
Kami berlima memang baru kenal, setidaknya semingguan ini. Akan tetapi secara kebetulan, kami memiliki kesukaan yang sama, yakni mengungkap misteri apapun yang ada di hadapan kami, supaya semua menjadi jelas, tidak ada yang disembunyikan.
Kami berlima memang memiliki kepribadian masing-masing yang saling berbeda. Perbedaan itu tak ayal memang menimbulkan konflik-konflik kecil di antara kami. Namun, konflik itu ada bukan untuk saling menjauh atau memberi jarak antara kami, melainkan untuk lebih saling mengerti satu sama lain.
Gatot, sosok yang menurutku agak ceroboh dan sering bertindak bodoh. Namun, pada waktu-waktu tertentu, ia sering kali hadir menjadi pahlawan di saat-saat yang kritis.
Entahlah aku di mata Gatot seperti apa, yang jelas saat ini aku baru tahu kalau ia benar-benar menganggapku sebagai teman bahkan sahabatnya. Air mata dan raut wajah takut kehilangannya itu nampak terukir di mata dan wajahnya kala melihat harimau jadi-jadian itu sesenti demi sesenti mengulurkan taringnya ke kepalaku. Benar kata orang, mencari teman untuk diajak bersenang-senang, sangat mudah ditemukan. Tetapi mencari teman untuk diajak susah, hanya satu dari seribu orang yang mau melakukannya. Dan kali ini, si hulk itu membuktikannya di depan mataku sendiri.
"Terima kasih, Gatot. Kamu adalah teman sejatiku. Kali ini aku tidak akan menyerah, aku harus berjuang untuk tetap hidup,"
Sebuah tangan terbuka tiba-tiba menyeruak di sebelah pelipis kananku, merangsek lurus ke depan menuju mulut harimau itu. Awalnya tangan itu mengepal, tetapi kemudian kepalan tangan itu terbuka. Dari kepalan tangan yang terbuka itu, tersebar serbuk-serbuk nerwarna putih seperti pasir yang notabene langsung masuk ke kerongkongan harimau yang terlihat sangat kelaparan itu.
"Itu bukan tangan Gatot ataupun Fajar. Tangan mereka tidak sekecil dan segemulai itu. Lidya juga tidak memiliki kuku selentik kuku tangan yang kini tepat berada di antara wajahku dan harimau itu,"
"Bismillahii Allahuakbar!!!" pekik suara perempuan bersamaan dengan tersebarnya pasir-pasir putih itu ke mulut si raja hutan.
[Kretek kretek kretek blesssssss ...]
Suara yang terdengar dari tubuh harimau belang yang seperti terpercik api dari perutnya beberapa kali kemudian hangus meninggalkan asap yang mengepul.
"Cindy????" pekik kita berempat, setelah mengetahui orang yang melemparkan serbuk-serbuk putih ke mulut harimau itu.
"Apa yang kamu lemparkan barusan, hingga siluman harimau itu lenyap begitu saja?" pekik Gatot antara senang dan tidak percaya dengan keajaiban tersebut.
"Sebaiknya kita menyelamatkan diri dulu, sebelum makhluk-makhluk ghaib yang lain datang menyerang kita!" pekik Cindy.
"Benar sekali apa yang Kamu katakan, Cin" ucap Fajar.
"T-Tapi ... kakiku masih sakit. Aku tidak mampu berlari seoerti yang lainnya," pekik Cindy.
"Tot ... Im ... sepertinya kita harus melakukannya," ucap Fajar sambil melirik ke arahku dan Gatot.
"Maksud Kalian akan melakukan apa?" tanya Cindy penasaran.
Belum selesai rasa penasaran Cindy, Gatot, Fajar, dan Aku sudah menggotong badan Cindy yang mungil dan kami bawa berlari keluar dari area kebun kopi yang angker tersebut. Sementara Lidya berlari di depan kami.
"Lepaaaaaaaaaaas Tot ... Iiiiim ... Jaaaaaar ....," teriak Cindy tanpa kami perdulikan. Karena saat itu yang kami pikirkan adalah bagaimana kami semua selamat dulu dari gangguan makhluk-makhluk halus penghuni kebun kopi itu.
Suasana kebun kopi yang semula terang benderang, kali ini kembali redup, redup, dan redup. Kami berempat terus berlari mengerahkan segenap energi untuk bisa segera keluar dari kebun kopi yang semakin gelap tersebut.
Setelah kama berlari, kamipun kehabisan tenaga. Kami tidak kuat lagi memanggul tubuh Cindy, napas kamipun terengah. tubuh Cindy kami turunkan perlahan, dan iapun berusaha berdiri sambil menahan kakinya yang masih sakit. Syukurlah, ternyata kami sudah berhasil keluar dari kebun kopi tersebut.
Menyadari kami sudah bisa keluar dari kebun kopi, kamipun terduduk di atas tanah dengan napas tersenggal. Kebun kopi berada sekitar sepuluh meter di belakang kami.
"Syukurlah, kita sudah bisa keluar dari kebun kopi itu," ucap Fajar.
"Makasih banyak ya, Cin. Kamu sudah menolongku tadi. Kalau tidak, mungkin badanku sudah remuk dilumat harimau jadi-jadian itu," ucapku dengan terengah.
"Oh ya, Cin. Kalau boleh tahu, benda apa yang Kamu lempar ke dalam mulut harimau itu, hingga membuatnya menghilang?" tanyaku lagi.
"Itu garam, Im. Aku sengaja membawanya dan menaruh di saku ranselku setelah mendengar ceritamu waktu melempari hanfu bayi itu dengan garam," jawab Cindy kalem.
"Oalah ... baguslah kalau begitu. Sekali lagi aku mau bilang makasih ya sama Kamu," ucapku.
"Sudahlah lupakan! Yang penting saat ini kita semua bisa selamat. Ngomong-ngomong, kemana larinya lima teman kita yang lain tadi?" tanya Cindy.
"Entahlah, yang penting mereka selamat juga, itu sudah cukup," ucapku.
"Ayo, kita segera berangkat saja. Matahari sudah mau tenggelam, sebentar lagi maghrib. Kita harus segera menemukan Pos 3 dan mengakhiri penjelajahan ini," ucap Fajar.
"Ayo!!!!" jawab kami semua sambil berusaha berdiri kembali, mengumpulkan sisa-sisa tenaga setelah berlari marathon tadi.
Kamipun melangkah lurus mengikuti jalan setapak, jauh meninggalkan kebun kopi. Matahari sudah benar-benar tenggelam di ufuk barat. Sayup-sayup kami mendengar suara orang adzan yang disiarkan dengan menggunakan TOA.
"Wah, sampai maghrib ternyata," ucap Lidya.
"Iya, tapi tak apalah. Sudah tinggal sedikit lagi," jawab Fajar.
"Di depan ada gubuk, apa sebaiknya kita berhenti dulu di sana untuk numpang duduk, sembari menunggu adzan maghrib selesai? Nggak baik loh, ada orang adzan, kita malah jalan-jalan?" ucap Lidya.
"Loh, kayaknya di gubuk itu ada orangnya. Itu mereka sedang menyalakan lampu senter," ucap Gatot.
"Oke, kita mampir saja dulu sejenak di gubuk itu sambil bertanya tentang kelompok yang lain, mungkin saja mereka sempat melihatnya melewati jalan ini," ucap Fajar.
Langit sudah benar-benar gelap ketika kami melangkah menuju gubuk kecil itu. Betapa terkejutnya kami, ketika posisi kami sudah sangat dekat dengan gubuk tersebut. Ternyata gubuk itu bukan gubuk biasa, melainkan sebuah musholla yang dilengkapi dengan kamar mandi sederhana di sebelahnya. Di gubuk yang dibuat terbuka itu terdapat sebuah tikar yang diatasnya digelar tiga sajadah. Ada sebuah mukena dan sebuah sarung tergantung dengan kaitan paku. Senter yang menyala sedang tergantung di tengah-tengah sajadah, akan tetapi pemiliknya pergi entah kemana.
"Mas ... Pak ...," panggilku ke arah kamar mandi.
"Mas ... Pak ...," panggilku lagi.
Fajar mengikuti di belakangku, sedangkan anak yang lain duduk-duduk di atas balai-balai.
Karena tidak ada sahutan, akupun menoleh sambil merentangkan tangan lebar-lebar, dan mrengut ke arah Fajar, menandakan kalau tidak ada siapa-siapa di kamar mandi. Namun, tiba-tiba Fajar terbelalak dan menunjuk-nunjuk ke arah belakangku. Akupun menoleh.
"Ya Tuhan ...," pekikku terkejut.
Bersambung
Jangan lupa selalu like dan menulia komentar ya, Kak?
Baca juga novelku yang lain bergenre horor. Judulnya MARANTI (sudah tamat).
Makasih banyak ya?