
Otakku langsung membayangkan seperti apa sosok Ki Barong yang diceritakan oleh Pak Rengga.
"Badannya tinggi besar, tentunya lebih besar dari harimau yang dimusnahkan oleh Cindy. Karena Pak Rengga bilang, Ki Barong paling ditakuti oleh dedemit di sini. Lantas sebesar apakah badan Ki Barong itu?"
Daun pohon kopi di depanku bergoyang dengan keras menandakan banyaknya arwah yang sedang melintas di sana. Beberapa detik kemudian, lambaian daun kopi itu melemah ... melemah ... dan melemah ... dan akupun melangkah masuk ke perkebunan kopi itu. Saat aku berjalan mengikuti jalan setapak, memasuki kebun kopi barusan, aku seperti sedang menyebrangi selaput tipis, seolah memisahkan antara bagian dalam kebun kopi tersebut dan bagian luarnya. Anehnya, ketika aku menoleh ke belakang untuk memeriksa kembali selaput apa yang kulewati, aku tidak menemukan apa-apa. Bahkan di belakangku sudah tidak ada Pak Rengga dan teman-teman yang seharusnya masih berada di situ.
"Aneh, kemana perginya mereka? Pemandangan di belakangku sangatlah berbeda dengan yang aku tinggalkan barusan. Di belakang sana hanya lorong panjang tak berujung. Apakah aku sedang memasuki dimensi yang berbeda?"
Tidak perlu menunggu waktu lama bagiku untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaanku itu. Karena pemandangan di depanku juga sudah bukan perkebunan kopi seperti yang aku lihat tadi, melainkan sebuah perkampungan dengan jejeran rumah-rumah sederhana khas jaman dulu. Di depan setiap rumah terdapat amben (tempat duduk yang terbuat dari pohon bambu). Namun yang membedakan perkampungan tersebut dengan perkampungan penduduk pada umumnya adalah adanya kabut yang cukup pekat melingkupi seluruh area perkampungan itu. Nun jauh di sana, aku mendengar suara gamelan yang sedang ditabuh.
Akupun melangkah menyusuri jalan setapak di antara rumah-rumah penduduk itu. Di kiri dan kananku semua pintu rumahnya masih tertutup rapat. Setelah aku berjalan beberapa langkah, tepat sebelum pertigaan, aku mendengar suara langkah kaki diseret dan seperti suara dengusan.
"Eeeeeergh ...,"
Kurang lebih seperti itu suara yang aku dengar. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan berusaha mencari sumber suara itu. Awalnya aku tidak melihat apa-apa, tapi setelah mencari beberapa detik akhirnya dari arah kanan aku melihat sosok menyeramkan sedang berjalan dengan kaki kanan diseret. Aku terhenyak dan kontan merasa ketakutan melihat sosok seram yang kedua tangannya tidak dalam kondisi sempurna.
Aku bingung dan takut ketika sosok menyeramkan itu perlahan namun pasti berjalan mendekatiku dengan tetap mengeluarkan suara dengusan seperti tadi. Saking kaget dan takutnya, aku tidak bisa menggerakkan tubuhku untuk berlari atau menjauh, sehingga sosok menyeramkan itu sudah berada tepat di hadapanku.
"Eeeeeergh ...," dengusannya semakin keras seakan marah terhadapku. Aku tergagap dan tidak dapat berbuat apa-apa, hanya mematung sambil mendelik karena ketakutan, menatap wajah sosok menyeramkan itu yang hitam dan terkelupas di beberapa bagian.
[Sreeet]
Sosok seram itu tiba-tiba melanjutkan langkahnya, agak miring di sebelahku. Pundaknya sempat bersenggolan dengan pundakku. Saat itu aku dapat mencium bau busuk dari sosok menyeramkan itu. Namun, ia tetap terus berjalan menjauhiku. Aku kaget dan berpikir.
"Mengapa hantu itu tidak menyerangku? Mengapa ia terus saja berjalan dan masuk ke salah satu rumah yang tadinya tertutup?"
Aku benar-benar heran dengan apa yang apa yang baru saja aku alami. Secara logikaku, harusnya saat ini aku sudah lari terbirit-birit atau minimal bertarung dengan sosok itu. Tapi yang terjadi justeru sebaliknya, hantu itu seakan biasa saja bertemu denganku, bahkan cenderung menganggap aku ini setan, sama seperti dirinya.
"Oh iya, aku baru ingat. Tubuhku hitam legam dipenuhi oleh lumpur. Bau tubuhku juga busuk sama seperti hantu itu. Benar juga kata Pak Rengga, kalau aku harus menyamar menjadi hantu juga untuk menjalankan misiku,"
Aku tidak berlama-lama merenung tentang kejanggalan yang kulihat barusan. Aku ingat dengan tujuanku datang ke tempat ini, yaitu menolong kelima temanku yang tertahan di sini.
Seorang anak manusia berjalan dengan kaki kanan diseret dan kedua tangan sengaja agak dibengkokkan, dan mulut sesekali mengeluarkan suara aneh. Anak manusia itu adalah aku, aku sedang menjalankan penyamaranku supaya keberadaanku tidak terendus oleh makhluk ghaib di kampung hantu ini. Kali ini di depanku kembali ada dua sosok tak sempurna sedang berjalan ke arahku. Penampilan fisiknya tak jauh beda dengan hantu yang pertama tadi. Wajahnya hitam legam, kakinya agak bengkok. Kedua tangannya juga dalam posisi tidak sempurna. Aku semakin memonyong-monyongkan mulutku yang sebenarnya memang agak monyong ke kiri dan ke kanan sambil menyuarakan dengusan yang aneh. Kaki kananku juga kuseret, tak lupa kedua tanganku juga kubuat bengkok-bengkok tak beraturan. Tentunya tidak sama dengan gaya banci yang pernah kulihat sebelumnya. Ini murni improvisasiku sendiri, itung-itung totalitas dalam berakting demi menyelamatkan teman-temanku yang hingga kini belum kuketahui posisinya.
"Aeeeeeng .... aeeeeeeng ..." suara dengusanku yang sengaja kukeraskan ketika aku berpapasan dengan kedua hantu tersebut. Aku sengaja menyenggol sedikit badan mereka untuk lebih meyakinkan mereka bahwa aku ini juga hantu, sama seperti mereka. Benar dugaanku, mereka membalas dengusanku sekali dan kembali melanjutkan perjalanannya dengam kaki kanan diseret. Aku sempat menyungging senyum ketika berhasil mengecoh mereka.
"Rasain ini, bau ketekku sudah bercampur dengan bau kotoran manusia di parit! Tidak kalah busuk dengan bau tubuhmu itu?"
Setelah lolos dari kedua hantu itu aku kembali melanjutkan langkahku menuju sumber suara musik gamelan itu. Siapa tahu, kelima anak itu sedang berada di sana. Melakukan tipu daya sama sepertiku. Bukankah ada yang mengatakan, 'Tempat paling aman untuk menyembunyikan rahasia adalah di tempat umum'? Itulah mengapa banyak pejabat kalau berselingkuh, biasanya akan mengajak pasangan selingkuhnya jalan-jalan di tempat umum, kalau ada yang melihat tinggal bilang ada urusan bisnis atau apa gitu, beres.
Aku sudah semakin dekat dengan sumber suara gamelan itu. Kalau diukur dari tempat tadi sepertinya cukup jauh, bisa dilihat dari kakiku yang mulai agak kram karena berjalan dengan menyeret.
"Kalau begini terus, ntar aku benar-benar jadi kayak hantu-hantu itu. Dan kedua tanganku, aku tak rela kalau bengkok seperti ini, agak beda tipis sich dengan pose banci-banci yang pernah kulihat. Jijay ah .... Ups!!!"
Di depanku sekitar jarak sepuluh meter, ada pertunjukan gamelan dengan seorang penari yang berlenggak-lenggok di tengah-tengah penonton. Penonton yang hadir saat itu sangat banyak. Tentunya penonton itu sama seperti tiga hantu yang kulihat tadi, mukanya hitam legam, banyak yang terkelupas kulit wajahnya, dan kedua tangan mereka sama-sama bengkok. Lagu yang mereka mainkan, mengingatkan aku pada lagu yang pernah dibawakan oleh ...
"Mbah Cempaka???"
Bersambung
Gimana episode kali ini, Kak?
Unsur komedinya masuk nggak ya? atau garing?
Tak lupa aku ingetin ya buat Kakak-Kakak Pembaca, jangan lupa like-nya.
Semua komentar selalu aku baca, meskipun tidak semua kubalas.
Jangan lupa baca novelku yang satunya, bergenre horor dan sudah tamat. Judulnya MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
See u next episode