
Hai, Kak !
Silakan klik gambar jempol di bawah sebelum membaca.
Ayo dong klik 'jempol'!!!!
Nah, kalau sudah. Kini saatnya Kakak mengetahui nasib Bu Ningrum dan Imran di kebun kopi.
Cekidot ...
Ibu melanjutkan ceritanya.
"Harimau loreng itu merangkak mendekati kami, Ibu mendekapmu dengan rasa takut. Akhirnya harimau itu merangkak di sebelah Warsih. Anehnya, harimau itu tiba-tiba berbicara, 'Warsih, mana tumbal yang engkau janjikan? Bukankah Kamu sudah membuat perjanjian denganku bahwa Kamu akan memberikan tumbal nyawa manusia, sebagai penukar ilmu pengasihan yang aku berikan padamu?' Warsih menjawab dengan suara lemah, 'Ki Barong, tumbal yang saya janjikan padamu adalah perempuan itu.' Ibu melotot terkejut karena Warsih mengatakan Ibu adalah tumbalnya, harimau itu mengaum dengan keras bersiaga untuk menerkam Ibu. Ibu tidak punya pilihan lagi, kemudian Ibu berkata, 'Ki Barong, saya siap menjadi tumbalmu asalkan anak saya dibiarkan hidup.' Ki Barong tertawa dan bersuara, ' Hebat sekali Kamu sebagai seorang Ibu, tapi sayangnya Kamu harus menjadi mangsaku. Dan anakmu akan aku bebaskan nanti.' Ibu menangis sejadi-jadinya waktu itu, Ibu meletakkanmu di tanah agak jauh dari Ibu. Ibu benar-benar merasa takut saat itu, bukan takut akan kematian, tapi takut berpisah denganmu dan takut Kamu akan hidup terlantar.'"
"Terus, Bu?" potongku.
"Ki Barong melompat ke arah Ibu, Ibu menjerit, Ibu takut, Ibu pasrah, dan ternyata Ki Barong terpental ketika menyerang Ibu. Warsih terkejut dengan kejadian aneh itu. Kemudian Ki Barong kembali bangkit dengan mengumpulkan segenap energinya kembali, ia melompat ke arahku, dan lagi-lagi ia harus terpental. Ibu juga heran dengan kejadian itu, kemudian dari arah belakang harimau loreng itu muncul seorang perempuan cantik berbusana hijau, di atas sebuah pedati. Kemudian perempuan cantik itu berkata, 'Dia bukan manusia biasa, Kanda. Kalau dari cahaya yang dipancarkannya tadi, sepertinya perempuan itu keturunan dari orang-orang yang pernah berjasa untuk lelembut seperti kita. Siapa namamu, Cah Ayu? Darimana asalmu? Siapa nama kedua orang tuamu' Ibu menjawab, 'Nama saya Ningrum, saya berasal dari Jatisari, nama ayah saya Sarmo, nama ibu saya Tuminah.' Kemudian perempuan cantik itupun berkata kembali, 'Pantas saja Kanda tidak bisa menyerangmu, ayahmu dulu sering mencari kayu di sini dan pernah menyelamatkan seekor kucing yang sedang terjepit di bawah pohon yang tumbang. Kucing itu adalah jelmaan salah satu sesepuh lelembut di sini. Sudahlah, Kanda. Lepaskan perempuan itu, keluarganya pernah berjasa pada kita.' Ki Barong menjawab, 'Aku tidak peduli hal itu, aku sudah sangat lapar. Kalau aku tidak bisa memangsa perempuan itu, aku bisa memangsa bayi laki-laki itu.' Si Cantik berkata kembali, 'Tidak, Kanda. Kita akan mengalami kesialan kalau Kanda tetap memaksa untuk memangsa bayi itu, bayi itu juga keturunan Sarmo.' Ki Barong mondar-mandir dengan penuh amarah, suara aumannya memekakkan telinga. Akhirnya iapun berkata kepada Warsih, 'Karena Kamu tidak bisa memenuhi janjimu, maka rohmu sendiri yang akan kuambil sebagai penebus tumbalmu. Selama sisa hidupmu, Kamu akan menjadi pelayan di tempat ini,' ucap Ki Barong sambil menaikkan kedua kaki depannya dan diarahkan ke tubuh Warsih. Warsih berteriak dan meronta, tetapi terlambat, Ki.Barong menghirup asap berwarna putih yang keluar dari kepala Warsih, beberapa detik kemudian tubuh Warsih sudah berubah menjadi sosok yang menyeramkan, dengan kedua tangan bengkok. Ibu terkejut dan ketakutan melihat perubahan wujud Warsih. Ki Barong kemudian berteriak, menyuruh Warsih bangkit dan berjalan meninggalkan kami dengan kaki kanan diseret."
"Terus, apakah Ki Barong dan perempuan cantik itu melepaskan Ibu?" tanyaku semakin penasaran.
"Perempuan itu mengobati lukamu hanya dengan diludahi saja, ajaibnya lukamu langsung mengering, dan menyisakan tanda seperti yang Kamu lihat sekarang. Kemudian ia mengatakan pada Ibu bahwa Ibu dan Kamu tidak akan bisa keluar dari tempat itu jika tidak ada orang di luar sana yang masuk untuk menyelamatkan kita. Ki Barong terlebih dahulu meninggalkan kami, entah kemana ia pergi. Ibu terus memohon kepada perempuan itu untuk membantu Ibu membawamu keluar dari tempat tersebut. Namun, lagi-lagi perempuan itu berkata bahwa hanya itulah caranya, supaya kita bisa keluar dari tempat itu." jawab Ibu.
"Terus, Bu?" tanyaku tak sabar.
"Perempuan itu mengajak Ibu ke rumahnya. Ia juga berkata, kalau Ibu tidak ikut, itu akan membahayakan diri kita karena lelembut-lelembut di sana bisa memangsa Ibu dan Kamu kalau tidak ada dirinya atau Ki Barong. Hanya dengan tinggal di rumah perempuan tersebutlah, kita akan aman dari serangan makhluk halus yang lain, karena mereka takut dengan Ki Barong. Akhirnya Ibu menerima tawaran perempuan itu untuk tinggal di rumahnya sementara waktu sambil menunggu pertolongan dari luar." jawab Ibu lagi.
"Kalau boleh tahu, siapa nama perempuan tersebut, Bu?" tanyaku.
"Perempuan tersebut dijuluki Nyi Kembang. Ia adalah pasangan hidup Ki Barong. Nyi Kembang ini sangat pandai menari, setiap satu bulan sekali, ada pertunjukan tari di lapangan, Nyi Kembang selalu tampil di sana," jawab Ibu.
"Entahlah, Im. Ibu tidak berani menanyakan hal tersebut pada Nyi Kembang. Ibu takut dia marah, salah-salah Ibu bisa dilahapnya," jawab Ibuku.
"Berapa lama kita tinggal di rumah Nyi Kembang, Bu? Apa saja yang kita lakukan di sana?" tanyaku dengan sangat penasaran.
"Ibu tinggal di sana selama beberapa hari. Nyi Kembang sangat suka menggendongmu. Bahkan Kamu pernah ngompol dalam gendongan Nyi Kembang," jawab Ibu.
"Terus, siapa yang datang menyelamatkan kita, Bu?" tanyaku lagi.
"Kyai Nur yang datang menyelamatkan kita. Ibu tanpa sengaja melihat Kyai Nur sedang mengendap-ngendap di antara rumah-rumah penduduk. Awalnya Ibu mengira Kyai Nur itu hantu seperti mereka, soalnya sekujur tubuhnya dibaluri lumpur, ternyata itu hanyalah penyamaran Kyai Nur saja untuk mengecoh para hantu." Jawab Ibu.
Aku cukup terkejut dengan jawaban ibuku. Aku juga berpikir apakah Mbah Nur juga berjalan dengan membengkokkan tangan dan kaki diseret sama sepertiku? Membayangkannya aku merasa geli sendiri.
"Kamu kok senyum-senyum sendiri, Im?" tanya Ibuku.
"Mmm, Nggak apa-apa Bu. Oh ya, apakah ketika pulang, Ibu pamit sama Ki Barong dan Nyi Kembang?" tanyaku lagi.
"Ibu hanya pamit pada Nyi Kembang. Nyi Kembang melarangku pamit kepada Ki Barong, takut Ki Barong tiba-tiba mencelakakan Kyai Nur. Waktu itu Nyi Kembang minta ijin menggendongmu sebelum pulang. Dia mencium pipi dan keningmu berkali-kali. Waktu itu Kamu tidur nyenyak sekali. Ibu terharu melihatnya, Nyi Kembang juga ikut mengantar kita sampai di pintu gerbang pembatas dunia kita dan mereka. Nyi Kembang sempat mengatakan sesuatu kepada Ibu mengenai Kamu, Im" cerita Ibu.
"Apa yang dikatakan Nyi Kembang, Bu?" Aku bertanya dengan rasa penasaran.
Bersambung
Nah, karena sudah membaca bab ini, sekarang saatnya Kakak membayar dengan cara memberikan "vote".
Aku tungguin vote-nya ya, Kak ...
Terima kasih