
Malam itu, Rama dan Ratu Sari sedang santai di teras rumah mereka sambil membelai kehamilan di perutnya yang memasuki trimester kedua. Ratu Sari terlihat agak manja, dan termenung menerawang kisah masa lalu dan mulai bercerita tentang masa kecilnya kepada Rama, suaminya.
Ratu Sari: "Kamu tahu tidak Rama, bahwa Ibuku sebenarnya seorang manusia bernama Dewi Ratih?"
Rama: "Tidak, aku tidak tahu. Lalu bagaimana bisa kamu menjadi putri dari Raja Piningit?"
Ratu Sari: "Ibuku menikah dengan Raja Piningit ketika masih muda, tapi sayangnya dia menghilang saat aku masih kecil. Ayahku banyak menceritakan sosok Ibuku saat masa kehilangannya."
Pada zaman dahulu, di sebuah dusun yang menjadi cikal bakal Kampung Hantu, hiduplah seorang wanita cantik bernama Dewi Ratih. Ia tinggal bersama ibunya yang merupakan dukun bayi terkenal di dusun tersebut. Dalam legenda Jawa, Dewi Ratih digambarkan sebagai dewi kecantikan, sehingga kecantikannya menjadi salah satu aspek yang sangat menonjol dari dirinya. Karena kecantikannya itu pula, Dewi Ratih sering menjadi sasaran perhatian para pria di dusun tersebut.
Sejak masa kecil, Dewi Ratih sudah terlihat sangat cantik dan mempesona. Rambutnya yang panjang dan hitam terurai indah, kulitnya putih bersih, serta matanya yang tajam dan memikat. Selain itu, ia juga memiliki sikap yang lemah lembut dan sopan santun.
Kecantikan Dewi Ratih semakin menonjol ketika ia memasuki masa remaja. Tubuhnya yang ramping dan anggun, wajahnya yang memesona, serta sikapnya yang ramah membuat banyak laki-laki terpesona, tidak terkecuali Raja Piningit dari kerajaan Jin Aliran Putih.
Raja Piningit sendiri akhirnya melihat kecantikan Dewi Ratih ketika ia sedang berburu di hutan dan melewati dusun yang menjadi cikal bakal Kampung Hantu. Ia tertarik dan ingin mengetahui siapa gadis cantik tersebut. Setelah melalui berbagai macam perjuangan dan rintangan, Raja Piningit akhirnya berhasil mendapatkan hati Dewi Ratih dan meminangnya sebagai istrinya. Dewi Ratih juga merasa tertarik pada Raja Piningit dan menerima lamarannya. Namun, mereka tidak dapat menikah di dusun karena Raja Piningit adalah Raja Jin. Maka, mereka memutuskan untuk menikah di istana Kerajaan Jin Aliran Putih.
Meskipun kecantikan Dewi Ratih sangat mempesona, namun bukan hanya itu saja yang membuat Raja Piningit jatuh cinta kepadanya. Ia juga terpikat dengan sikap lemah lembut dan kesopanan Dewi Ratih, serta kecerdasannya yang luar biasa. Kecantikan dan kepribadian yang dimiliki Dewi Ratih membuat Raja Piningit semakin yakin bahwa ia adalah wanita yang tepat untuk menjadi istrinya.
Pada saat pesta pernikahan Raja Piningit dan Dewi Ratih, kecantikan Dewi Ratih semakin terpancar dengan gemerlap perhiasan yang dipakainya di hari pernikahan. Pakaian pengantinnya sangat megah dan indah, ditambah dengan mahkota dan kalung mutiara yang mempercantik dirinya. Berita pernikahan ini pun tersebar hingga ke penjuru kerajaan Jin di tanah Jawa, dari ujung barat hingga ujung timur.
Setelah menikahi Dewi Ratih, Raja Piningit merasa sangat bahagia dan bersyukur hidup berkeluarga di Kerajaan Jlnnya. Selang 8 bulan kemudian, Raja Piningit dikaruniai seorang bayi putri yang begitu cantik pula, namun mengikuti ayahandanya berwujud Jin. Mereka memberinya nama Ratu Sari. Ratu Sari tumbuh menjadi seorang putri yang cerdas dan cantik, dengan rambut hitam panjang dan kulit yang bercahaya seperti ibunya. Dia juga memiliki kemampuan magis yang sangat kuat, karena warisan dari ayahnya yang merupakan seorang Raja Kerajaan Jin Aliran Putih.
Kebahagiaan keluarga kecil Raja Piningit tidak berlangsung selamanya, karena saat usia Ratu Sari 5 tahun, Raja Piningit terpaksa harus berkelana ke kerajaan Jin Blambangan yang dipimpin oleh Raja Maheswara. Informasi yang didapatkan Raja Piningit saat itu, Raja Maheswara membutuhkan bantuan akibat ulah Ki Sabrang yang bermaksud mengambil ajian Ki Ageng Selo.
Raja Piningit yang mendengar kabar penculikan tersebut dari jauh, segera kembali pulang ke kerajaan Jin Aliran Putihnya untuk memastikan kondisi keluarga dan kerajaannya. Raja Piningit bulan hanya menemukan kondisi istananya yang porak poranda dihancurkan oleh Buto Ijo, tapi juga menemukan putrinya Ratu Sari yang hanya seorang diri di kamarnya.
Raja Piningit sedih, dan melakukan pencarian besar-besaran atas keberadaan istrinya, Dewi Ratih. Namun Buto Ijo berhasil menutup mata batin Raja Piningit, dan menyembunyikan Dewi Ratih bukan di Kerajaan Jin Puncak Gunung Lawu, melainkan di seberang pulau Jawa, tepatnya di goa tengah alas di pulau Bali.
Tadinya Buto Ijo sendiri yang mengawal persembunyian Dewi Ratih di Tanah Pulau Bali, namun mendengar kabar huru-hara di Gunung Lawu oleh Ki Sabrang, Buto Ijo pun kembali ke kerajaan Jin di Puncak Gunung Lawu. Jadilah Dewi Ratih menjadi tawanan seorang diri di Gua tengah alas di Tanah Pulau Bali.
Dewi Ratih merasa sedih dan putus asa karena terpisah dari suaminya dan putrinya yang masih kecil, serta kelemahannya sebagai manusia yang tidak bisa melarikan diri dari tahanan Buto Ijo. Hari-harinya selama ditawan hanya dihabiskan untuk menangis dan memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, semoga ada yang bisa menolongnya.
Air mata Dewi Ratih menjadi embun yang jatuh ke bumi dan menjadi sumber mata air di sungai dekat goa Bali. Kesedihan dan ratapan doanya untuk bisa kembali ke keluarganya, membuat Dewa Surya yang mendengar doa-donya, merasa iba dan memutuskan untuk membantunya.
Dewa Surya memberikan cahaya dan kekuatan kepada Dewi Ratih sehingga ia melarikan diri dari goa di tengah hutan yang gelap. Namun, dalam pelariannya tersebut, Dewi Ratih mendapatkan serangan dari penjaga Buto Ijo sehingga banyak luka yang dialami nya. Oleh karena itulah, kemudian Dewi Ratih diangkat ke langit oleh Dewa Surya. Dan kemudian Dewi Ratih dijadikan sebagai Dewi Bulan di Tanah Bali, disebabkan karena saat pengangkatan tersebut terjadi di malam bulan purnama penuh dan sebagai simbol atas kecantikan dan kebaikan Dewi Ratih.
Raja Piningit dan Ratu Sari yang masih merasa sedih selama pencarian DewiRatih tidak kunjung ketemu, akhirnya mendapatkan wangsit dari Tuhan bahwasanya Dewi Ratih sudah moksa dan diangkat menjadi Dewi Bulan yang melegenda di Tanah Bali. Keikhlasan atas kepergian Dewi Ratih tersebutlah yang akhirnya menginspirasi Raja Piningit menciptakan Ajian Tyaga. Sedangkan Ratu Sari akhirnya dibesarkan hanyan oleh Ayahnya, dibantu dayang-dayang istana Kerajaan Jin Aliran Putih.
Ratu Sari menggenggam tasbih kecilnya dengan erat saat ia menceritakan dengan penuh penghayatan, saat kehilangan Ibunya Dewi Ratih, kepada Rama. Air mata jatuh membasahi pipinya ketika ia mengingat kembali saat itu.
"Ibuku diculik oleh Buto Ijo dan di bawa jauh ke tanah Bali," ujar Ratu Sari dengan suara lirih. "Aku tidak pernah bisa bertemu dengannya lagi. Tapi aku masih percaya dan berharap, suatu hari aku bisa bertemu dengannya sebelum aku pergi menghadap yang Kuasa."
Ratu Sari merenung sejenak, menerawang ke dalam jauh. "Ibuku memberitahuku bahwa kehidupan kita seperti bulan yang selalu berubah-ubah. Kadang bulan purnama bersinar dengan terang, kadang bulan hilang dan tak terlihat. Tapi selalu ada harapan untuk melihat bulan kembali. Itu wangsit terakhir yang memberikan pula Ibuku sudah diangkat menjadi Dewi Bulan."
Ratu Sari menarik napas dalam-dalam dan memandang ke arah langit malam yang cerah. "Aku yakin, Ibuku sekarang yang menjadi Dewi Bulan di langit Bali, masih mengamati putrinya yang tetap merindukannya di sini. " Dengan tasbih masih dipegang erat, Ratu Sari menutup matanya dan menjatuhkan kepalanya di dada Rama sembari berdoa semoga ia bisa memenuhi harapannya untuk bertemu dengan Ibunda sebelum waktunya berakhir.