KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 51 : RENCANA


Tepat pukul 11.00 WIB, akhirnya pementasan bakat siswa baru selesai digelar di halaman sekolah. Semua anakpun berhamburan menuju kantin, ada sebagian yang lain menuju kelas untuk membuka bekalnya masing-masing. Sekotak kue yang diberikan oleh kakak kelas selama pertunjukan, tentu tidaklah cukup untuk mengisi kekosongan perut para siswa.


Aku dan keempat temanku yang lain kembali berunding di belakang ruang kelas, berhadapan dengan lapangan belakang.


"Fren, jangan lupa loh ya, habis sholat dluhur kita ada post test, nilai kita harus jelek!" ucap Fajar.


"Iya Jar tenang saja, kalau perlu nilaiku tak buat minus," jawab Gatot.


"Mana ada nilai minus, Tot?" protes Cindy.


"Kali aja," jawab Gatot lagi.


"Hari pasaran kelahiranmu apa, Jar?" tanyaku.


"Jumat legi, kenapa Im, Kamu mau alih profesi jadi dukun tah?" Fajar bertanya dengan nada mengejek.


"Sialan Kamu, Jar" jawabku.


"Lah iya toh, nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba saja Kamu menanyakan hari pasaran kelahiranku, kalau bukan untuk diramal, untuk apa lagi hayo?" jawab Fajar.


"Nanti aku jawab pertanyaanmu setelah aku mengetahui weton atau hari pasaran kelahiran Kalian semuanya," jawabku.


"Oke, awas kalau Kamu sampai aneh-aneh!" jawab Fajar.


"Cin, hari pasaran kelahiranmu apa?" tanyaku.


"Senin, Im. Tapi aku lupa pasarannya kalau nggak legi ya pahing gitu," jawab Cindy.


"Kamu, Lidya?" tanyaku lagi.


"Aku Jumat legi sama seperti Fajar," jawab Lidya.


"Cie ... cie ... samaan nich ye?" celetuk Gatot.


"Apaan sich Kamu, Tot?" omel Lidya.


"Kamu Tot?" tanyaku.


"Aku Sabtu pahing, Im" jawab Gatot.


"Sekarang jelaskan maksud dan tujuanmu menanyakan mendata semua hari pasaran kelahiran kami?" tandas Fajar.


"Begini, tadi malam aku memeriksa lagi kesamaan data antara aku, Rossa Melinda, dan Mery Andani. Ada satu hal yang kemarin luput dari perhatian kita, kami bertiga memiliki kesamaan lain yaitu hari pasaran kelahiran kami. Setelah aku hitung-hitung lagi, ternyata aku, Rossa,dan Mery sama-sama lahir Senin legi," jawabku


"Hah, beneran tah Im? Gimana cara Kamu menghitungnya?" tanya Fajar agak tidak percaya.


"Aku lahir 12 September 1983 tepat malam Senin legi. Dalam satu minggu ada 7 hari, dan banyak pasaran ada 5 yaitu pahing, pon, kliwon, legi, dan wage. Jadi untuk sampai ke Senin legi kembali butuh 7 dikali 5 sama dengan 35 hari. September berusia 30 hari, Oktober berusia 31 hari, November berusia 31 hari. Dari 12 September ditambah 35 hari menjadi 17 Oktober, ditambah 35 hari lagi menjadi 21 November, dan ditambah 35 hari lagi menjadi 26 Desember 1983 dan itu adalah hari kelahiran Mery. Kalau untuk menghitung pasaran kelahiran Rossa, dari hari kelahiranku itu dikurangi 35 dan seterusnya ternyata benar 25 April 1983 itu juga Senin legi," terangku kepada mereka sambil menulis analisa dan perhitungan di atas kertas.


Mereka semua ternganga dengan penjelasanku.


"Ya Tuhan, ternyata kalian lahir dalam weton yang sama. Konon kalau wetonnya sama, daya tarik terhadap makhluk halusnya juga sama. Bisa jadi hantu bayi itu mendatangi Kalian bertiga karena weton Kalian sama," ujar Fajar.


"Ya ... ya ... masuk akal," celetuk Gatot.


"Emang Kamu ngerti Tot, hitung-hitungan yang dijelaskan Imran barusan?" tanya Lidya.


"Enggak," jawab Gatot enteng.


"Dasar lu, Toooooot. Kirain Kamu ngerti," ejek Lidya.


"Lah, aku ngerti pas bagian wetonnya sama makanya sama-sama diganggu oleh hantu bayi itu, kalau soal itung-itungan mah aku nyerah dah, mending aku disuruh angkat pasir satu truk daripada suruh ngitung kayak gitu," tandas Gatot yang mengundang tawa kami.


"Cin, Kamu kok diam saja?" cetus Lidya.


"Eh, iya maaf" jawab Cindy kaget.


"Kamu kenapa, Cin?" tanyaku.


"Oke. Tadi si Mery lahir 26 Desember 1983. Desember ada 31 hari, Januari ada 31 hari juga, Februari tahun 1984 ada 28 hari karena termasuk tahun kabisat. Jadi 26 Desember ditambah 35 hari menjadi 30 Januari 1984. Kemudian ditambah 35 hari lagi menjadi ..." ujarku.


"06 Maret 1984!!!" pekik Lidya, dan Fajar.


"Ya Tuhan! Berarti kalau yg dikatakan Imran benar, aku bisa jadi target selanjutnya dari hantu bayi itu?" pekik Cindy.


Cindy terlihat gemetaran.


"Tenang, Cin. Sepertinya bayi itu lahirnya juga pada Senin legi sama seperti kita. Dan yang paling bisa memusnahkannya juga adalah Senin legi. Siapa tahu kamu bukan korban berikutnya, melainkan orang yang bisa memusnahkan hantu bayi itu, tentunya setelah misterinya terpecahkan terlebih dahulu," ucapku untuk menenangkan perasaan Cindy.


"Begitu ya, Im?" jawab Cindy mulai tenang.


"Sebentar lagi adzan dluhur, ayo kita buka perbekalan kita saja, takutnya nanti mepet dengan post test," ucap Fajar.


Kamipun makan siang dengan perbekalan kami. Setelah makan siang, kamipun berhamburan ke masjid untuk menunaikan sholat dhuhur. Setelah selesai sholat dhuhur semua siswa masuk ke kelasnya masing-masing untuk menunggu masuknya waktu pelaksanaan Post Test.


"Cin, Kamu mau kemana?" tanya Lidya pada Cindy yang tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya.


"Aku mau ke kantin sebentar," jawab Cindy.


"Mau ngapain?" desak Lidya.


"Aku mau tanya ke Bu Mat, mungkin ada persediaan garam untuk nanti sore, soalnya tadi pagi aku lupa membawa dari rumah, untuk jaga-jaga, Lid" jawab Cindy dengan sedikit berbisik ke Lidya yang duduk di depanku.


"Dasar Kamu Miss garam beneran," pekik Lidya.


"Biar dibilangi Miss Garam tidak apa-apa, emang garam terbukti berguna banget, kan?" jawab Cindy dengan tersenyum.


"Iya benar Cin, sewaktu di kebun kopi garam yang Kamu bawa benar-benar berguna," jawabku.


Akhirnya Cindy meninggalkan kelas menuju kantin. Beberapa saat kemudian Fajar datang dari arah luar.


"Cindy mau kemana itu? barusan aku lihat dia menuju ke sana sendirian," tanya Fajar keheranan.


"Mau ke kantin katanya Jar. Mau nyari garam," jawabku.


"Apa??? Ke kantin?" Fajar berkata seperti tidak percaya.


"Iya Jar, kenapa emangnya, bukankah jam segini masih ramai di sana," jawabku.


"Nah itu dia Im, aku kan juga dari kantin barusan bareng anak-anak kelas sebelah. Habis itu banyak anak-anak yang balik ke kelas, kelompok kami yang balik paling terakhir disusul oleh Bu Mat. Jadi di kantin nggak ada orang sama sekali sekarang," tandas Fajar.


"Kenapa Kamu tidak menegurnya barusan, Jar?" ucap Lidya.


"Aku lewat jalan yang lain soalnya, jadi agak jauh dari Cindy. Masak mau teriak-teriak?" jawab Fajar.


"Kalau begitu sebaiknya kita segera menyusul Cindy ke kantin, takutnya di sana ia diganggu sama Mbah Iyem," pekikku


"Ayo Im ... Tot ...," pekik Fajar sambil menyeret aku dan Gatot.


Kamipun berjalan dengan sedikit berlari menuju kantin sekolah yang terlihat lengang dari kejauhan, bahkan kami tidak melihat ada seorangpun di sana dari tempat ini.


Bersambung


Demikianlah cerita KAMPUNG HANTU bab ini. Silakan Kakak memberikan "vote" dulu sekarang.


Terima kasih vote-nya Kak.


Aku tunggu kehadiran Kakak di novel hororku yang lain, judulnya MARANTI (Tamat)


See u next episode


Salam seram bahagia