
Sore itu dusun Jatisari berduka karena salah satu sesepuh di dusun tersebut telah pergi menghadap ilahi untuk selama-selamanya. Yang paling terpukul hari itu adalah paklik, anak semata wayang mbah Arni. Sepupu bu Mila yang mendatangi atasannya dan menelpon toko di luar kota dimana paklik berada. Paklik diberitahu bahwa kondisi ibunya sedang kritis. Ia memang tidak langsung diberitahu bahwa ibunya telah meninggal karena takut terjadi apa-apa sebelum sampai di dusun Jatisari. Paklik langsung segera pulang saat itu juga, sepupu bu Mila menunggu paklik di tempat kerjanya. Beberapa jam kemudian paklik datang dan langsung dibonceng oleh sepupu bu Mila menuju rumah duka.
Begitu sampai di pinggir jalan, di depan rumah mbah Arni, paklik langsung melompat dari atas boncengan dan berlari menuju rumah ibunya. Mungkin ia baru menyadari bahwa ibunya sudah tiada karena melihat peralatan rukun kematian berjajar di depan rumah masa kecilnya itu. Ada dua buah timba berukuran besar, ada keranda, dan tabir untuk memandikan jenazah yang sudah terpasang di depan rumah.
"Maaaaaaaaaaaaak!!!" teriak paklik keras dan memilukan.
Paklik menyelundup di antara kerumunan warga yang mengelilingi jenazah mbah Arni. Jenazah mbah Arni sudah tidak diletakkan di kamarnya, tetapi sudah dipindahkan di ruang tamu. Di samping jasad mbah Arni ada beberapa tetangga yang mengaji dan bulik yang tak henti-hentinya menangis di dekat jenazah ibu mertuanya itu. Bulik menoleh ketika paklik pertama kali menyaksikan badan ibunya terbujur kaku di atas kasur.
"Mas, emak sudah pergi, Mas!" ujar bulik kepada paklik dengan bibir gemetar.
"Maaaaaaaak!!!" teriak paklik sambil menyingkap kain yang menutup wajah mbah Arni. Terlihatlah wajah mbah Arni dengan dahi berkeringat dan wajah yang lebih bersih dari biasanya. Paklik menciumi wajah ibunya sambil menangis sesegukan. Beberapa tetangga menarik tubuh paklik yang sedang histeris.
"Jangan sampai air matamu menetes di jasad ibumu! Itu akan memberatkan ibumu," ujar orang yang menarik tubuh paklik itu. Awalnya paklik tidak menggubrisnya, tetapi setelah ditarik beberapa kali akhirnya paklik luluh.
"Maafkan saya, Mak! Saya jarang menemuimu, Mak. Saya terlalu sibuk mencari anak kami, Mak. Maafkan saya, Mak!" suara tangis paklik.
"Lebih baik kamu mengaji saja! Itu yang dibutuhkan oleh ibumu sekarang," ujar salah satu tetangga.
Setelah mendengar nasihat dari para tetangga, akhirnya paklik pun lebih tenang perasaan hatinya. Paklik pergi ke sumur belakang untuk berwudu, setelah itu ia pun membaca surat yasin di samping jenazah mbah Arni yang sudah ditutup lagi mulai dari ujung kepala sampai ke ujung kaki.
Para warga bergotong royong mempersiapkan pengurusan jenazah mbah Arni. Aku dan Parto ikut menimba air dari sumur belakang untuk memenuhi dua timba berukuran besar yang akan digunakan untuk memandikan jenazah mbah Arni. Untuk urusan menggali liang kubur sudah selesai sebelum paklik datang. Jadi ketika paklik sudah selesai mengaji, jenazah mbah Arni langsung dimandikan, ibuku dan ibunya Parto juga ikut memandikan karena diantara tetangga yang lain, hubungan mbah Arni dengan ibu kami berdua lebih dekat. Bulik hampir pingsan ketika memandikan jenazah mbah Arni karena masih tidak percaya dengan kepergian ibu mertuanya tersebut. Tetapi ibuku menguatkan hati bulik, jika masih ingin memandikan mbah Arni, maka hatinya harus dikuatkan. Akhirnya bulik bisa bertahan sampai proses memandikan jenazah itu selesai dilaksanakan.
Untuk urusan mengkafani, mbah Putrilah yang memimpin dibantu beberapa ibu yang lain, sedangkan bulik bersegera mandi sunah setelah memandikan jenazah. Bulik ikut membantu mbah Putri membedaki wajah mbah Arni. Kata mbah Putri, wajah mbah Arni sangat cantik saat itu. Mbah Putri sampai sedih melihat teman masa kecilnya itu sudah menghadap Tuhan terlebih dahulu.
Tepat pukul lima sore, jenazah mbah Arni selesai dimakamkan. Banyak sekali warga yang ikut mensalatkan dan mengantar kepergian mbah Arni ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Tidak bisa dipungkiri, semua penduduk merasa kehilangan sosok sesepuh di dusun ini, yang senantiasa mengajarkan keberanian dan kesabaran kepada orang-orang yang lebih muda.
"Mak, maafkan dosa-doa saya, ya? Saya berjanji kepada Mak, saya akan menemukan cucu Mak," pekik paklik.
Aku dan Parto yang mendengar ucapan itu merasa seperti diiris hati kami. Betapa sakitnya luka yang paklik dan bulik rasakan sampai saat ini. Luka yang hanya bisa disembuhkan dengan ditemukannya anak mereka satu-satunya itu. Aku berdoa di atas pusara mbah Arni, semoga dosa-dosa mbah Arni diampuni oleh Allah SWT. Dan amal ibadahnya selama hidup, diterima oleh Allah SWT, serta kami berdoa semoga paklik dan bulik segera bisa dipertemukan dengan anak semata wayang mereka itu.
Malam harinya setelah magrib, masyarakat sekitar berbondong-bondong berdoa bersama di rumah mbah Arni. Saking banyaknya warga yang hadir, di depan rumah mbah Arni sampai digelar beberapa gulung terpal. Acara berjalan dengan khusyu dan khidmat, mbah Nur yang memimpin acara itu. Saat berdoa, aku dan Parto kembali meneteskan air mata. Kami ingat sudah banyak dibantu oleh mbah Arni dalam mengungkap misteri di dusun ini dan menyelamatkan ibuku yang pernah diculik oleh almarhum mbah Agus.
Menjelang waktu isya, acara tahlilan selesai dilaksanakan. Sepulang dari rumah mbah Arni, aku dan Parto mampir di masjid untuk menunaikan salat Isya secara berjamaah. Setelah itu, kami berdua pun pulang menuju ke rumah masing-masing.
Beberapa menit di rumah, aku mendengar suara pintu depan diketuk seseorang. Aku pun segera menuju pintu depan. Aku pun membuka daun pintu, setelah kubuka ternyata tidak ada siapa-siapa di depan rumah. Aku mengedarkan pandangan sekeliling untuk mencari orang itu, mungkin orang yang mengetuk pintu keburu pergi sebelum aku membuka pintu. Namun, tidak ada seorang pun di luar sana. Aku pun menutup pintu kembali dan berjalan menuju salah satu kursi di ruang tamu. Baru saja aku duduk di kursi tamu, pintu depan kembali diketuk seseorang dari arah luar.
"Siapa?" teriakku.
Hening. Tidak ada jawaban dari arah luar. Aku pun berjalan perlahan-lahan menuju pintu. Dan kembali aku berteriak.
"Siapa di luar?"
Entah karena tidak mendengar teriakanku, tidak ada jawaban yang kudengar. Namun, kali ini aku melihat dengan jelas, di depan pintu benar-benar ada seseorang yang sedang berdiri menunggu pintu dibuka.
Bersambung
Maaf cuma update satu dulu, ya? Nanti mau update lagi.