ibu karena ingin menjaga perasaan mereka berdua. Bagaimanapun, pak Rengga adalah sahabat masa kecil mereka berdua.


"Teruskan ceritamu, Im!" ujar bapak.


"Tak disangka, tiba-tiba pesuruh sekolah, pak Mat datang ke tempat pembuangan sampah tersebut untuk membuang sampah. Saya kaget dan akhirnya bersembunyi, naik ke atas pohon yang daunnya lebat dan dipenuhi semak-semak." jawabku.


"Terus?" tanya ibu.


"Syukurlah, pak Mat tidak menyadari keberadaanku di tempat tersebut. Tapi, setelah agak lama berada di tempat tersebut, tiba-tiba ia melihat ke arah pohon yang kupanjat dan mengatakan akan memangkas semak-semak serta daun-daun yang sangat lebat tersebut. Aku syok saat itu," jawabku.


"Terus?" tanya ibuku.


"Syukurlah pak Mat tidak membawa celurit yang biasa ia gunakan untuk merapikan tanaman. Pak Mat berencana mengambil celuritnya terlebih dahulu yang tertinggal di halaman depan sekolah," jawabku.


"Terus, kamu berhasil kabur tanpa diketahui pak Mat, kan?" tanya ibu penasaran.


"Tidak semudah itu, Bu. Saat pak Mat masih di tempat itu, saya melihat ada ular sedang merayap dari pucuk pohon ke arahku. Saya bingung waktu itu, kalau tidak buru-buru turun, saya bisa dipatuk ular. Namun, kalau turun terlalu cepat, maka persembunyianku bisa ketahuan oleh pak Mat," jawabku.


"Terus?" tanya ibuku.


"Syukurlah, kalau begitu," jawab ibuku.


"Saya mohon maaf ya, Pak, Bu, karena sudah melanggar pantangan Bapak dan Ibu. Namun, itu semua terpaksa kami lakukan karena mengejar kesempatan yang terbuka di hadapan kami," jawabku.


"Oke, baiklah. Apa yang kalian lakukan memang memiliki kontribusi besar pada penyelidikan kasus ini. Jadi, bapak dan ibu semakin yakin bahwa orang itu adalah pelaku pembunuhan Tari," jawab bapak.


"Tapi ketika saya mau melaksanakan sholat di mesjid, saya bertemu dengan pak Rengga. Dan beliau sempat mencurigaiku telah berbuat sesuatu janggal baginya. Akhirnya, ketika jam pulang sekolah, pak Rengga memanggilku ke ruangannya dengan alasan memberi hukuman kepada saya karena tidak ikut sholat Zuhur berjamaah," jawabku.


"Apa? Apa yang dilakukannya padamu?" tanya bapak cemas.


"Semua teman saya disuruh pulang, tidak boleh mendampingiku. Di dalam ruangan tersebut, pak Rengga bercerita bahwa ia pernah bertengkar hebat dengan Bapak," jawabku.


"Iya, benar. Kami memang pernah bertengkar hebat. Bapak memukulnya karena membiarkan Tari pulang sendirian malam itu. Kenapa sebagai orang yang dekat sama dia, ia lalai untuk menjaga Tari," jawab bapak.


"Pak Rengga memberi hukuman kepadaku yaitu membersihkan ruangan laboratorium IPA. Namun, ia pulang duluan. Nah waktu itulah, arwah Tari datang lagi mengganggu saya. Arwah Tari menunjukkan buku harian yang ditulis oleh pak Rengga," jawabku.


"Buku harian?" tanya ibuku


"Iya, Bu. Buku harian itu berisi tentang aktifitaa keseharian pak Rengga, mulai awal bertemu kembali dengan Tari. Mengenai perasaannya terhadap Tari, hingga kejadian nahas yang menimpa Tari," jawabku.


"Oh, ya? Coba kamu ceritakan dengan runtut isi buku harian itu, Im. Terutama kejadian meninggalnya Tari dari sudut pandangnya!" ujar ibuku.


Aku pun menceritakan semua isi buku harian pak Rengga yang kubaca kepada bapak dan ibu. Mereka berdua merasa geram dan juga sedih mendengar ceritaku. Aku juga mengatakan bahwa aku tidak sanggup untuk membaca semua isinya.


"Irfaaaaaan ...!!!" pekik bapak.


"Setelah saya lepas dari gangguan arwah Tari, tiba-tiba muncul pak Mat dengan membawa celurit sangat mengagetkan saya. Namun, pak Mat ternyata hanya curiga kepada saya karena berada di ruangan tersebut pada jam pulang sekolah. Setelah saya jelaskan dan setelah ia memeriksa seluruh isi ruangan tersebut, barulah pak Mat mempercayai keterangan dari saya bahwa saya sedang menjalani hukuman dari pak Rengga," jawabku.


"Baiklah, terima kasih atas semua keterangan kamu. Sekarang bapak akan menjelaskan hasil investigasi kami berdua di rumah pengintip itu. Tolong kamu dengarkan baik-baik, ya!" ucap bapak.


"Iya, Pak. Saya akan mendengarkan dengan saksama penjelasan Bapak. Saya berharap kasus ini bisa segera diselesaikan agar arwah Tari dan arwah bayi itu bisa beristirahat dengan tenang di alam sana dan pelakunya mendapatkan ganjaran hukuman yang setimpal dengan perbuatan keji yang telah ia lakukan," jawabku.


Bersambung


Tinggalkan like, komentar, dan vote kalian!


Baca juga karyaku yang lain :



Maranti


Tak Sengaja Dinikahi Playboy Kaya


Cinta Kedua


Aku Tak Mau Menjadi Pelakor