KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 15 : DEMO EKSKUL


Keesokan harinya Bapak kembali mengantarku ke sekolah. Syukurlah hantu teman Bapak tidak muncul lagi di tanjakan seperti kemarin sore. Jadi aku tidak perlu merasakan ngeri pagi-pagi.


"Jangan-jangan hantu itu ikut Pak Rengga ke rumahnya?"


Kegiatan hari ini adalah demo ekstrakurikuler, setiap ekskul akan mempertunjukkan kebolehan mereka di depan para siswa baru, agar nantinya mereka tertarik untuk menjadi anggota. Setiap ekskul menunjukkan kemampuan terbaik mereka di depan siswa baru, semuanya memukau dan tampil istimewa. Namun, penampilan terbaik hari itu ditunjukkan oleh ekskul band. Semua siswa sampai hanyut terbawa kesyahduan lagu yang dibawakan oleh anak-anak ekskul band. Kakak kelas yang dekat dengan Pak Rengga tampil sebagai vokalis. Semua mata terpana dengan lagu yang mereka bawakan. Saat lagu itu sampai di reff-nya, kepalaku mendadak pusing.


Na na .... Na na .... Na na ....


"Lagu itu ...," pekikku sambil memegangi kepalaku.


"Kamu kenapa, Im?" tegur Fajar.


"Kepalaku mendadak pening, Jar. Lagu itu ...," jawabku sambil memegangi kepalaku.


"Ada apa dengan lagu itu, Im?" Fajar balik bertanya.


"Tunggu Jar, kepalaku masih berat. Nanti akan aku jelaskan," jawabku.


"Sini aku pijitin kepalamu, coba Kamu pejamkan matamu sambil berdoa," tutur Fajar sambil memijit-mijit kepalaku. Aku segera menuruti nasehat temanku itu.


"Gimana, Im?" tanya Fajar beberapa waktu kemudian.


"Iya, Im. Kepalaku tiba-tiba enteng," jawabku.


"Sekarang Kamu ceritakan apa yang Kamu ketahui tentang lagu itu," tanya Fajar sambil memijit kepala dan leherku.


"Lagu itu sudah ada sejak bapak dan ibuku masih bersekolah di sini," tuturku.


"Oh ya? Mungkin lagu itu memang andalan anak-anak band sekolah ini?" reaksi Fajar.


"Bisa jadi. Tapi bukan itu yang ingin aku sampaikan," jawabku.


"Terus?" tanya Fajar.


"Teman ibuku yang menyanyikannya pertama kali, tewas akibat kecelakaan yang sangat mengenaskan. Kedua kakinya patah," Aku bercerita.


"Ya Tuhan. Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya dan menerima amal ibadahnya. Aamiiin." ucap Fajar.


"Dan perlu Kamu tahu, Jar ...," ucapku.


"Apa, Im?"


"Teman ibuku itu adalah anggota tim yang sebelumnya dihukum bersih-bersih karena nilai tim mereka paling kecil," Aku melanjutkan ceritaku.


"Apaaaaaaa????" Fajar terkejut dengan penuturanku. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, pandanganku berhenti pada sosok mengerikan di antara para siswa yang sedang hanyut dengan lagu itu.


"Astagfirullah ...," pekikku.


"Ada apa, Im?" tanya Fajar terkejut.


"I-itu di sebelah timur, di sebelahnya anak cewek yang rambutnya dikepang dua, coba Kamu lihat!" jawabku sambil menunjuk ke arah sosok itu berada. Fajar memusatkan penglihatannya pada arah yang aku tunjuk.


"Ya Tuhan!!! Iya, Im hantu bayi itu sedang merangkak di sana," pekik Fajar.


Aku dan Fajar bergidik ngeri menyaksikan hantu bayi itu sedang menjilati punggung anak cewek berambut kepang dua itu. Sepertinya anak itu tidak menyadari kehadiran hantu bayi itu. Entah mengapa hanya kami berdua yang dapat melihat penampakan hantu menjijikkan itu. Sosok bayi merangkak dengan tali pusar yang menjuntai ke tanah, sedangkan bagian kulitnya terlihat mengkilap dan licin.


Aku dan Fajar tidak berani berbuat apa-apa melihat pemandangan itu, kami hanya bisa menyaksikan dari jarak cukup jauh sambil sesekali melirik dan menahan mual.


Tak terasa semua ekskul sudah mendemonstrasikan kebolehannya, kakak-kakak panitia membagikan angket kepada seluruh siswa untuk mengisi ekskul apa yang akan diikuti selama satu semester ke depan. Sesuai kesepakatan awal, Lidya masuk ke ekskul band, aku ikut ekskul majalah dinding, sedangkan Fajar ikut ekskul Pramuka.


"Jar, aku bingung mau milih ekskul apa?" tanya Gatot.


"Nggak usah bingung, Tot. Kamu ikut ekskul karate saja," ucap Fajar.


"Ogah ah, salah satu pembinanya kan Pak Rengga? Males aku ketemu Pak Misterius itu," jawab Gatot.


"Justeru itu, Tot. Dengan itu Kamu bisa lebih leluasa mengawasi Pak Rengga," terang Fajar.


"Benar juga sich. Iya dech aku pilih karate saja sesuai saranmu," ujar Gatot.


"Tapi tetap berhati-hati, Tot. Jangan sampai tindak-tandukmu dicurigai oleh beliau!" pesan Fajar.


"Siap, Jar!" jawab Gatot.


*


Pada saat jam istirahat, aku mendadak sakit perut ingin buang air besar. Akupun pamit kepada timku,


"Coy, Kalian makan dulu ya. Aku mau ke kamar mandi dulu, sakit perut nich," ucapku.


"Apa perlu aku temani, Im?" Fajar menawarkan diri.


"Nggak usah dah, Jar. Biar Kamu makan bekal saja, takutnya nanti aku kelamaan malah Kamu ikut nggak makan juga, bisa kelaperan semua nanti tim kita." Aku menjawab.


"Ya sudah kalau itu kemauanmu, tapi ingat di kamar mandi jangan melamun. Jangan lupa berdoa, supaya Kamu dikindungi olehNya," ujar Fajar.


"Siap, Pak Ketua!"


Akupun berlari menuju kamar mandi, tapi sebelum itu aku membeli sesuatu di kantin sekolah.


Ternyata kondisi di kamar mandi sekolah saat itu sepi sekali. Sepertinya kejadian yang menimpaku dan Mery membuat anak-anak yang lain merasa takut untuk menggunakan kamar mandi ini. Mereka lebih memilih menggunakan kamar mandi yang ada di deretan kelas tiga. Terlalu jauh kalau aku harus ke sana, biarlah aku menggunakan kamar mandi yang terdekat saja. Sesuai pesan Fajar, aku tak lupa membaca doa sebelum masuk ke kamar mandi. Aku memilih kamar mandi yang dekat pintu, aku masih trauma menggunakan kamar mandi nomer dua takut pingsan lagi.


Aku sengaja tidak mengunci pintu kamar mandi dari dalam karena khawatir terjadi sesuatu, jadi pintu itu hanya kututup saja supaya mudah untuk membukanya. Dari dalam kamar mandi ini suara di luar tidak begitu terdengar karena pada jam istirahat begini biasanya anak-anak lebih banyak berkumpul di kantin. Hanya suara tetesan air dari keranku sendiri yang terdengar menggema.


Akhirnya akupun selesai buang air besar tanpa ada gangguan sedikitpun, tidak ada suara senandung, tidak ada perjalanan ke tempat lain, dan tidak ada penampakan bayi itu. Mungkin benar kata Fajar, setiap mau masuk kamar mandi harus berdoa dulu supaya selamat.


Aku sudah bersiap keluar dari kamar mandi, ketika tiba-tiba terdengar pintu utama kamar mandi dibanting seseorang.


Brak


Aku mengintip keluar, ternyata tidak ada siapa-siapa di luar sana. Mungkin angin yang menutup pintu utama kamar mandi tersebut. Aku bergegas keluar dari kamar mandi itu dan berjalan menuju pintu utama yang tertiup angin itu. Cahaya di dalam ruangan menjadi redup karena sebagian besar sumber cahayanya berasal dari pintu utama tersebut. Aku mendorong pintu utama itu keluar, sialnya ternyata pintu itu tertutup rapat seperti sedang dikunci. Aku lebih kuat mendorong, tapi tetap saja tidak berhasil. Tiba-tiba dari arah belakangku, tepatnya dari ujung kamar mandi paling dalam, terdengar bunyi seperti segerombolan anak ayam, aku menoleh. Ternyata suara itu bukanlah suara anak ayam, melainkan berasal dari mulut makhluk kecil yang kini sedang merangkak dari ujung kamar mandi yang gelap menuju ke tempatku berdiri di balik pintu.


"Tidaaaaaaaaaaak ...,"


Bersambung


Maaf ya Kak, updatenya agak lambat. Maklum, author lagi ada kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan.


Tetap sehat selalu ya, Kak. Semoga di masa pandemi ini rejeki dan kesehatan Kakak selalu terjaga. Setidaknya bisa sempat memberi komentar atau ngevote cerita ini.


Sekali lagi saya mengajak Kakak untuk membaca novel saya yang lain yang berjudul MARANTI, yang tidak kalah serem dari novel ini.


Terima kasih ya, Kak. Tunggu update-an selanjutnya dengan menjadikan KAMPUNG HANTU sebagai koleksi perpustakaan Kakak-Kakak semuanya. Oke?