
Rama yang tertusuk dua pusaka di dadanya mulai sempoyongan akibat kehilangan banyak darah. Sementara itu sakit kepala akibat kekuatan telepati dan telekinesis dari pusaka Tombak Panotogamang masih sangat terasa di kepala Rama.
Rama : "Ratna, dua pusaka sudah tidak di tangan Ki Sabrang, tolong aktifkan kembali rompi Ontokusumo, pindai lukaku dan bawa aku terbang ke puncak Hargo Dalem. "
Ratna : " Baik Rama !"
Rupanya sebelumnya Rama sudah bersiasat untuk menonaktifkan rompi Ontokusumo supaya pusaka Tombak Panotogamang bisa terpisah dari Ki Sabrang. Rama mengorbankan tubuhnya untuk ditusuk supaya tombak tersebut bisa dipisahkan dari Ki Sabrang.
Setelah Tombak Panotogamang terpisah dari Ki Sabrang, Rama segera minta Ratna untuk menerbangkan dirinya menuju puncak Hargo Dalem, tempat Wewe Gombel menyimpan bayi Raka. Rama kemudian terbang tinggi meninggalkan Ki Sabrang, sedangkan Ki Sabrang tampak melongo ditinggalkan sendiri oleh Rama di puncak Hargo Dumilah.
Rama kemudian tiba di puncak Hargo Dalem dan disambut oleh Wewe Gombel.
Rama : " Wewe Gombel, bagaimana keadaan bayi Raka? "
Wewe Gombel : "Bayi Raka baru saja bisa diam, Rama. Tadi tak henti - hentinya dia menangis, sepertinya punya firasat buruk terhadap keluarganya. Bagaimana keadaanmu Rama? Itu mengapa ada 2 pusaka menancap di dadamu dengan darah yang mengucur terus? "
Rama : " Ceritanya panjang Wewe Gombel. Tapi aku minta tolong dicabutkan 2 pusaka ini dari dadaku ya! "
Wewe Gombel : "Baik Rama. "
Rama : " Ratna, setelah 2 pusaka ini dicabut, tolong bantu hentikan pendarahannya dan segera transfusikan darah barunya ke tubuhku ya. "
Ratna : " Baik Rama! "
Wewe Gombel lalu mulai mencabut pusaka Keris Naga Siluman dari dada kiri Rama. Darah mengucur deras dari lukanya, tapi Ratna langsung membuat mekanisme penghentian pendarahan dan langsung menjahit lukanya.
Setelah pusaka Keris Naga Siluman berhasil dicabut, Wewe Gombel lalu mencabut pusaka Tombak Panotogamang dari dada kanan Rama. Tusukan pusaka Tombak Panotogamang ini sangat dalam hingga tembus, sehingga proses penghentian pendarahannya agak lama dilakukan oleh Ratna.
Setelah kedua bekas luka di dada Rama dijahit, Ratna kemudian menginjeksi Rama supaya bisa transfusi darah baru atas kehilangan darahnya. Proses transfusi darah jenis O+ berukuran 350mL ini memakan waktu hingga 15 menit, dan membuat Rama menjadi kembali segar.
Rama yang kini sudah mendapatkan pusaka Keris Naga Siluman dan Tombak Panotogamang, kemudian memikirkan bagaimana menyingkirkan dua pusaka tersebut dari Ki Sabrang.
Rama : " Ratna, sebaiknya harus dibuang ke mana kedua pusaka ini daripada dipakai oleh Ki Sabrang? "
Ratna : " Rama, untuk Tombak Panotogamang lebih baik di buang ke Laut Selatan Jawa, karena mitosnya tombak tersebut salah satu pusaka milik Nyi Roro Kidul. Sedangkan Keris Naga Siluman, lebih baik dipatahkan dan dihancurkan saja berkeping-keping karena senjata tersebut memiliki aura jahat di dalamnya! "
Rama : " Baik Ratna, mari kita lakukan! "
Rama kemudian memukul Keris Naga Siluman menggunakan Pukulan Kecubung sehingga keris tersebut menjadi hancur berkeping-keping. Kehancuran keris itu membuat kawah puncak Hargo Dumilah menjadi bergolak, dan Ki Sabrang merasakan kesakitan dalam dirinya. Keris Naga Siluman rupaya memiliki ikatan jiwa tersendiri terhadap Ki Sabrang.
Rama kemudian terbang tinggi dan cepat ke arah Laut Selatan Jawa untuk membuang pusaka Tombak Panotogamang. Pusaka tersebut dibuang Rama ke dalam laut, dan segera lenyap ditelan gelombang air laut. Kepala Rama kini menjadi tidak sakit lagi setelah pusaka Tombak Panotogamang ditelan gelombang air laut di Laut Selatan Jawa.
Ratna : " Benar, Rama "
Rama kemudian terbang secepatnya menuju puncak Hargo Dumilah untuk melanjutkan pertempuran melawan Ki Sabrang.
Rama melihat Ki Sabrang tetap bersemedi dan melafalkan mantra Azarath. Rama yang juga melafalkan wirid ajian Kalimasada dan ajian Tyaga, masih bisa mengimbangi pengaruh kekuatan telepati dan telekinesis dari mantra Ki Sabrang, apalagi dengan adanya helm Psimitar.
Rama : "Ki Sabrang, mari kita tuntaskan pertempuran kita. Hari sudah menjelang pagi !"
Ki Sabrang : " Hahahaha, kamu ternyata masih selamat Rama. Baiklah, mari kita lanjutkan pertempuran kita. " (sambil beranjak berdiri menghadapi Rama)
Rama : " Ratna, tolong aktifkan secara penuh rompi Ontokusumo, helm Psimitar dan pusaka Kujang Pamenang! "
Ratna : " Baik Rama."
Ki Sabrang kemudian mengeluarkan
Keris Pusaka Tunggul Amukti Palapa dan Tombak Kyai Kanjeng. Tombak Kyai Kanjeng kemudian dilemparkan ke arah Rama yang sudah bersiap - siap menerima serangan dari Ki Sabrang.
Rama segera menghunus pusaka Kujang Pamenang untuk menolak serangan Tombak Kyai Kanjeng yang menuju ke arahnya. Tombak Kyai Kanjeng kemudian berbalik arah kembali ke Ki Sabrang setelah ditolak oleh Rama.
Ki Sabrang kemudian menyilangkan kedua pusakanya di depan wajahnya, sambil berkomat - kamit melafalkan mantra Azarath sehingga muncul kekuatan besar dari dua pusakanya berupa aura ular kobra dengan warna merah api menyala yang siap menerkam mangsanya. Rama pun juga sudah melafalkan wirid ajian Kalimasada dan ajian Tyaga sehingga dadanya mulai sesak penuh kekuatan dari Mustika Kalimasada dan sudah muncul aura singa kelaparan bercahaya sangat terang dan panas.
Kedua kekuatan besar dari Ki Sabrang maupun dari Rama sepertinya sudah muncul dari pusaka dan ajian yang mereka lafalkan. Langit malam di Puncak Hargo Dumilah yang semula cerah karena bulan Purnama kini kembali mendung dengan suara petir menggelegar seolah - olah ikut menyemarakkan suasana pertempuran Rama melawan Ki Sabrang.
Kondisi pasar setan yang berada di lereng gunung Lawu, tiba - tiba menjadi sunyi karena makhluk gaibnya yang tadinya ramai bertransaksi, kini menjadi terpana melihat cahaya terang benderang di puncak Hargo Dumilah serta kondisi cuaca yang mendung dan suara petir yang menggelegar. Mereka menjadi penasaran apa yang terjadi dengan Kerajaan Jin di puncak Hargo Dumilah.
Rama yang merasa sudah maksimal kekuatan dari Mustika Kalimasada segera menyalurkan kekuatannya melalui pusaka Kujang Pamenang dan mengarah ke Ki Sabrang. Demikian pula Ki Sabrang yang kemudian mengarahkan kekuatannya ke arah Rama. Dua kekuatan besar akhirnya bertemu, menimbulkan kegaduhan luar biasa terhadap alam sekitarnya.
Angin menjadi bertiup kencang di sekeliling Rama dan Ki Sabrang, suasana Puncak Hargo Dumilah menjadi terang benderang akibat pancaran kekuatan kedua kubu. Dan seperti halnya pertempuran sebelumnya di Kampung Hantu, kekuatan dari pusaka Kujang Pamenang bukanlah lawan yang seimbang bagi kekuatan Keris Pusaka Tunggul Amukti Palapa dan Tombak Kyai Kanjeng.
Aura kekuatan ular kobra dengan warna api menyala akhirnya berhasil diterkam oleh aura kekuatan singa kelaparan yang bercahaya terang dan panas. Ki Sabrang yang juga menerima pancaran kekuatan singa kelaparan menjadi terdiam, terpana dan badannya menjadi kaku.
Kedua pusaka di tangan Ki Sabrang kemudian terlepas jatuh ke tanah. Mulut Ki Sabrang yang tadinya melafalkan mantra Azarath kini menjadi kaku dan terdiam. Pandangan Ki Sabrang menjadi kosong seperti manusia yang kehilangan ingatannya. Ki Sabrang menjadi terkena stroke berat dan pakaiannya menjadi robek akibat serangan dari kekuatan singa kelaparan.
Rama yang telah berhasil menyalurkan kekuatan singa kelaparan melalui pusaka Kujang Pamenang, kini juga menjadi terkuras kekuatannya. Apalagi luka bekas tusukan pusaka sebelumnya belum 100% sembuh. Rama pun menghentikan serangannya setelah melihat Ki Sabrang sudah tidak bisa mengeluarkan kekuatannya kembali. Rama pun terjatuh lemas dan pingsan ke tanah akibat kelelahan.
Ki Sabrang yang terkena stroke berat hanya bisa berdiri dan bergumam tidak jelas setelah Rama menghentikan serangannya. Di pikirannya banyak sekali suara bisikan gaib yang menyalahkan Ki Sabrang akibat kekalahan malam ini. Tiba - tiba sebuah lubang hitam portal waktu terbuka di belakang Ki Sabrang. Sesosok tangan berkuku panjang kemudian muncul keluar dari balik lubang hitam portal waktu, dan menarik baju Ki Sabrang yang tersisa. Ki Sabrang kemudian terjatuh ke belakang dan masuk lubang hitam portal waktu. Setelah Ki Sabrang masuk, lubang hitam portal waktu kemudian lenyap tiada berbekas.