
Aku dan teman-teman tim srigala pulang ke rumah dengan dijemput oleh orang tua masing-masing.
"Kok sampai malam baru selesai kegiatannya, Im? Bapak nunggu Kamu mulai sore loh," tanya Bapak.
"Iya, Pak. Saya mohon maaf sudah membuat Bapak lama menunggu. Tadi kelompokku sempat nyasar-nyasar soalnya," jawabku pelan. Aku sebenarnya sedang malas berbicara dengan Bapak. Tapi kasihan juga Bapak, kalau aku cuekin terus.
"Kok sampai nyasar segala? Apa Kamu tidak memperhatikan penjelasan kakak pembina atau gurumu? Lah terus sholat Kalian bagaimana?" tanya Bapak lagi.
"Sudah, Pak, tapi denah yang kami bawa tiba-tiba rusak. Kalau masalah sholat sich beres, Pak. Kami selalu menyempatkan untuk sholat di perjalanan," jawabku lagi.
"Lain kali lebih berhati-hati ya, soalnya di daerah sini, banyak tempat yang masih angker," ujar Bapak.
"Iya, Pak" jawabku.
Ketika aku akan naik ke boncengan sepeda Bapak, tiba-tiba di belakangku muncul Fajar sedang dibonceng dengan menggunakan sepeda motor tua oleh bapaknya.
"Im, jangan lupa besok dibawa aksesories untuk menarinya, ya?" teriak Fajar.
"Oke, Jar" jawabku juga dengan berteriak.
Akupun pulang ke rumah dengan dibonceng Bapak. Sesampai di rumah aku langsung menunaikan sholat isya'. Menunggu waktu tidur tiba, aku mengajak Ibu berbincang sambil membantunya mengupas sayur yang mau dimasak besok. Aku sudah bersiap mengeluarkan segala uneg-uneg yang ada di dalam pikiranku sejak tadi di sekolah. Namun, aku juga harus mengatur strategi supaya Ibu tidak marah saat meladeni pertanyaanku.
"Ibu kok bisa cantik begitu ya, apa rahasianya?" pujiku antara merayu ibuku dan menyampaikan fakta yang sebenarnya.
"Alah, Kamu bilang begitu, pasti ada maunya," jawab Ibu, tapi dari raut wajahnya yang memerah, aku tahu Ibu cukup tersipu dengan rayuan mautku. Sudah dari kodratnya, perempuan paling senang dibilang cantik, meskipun itu gombal.
"Enggak kok, Bu. Kayaknya Ibu kelihatan cantik karena ada tahi lalat di bawah mata Ibu itu," Aku berkata sambil menunjuk tahi lalat yang ada di wajah ibuku.
"Iya tah, Im? Kamu nggak bohong, kan?" tanya Ibu tersipu.
"Beneran saya nggak bohong, tahi lalat Ibu itu mirip artis siapa gitu yang pernah saya lihat di robekan majalah, itu loh bungkus beli gorengan," ucapku lagi.
"Tahi lalat ini termasuk tanda lahir Ibu loh, soalnya tahi lalat ini sudah ada mulai Ibu kecil. Jadi ini ciri khas Ibu." jawab ibuku lagi.
"Ngomong-ngomong saya juga punya tanda lahir loh, Bu. Ini tanda lahir saya, kan?" ucapku sambil mengangkat sedikit sarungku sehingga tanda lahir di betisku tersaji di hadapan Ibu. Raut muka Ibu langsung berubah ketika kutunjukkan tanda lahir itu.
"Ayo, buruan selesaikan mengupas sayurnya. Habis ini kita tidur supaya besok pagi kita tidak kesiangan," Ibuku mengalihkan pembicaraan.
"Ibu, sebelumnya saya mohon maaf apabila kata-kata saya menyakiti hati Ibu, tapi sejak saya kecil hingga sekarang, mengapa Ibu selalu mengalihkan perhatian setiap saya bertanya tentang tanda lahir yang saya miliki ini," ucapku perlahan sambil memegangi kedua tangan Ibu. Sejujurnya melihat ekspresi di wajah Ibu yang tidak nyaman dengan perkataanku itu membuat aku juga merasa bersalah. Namun, aku harus mendapatkan informasi tentang tanda lahirku ini.
"Im, Ibu minta maaf, Ibu tidak bisa menceritakan tentang tanda lahirmu itu, karena Ibu tidak sanggup untuk menceritakannya. Ibu nggak kuat, Im" jawab Ibu dengan mata mulai sembab. Aku merasa berdosa telah membuat ibuku menangis.
Aku memeluk Ibu dan mencium kening ibuku dengan perasaan bersalah karena telah membuatnya menangis.
"Maafin Imran ya, Bu. Saya telah membuat Ibu bersedih. Saya banyak dosa pada Ibu," ucapku.
"Kamu jangan tanya-tanya lagi tentang tanda lahir itu ya?" ucap Ibuku sambil mengusap air mata yang menetes ke pipinya.
"Ibu beneran tidak ingin bercerita tentang tanda lahir di betisku ini?" tanyaku meyakinkan.
"Apakah kisah di balik tanda lahir ini teramat menyakitkan buat Ibu?" tanyaku kembali secara perlahan.
"Bukan hanya menyakitkan, Im. Tapi lebih dari segalanya, bahkan lebih dari nyawa Ibu sendiri," ucap Ibu lagi.
"Tidakkah dengan berbagi cerita dengan Imran, bisa sedikit melegakan, setidaknya kesedihan itu bisa ikut saya rasakan juga, mungkin itu dapat membantu melegakan perasaan Ibu juga?" ucapku.
"Tidak, Im. Ibu dapat menanggungnya sendiri. Intinya Kamu tidak bertanya-tanya atau membahas tentang tanda lahirmu itu lagi, begitu saja Ibu sudah senang," ucap ibuku lagi.
Aku lihat ibuku sudah tidak sesedih tadi lagi. Perasaannya sepertinya sudah agak stabil. Melihat kondisi Ibu yang mulai stabil, akupun melanjutkan upayaku untuk mengorek informasi tentang tanda lahirku itu.
"Ibu ...," ucapku.
"Apa, Im?" jawab ibuku.
"Tadi saya sempat terjebak di kebun kopi loh waktu kegiatan penjelajahan di sekitar sekolah," ucapku dengan perlahan.
"M-M-Maksud Kamu?" Ibu gelagapan.
"Iya, Bu. Saya dan kelima teman saya sempat terjebak di kebun kopi. Dan di dalam kebun kopi itu, saya bertemu dengan Ki Barong dan seorang penari," Aku memperjelas perkataanku. Ibu tersentak dengan kalimat yang aku ucapkan.
"I-I-Imran, anakku. Kamu tidak apa-apa, kan? Ki Barong tidak mencelakaimu, kan?" tiba-tiba Ibu menjadi seperti kalap dan kedua tangannya memegangi pipiku.
"Tidak, Bu. Saya tidak apa-apa, kami berhasil lolos dari Ki Barong tanpa ada luka sedikitpun." Jawabku meyakinkan ibuku.
"Syukurlah, Nak kalau begitu. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Kamu, aku tidak akan memaafkan Ki Barong, akan kucincang dia" jawab ibuku marah.
"Jadi, apakah Ibu sudah siap sekarang untuk menceritakan misteri tanda lahir di betisku ini? Soalnya pada saat berusaha melarikan diri dari mereka, aku sempat terluka di bagian betis tersebut. Akan tetapi ketika kami berhasil keluar dari daerah kekuasaan mereka, luka di betisku itu mendadak sembuh secara total," ucapku dengan agak tegas.
"Iya, Im. Ibu akan menceritakannya kepadamu. Tanda lahir itu tidak ada pada betismu saat Kamu lahir. Tanda itu mulai ada setelah Ibu mengalami insiden itu," cerita ibuku.
"Insiden apa, Bu?" tanyaku semakin penasaran.
Ibu menarik napas dalam-dalam, menghapus sisa air mata yang masih ada di pipinya serta menatap mataku nanar. Aku sebagai anaknya segera mencium tangan ibuku karena merasa berdosa telah memaksa ibuku untuk menceritakan sesuatu yang tidak ingin beliau ingat-ingat lagi semasa hidupnya. Tapi saat ini posisi ibuku sudah terdesak, mau tidak mau beliau harus menceritakannya kepadaku. Terlebih aku sudah menceritakan pengalaman burukku bertemu Ki Barong. Dan instingku mengatakan, alasan ibuku tidak mau menceritakan misteri tanda lahirku itu juga terkait dengan Ki Barong, penguasa tertinggi hantu-hantu di kebun kopi itu.
Bersambung
Terima kasih masih setia mengikuti kisah KAMPUNG HANTU.
Budayakan memberi like setelah membaca per-episode.
Yang suka cerita horor, silakan baca MARANTI (sudah tamat) bercerita tentang munculnya arwah orang mati setelah seseorang tanpa sengaja memakan makanan selamatan saudaranya.
Lomba Vote, terakhir tanggal 15 Juli
See U next episode
Terima kasih