KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
Jelajah Waktu Perdana


Ratu Sari kemudian tertidur setelah menumpahkan cerita rasa rindu terhadap Ibundanya, dan Rama pun menemani tidurnya Ratu Sari di samping ranjang kamar tidur. Namun sambil berusaha memejamkan mata, tidak terasa Rama masih menggenggam HPnya beserta menyimpan pusaka Kujang Pamenang di sabuknya. Dan tidak sengaja pula di dalam hatinya, sekilas Rama teringat Raka. Rama berulang-ulang kali melafalkan Ajian Pralambangun sebagaimana yang diajarkan Raka beberapa waktu lalu. Kemudian Rama juga sambil membayangkan wajah Dewi Ratih, sesuai ilustrasi cerita Ratu Sari. Begitulah ternyata Rama sedang mencoba untuk pertama kalinya menggunakan Ajian Pralambangun supaya bisa kembali ke masa lalu, saat Dewi Ratih ditawan oleh Buto Ijo.


Tiba-tiba, Rama merasakan ada energi aneh yang memasuki ke dalam tubuhnya. Dia merasa takut dan ingin membuka mata, tetapi tak dapat melakukannya. Tubuhnya seakan-akan membeku dan terasa sulit untuk bernafas. Kemudian Rama merasa tubuhnya ditarik oleh kekuatan besar dan masuk lubang energi sehingga seperti melayang cepat ke langit.


Setelah beberapa saat, Rama merasa energi tersebut perlahan-lahan hilang dan tubuhnya terjatuh ke tanah dan Rama merasa kesakitan di sekujur tubuhnya. Dia membuka matanya, lalu terkejut dan bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Apa yang membuatnya merasakan energi seperti itu? Di manakah dia sekarang?


Kemudian, Rama teringat dengan apa yang baru saja dilakukannya. Dia terakhir membayangkan wajah Dewi Ratih dan melafalkan Ajian Pralambangun secara tidak sengaja. Rama teringat bahwa Ajian Pralambangun adalah untuk menjelajahi waktu.


Ajian Pralambangun adalah salah satu ilmu atau mantra dalam tradisi Jawa yang konon dapat digunakan untuk memindahkan diri ke dimensi lain, membuka pintu ruang dan waktu, atau mencapai tujuan spiritual tertentu. Istilah Pralambangun sendiri berasal dari bahasa Jawa yang artinya "terbangun di luar batas".


Ajian Pralambangun dikatakan dapat dikuasai oleh orang yang telah mencapai tingkat kesadaran tertentu dalam meditasi dan spiritualitas. Para ahli spiritual yang menguasai ajian ini dikatakan dapat memindahkan tubuh mereka ke alam bawah sadar, alam astral, atau bahkan dimensi lain.


Proses mempelajari Ajian Pralambangun melibatkan latihan meditasi dan pemusatan pikiran yang intensif. Para ahli spiritual mengatakan bahwa ajian ini hanya boleh dipelajari dengan tujuan spiritual yang benar-benar murni, dan tidak boleh digunakan untuk tujuan jahat atau egois.


Rama sekarang masih keherananan dengan suasana remang yang bermandikan cahaya obor. Dia mengamati, sepertinya dia berada di dalam gua. Dia jadi teringat tutur cerita Ratu Sari tentang Dewi Ratih yang ditawan dalam gua oleh Buto Ijo. Apakah ini gua yang dimaksud? Rama terus berkeliling di dalam gua menuju sumber cahaya yang terlihat lebih terang, dan akhirnya sayup-sayup dia mendengar suara wanita yang melantunkan doa-doa sambil terisak menangis. Rama berusaha mendekat dan dari kejauhan tampak seorang wanita yang kelihatan sudah keibuan, namun masih cantik, sedang bersimpuh menengadahkan telapak tangannya sambil melantumkan doa. Tangisan dan tetesan air mata juga mengalir di pipinya, dan yang membuat Rama terkejut, wanita tersebut juga menyebut-nyebut nama Raja Piningit dan Ratu Sari dalam doanya.


Rama bertanya-tanya dalam hati, apakah benar wanita itu Dewi Ratih sesuai cerita Ratu Sari sebelumnya. Rama pun mendekati wanita tersebut dan menyapanya," Assalamu'alaikum, mohon maaf mengganggu waktunya, Ibu.. "


Dewi Ratih terkejut ketika melihat Rama dan bertanya siapa dia, "Sss, siapa kamu pemuda? Apa yang kamu lakukan di sini? "


Rama: "Saya Rama, suami Ratu Sari putri dari Raja Piningit.. Saya tidak sengaja memasuki portal waktu dari masa depan tahun 2023. Apakah benar Ibu yang bernama Dewi Ratih?"


Dewi Ratih: (masih keherananan) " Iya benar saya Dewi Ratih. Apakah benar ceritamu itu kalau Kamu suami Ratu Sari dan menantu Raja Piningit? "


Dewi Ratih masih belum percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya. Hingga kemudian Rama pun teringat tentang HP yang masih digenggamnya saat melafalkan Ajian Pralambangun. Rama pun bergegas mengeluarkan HPnya dan menunjukkan beberapa foto dan video saat Rama dengan Ratu Sari.


Dewi Ratih yang tadinya masih belum percaya dengan Rama, tapi akhirnya mau menerima Rama menunjukkan foto dan video Ratu Sari. Dewi Ratih agak bimbang, karena Ratu Sari yang ditinggalkannya adalah saat masih kecil berusia 5 tahun, namun yang ditunjukkan Rama adalah foto dan video Ratu Sari yang sudah dewasa dan mengaku adalah istrinya. Dewi Ratih baru mulai percaya ketika Rama mulai menujukkan satu foto dari Raja Piningit yang kebetulan berhasil disimpan dalam HP Rama.


Dewi Ratih pun tertegun, memandangi lama foto Raja Piningit suaminya yang dikenalnya, walaupun agak sedikit tampak guratan keriput di dahinya, dan uban di kepala yang semakin banyak. Dewi Ratih masih mengenal suaminya Raja Piningit dan semakin membuat Dewi Ratih menangis, merindukan suami dan putrinya itu.


Rama: "Maafkan saya, Ibunda Dewi. Saya tidak bisa menjelaskan semuanya dengan rinci bagaimana saya bisa kembali ke masa ini. Tapi saya ingin memberitahu Anda bahwa Ratu Sari sangat merindukan kehadiran Ibunda. Dia ingin sekali bertemu dengan Ibundanya sekali lagi. Dia sedang mengandung putra pertama kami dan sedang melankolis.."


Dewi Ratih: "Ah, Ratu Sari... Putriku yang manis. Aku merindukannya juga. Tapi sayangnya, aku tidak bisa keluar dari sini. Aku sudah menjadi tawanan Buto Ijo dan tidak tahu gua ini lokasinya di mana."


Kemudian Dewi Ratih menceritakan kronologi penculikannya oleh Buto Ijo. Cerita yang disampaikan Dewi Ratih sama persis dengan apa yang diceritakan Ratu Sari ke Rama.


Rama: "Saya mengerti, Ibunda Dewi. Tapi jangan khawatir, saya akan mencari cara untuk membantu Ibunda keluar dari sini dan kembali bertemu dengan Ratu Sari dan Raja Piningit."


Dewi Ratih: "Terima kasih, Rama. "


Rama pun beranjak berdiri dan mohon pamit untuk meninggalkan Dewi Ratih sebentar untuk keluar melihat situasi penjagaan gua. Rama pun menuju mulut gua, kemudian menghitung dan menemui para penjaga gua sebanyak 15 orang di depan pintu keluar gua.


Prajurit 1: "Berhenti! Siapa kamu dan apa yang kamu lakukan di sini?"


Rama: "Saya adalah Rama, suami dari putri Raja Piningit, dan saya mau membebaskan Ibunda Dewi Ratih untuk keluar dari dalam gua ini."


Prajurit 2: "Kamu tidak bisa membawa Dewi Ratih pergi! Dia adalah tawanan Buto Ijo!"


Rama: "Tapi Buto Ijo tidak ada di sini saat ini. Saya akan mengembalikan Dewi Ratih ke keluarganya. Tolong jangan sampai ada kekerasan di antara kita. "


Prajurit 1: "Tidak, kami tidak bisa membiarkan kalian pergi begitu saja. Berarti kami harus mengalahkanmu juga." Dan kelima belas prajurit Buto Ijo pun langsung menyerang Rama.


Rama yang sudah bersiap diri sebelumnya pun akhirnya bisa menghindari serangan dari para prajurit Buto Ijo. Para prajurit ini juga merupakan makhluk siluman, sehingga gerakannya sangat cepat saat menyerang Rama. Ajian Kalimasada dan Ajian Tyaga cukup mampu membawa Rama menghindari dan membalas serangan dari para prajurit Buto Ijo.


Hingga pada puncaknya, dada Rama merasa bergetar hebat saat aura mustika Kalimasada mengeluarkan aura kekuatannya. Tangan Rama pun juga tergetar hebat, saat Pusaka Kujang Pamenang mulai bergerak hendak menyalurkan kekuatan dari aura  mustika Kalimasada. Rama akhirnya menghujamkan Pusaka Kujang Pamenang ke tanah, dan seketika itu radiasi kekuatan mematikan aura mustika Kalimasada menyebar hingga radius 5 km dari tempat Rama berdiri. Para prajurit Buto Ijo pun akhirnya bisa dikalahkan, dan pohon-pohon di hutan sekitar hutan juga bertumbangan akibat radiasi kekuatan aura mustika Kalimasada.


Rama memeriksa keadaan sekitar gua yang menjadi sepi, para prajurit Buto Ijo pun telah musnah. Kemudian Rama berjalan menuju ke dalam gua untuk menjemput Dewi Ratih supaya keluar dari dalam gua.  Dewi Ratih pun yang semula masih tersimpuh melantunkan doa-doa di dalam gua, akhirnya bersedia mengikuti Rama untuk beranjak keluar dari gua.


Rama menuntun Dewi Ratih keluar dari dalam gua, dan bermaksud mengantarkan kembali Dewi Ratih ke kerajaan jin aliran putih pimpinan Raja Piningit beserta menemui putrinya Ratu Sari. Namun setelah jalan sekitar 300 meter dari mulut gua, tiba-tiba Dewi Ratih merasa kesakitan di punggungnya.


Dewi Ratih: "Aduh, sakit..Aku terluka... Ada anak panah di punggungku."


Rama: "Apa? Siapa yang melakukan ini?"


Rama terkejut ketika melihat punggung Dewi Ratih sudah tertancap anak panah. Seketika itu pula Rama melihat ke arah belakangnya, mencari siapa yang memanah Dewi Ratih.


Rama merasa sangat marah ketika melihat satu prajurit buto Ijo yang menyeringai dan tertawa ketika melihat anak panahnya berhasil menembus punggung Dewi Ratih. Ternyata masih ada sisa satu prajurit Buto Ijo yang baru datang dari hutan dan terselamatkan dari kekuatan mustika Ajian Kalimasada. Tanpa pikir panjang, Rama langsung mengarahkan Pusaka Kujang Pamenang ke arah prajurit itu. Kemudian terdengar suara bergemuruh dan kilatan cahaya terang menyala dari pusaka tersebut sehingga langsung menghancurkan raga prajurit tersebut.


Rama: "Kamu! Kau telah melakukan perbuatan yang sangat jahat, menyerang dari belakang! Kamu sudah melukai Dewi Ratih yang tak bersalah! Kini, rasakan kekuatan dari Pusaka Kujang Pamenang!"


Setelah dipastikan semua prajurit Buto Ijo dikalahkan, Rama menuntun Dewi Ratih yang terluka hingga ke mulut hutan dan berusaha mengobatinya.


Rama: "Ibunda, mari saya bantu menutup lukanya supaya darah tidak keluar terus-menerus."


Rama menyobek sedikit kain baju nya, kemudian mencabut anak panah yang menancap di punggung Dewi Ratih. Dewi Ratih sangat kesakitan saat anak panah tersebut tercabut, darah segar mengucur dengan deras, tapi Rama kemudian segera menutup luka itu dengan kain. Dewi Ratih: "Terima kasih, Rama. Namun sepertinya lukaku sudah terlalu parah, aku merasa lemas. Sekarang ijinkan aku bersiladan berdoa sejenak."


Dewi Ratih kemudian memejamkan matanya dan terlihat melafalkan doa-doa dengan serius. Rama menuruti keinginan Dewi Ratih dan membiarkannya, merasa sedih melihat kondisi Dewi Ratih yang semakin melemah. Setelah beberapa saat, Dewi Ratih membuka matanya dan tersenyum lemah.


Dewi Ratih: "Sudah saatnya bagiku untuk pergi, Rama. Dewa Surya sudah membisikkan petunjuknya kepadaku, bahwa aku akan moksa. Terima kasih atas segalanya, Rama. Sampaikan salamku pada putriku, Ratu Sari, dan suamiku Raja Paningit. Sampaikan kepada mereka bahwasanya Ibunda nya sudah berhasil moksa dan diangkat Dewa Surya menjadi Dewi Bulan yang akan selalu melihat dan menemani Ratu Sari dan Raja Piningit dari atas langit. "


Moksa adalah konsep dalam agama Hindu yang mengacu pada pembebasan dari siklus kelahiran dan kematian (samsara) menuju kesadaran yang menyatukan jiwa individu dengan Sang Hyang Widhi, atau kesadaran kosmis yang mendasarinya. Moksa juga dianggap sebagai tujuan tertinggi kehidupan manusia dalam agama Hindu.


Menurut ajaran Hindu, keberadaan manusia dalam siklus kelahiran dan kematian disebabkan oleh karma, yaitu hukum sebab-akibat yang menentukan nasib manusia di kehidupan selanjutnya berdasarkan perbuatan di kehidupan sebelumnya. Moksa tercapai ketika seseorang mampu melepaskan diri dari lingkaran siklus kelahiran dan kematian dan mencapai kesadaran yang menyatukan jiwa individu dengan Sang Hyang Widhi. Moksa juga dianggap sebagai pembebasan dari semua penderitaan dan perbedaan, serta memungkinkan seseorang mencapai kebahagiaan yang abadi.


Moksa merupakan tujuan yang sangat diidamkan oleh banyak orang Hindu, dan dapat dicapai melalui berbagai cara, termasuk pengabdian kepada Sang Hyang Widhi, melakukan amal baik, memperdalam pengetahuan spiritual, dan mengendalikan pikiran dan emosi. Proses mencapai moksa dapat memerlukan waktu yang lama dan membutuhkan tekad dan usaha yang sungguh-sungguh.


Rama terdiam sejenak, merenungkan apa yang dikatakan oleh Dewi Ratih. Rama merasa sangat sedih dengan ucapan Dewi Ratih, tapi Rama yakin mungkin inilah takdir terbaik dari Yang Maha Kuasa. Rama tetap tidak bisa mengubah takdir walaupun dia sudah berusaha menjelajahi waktu menggunakan Ajian Pralambangun.


Dewi Ratih tersenyum dan mulai berdoa dengan lebih khusyuk lagi. Sinar terang semakin terang dan akhirnya tubuh Dewi Ratih diangkat ke atas langit dalam keadaan bersila sambil terus berdoa. Setelah itu, sinar terang semakin terang dan menyilaukan mata Rama akhirnya sehingga Rama tidak bisa melihat lagi Dewi Ratih. Dewi Ratih telah menghilang ke dalam sinar tersebut. Rama terkesima dan sekaligus merasa sedih karena kehilangan Dewi Ratih. Namun, Rama juga merasa lega karena Dewi Ratih akhirnya bisa menemukan akhir kehidupan yang damai.


Tiba-tiba, Rama melihat lingkaran energi dari portal waktu kembali muncul di hadapannya. Sepertinya portal itu mengerti dengan sendirinya bahwa tugas Rama sudah selesai di masa itu; dan tanpa menunggu dilafalkan kembali Jalan Pralambangun, portal waktu sudah muncul. Kemudian tanpa ragu, Rama langsung melompat masuk ke dalamnya, dan badannya serasa bergetar hebat ketika memasuki lingkaran batas waktu.


Rama pun terjatuh, badannya lemas. Dan Rama melihat sekelilingnya ternyata sudah di pinggir ranjang dekat Ratu Sari berbaring di kamar rumahnya. Ratu Sari pun seketika terbangun mendengar suara orang terjatuh di samping ranjangnya. Ratu Sari pun akhirnya melihat suaminya Rama.


Rama pun akhirnya menceritakan apa yang sudah dilakukannya. Ratu Sari mendengarkan dengan seksama cerita Rama hingga selesai; dan sedikit ceria ketika Rama berhasil menujukkan foto dan video Dewi Ratih saat pertemuannya di gua di tengah alas di Pulau Bali.


Ratu Sari: "Terima kasih, Rama. Saya sangat senang bisa melihat foto dan mendengar pesan terakhir dari Ibunda Dewi Ratih. Insya Allah setelah kelahiran putra kita, saya akan mempelajari Ajian Pralambangun supaya bisa bertemu Ibu." (sambil tersenyum). Rama menjadi bengong dengan penuturan Ratu Sari terakhir.