KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 50 : ARTI PERSAHABATAN


Hai Kak,


Sebelum membaca bab ini, silakan klik gambar jempol di bawah!


Terima kasih atas like-nya.


Selamat membaca ...


Fajar, Cindy, Gatot, dan Lidya menatap mataku lekat, mereka menunggu kelanjutan dari omonganku barusan.


"Ayo kita ke ruang ekskul musik lagi!" ucapku.


"Kamu gila ya? Atau Kamu kangen sama Melati tah?" jawab Fajar dengan ekspresi wajah keheranan.


"Aku serius, Jar. Feelingku mengatakan Melati itu tidak tenang karena ada pesannya yang belum tersampaikan kepada teman-temannya," ucapku dengan tatapan mata serius. Fajar mencerna kata-kataku, kemudian matanya berbinar.


"Oh ya, aku baru ingat sesuatu," pekik Fajar.


"Itu maksudku, Jar. Ayo teman-teman, kita ke ruang ekskul musik bareng-bareng, supaya kalau hantu si Melati datang, ada yang mengalihkan perhatiannya agar tidak mengganggu apa yang akan kita lakukan," jawabku dengan suara ditegaskan.


"Oke, kami siap," jawab Gatot, Cindy, dan Lidya.


Kamipun berangkat menuju ruang ekskul. Ketika hampir sampai di ruangan ekskul, jantungku berdegup dengan kencang, khawatir tiba-tiba hantu Melati muncul di hadapan kita. Aku dan Fajar yang berjalan di depan, Cindy dan Lidya di tengah, sedangkan Gatot paling belakang. Pintu ruang ekskul terbuka lebar, aku dan Fajar masuk ke dalam diikuti oleh mereka bertiga. Pandangan kami langsung tertuju pada gendang yang ada di pojok ruangan. Aku dan Fajar mendekati gendang itu, ketika aku dan Fajar meraih gendang itu, terdengar teriakan keras dari belakang kami.


"Waaaaaaaaaaaaaa!!!!!"


Kami menoleh ke belakang, ternyata Melati sudah berdiri di balik pintu sedang menatap ke arah kami dengan wajah seramnya.


"Tidaaaaaaaak!!!!" jerit Gatot yang berada paling belakang, sehingga ia yang berhadapan langsung dengan Melati. Terlambat bagi Gatot untuk mengelak karena tangan Melati sudah mencengkram leher betonnya.


"Jangan Melati!!!!!" teriak kami semua yang melihat Melati sedang mencekik leher Gatot.


"Aaaarrrrgh!!!!" suara yang keluar dari mulut Gatot yang sedang dicekik oleh Melati. Melihat hantu Melati yang tidak menggubris teguran kami, maka aku dan Fajar bersegera mengambil langkah untuk menyerang balik hantu itu demi menyelamatkan nyawa Gatot.


"Hiaaaaaaat!!!!!" Aku menerjang perut Melati, sedangkan Fajar menghantamkan bogemnya ke wajah Melati. Melati terpental ke belakang.


"Aaaah ... Makasih teman-teman atas bantuannya. Sekarang saatnya aku yang harus bertindak, tadi aku tidak begitu siap ketika ia menyerangku," ujar Gatot sesumbar.


Hantu Melati semakin marah, ia berdiri kembali dengan wajahnya yang terlihat semakin menyeramkan.


"Lidya ... Cindy ... Kamu longgarkan gendang itu dengan besi, dan ambil kertas pengganjalnya! Itu surat Melati untuk teman-temannya yang ditinggalkan di ruang ekskul," teriak Fajar pada Cindy dan Lidya.


Aku tersenyum kepada Fajar. Ternyata apa yang aku pikirkan sama dengan yang ada dalam pikiran Fajar. Mungkin teman-teman Melati mengira itu hanya kertas biasa, sehingga ketika mereka butuh pengganjal gendang, mereka menggunakan kertas itu.


"Oke siap Jar, Kalian berhati-hatilah menghadapi hantu itu," jawab Lidya dan Cindy.


Hantu Melati berusaha menyerangku dengan kedua tangannya, hampir saja Melati berhasil mencekikku ketika Gatot mengayunkan bogem mentahnya ke arah pelipis Melati.


[Prak]


Hantu Melati terlempar ke samping.


"Melati, biarkan kami menyampaikan pesanmu untuk Bu Nanik dan Bu Rini, supaya mereka bisa memaafkanmu dan kamu bisa beristirahat dengan tenang," teriak Fajar.


"Tidaaaak! Biarkan teman-teman Melati tetap membenci Melati, sehingga Melati selamanya akan menjadi arwah gentayangan, ha ha ha ha ha ...," teriak hantu Melati yang sepertinya dipengaruhi oleh roh jahat.


"Hai, Jin Jahat! Kamu jangan memperalat Melati untuk memenuhi nafsu angkaramu, biarkan dia beristirahat dengan tenang, dan Kamu bertobatlah supaya Allah mengampunimu. Mau sampai kapan Kamu memperalat arwah perempuan ini? Kami tidak akan tinggal diam!" teriakku dengan nada emosi.


"Ha ha ha ha ha .... Anak-anak kecil seperti Kalian, bukanlah tandingan berarti untukku. Sebentar lagi aku akan membuat Kalian bertekuk lutut kepadaku. Maka dari itu cepatlah pergi dan jangan pernah mengurusi urusanku dengan Melati. Ha ha ha ha ha," teriak hantu perempuan itu dengan suara bergetar.


"Jangan sombong Kamu, kami semua tidak takut kepadamu. Kami hanya takut kepada Allah. Dan kami tidak akan membiarkanmu menguasai Melati. Kami akan menyampaikan pesan terakhir Melati kepada teman-temannya agar ia bisa beristirahat dengan tenang," teriak Fajar.


"Diaaaaaaaam!!!!!" teriak hantu itu sambil bangkit dan mengerahkan tenaga dalamnya.


Semua benda yang ada di ruangan itu tiba-tiba berhamburan tak tentu arah. Ruangan itu seperti bergetar dengan hebat.


"Lidya, apa Kamu sudah berhasil mengambil kertasnya?" teriak Fajar.


"Sedikit lagi Jar. Tanganku kurang tenaga untuk mengurangi tekanan kawatnya," teriak Lidya.


"Imran, bantu Lidya dan Cindy! Biar aku yang menghadapi Melati," teriak Fajar.


Akupun merangkak menuju tempat Cindy dan Lidya, melawan getaran ruangan ini yang semakin kencang.


"Jangan hiraukan kami, segera buka kawat itu dan ambil kertasnya!" teriak Fajar yang kembali menghalau Melati yang sedang berjalan ke arah kami bertiga. Ia ingin menggagalkan usaha kami untuk mengetahui isi tulisan di kertas itu.


[Braaak]


kembali tubuh Gatot dan Fajar harus dilempar oleh hantu Melati karena berusaha menghalanginya untuk menyerangku dan kedua teman perempuanku. Kali ini Melati melempar mereka lebih keras dari sebelumnya sehingga Fajar dan Gatot meringis menahan sakit akibat terlempar ke lantai.


Kini tidak ada lagi yang bisa menghalangi Melati untuk menyerangku dan kedua teman perempuanku. Perlahan ia dengan tenaganya yang berlipat ganda mendekatiku yang sedang berusaha mengambil kertas pengganjal itu sambil membelakangi hantu itu.


"Awas, Iiiiiiiimmmmm!!!!" teriak Lidya dan Cindy ketika hantu itu memegang bajuku dan bersiap untuk melemparkan tubuhku ke tembok. Aku memegangi kedua tangan pucat itu dengan erat supaya tubuhku tidak terlempar. Sialnya, karena aksiku itu akhirnya wajahku dan wajah hantu itu saling berhadapan dengan jarak yang cukup dekat. Matanya yang seperti senter dan giginya yang berantakan nampak jelas di mataku. Seram dan sangat menjijikkan, itulah yang kurasakan saat itu.


"Lidya, buka kertas itu dan baca isi tulisannya!" teriakku sambil bertatapan dengan hantu Melati.


"Siap, Im!" jawab Lidya.


[Untuk teman-teman personel group musik patrol SMPN 01 Karang Jati, khususnya untuk kedua sahabatku, Nanik dan Rini yang sangat aku sayangi.


Assalamualaikum Wr .. Wb ..


Sebelumnya aku mau minta maaf kepada Kalian semua karena secara tiba-tiba aku berhenti sekolah dan menikah.


Perlu Kalian ketahui, itu semua aku lakukan bukan karena aku tidak peduli dengan Kalian atau group kita. Tidak, sama sekali tidak. Aku juga memiliki mimpi yang sama dengan Kalian, aku ingin pergi ke Jakarta, aku ingin mengejar cita-citaku, terlebih aku masih ingin berkumpul dengan Kalian, seru-seruan dengan Kalian, berbagi suka dan duka dengan Kalian.


Dear Nanik ... Dear Rini ...


Maafkan aku ya? Aku telah menjadi sebab kegagalan mimpi Kalian berdua, mimpi group kita, dan mimpi sekolah kita.


Perlu Kalian ketahui, aku di sini juga tidak sedang bersenang-senang dengan hidupku. Aku di sini sedang tidak baik-baik saja.


Aku terpaksa menikahi Tuan Harun. Aku terpaksa menjadi istri mudanya, karena orang tuaku memiliki hutang yang sangat besar kepadanya. Kalau aku tidak mau menikah hari itu, maka ayahku akan dijebloskan ke penjara. Aku tidak mau ayahku yang sudah tua harus mendekam di penjara, karena ibuku juga sedang sakit keras dan membutuhkan ayahku. Akhirnya aku menyetujui pernikahan ini, meskipun hatiku terluka dan harus mengubur impian dan cita-citaku.


Aku dengar Kalian datang ke rumahku hari itu. Tapi sayangnya aku sudah dijemput untuk dinikahkan di rumah Tuan Harun. Seandainya hari itu aku masih bisa bertemu Kalian, aku akan meminta maaf sebesar-besarnya kepada Kalian semuanya.


Maafkan aku, sahabat-sahabatku ...


Selamanya aku sangat menyayangi Kalian dan group musik kita.


Wassalamualaikum Wr.. Wb ..]


Lidya membaca tulisan itu dengan keras hingga didengar oleh kami berempat. Semakin lama Lidya membaca isi surat tersebut, pegangan Melati semakin lemah. Akupun terlepas dari pegangannya. Wajah Melati yang semula seram, perlahan-lahan menjadi normal dan sangat cantik. Aku dan teman-temanku sampai terkagum-kagum dengan kecantikan paras Melati.


Melati menangis tersedu-sedu, kemudian dari balik pintu tiba-tiba muncul Bu Nanik dan Bu Rini yang juga menangis tersedu-sedu.


"Melatiiiiiiiii," teriak kedua guru kami itu sambil menghambur ke arah Melati. Mereka berpelukan dengan erat layaknya tiga orang sahabat yang lama tidak bertemu.


"Maafkan kami Melati yang telah membencimu hingga Kamu tidak dapat beristirahat dengan tenang," pekik Bu Nanik.


"Tidak, Aku yang bersalah. Aku yang telah menggagalkan mimpi-mimpi kita," jawab Melati sambil mengusap rambut kedua sahabatnya.


"Maafkan aku Melati yang telah salah menuduhmu. Seharusnya aku bangga memiliki sahabat yang sangat mencintai orang tua seperti Kamu," ucap Bu Rini.


"Tidak, Rin. Aku yang salah, tolong sampaikan permintaan maafku kepada teman-teman yang lain, ya?" jawab Melati.


"Iya, Melati. Akan aku sampaikan. Kamu tidak membunuh impian kita. Buktinya sekarang kami berdua masih di sini, mengabdi untuk sekolah kita. Kami berdua juga pernah ke Jakarta, menemani anak-anak rekreasi. Kami berdua sudah naik ke monas, tapi maaf kami gagal membawa emas itu karena nggak boleh sama penjaganya," isak tangis Bu Rini.


"Syukurlah kalau begitu, semoga Kalian berdua tidak pernah lelah untuk mendidik anak-anak, dan jangan lupa selipkan doa untukku juga," ucap Melati.


"Melati .... Melati ....," pekik suara Bu Nanik dan Bu Rini ketika perlahan tubuh Melati memudar.


"Selamat tinggal sahabat-sahabatku, terima kasih atas semuanya ...," ucap arwah Melati.


Tubuh Melati semakin memudar dan akhirnya lenyap. Kami berlima juga ikut berlinang air mata setelah mengetahui kisah persahabatan mereka yang begitu tragis.


Bersambung


Stop nangisnya dulu, ya!


Ayo berikan vote sebanyak-banyaknya untuk novel ini.


Terima kasih atas dukungannya.


Salam seram bahagia...