
Dari sekian banyak makam di area kuburan ini, duduk beristirahat bersama di salah satu makam, yang ternyata adalah makam Mbah Iyem si hantu kebaya ungu di kantin sekolah. Kejadian ini tentunya bukanlah suatu kebetulan semata. Pasti ada energi yang mengarahkan kita secara tanpa sadar untuk duduk di tempat ini, di dekat makam Mbah Iyem. Entahlah, kami belum mengetahui penyebab kejadian aneh ini. Yang jelas, Gatot sebagai anak yang paling dekat posisi duduknya dengan makam Mbah Iyem, menjadi yang paling shock di antara kami. Raut kecemasan sulit disembunyikan dari tatapan matanya yang nanar.
"Pertanda apakah ini?"
Takdir memang sering begitu, ada kalanya kita sudah merasa jauh meninggalkan kenangan lama, bertemu dengan orang-orang baru, di tempat yang baru. Tetapi, ternyata ada saja sesuatu di tempat yang baru itu yang berkaitan dengan kenangan lama.
Sama halnya dengan yang aku alami, bersekolah di tempat yang cukup jauh dari tempat tinggalku. Aku pikir, semua yang akan kutemui di sini adalah hal baru yang tidak ada kaitannya dengan kehidupanku semasa SD. Ternyata banyak hal di tempat ini, ada hubungannya dengan kehidupanku di rumah. Bapakku ada kaitannya dengan kemunculan hantu bayi di sekolah, Pak Rengga ternyata temannya Cak Pandir, dan Pak Anton ternyata dipindahtugaskan ke Polsek dekat sekolah.
Aku juga tidak mungkin menghindari suratan takdir tersebut. Setelah melalui banyak bersentuhan dengan hal-hal ghaib semasa SD, kupikir aku tidak akan mengalami kejadian ghaib kembali ketika sudah SMP. Ternyata aku salah, di SMP kejadian demi kejadian ghaib masih menghantui kehidupanku di sini.
"Mungkin ini cara Tuhan untuk membuatku lebih dewasa dan sebagai ladang ibadah dan bersosialisasi dengan orang-orang baru,"
Dengan perlahan kami meninggalkan makam Mbah Iyem setelah mendoakan almarhumah, supaya diampuni segala dosanya dan diterima amal ibadahnya selama hidup. Bunga-bunga kamboja yang jatuh tertiup angin, menjadi saksi betapa mencekamnya situasi di pemakaman umum dusun Karangjati waktu itu.
Benar kata pepatah, bisa karena terbiasa. Setelah bermenit-menit melalui deretan batu nisan dan rimbunnya bunga kamboja, lama-lama jiwa kamipun seperti menyatu dengan keadaan itu. Beberapa langkah kemudian, Fajar yang berada di depan menghentikan barisan.
"Ada apa, Jar?" teriakku yang berada di barisan paling belakang.
"Eh, anu, Im. Di depan ada persimpangan. Padahal seingatku dan Lidya, tidak ada keterangan persimpangan jalan di kuburan ini. Kami bingung harus memilih yang mana?" jawab Fajar.
"Tunggu, di jalan yang sebelah kanan, sepertinya ada seseorang yang duduk di pinggir sjalan setapak," teriak Cindy sambil mengacungkan tangannya ke semak-semak.
"Iya, ada orang yamg duduk-duduk di pinggir setapak, membelakangi kita," sahut Gatot.
"Berarti kita pilih jalan yang ke kanan saja, sambil kita tanya orang itu, siapa tahu ia sempat melihat anak-anak kelompok lain lewat sini," ucapku.
Kamipun berjalan melalui setapak sebelah kanan. Semakin kita mendekat, semakin terlihat jelas sosok yang sedang duduk membelakangi kami itu, ternyata ia adalah seorang perempuan dengan kebaya berwarna ungu dan jarik usang.
Kami terperanjat melihat tampilan fisik perempuan itu yang secara ciri-ciri pakaian menyerupai sosok Mbah Iyem yang pernah muncul di kantin sekolah. Tapi kami seperti terkena hipnotis, dalam rasa kalut dan takut, kami tetap berjalan mendekati perempuan itu.
Bersambung
Jangan lupa baca novelku yang lain, yang berjudul MARANTI (sudah tamat).
Sampai jumpa next episode ya?