KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 81 : EMOSI


Aku membuka pintu depan sekali lagi. Di depanku berdiri sesosok tubuh dengan pakaian berwarna putih. Sosok berbaju putih itupun tersenyum hangat kepadaku.


"Bapak kemana barusan? Ketok-Ketok pintu, pas saya lihat kok nggak ada?" tanyaku.


"Oh, kamu kelamaan sih. Jadinya, bapak tinggal tunggu ke rumah Parto," jawab bapak melegakanku.


"Ngapain ke rumah Parto, Pak?" tanyaku lagi.


"Itu, sandal saya tertukar dengan sandalnya bapaknya Parto pas tahlilan tadi," jawab bapak.


"Oh, begitu," ujarku lega.


"Kamu kira siapa? Hantu? Dasar kamu ini, masa hantu-hantu terus yang ada di dalam pikiranmu?" ujar bapak.


"Ah, Bapak ini. Emang kenapa kalau yang ada di pikiran saya hantu-hantu terus? Emang enggak boleh, tah?" tanyaku.


"Ya, boleh sih. Asal jangan sampai kamu melupakan waktu belajar dan mengajimu. Bapak perhatikan kamu sudah lama tidak berangkat mengaji ke rumah Kyai Nur?" ujar bapak lagi.


"Bapak kan tahu sendiri, seminggu kemarin saya sibuk MOS di sekolah. Lah, pas sudah selesai MOS-nya malah mbah Arni meninggal. Jadi, mbah Nur enggak bisa mengajari selama seminggu ini," jawabku.


"Iya, sih. Tapi awas, kalau sampai minggu depan kamu tidak berangkat ke langgar Kyai Nur, uang sakumu biar dipotong sama ibumu!" ancam bapak.


"Waduh, jangan dong, Pak! Nanti saya tidak bisa beli-beli makanan pas jam istirahat di sekolah," rengekku.


"Makanya, jangan sampai kesibukanmu terhadap hantu-hantu malah membuatmu menjadi anak yang pemalas dalam mengaji dan belajar di sekolah. Bapak tidak suka hal itu!" ucap bapak dengan tegas.


"Iya, Pak. Saya berjanji akan lebih rajin lagi dalam mengaji dan bersekolah," jawabku tegas.


"Baguslah kalau begitu. Itu baru anak bapak," ucap bapak sambil menepuk dadanya.


"Oh, ya Pak. Saya ingin menanyakan beberapa hal kepada Bapak!" ujarku.


"Mau bertanya apa, sih?" tanya bapak.


"Ayo, Bapak duduk dulu, ya!" ujarku sambil mempersilakan bapak untuk duduk di salah satu kursi di ruang tamu kami.


Ekspresi bapak tiba-tiba menjadi tegang saat itu karena melihat raut wajahku yang serius.


"Sebelumnya saya ingin meminta maaf kepada Bapak karena selama ini saya sempat menaruh curiga terhadap Bapak," ucapku dengan nada rendah.


"Emangnya kamu punya pikiran buruk apa kepada bapak?" Bapak balik bertanya.


Aku menarik napas panjang sebelum menjawab pertanyaan bapak.


"Begini, Pak. Kemarin-Kemarin saya sempat mencurigai Bapak dan teman-teman Bapak telah melakukan hal buruk di masa lalu terhadap teman SMP Bapak yang bernama Mita," jawabku.


"Mita siapa? Bapak tidak punya teman SMP bernama Mita," Bapak terlihat kebingungan.


"Eh, maksud saya Tari. Nama panjangnya Mita Lestari," sambungku.


"Hus! Tidak baik menyebut nama orang yang sudah lama meninggal. Dari mana kamu mengetahui nama itu? Enggak usah aneh-aneh. Tari itu sudah lama meninggal karena menjadi korban tabrak lari. Sudah-Sudah! Bapak tidak mau berbicara tentang itu. Bapak mau istirahat saja," ujar bapak dengan nada tinggi sambil berusaha bangkit dari tempat duduknya.


"Tunggu dulu, Pak! Jangan pergi dulu! Dengarkan dulu penjelasan saya!" jawabku sambil memegangi badan besar bapak supaya tidak berdiri.


"Apa-Apaan kamu ini? Bapak tidak mau meladeni kamu membicarakan Tari!" pekik bapak sambil menepis kedua tanganku yang berusaha menahan badannya.


Secara tenaga tentunya aku kalah. Bapak berhasil berdiri dari duduknya. Namun tiba-tiba ada seseorang yang datang di balik pintu depan. Wajahnya cantik dan mengenakan baju terusan berwarna putih. Dialah ibuku.


"Ta-ri??? Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya ibuku.


"Benar begitu, Im? Kamu yang mengawali pembicaraan tentang Tari?" tanya ibuku dengan wajah penasaran.


Aku tergagap karena merasa dipojokkan oleh kedua orang tuaku itu. Kalau aku salah berbicara, tentunya bisa menimbulkan percekcokan antara bapak dan ibu karena bagaimanapun, dulu pernah ada kedekatan antara bapak dengan almarhum Mita, eh Tari.


Setelah berpikir keras selama beberapa detik, akhirnya aku menjawab pertanyaan ibuku dengan jujur dan lugas.


"Iya, Bu. Saya yang mengawali pembicaraan tentang Tari. Bapak malah tidak suka saya menanyakan tentang Tari kepadanya," jawabku.


"O begitu rupanya. Baiklah, ayo kita bicarakan bertiga saja! Siapa tahu ibu juga bisa membantu memberikan sedikit informasi," ujar ibuku


"Ibu???" pekik bapak kepada ibuku sebagai isyarat supaya ibu tidak mendukungku untuk membicarakan tentang Mita, eh Tari. Namun, ibu memberikan isyarat balik kepada bapak untuk memberiku kesempatan membicarakan tentang Tari. Sebagai laki-laki, bapak mengalah kepada ibu. Dan akhirnya kami pun duduk bertiga di ruang tamu tersebut.


Aku mengawali pembicaraan di antara kami bertiga.


"Tadi saya dan teman-teman menemui bu Mega," ujarku dengan nada perlahan.


"Bu Mega siapa?" tanya ibuku dengan nada penasaran.


"Bu Mega itu teman sekampung almarhum Tari. Dan juga temannya Ibu," jawabku perlahan.


"Ya Tuhan! Mega teman ibu? Bagaimana kabar dia sekarang, Im?" pekik ibu seperti tidak percaya.


"Iya, bu Mega itu temannya ibu sekaligus temannya Tari. Keadaannya baik-baik saja," jawabku.


"Seperti apa dia sekarang, Im? Lama sekali aku tidak bertemu dengannya," pekik ibuku.


"Bu Mega masih sama seperti dulu. Penampilannya masih nyentrik. Beliau menitip pesan kepada Ibu dan Bapak," jawabku sopan.


"Waalaikumsalam. Waduh, sudah setua ini dia masih tetap nyentrik? Saya jadi kangen ingin bertemu dengannya. Dia itu pintar sekali memainkan beberapa alat musik, lo!" pekik ibu dengan semangat.


"Iya, Bu. Permainan pianonya sangat bagus sekali. Saking bagusnya, saya dan teman-teman sampai merinding dan takut menonton atraksinya." jawabku.


"Iya, dia memang begitu orangnya. Kalau sudah bermain alat musik, saking menjiwainya sampai bikin orang yang menontonnya jadi ketakutan," jawab ibuku.


"Kamu ini bisa-bisanya main sampai ke kampung itu. Kalau terjadi apa-apa sama kamu bagaimana?" cetus bapak.


"Enggak kok, Pak. Saya kan kesana bareng teman-teman. Insyaallah aman terkendali," jawabku.


"Iya, bapak mengerti. Namun, untuk apa kamu dan teman-temanmu pergi ke Randu Asih segala?" ujar bapak.


"Eh, anu Pak," pekikku.


"Anu-Anu apa? Yang jelas kalau menjawab! Jangan bertele-tele!" Ujar bapak mengagetkanku. Sepertinya bapak masih tidak ingin membicarakan apapun yang berhubungan dengan Tari.


"Tari itu sepertinya tidak mati karena tabrak lari, Pak. Namun, ia sengaja ditabrak oleh seseorang," jawabku tegas.


"Apa-Apaan kamu ini? Kalau berbicara hal besar seperti itu harus pake dasar. Jangan hanya berdasarkan analisa dan. perkiraanmu sendiri!" ujar bapak dengan suara agak tinggi.


"Jangan begitu, Pak! Berikan kesempatan kepada Imran untuk menjelaskan ucapannya terlebih dahulu! Jangan langsung dimarahi seperti itu! Iya kalau dia memang berbicara tanpa dasar. Kalau seandainya ia memiliki alasan yang kuat berbicara seperti itu, bagaimana?" timpal ibuku dengan nada memenangkan.


"Baiklah.Ayo, Im jelaskan apa yang kamu katakan barusan!" ujar bapak dengan nada lembut.


Aku menarik napas dalam-dalam sembari memandangi wajah kedua orang tuaku yang semakin penasaran mendengar ceritaku.


Bersambung


Maaf updatenya agak lambat. Semoga Pembaca masih terus menunggu kelanjutan cerita KAMPUNG HANTU ini.