KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 67 : INSIDEN DI KAMAR MANDI


Syukur alhamdullah, novel 'Kampung Hantu' berhasil meraih juara pertama di dalam ajang kontes 'Cerita Seram' yang diadakan oleh Noveltoon. Ini merupakan kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri bagi saya sebagai author pemula. Tentunya semua itu juga ditunjang oleh dukungan dan doa para pembaca setia novel 'Kampung Hantu'.


Bu Mega menatap ekspresi wajah lemas kami dengan geli. Hilang sudah kesan judes yang pertama kali ia tunjukkan kepada kami. Berganti dengan kesan ramah dan atraktif.


"Bukan hanya Kak Rengga loh, alumni yang menjadi guru di sekolah kalian. Saya dengar-dengar teman seangkatan bapakmu, kak Ratih juga menjadi pengajar di sana," ujar bu Mega.


"Iya benar, Bu. Bu Ratih menjadi guru matematika di sekolah kami. Beberapa guru lain juga merupakan alumni, meskipun tidak seangkatan dengan bapakku atau Bu Mega," jawabku.


"Bapakmu dulu itu banyak digemari anak perempuan, termasuk kak Ratih. Dia itu paling cemburu kalau bapakmu dekat dengan anak perempuan lain," sambung bu Mega.


"Kok Bu Mega tahu?" tanyaku penasaran.


"Ya, iyalah. Waktu SMP aku kan aktif di ekskul musik. Bapakmu itu sering sekali main ke ruangan musik. Kalau sudah seperti itu, bisa dipastikan besoknya kak Ratih jadi sewot," jawab bu Mega.


Kami berlima saling bertatapan mendengar cerita tentang bu Ratih tersebut.


"Tapi, kalian harus tetap menghormati kak Ratih, ya? Itu kan sudah lama kejadiannya. Waktu kak Ratih masih belia. Jadi, wajar kalau ia masih bersikap seperti itu," lanjut bu Mega.


Fajar memberi isyarat dengan mencolek lenganku. Aku paham maksudnya, dia sedang menyuruhku untuk menanyakan tentang pemanggilan Bapak dan teman-temannya.


"Apa Bu Mega masih ingat, dulu bapakku dan teman-temannya pernah dipanggil BP bersamaan dengan pemanggilan Bu Mega?" cetusku.


Bu Mega terbelalak dengan pertanyaan spontanku itu. Kemudian ia menarik napas dalam-dalam.


"Saya sangat ingat sekali dengan kejadian itu. Memangnya kenapa?" Bu Mega balik bertanya.


Aku tergagap mendengar pertanyaan dari bu Mega. Untunglah Fajar peka dengan keadaan. Iapun menyela, "Kedatangan kami ke sini ingin mengetahui tentang pemanggilan itu karena saat ini di sekolah sedang terjadi peristiwa yang tidak mengenakkan. Kami mensinyalir, kejadian ini ada hubungannya dengan pemanggilan pak Hasan dan bu Mega."


Bu Mega mengernyitkan dahinya seolah tidak yakin dengan yang disampaikan oleh Fajar.


"Peristiwa tidak mengenakkan apa? Apa hubungannya kejadian puluhan tahun yang lalu dengan keadaan sekarang?" pekik bu Mega.


"Saya mohon Bu Mega mau menceritakan secara detil pemanggilan tersebut. Nanti kami akan menyampaikan peristiwa tidak enak tersebut," seloroh Fajar.


"Baiklah, saya akan menceritakan tentang kejadian itu. Ceritanya waktu itu pas bel pulang sekolah, saya pergi ke kamar mandi karena kebelet. Tiba-tiba saya mendengar suara keributan dari arah belakang kamar mandi. Saya pun keluar dari kamar mandi. Saya melihat semua anak berlarian menuju halaman belakang sekolah. Saya pun ikutan berkerumun di sana. Ternyata di sana sudah ada guru BP yang sedang menjewer telinga kak Hasan dan teman-temannya. Mereka dibawa ke ruangan BP. Setelah mereka selesai disidang, tak lama kemudian saya juga dipanggil. Saya ditanya oleh guru BP, 'Apakah ketika di kamar mandi ada yang mengintip?' Saya menjawab tidak tahu karena saya memang tidak memergoki siapa pun sedang mengintip saya," jawab bu Mega.


"Oalah, jadi bapakku dan teman-temannya dipanggil guru BP bukan karena berbuat tidak senonoh terhadap Bu Mega?" tanyaku dengan berapi-api.


"Ya, enggaklah. Bapakmu itu orangnya baik dan sopan. Tidak mungkinlah dia berbuat seperti itu," teriak bu Mega. Aku menghembuskan napas dengan lega.


"Lantas, kenapa bapakku dan teman-temannya dijewer dan dipanggil ke ruangan BP?" tanyaku kembali.


"Mereka itu dijewer dan dipanggil ke ruang BP karena mau mengeroyok seseorang di belakang kamar mandi," jawab bu Mega.


"Bukan! Bukan siswa yang mau dikeroyok. Awalnya saya tidak tahu kenapa bapakmu dan teman-temannya mau mengeroyok orang itu. Namun, bapakmu bilang kalau ia dan teman-temannya emosi memergoki orang itu mengintip ke kamar mandi perempuan. Tapi guru BP tidak mempercayai keterangan dari kak Hasan dan teman-temannya. Beliau lebih mempercayai keterangan orang itu. Soalnya guru BP sudah mengenal baik orang itu." lanjut keterangan bu Mega.


"Ooo ...," ucapku dan keempat temanku yang lain secara bersamaan.


"Kayaknya kita sudah salah menduga, Im. Bu Mega ini tidak mengalami peristiwa tragis seperti yang sudah kita duga sebelumnya," cetus Lidya.


"Peristiwa tragis?" pekik bu Mega secara tiba-tiba. Matanya menatap nanar ke arah kami berlima.


"Iya, Bu. Apa Bu Mega mengingat sesuatu?" tanya Lidya. Tatapan mata bu Mega masih nanar.


"Bukan saya yang mengalami peristiwa tragis, tapi orang lain ...," pekik bu Mega.


"Apa maksud Bu Mega?" Aku bertanya.


"Aku memiliki teman sepantaran bernama Tari. Kami bersahabat sejak masih kecil. Tiap hari aku berangkat ke sekolah bersama dengan Tari. Kami sama-sama naik sepeda ke sekolah. Dibandingkan aku, Tari ini lebih dekat persahabatannya dengan ibumu. Maklum, Tari sekelas dengan ibumu. Tarilah yang memperkenalkan aku dengan ibumu. Sama denganku, Tari juga bergabung dengan ekskul musik. Bedanya, aku cenderung ke alat musiknya, kalau Tari fokus ke urusan vokal. Bahkan Tarilah yang menciptakan lagu andalan sekolah waktu itu. Oh ya, Tari sempat dekat dengan bapakmu." Bu Mega bercerita sambil berjalan ke arah tempat piano.


"Mereka berdua pacaran?" potongku. Bu Mega tersenyum lembar sembari membuka penutup tuts pianonya.


"Tidak, hanya sebatas saling mengagumi saja. Tari kagum dengan bapakmu yang pandai bermain bola, sedangkan bapakmu kagum kepada Tari karena pandai menyanyi dan mengaransemen lagu. Sudah, seperti itu saja hubungan mereka. Ada satu orang yang lebih menyukai Tari lebih dari bapakmu. Dia sangat perhatian kepada Tari ...," lanjut bu Mega.


"Siapa dia, Bu?" pekikku spontan.


"Kak Rengga. Diam-diam kak Rengga mengagumi Tari. Dia sering menemani kami berdua dari sekolah sampai jembatan gantung di depan, kalau kami berdua pulang kesorean. Tari itu anaknya kan mandiri. Kalau sepedanya rusak, dia tidak mau membonceng aku. Dia berangkat lebih pagi dari biasanya, jalan kaki dari sini ke sekolah. Namun, kalau berpapasan dengan ibumu ia tidak bisa menolak untuk dibonceng. Pulangnya ya diantar oleh kak Rengga, pengagum beratnya."


Kami berlima melongo mendengar cerita bu Mega.


"Apakah Tari dan Pak Rengga pacaran?" tanyaku lagi.


"Kak Rengga tipe orang yang serius. Baginya pacaran itu tidak penting, yang penting adalah selalu ada jika dibutuhkan oleh Tari. Tari sendiri bukanlah orang yang senang bergantung kepada orang lain. Tari hanya mau diantar oleh kak Rengga pada saat-saat tertentu saja," jawab bu Mega.


"Di mana Tari sekarang, Bu?" Aku bertanya dengan penuh rasa penasaran kepada bu Mega.


Bu Mega tidak langsung menjawab pertanyaanku. Ia mulai memainkan sebuah lagu dengan menggunakan piano tua yang ada di depannya. Suasana yang semula tenang mendadak menjadi mistis ketika lagu andalan sekolah itu dimainkan. Bulu kudukku tiba-tiba merinding. Aku merasakan kehadiran sosok tak kasat mata di dalam ruangan itu. Terlebih, ketika bu Mega secara atraktif memainkan tuts-tuts piano pada bagian reff-nya.


Bersambung


Jangan lupa like, komen, dan vote-nya!


Salam seram bahagia.