
Hai, Kak
Sebelum membaca kelanjutannya, silakan klik gambar jempol di bawah!
Terima kasih like-nya ya?
Ini lanjutan ceritanya ...
Fajarpun akhirnya memiliki kecurigaan yang sama denganku.
"Ayo buruan kita kabur Im!" pekik Fajar dengan suara sengaja ditekan supaya hanya kami berdua yang mendengarnya.
Sebelum kami berdua beranjak dari ruangan ekskul itu, anak berseragam putih biru itu sudah menggedor-gedor kaca jendela dengan keras sehingga mengagetkan kamk berdua yang sedang berada di dalam.
Kamipun segera berlari keluar ruangan tersebut untuk menyelamatkan diri. Namun, anak itu bergeser dengan cepat ke samping, seperti sedang menggunakan sepatu roda. Saat kami berhasil mencapai pintu, ia dengan wajahnya yang pucat sudah berada di depan pintu ruangan tersebut. Kamipun secara spontan berlari ke samping kanan menghindari anak perempuan itu. Untunglah ia tidak memegangi tangan kiriku yang kebetulan paling dekat jaraknya dengan tangannya yang juga pucat. Saat itu sepertinya ia sedang tidak ingin menyerang kita, mungkin hanya sekedar menakuti saja. Tidak menyia-nyiakan kesempatan lolos itu, kami berduapun berlari ke tengah halaman sekolah.
"Kenapa Kalian sampai ngos-ngosan begini?" tanya Lidya.
"A-anu Lid, hantu gendang itu mendatangi kita berdua barusan di ruang ekskul. Ih, mukanya serem banget Lid," jawab Fajar dengan ekspresi wajah ketakutan.
"Iya Lid, mukanya pucat sekali dan giginya berantakan. Dia menghadang kami berdua di depan pintu," tambahku.
"Pantas Kalian berdua sampai gemetaran begini, aku saja yang tadi melihat dari jarak yang agak jauh masih terbayang-bayang sampai sekarang. Apalagi Kalian yang baru saja berhadapan dengan hantu gendang itu," ujar Lidya.
"Dia lebih seram dari hantu-hantu di kebun kopi semalam, Lid. Beneran nich aku nggak bohong. Aura kemarahannya sangat kuat menembus rasa ketakutanku," jawabku.
"Terus gimana ini? Apa yang harus kita lakukan untuk melenyapkan hantu gendang itu? Takutnya dia malah membuntuti kita terus," ucap Lidya kebingungan.
"Sebaiknya kita cari informasi dulu tentang asal-usul gendang itu sekarang," ucap Cindy.
"Maksud Kamu, kita akan berpencar untuk menggali informasi?" tanya Gatot.
"Jangan! Kita harus selalu berkerumun, soalnya hantu perempuan itu semakin berani menunjukkan keberadaannya di hadapan kita, apalagi kalau kita hanya sendirian atau berdua," jawabku.
"Siapa yang akan kita datangi dulu?" tanya Gatot.
"Kita ke Bu Nanik dulu, sebagai Waka Kesiswaan tentunya beliau banyak tahu tentang kegiatan siswa di sekolah ini. Sepertinya Bu Nanik tidak sedang menonton acara di atas pentas, beliau sibuk dengan tumpukan berkas di atas mejanya,"
"Oke, aku setuju." Aku menjawab.
Kami berlimapun berangkat menuju ruangan Bu Nanik. Fajar dan Cindy yang masuk ke dalam sedangkan kami menunggu di luar. Mereka berada di dalam sekitar tigapuluh menit. Akhirnya setelah menunggu beberapa lama, merekapun keluar ruangan Bu Nanik.
"Gimana Jar, apa ada informasi penting dari Bu Nanik?" tanyaku penasaran.
"Ayo kita ke bawah pohon itu saja supaya lebih enak ngobrolnya," jawab Fajar.
Kamipun berjalan menuju pohon yang berada di pinggir halaman sekolah. Dari tempat tersebut kami masih bisa menonton pertunjukan yang ada di pentas meskipun dari sisi pentas.
"Gimana, Jar?" desakku
"Begini, menurut informasi dari Bu Nanik, sekolah kita ini pernah memiliki group musik patrol yang masih tergabung dengan ekskul musik sebagai induknya. Pemusiknya sebagian dari anak-anak musik yang lama, sebagian lagi dari anak baru. Untuk vokalis dan penarinya, ada yang masih berada di sini sampai sekarang," cerita Fajar.
"Oh ya, siapa saja mereka?" tanya Lidya keheranan.
"Wah, pantas saja Bu Rini sangat antusias melihat pertunjukan kita, ternyata beliau pernah terjun ke musik patrol juga," celetuk Gatot.
"Terus, Jar?" ujarku.
"Group musik patrol sekolah ini pernah populer pada masanya. Mereka sering diundang ke acara-acara penting, bahkan puncaknya adalah ketika mereka berhasil menyabet juara pertama lomba musik daerah tingkat kabupaten. Pada waktu itu banyak sekali hadiah yang mereka peroleh, salah satunya adalah gendang yang tadi kita pakai itu," lanjut Fajar.
"Wah, hebat ya mereka bisa mengharumkan nama sekolah melalui musik patrol," ujar Gatot lagi.
"Setelah kejuaraan itu, mereka berlatih lebih keras lagi karena akan diikutkan kejuaraan musik daerah tingkat nasional oleh bupati. Mereka juga dijanjikan beasiswa sampai kuliah apabila berhasil masuk ke sepuluh besar terbaik. Oh ya sampai kelupaan, Bu Nanik dan Bu Rini itu hanya bertindak sebagai backing vokal dan penari pendamping, sedangkan vokalis dan penari utamanya bernama Melati. Mereka bertiga sangat dekat seperti layaknya sahabat. Sambil menunggu hari keberangkatan mereka ke Jakarta, mereka sering berhayal bareng tentang apa yang akan mereka lakukan di Jakarta. Mereka bilang mau naik ke Monas bareng-bareng, kalau bisa mau minta emasnya secuil saja ke penjaga di sana. Bahkan Bu Nanik seminggu tidak bisa tidur nyenyak karena tak sabar ingin melihat Jakarta," lanjut Fajar.
"He he he, maklum anak kampung, kita juga pasti seperti itu kalau mau ke tempat yang tidak pernah dikunjungi, apalagi Jakarta," pekik Lidya.
"Semua persiapan sudah matang, penampilan group musik patrol mereka semakin bagus, waktu keberangkatanpun sudah dekat. Satu hari menjelang keberangkatan, terjadi peristiwa yang tidak diduga-duga," tutur Fajar dengan perlahan.
"Apa itu Jar?" pekik Lidya tak sabar.
"Melati tiba-tiba memutuskan berhenti sekolah," jawab Fajar dengan suara berat.
"Apa? Kenapa dia berhenti?" pekikku.
"Dia menikah," jawab Fajar dengan nada kecewa.
"Oh Tuhan, bukankah dia masih sekolah, kenapa menikah? Apa dia ...?" pekik Gatot.
"Entahlah, semua anggota group musik patrol kesal pada Melati waktu itu, terlebih keesokan harinya mereka tidak jadi berangkat ke Jakarta karena tidak ada vokalis utama yang bisa menggantikan posisi melati. Bu Nanik dan Bu Rini bahkan menyusul ke rumah Melati untuk mengetahui kejelasannya, tapi tidak ada orang sama sekali di rumah Melati, kata tetangganya Melati sedang jadi manten di rumah suaminya. Beberapa hari kemudian Melati datang ke sekolah dan masuk ke ruang musik tapi tidak ditemui oleh Bu Nanik dan Bu Rini, sahabatnya. Mereka berdua masih kesal dan shock karena batal berangkat ke Jakarta. Terlebih, mereka telah mengecewakan harapan masyarakat se-kabupaten," lanjut Fajar.
"Terus, bagaimana nasib Melati setelah itu?" tanya Lidya.
Fajar menundukkan wajahnya kemudian berkata, "Beberapa bulan setelah hari itu, Bu Nanik mendengar kabar bahwa Melati meninggal dunia."
"Ya Tuhan, betapa malangnya nasib anak itu," pekik Lidya.
"Jar, kira-kira yang jadi hantu gendang itu apakah si Melati ya?" tanya Lidya.
"Entahlah, Lid. Tapi tidak ada kejadian tragis yang lain yang erat hubungannya dengan gendang itu," jawab Fajar.
"Tunggu, Jar. Kamu tadi bilang bahwa Si Melati sempat datang ke ruang ekskul beberapa hari setelah menikah?" ujarku.
"Iya, Im benar. Kenapa emangnya?" jawab Fajar.
"Jangan-jangan ...," pekikku.
Bersambung
Bab ini sudah selesai. Sekarang saatnya memberikan sedikit "vote" untuk novel KAMPUNG HANTU.
See U next episode
Salam seram bahagia