
Syukurlah, Gatot kali ini mau mendengarkan omongan Fajar. Mungkin saja ia masih trauma setelah tadi bertemu siluman di sungai. Gatot berjalan di sebelah Fajar, salah satu anak mundur menggantikan posisi Gatot sebelumnya. Setelah itu kamipun mulai melangkah lurus mengikuti kelokan sungai, hingga sampai di dekat para petani itu.
"Assalamualaikum ...," ucap Fajar.
"Waalaikumsalam ...," jawab bapak-bapak yang berada paling dekat posisinya dengan kami.
"Adik-Adik ini ikut penjelajahan, ya?" tanya seorang ibu yang tiba-tiba merapat ke bapak yang tadi. Dari perbedaan usianya sepertinya dia adalah istrinya.
"Iya, Bu. Kami sedang penjelajahan di dusun ini," jawab Gatot dengan nada sopan.
"Wah, hebat Kalian ini. Gimana tadi pas keliling-keliling apakah aman?" tanya ibu itu lagi.
"Hem, ada sich gangguan. Tapi syukurlah semua sudah kami lewati. Maaf, apakah daerah ini memang angker?" tanya Fajar.
Ibu itu menghela napas kemudian berkata.
"Bukan hanya angker, Dik. Tapi sudah terkenal sangat angker, masak orang tua atau guru kalian tidak ada yang memberi tahu?" Ibu itu balik bertanya.
"Ada sich, tapi informasi yang kami dapat tidak banyak tentang hal-hal ghaib tersebut," jawab Lidya.
"Ya sudahlah, yang penting Kalian tetap menjaga etika dan kebiasaan warga di sini. Insyaallah Kalian akan selamat sampai di rumah. Kalian sudah tahu, kan? Kalau lewat di kebun kopi tidak boleh tolah-toleh?" tanya si bapak.
"Iya, Pak. Kami sudah diberitahu oleh kakak kelas kami, perihal tersebut," jawab Cindy sambil meringis.
"Syukurlah, kalau Kalian sudah mengetahui hal tersebut. Kalau sudah tidak ada yang ditanyakan, mohon maaf kami mau melanjutkan pekerjaan kami kembali. Soalnya sudah cukup sore. Kami tidak berani pulang terlalu sore," ucap bapak itu.
"Emangnya rumah Bapak, jauh dari sini?" tanyaku penasaran.
"Iya, kami dari kampung sebelah situ. Kebetulan kami sedang bekerja di sawahnya Kanjeng Romo," jawab bapak itu sambil menunjuk ke arah utara, membelakangi kuburan umum.
"Oalah, jauh juga ya? Oh iya, kami mau bertanya mengapa sawah-sawah di sini terlihat apik, tanamannya diatur, ada bunga-bunga, dan sebagainya. Pokoknya beda dengan sawah-sawah di tempat lain, apakah Bapak dan Ibu tahu bagaimana cara mengelolanya?" tanyaku lagi.
Bapak dan ibu itu saling bertatapan, kemudian si bapak berkata.
"Gini, Dik. Sebenarnya sawah seluas ini milik Kanjeng Romo semuanya. Awalnya Kanjeng Romo ingin membuka daerah ini menjadi daerah wisata agro, tapi tidak jadi. Kami ini juga termasuk yang menanam dan merawat tanaman-tanaman itu," ucapnya.
Bapak dan ibu petani itu saling berpandangan lagi, kemudian raut wajahnya berubah.
"Sudah ya, Dik. Kami mau melanjutkan pekerjaan kami kembali," ucap bapak itu seraya berjalan menuju teman-temannya yang terlihat asik memanen padi. Wajah-wajah mereka terlihat tersenyum gembira. Mungkin mereka sangat menikmati pekerjaan itu.
"Baiklah, Pak. Terima kasih. Kami pamit pupang. Assalamualaikum," teriak Fajar kepada bapak dan ibu itu.
"Waalaikumsalam, ..." jawab mereka berdua tanpa menoleh ke arah kami.
Kamipun melanjutkan perjalanan kami melintasi indahnya area persawahan milik Kanjeng Romo yang indah nan asri.
"Siapa sebenarnya Kanjeng Romo itu? Kaya sekali orang itu,"
Matahari sudah mulai rapat di ujung barat, ketika di depan kami terdapat deretan pohon kopi di kanan dan kiri. Dari arah kami berdiri, buahnya sudah mulai kemerahan, saatnya untuk dipanen. Aku menoleh ke belakang, ke arah para petani tadi. Agak jauh sudah posisi mereka dari tempar kami ini, tapi aku masih bisa melihat dengan jelas posisi mereka. Ada keanehan yang terlihat. Aku mencolek Fajar.
"Jar, apa Kamu tidak merasa aneh dengan para petani itu?" ucapku.
"Keanehan apa, Im. Tidak ada yang aneh aku rasa. Jangan parno, lah! Mereka tadi ramah banget, kan?" protes Fajar.
"Lihat, posis bapak dan ibu itu, mengapa sejak tadi posisinya tidak berubah. Tetap berdiri berdampingan di sana. Dan lihat orang-orang yang lain! Semua posisi mereka nyaris tidak ada yang berubah, layaknya patung lilin? Setahuku, kalau panen, mereka akan berpindah kesana-kemari. Tidak statis seperti itu. Benar kan, Jar?" Aku melanjutkan perkataanku.
Fajar tiba-tiba melotot dan memandangi para petani yang terlihat mematung itu. Dari deru napasnya, aku tahu ia mulai merasa ngeri.
Bersambung
Gimana, Kak? Suka kan dengan ceritanya?
Jangan lupa baca novelku yang satunya ya! Judulnya MARANTI. horo banget pokoknya dan sudah tamat.
Bantu like dan promo juga ya, Kak. Biar banyak temannya yang baca novelku.
Terima kasih, Kakak