
Bulu tengkukku tiba-tiba berdiri mendengar suara ketukan tak wajar dari ruangan pribadi pak Rengga itu. Tapi ketika kutajamkan pendengaran dan penglihatanku ke arah pintu itu, suara ketukan itu tidak terdengar lagi. Aku pun segera melanjutkan pekerjaanku kembali menyapu lantai ruangan laboratorium IPA tersebut yang cukup berdebu.
Sambil menyapu ruangan tersebut, aku memperhatikan suasana di luar ruangan tersebut yang ternyata hening, tidak ada seorang pun di luar sana. Akhirnya dengan penuh rasa deg-degan, aku pun berhasil membersihkan seluruh ruangan tersebut. Dan kini saatnya aku untuk meletakkan sapu dan lap kain itu di tempatnya semula, yaitu di balik pintu. Nahasnya, ketika aku bermaksud meletakkan sapu dan lap itu di balik pintu, tanpa sengaja aku menarik pintu terlalu kuat, sehingga pintu itu tertutup dengan rapat. Dengan rasa panik, aku pun berusaha menarik gagang pintu itu. Sayangnya, usahaku tidak berhasil. Pintu itu seperti tak sengaja terkunci, sedangkan aku tidak memegang kuncinya. Upayaku berkali-kali gagal untuk membuka pintu itu. Akhirnya aku mencoba cara lain agar bisa keluar dari ruangan tersebut. Aku mencari jendela untuk bisa keluar dari sana. Tapi, semua jendela dilindungi oleh teralis besi. Otomatis, aku tidak bisa berbuat banyak untuk menerobos teralis besi itu.
Dalam keadaan panik seperti itu, tiba-tiba aku merasa ada seseorang sedang berdiri di belakangku. Aku menoleh ke belakang, tidak ada siapa-siapa di sana. Tapi bulu kudukku merinding saat itu. Aku mengalihkan perhatianku kembali untuk mencari celah supaya bisa keluar dari ruangan tersebut. Sayangnya, aku tidak menemukan solusinya. Justeru, kali ini aku merasa kembali ada seseorang sedang berdiri di belakangku. Kembali aku menoleh untuk memastikan dugaanku, lagi-lagi tidak ada siapa-siapa di belakangku. Tapi, ada hal mengejutkan yang aku lihat sekarang di dalam ruangan itu. Pintu ruangan pribadi pak Rengga tiba-tiba terbuka lebar. Bulu kudukku merinding seketika, karena aku yakin tadi pak Rengga sudah menguncinya rapat-rapat sebelum pergi. Tidak mungkin manusia biasa dapat melakukan hal tersebut.
Benar saja dugaanku, belum lama aku berpikir dengan hal gaib. Tiba-tiba di depan mataku muncul sosok dengan rambut panjang menguntai menutupi wajahnya. Ia tidak berdiri, tapi mengesot di lantai dengan tubuh penuh dengan darah.
"T-tari?" pekikku dengan gemetar.
Tapi, aku melihat kali ini arwah Tari tidak seperti biasanya. Ia terlihat sangat marah seolah ingin menyakitiku. Tangannya menggaruk-garuk lantai sehingga membuatnya darah mengalir deras dari tangannya. Antara ngeri dan takut yang aku rasakan saat itu. Tidak cukup di situ saja, arwah Tari mengesot mendekati aku. Secara refleks aku pun mundur untuk menghindari bersentuhan dengannya.
"Jangan Tari! Aku berjanji akan mengungkap pembunuhmu!" pekikku.
Bukannya senang karena mendengar ucapanku, arwah Tari terlihat semakin marah. Kali ini ia semakin cepat mengejarku. Ia tidak lagi ngesot, tetapi lebih ke menggelincir di atas lantai. Sehingga aku harus bergerak cepat untuk menghindari kejarannya.
"T-t-tidak Tari! J-jangan!" teriakku.
Tari menyeringai ke arahku sambil menggelincir di atas lantai. Aku terus berlari menjauhinya. Namun, Tari tidak mau menyerah mengejarku, bahkan kali ini ia bergerak lebih cepat. Hingga akhirnya tepat di depan ruangan pribadi pak Rengga, ia berhasil memegangi pergelangan kakiku sehingga aku jatuh dan terjerembap di dalam ruangan pribadi pak Rengga.
Aku berusaha bangkit, namun terasa berat. Ketika aku menoleh ke belakang, ternyata tubuh Tari sedang berada di atas punggungku.
"Aaaaaargh!!!" suara teriakanku karena kaget.
"Aaarghhh! Pergiiiii!" teriakku dengan mata terpejam karena ngeri.
Dalam hati aku menunggu apa yang akan dilakukan Tari setelah memegangi bajuku. Tapi, beberapa detik kupejamkan mata, tidak juga ada yang diperbuat oleh arwah itu padaku. Aku pun memberanikan diri membuka mataku kembali. Ternyata arwah Tari sudah tidak ada di kursi itu lagi. Entah dari mana pikiran itu datang, mataku tiba-tiba terfokus pada sebuah buku di atas meja pak Rengga. Di antara buku-buku yang lain, aku merasa sangat penasaran dengan isi buku yang menyerupai buku harian itu. Dan secara perlahan aku mengambil buku itu dari tempatnya. Suasana yang semula mencekam karena kehadiran sosok Tari, entah mengapa tiba-tiba menjadi tidak seram lagi. Mungkin Tari memang ingin aku membaca buku harian itu.
Aku membuka satu persatu isi buku harian itu. Di awal-awal isi buku berisi tentang awal mula pertemuan pak Rengga dengan Tari. Aku terbawa romansa isi buku harian itu ketika membacanya. Ternyata, pak Rengga cukup handal merangkai kata-kata. Pada bagian tengah dan akhir isi buku harian itu, aku terperangah dan terkejut. Lebih tepatnya aku syok membaca isi buku harian tersebut. Seharusnya, aku tidak perlu membaca buku tersebut. Namun, entah mengapa Tari seperti menyuruhku untuk membaca isi buku harian itu. Karena tidak sanggup untuk meneruskan bacaanku, aku pun meletakkan buku itu kembali ke tempat semula.
"Ya Tuhan, aku tak menyangka pak Rengga mampu melakukannya?"
Rasa seram di ruangan tersebut kembali kurasakan, terlebih saat itu tiba-tiba ada sesuatu bergerak di dalam lemari es, seolah mau keluar saja. Aku pun segera berlari ke luar ruangan pribadi pak Rengga tersebut menuju ke ruangan utama. Aku merasa seperti Tari sedang mengejarku lagi.
Akhirnya aku bisa keluar dari ruangan tersebut dengan selamat. Tetapi, aku masih harus melewati pintu utama ruangan laboratorium IPA ini, untuk bisa pulang. Entah apa yang terjadi, pintu utama yang awalnya tertutup rapat, kali ini terlihat terbuka lebar-lebar di hadapanku.
Seperti mendapatkan durian runtuh, aku merasa senang akhirnya pintu itu terbuka juga. Entah, siapa yang membukanya aku tidak peduli. Yang ada di dalam pikiranku saat ini adalah cepat-cepat pulang ke rumah. Namun, harapan tinggallah harapan, karena ketika aku akan keluar dari ruangan tersebut, tiba-tiba di depan pintu berdiri seseorang dengan tatapan penuh amarah. Dialah pak Mat, salah satu orang kepercayaan pak Rengga yang sudah lama bekerja di sekolah ini semenjak bapaknya pak Rengga masih bertugas di sekolah ini. Ngeri, itulah yang ku rasakan melihat tatapan penuh amarah pak Mat saat itu, apalagi di tangan kanannya ia memegang sebuah celurit yang sangat tajam.
Bersambung
Terima kasih atas kesetiaan Anda dengan novel ini.
Jangan lupa untuk selalu memberikan like, komentar, dan vote.
Novelku yangmana yang sudah kalian baca?