
Perempuan kecil berseragam selayaknya anak SMP sedang ngesot di atas gundukan sampah. Sekujur tubuhnya dipenuhi dengan warna merah darah, sementara rambutnya acak-acakan, dan juga mukanya pucat dengan lingkaran di sekeliling mata berwarna hitam legam. Di depan gadis kecil itu sedang berdiri seorang laki-laki yang sedang ketakutan karena di depannya tiba-tiba muncul pemandangan yang sangat menyeramkan.
"Tolong kembalikan kedua kakiku?" teriak hantu Tari itu dengan suara melengking, sedangkan kedua tangannya diarahkan ke depan ke arah pria itu.
"Tidak! Tidaaak!!! Kamu sudah lama mati. Pergiiii!!!" teriak pria itu dengan suara gemetar.
"Hihihihihi ... Inilah saat kematianmu. Kamu akan kucekik. Hihihihihi ...," teriak hantu Tari dengan suara memekakkan telinga dan ekspresi wajah yang semakin menakutkan. Sosok laki-laki di depannya tidak dapat berkutik karena syok. Hantu Tari ngesot mendekati pria itu.
"Jangan mendekat Tari! Ampuni saya! Waktu itu saya khilaf Tari, saya takut kamu akan melaporkan saya kepada polisi," ujar pria itu terbata-bata. Sedangkan cangkul yang akan ia gunakan untuk mengubur janin itu terjatuh karena tangannya gemetar tidak kuat menahan berat cangkul. Di depannya, mayat bayi sedang teronggok di dalam lubang karena belum sempat ditimbun dengan tanah. Melihat ukurannya, bayi itu sudah lebih dari empat bulan. Entah ibunya berhasil selamat atau tidak.
"Apa, khilaf? Enak saja kamu bilang khilaf. Apakah kamu lupa dengan apa yang sudah kamu lakukan kepadaku? Kenapa kamu tega melakukan semua itu?" jawab hantu Tari dengan nada menakutkan.
"Iya, Tari. Di tempat ini saya memukul kakimu dengan punggung cangkul karena kamu memergokiku sedang menguburkan janin. Saya melakukan itu untuk mengancammu supaya kamu bungkam dan tidak melaporkan apa yang kamu lihat kepada orang lain. Namun, saat itu dalam kondisi kaki terpincang-pincang, kamu mengatakan kepada saya bahwa kamu akan melaporkan saya kepada polisi. Saat itu saya sudah gelap mata, akhirnya saya terpaksa memukul kepalamu sehingga kamu pingsan," ujar pria itu.
"Dan kamu membawa tubuhku yang pingsan ke tanjakan itu dan kemudian kamu menabrak tubuhku tanpa belas kasihan? Itu yang kamu bilang khilaf? Bertahun-tahun kamu menghirup udara kebebasan, karena polisi dan orang-orang menyangka aku mati karena menjadi korban tabrak lari. Tidaaaaak!!!! Aku akan mencincang tubuhmu!" teriak hantu Tari dengan suara melengking dan lantang.
"Ampuuuuun Tariiiii!!! Jangan lakukan itu. Saya terpaksa melakukan itu semua. Saya sudah bosan hidup miskin. Saya sudah bosan selalu dituntut ini dan itu oleh istri saya. Istri saya juga gajinya pas-pasan, sebagai bidan swasta gajinya tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kita sehari-hari. Saudara istri saya semuanya orang sukses. Hanya kami berdua yang hidup pas-pasan. Kami merasa dikucilkan oleh keluarga besar istri saya. Akhirnya, kami berdua sepakat membuka bisnis aborsi di rumah secara diam-diam. Setelah itu ekonomi kami meningkat, dan kami tidak dipandang sebelah mata lagi oleh orang-orang," ujar pria itu dengan napas tersenggal.
"Dasar manusia picik! Kalian hanya mengukur kebahagiaan dengan uang. Sampai kalian tega membunuh puluhan nyawa tak berdosa demi uang. Kalian berdua ini benar-benar manusia yang tidak berperikemanusiaan," teriak hantu Tari itu.
"Ampuuun Tari! Jangan bunuh saya!" teriak laki-laki itu.
"Dasar manusia jahat!!! Kamu dan istrimu harus dihukum seberat-beratnya atas perbuatan kalian selama ini," teriakku spontan dari atas pohon. Laki-laki itu menoleh ke arahku. Nampaknya ia mulai menyadari keberadaanku di tempat ini yang sejak tadi merekam semua kejadian di tempat ini, mulai dari pak Mat yang mengubur bangkai kucing, pak Rengga yang mengubur bangkai kodok yang digunakan untuk praktikum, hingga ekspresi ketakutan pria pengintip ini ketika melihat Cindy yang berdandan menjadi hantu Tari.
"Ya Tuhan, aku sudah berbuat kesalahan. Seharusnya aku tidak menunjukkan keberadaanku kepada pembunuh ini karena hal itu akan membahayakan buat kami," pekikku di dalam hati.
Karena menyadari pria tersebut sudah mengetahui keberadaanku, aku pun turun dari pohon.
"Oooo ... Jadi kalian berdua ini sengaja menjebak saya, ya?" ucap pria itu sambil bangkit dari jongkoknya.
"Iya. Kami memang menjebakmu dan kami akan menangkapmu untuk dijebloskan ke penjara!" teriakku tidak mau kalah.
Pria itu mengambil cangkulnya dan akan digunakan untuk menyerang kami berdua. Cindy berteriak ketakutan.
"Bukan masalah bagi saya untuk menambah korban dua nyawa lagi. Ha ha ha ...," teriak pria itu dengan suara yang membuat bulu kudukku merinding.
[Pletok]
Suara hantaman batu mengenai pelipis kanan pria tersebut. Darah segar mengucur dari owlipis kanannya.
"Kami tidak akan membiarkan kamu melukai teman kami, pria jahat!" teriak Gatot dari arah timur.
[Doooooor]
"Hentikan Darso! Atau peluru ini akan bersarang di tubuhmu," teriak seseorang dari balik tembok. Ternyata pak Anton dan bapak sedang ada di sana. pak Anton berdiri dengan gagahnya di atas tembok dengan posisi siap menembak penjahat itu. Sopir mobil pengangkut sampah itu akhirnya tidak bisa berkutik ketika pak Anton memborgol kedua tangannya.
"Ini akhir petualanganmu, Darso. Tim kami juga sudah menangkap istrimu di klinik terkutuk kalian," ucap pak Anton. Pak Darso hanya bisa tertunduk lesu.
"Terima kasih, anak-anak! Berkat bantuan kalian, akhirnya kami bisa mengungkap kejahatan besar ini," ujar pak Anton lagi.
"Sama-Sama, Pak. Kami juga senang akhirnya misteri kematian Tari bisa terungkap," jawabku.
Polisi akhirnya memasang "Police Line" di area tersebut. Ternyata tempat sampah tersebut menjadi tempat penguburan janin-janin dan bayi-bayi tak berdosa. Hari itu polisi menemukan banyak sekali mayat janin dan bayi di sana. Ternyata pak Darso sengaja tetap mengangkut sampah dari sekolah itu meskipun ia sudah kaya raya, karena dengan begitu ia dapat mengubur janin dan bayi itu tanpa diendus siapapun.
Kami berlima dan bapak sudah bersiap meninggalkan tempat tersebut tepat saat azan Magrib dikumandangkan. Tiba-Tiba ada yang memanggil kami dari belakang. Kami pun menoleh.
"T-tari???" pekik kami semua ketika melihat areah Tari dan bayi-bayi di sampingnya.
"Terima kasih Hasan, terima kasih Imran, terima kasih semuanya atas bantuan kalian akhirnya kami bisa beristirahat dengan tenang," ucap arwah Tari yang terlihat cantik.
"I-iya Tari. Beristirahatlah dengan tenang. Kami akan mendoakan kalian," jawab bapak.
"Selamat tinggal,"
"Selamat tinggal,"
Dan arwah Tari beserta bayi-bayi itu pun menghilang diiringi tangis haru kami.
Tidak hanya kami yang menangis haru. Seorang nenek yang berdiri di samping polisi yang sedang mencari barang bukti juga ikut menangis melepas kepergian Tari.
TAMAT
Terima kasih atas kesetiaan pembaca setia novel Kampung Hantu yang selama ini selalu setia menunggu episode demi episode terbaru.
Untuk selanjutnya penulis akan fokus pada novel horor yang satunya yang berjudul MARANTI. Penulis akan membuat season kedua dari novel tersebut.
Selalu ikuti novel-novel saya, ya?
Salam Seram Bahagia